
Pak Tris berjalan menuju ruangan Caca, dia melihat Caca yang sedang melamun nenatap keluar jendela. Pak Tris kemudian menyapa Caca.
"Ca, kamu belum selesai?" tanya Pak Tris dan menepuk pundak Caca.
"Eh Pak Tris. Belum Pak, ini lagi ngeprint laporan dulu masih banyak, belom yang ini masih setumpuk dan yang ini juga belom. Terus yang itu bekas Cindy dulu juga masih belom selesai," jawab Caca sambil menunjuk-nunjuk semua pekerjaan nya.
Pak Tris tersenyum dan menyemangati Caca "Yang sabar ya."
"Ya Pak, semoga aja cepat kelar dan segera dapat pengganti nya." Caca menghela nafas lalu melanjutkan lamunannya kembali.
Nael yang mendengar hal tersebut menjadi sedih, dia tidak ingin Caca meninggalkan tempat ini dengan cepat.
Pak Tris lalu menengok ke arah Nael yang sedang duduk di meja kerja nya. Pak Tris kemudian menghampiri Nael.
"Pak Tris, silahkan masuk."
Pak Tris masuk dan berkata kepada Nael, "Terima kasih Nael, habis print laporan ini selesai, biarkan Caca pulang ke rumah. Hari sudah mulai malam, sepertinya juga mau hujan."
Nael mengerti dan menggangguk kan kepqlanya. "Baik Pak Tris."
Pak Tris kemudian pamit kepada Nael dan Caca karena ingin pulang ke mess nya. "Ya sudah saya pulang dulu ya Nael, Caca bapak duluan ya."
Nael dan Caca membalas ucapan Pak Tris dengan kompak, "Iya Pak." Pak Tris lalu berjalan keluar kantor menuju ke mess nya untuk beristirahat.
Caca melanjutkan kembali mencetak laporan nya dan Nael kembali kedalam ruangannya untuk bekerja sambil sesekali melirik Caca dengan ujung matanya.
***
"JDUER!"
Terdengar suara hujan turun disertai petir dan kilat yang cukup mengerikan. Caca sedikit terkejut dengan petir dan kilat yang tiba-tiba bergemuruh kencang.
"Wah kayanya mau hujan gede nih, petir nya nyeremin," ucap Caca pelan.
"DUAR!"
Suara petir kembali menggelegar diatas sana seperti saling beradu satu sama lain. Caca spontan teriak karena kaget, "Aargh!" teriak Caca sambil menutup kedua telinga dengan tangan nya.
Suara petir tadi membuat Caca sedikit lemas karena kaget, dia merasa tubuhnya seperti balon yang sedang kempes karena kurang angin. Caca lalu dengan cepat menepuk-nepuk dadanya sambil berkata, "Aduh manget-manget makan nasi anget sama garem."
Nael yang mendengar Caca berteriak, segera menghampiri nya lalu bertanya dengan wajah yang sedikit panik, "Kenapa Carisa? kamu tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa Pak." Caca melanjutkan pekerjaannya kembali.
Nael lalu melihat keluar jendela, di luar sangat lah gelap. Hujan deras dan angin kencang serta petir dan kilat yang cukup mengerikan.
Caca kemudian bergegas dan akhirnya laporan tadi telah tercetak semua, dia pun memberikan nya kepada Nael dan berkata, "Pak. Laporan yang tadi kena kopi sudah saya print ulang, nih laporan nya."
Nael mengambil laporan itu dan membalas perkataan Caca, "Oke terima kasih."
"DUAR! JDUER!" Suara petir kembali bergemuruh dan menyambar salah satu gardu listrik di dekat sana.
Caca sontak terperanjat kaget. Dia spontan berteriak kembali sambil menutup telinga nya.
"Triip!" Suara listrik padam.
Tiba-tiba semua aliran listrik padam. Semua area menjadi gelap gulita, hujan deras dan petir yang menyambar membuat listrik di kota menjadi padam.
Caca seketika panik di sekitarnya gelap gulita, dia pun bingung harus melangkah kemana trauma nya kembali muncul dan dia tidak tahu harus apa. Sekujur tubuh Caca bergetar dia menjadi lemas dan mulai mengingat kembali orang tua dan ayah angkatnya yang telah tiada.
"Tolong! kenapa semuanya jadi gelap?" teriak Caca karena panik dan mulai menangis.
"Sret!"
Caca merasakan dan mendengar ada sesuatu yang bergerak. Tak lama setelah itu dia merasakan ada seseorang yang mendekat ke arah nya dan kemudian mendekap tubuh nya dengan erat.
"Siapa?" tanya Caca. Sedangkan orang itu tidak menjawab dia hanya memeluk Caca dengan begitu erat.
Caca memejamkan kedua matanya dan menarik nafas dalam-dalam, tak terasa dia seperti mencium sesuatu yang dia kenal. Ya dia kenal dengan wangi ini, aroma harum ini hanya di miliki oleh Nael si Bos bawel nya.
Caca spontan membalas pelukan Nael dengan erat juga. Caca merasa ada perasaan yang begitu hangat, aman dan kenyamanan di dalam pelukan Nael yang membuat mereka berdua akhirnya berpelukan.
__ADS_1
Nael kemudian menyalakan lampu senter di ponsel nya, dia pun mengarahkan ponselnya itu untuk melihat Caca. Nael tersenyum, sedangkan Caca hanya memejamkan matanya karena takut akan gelap.
Nael merasa senang seperti orang yang sedang menang undian besar, dia bersyukur karena seperti nya hujan deras dan petir ini membantu nya untuk berdekatan bahkan bisa memeluk Caca dengan kedua tangannya itu.
Nael kemudian mendekatkan wajah nya agar bisa mencium aroma rambut Caca yang beraroma segar nan lembut tersebut dan tak lupa Nael menyempatkan sejenak untuk mengecup puncak kepala Caca lalu membelai rambutnya dengan sangat lembut lalu kembali mendekap erat tubuh ramping Caca dengan kedua tangannya.
Nael sedikit melamun dan berkhayal hingga lamunan dan khayalan itu terhenti karena pertanyaan Caca yang mendadak. "Kenapa lampunya nggak nyala-nyala Pak?"
Nael menenangkan Caca dengan mengusap lembut punggung dan juga bahu Caca lalu menjawab pertanyaannya, "Ya nggak tahu, mungkin lagi ada pemadaman listrik karena petir, kamu tenang saja sebentar lagi juga lampu menyala kembali."
***
Ahmad melihat kantor dalam kondisi gelap gulita, diapun mencari senter dan mulai memikirkan Caca yang takut sama gelap.
"Waduh gimana itu ya si Caca? mana gelap begini, takut pingsan lagi dah."
Ahmad lalu berjalan dengan langkah yang cepat menuju ruang kerja Nael dan Caca. Setiba nya disana Ahmad langsung mencari Caca dengan senter yang terus diarahkan kedepannya dan betapa terkejutnya Ahmad ketika melihat Nael dan Caca yang sedang berpelukan. Dia pun segera berpaling dan membiarkan mereka untuk berduaan.
"Hihihi ... Biarin dah yang penting Caca lagi di temenin sama Nael." Ahmad berbalik badan meninggalkan Nael dan Caca sambil tertawa cekikikan.
"Lah suara apa itu Pak?" tanya Caca ketika mendengar ada suara tertawa.
"Tidak ada, saya tidak dengar apa-apa."
Ahmad pun menunggu di ruang tamu sampai listrik menyala kembali.
***
Cukup lama Nael memeluk Caca, dia pun mengarahkan Caca agar duduk di sofa.
"Ikut saya ya, sini mari. Kita duduk di sofa, pegal berdiri terus," kata Nael sambil menuntun Caca.
Caca mengangguk setuju. Mereka kemudian berjalan perlahan-lahan menuju sofa tersebut untuk duduk.
Kondisi yang gelap gulita membuat kaki Nael tak sengaja menyandung kaki meja di depan nya, dia pun oleng dan ambruk menabrak Caca yang berada di depannya.
Caca yang tertabrak secara dadakan tersebut tak dapat menahan bobot tubuh Nael dan akhirnya mereka berdua terjatuh berhadapan pas di atas sofa.
"Aw! Aduh!" teriak Caca kesakitan.
"Maaf, saya tidak sengaja," balas Nael.
Caca hanya terdiam, dia tidak bisa melihat apa-apa dalam gelap dia hanya merasa tubuhnya tertindih sesuatu yang cukup berat.
"Trip trip klik!"
Belum sempat Nael bangkit, tiba-tiba lampu menyala kembali. Pandangan Caca akhirnya menjadi jelas dan betapa terkejut dirinya ketika Nael yang sedang berada diatas tubuhnya.
Caca dan Nael saling bertatapan, muka mereka berdua memerah seketika. Caca lalu mendorong tubuh Nael agar menjauhi dirinya dan berusaha untuk bangun. Nael lalu berdiri dan kemudian membantu Caca untuk duduk.
"Ah akhirnya nyala juga," kata Nael sedikit kecewa.
"Iya untung nggak lama."
Caca kemudian berdiri untuk meninggalkan ruangan Nael tetapi Nael dengan cepat memegang pergelangan tangan Caca dan menahannya untuk pergi.
Nael ingin Caca agar tidak pergi jauh dari nya dengan raut wajah yang sedih dia memohon kepada Caca, "Tolong jangan pergi."
Caca mengingat kejadian kemarin, emosi nya muncul kembali. Caca menepis dan berusaha melepaskan genggaman tangan Nael dan berkata, "Kenapa saya tidak boleh pergi? bukan kah Bapak sudah punya tunangan yang akan menjadi pendamping hidup bapak nanti."
Nael kemudian berdiri dan mendekati Caca. "Karena Saya cuma mencintai kamu Carisa."
Caca menatap wajah Nael yang telah berkata seperti itu kepadanya, Caca lalu mengingat kejadian kemarin lagi dia mulai bersedih. Caca kemudian mulai memarahi Nael.
"Apa kemarin itu bukti cinta mu? kau bertunangan dengan wanita lain tanpa memikirkan perasaan ku?" Caca mulai menangis dan melanjutkan kembali perkataannya.
"Kau diam saat Sony mulai merebut ku dari mu, apakah itu juga bagian dari cintamu?"
Nael hanya terdiam dan menunduk, dia membiarkan Caca memarahinya hingga puas.
"Kau juga tidak membantu ku disaat aku sedang sendirian, apakah itu janji mu Nael?"
__ADS_1
"Kenapa kau dan Ayah mu melakukan hal itu kepada ku? kau tahu aku berpikir aku bisa hidup bersama dengan mu, bisa hidup aman dan nyaman bersama mu tetapi ... tetapi aku salah! harusnya aku tidak datang kesini, aku menyesal datang kemari dan menyesal karena sudah mencintai mu!" bentak Caca sambil menangis lalu berlari pergi.
Nael dengan cepat menarik tangan Caca yang ingin pergi dan memeluk nya dengan erat Nael tidak ingin melepaskan nya.
"Lepas!" bentak Caca yang masih menangis sambil memukul dada Nael.
"Maaf, maaf kan saya Carisa," ucap Nael.
Beberapa saat kemudian Nael melepaskan pelukannya berharap Caca akan memaafkannya, tetapi Caca tetap berlari pergi. Caca mengambil tas nya dan kemudian pergi dari sana. Caca tak menghiraukan kondisi diluar yang masih hujan deras, dia pun tetap melangkah.
Akibatnya Caca menjadi basah kuyup tapi dia tetap berlari, Nael yang melihat itu langsung mengejar Caca dan berhasil menarik Caca untuk ikut dengan nya masuk ke dalam dan menunggu sampai hujan reda.
"Lepas! lepas! biarkan saya pergi!" teriak Caca berusaha melepaskan genggaman nya dari Nael.
Nael kemudian memarahi Caca yang keras kepala dan tak mau menurut kepadanya.
"Diam! jangan membantah! cepat ikut, kau jangan keras kepala seperti ini!" teriak Nael tak kalah dari Caca Nael.
Caca akhirnya menurut, dia ternyata takut dengan Nael yang sedang marah. Mereka pun kembali ke kantor.
"Lihat sekarang kita jadi basah kuyup begini, bagaimana kalo kena flu nanti!" kata Nael memarahi Caca kembali.
Caca melihat Nael dengan kesal dan membalas perkataannya, "Siapa suruh mengejar saya."
Nael hanya mendengus kesal mendengar ucapan yang keluar dari mulut Caca.
Nael kemudian menyuruh Ahmad untuk meminjam handuk bersih kepada siapapun di mess bagi yang punya. Ahmad pun menurut, dia lalu pergi ke mess dengan memakai payung dan membawakan handuk untuk Caca dan Nael.
Caca mulai kedinginan, wajahnya terlihat pucat. Nael kemudian mendekat, tetapi Caca tidak mengijinkannya. Dia hanya menunggu Ahmad mengambilkan handuk untuknya.
***
Tak lama kemudian Ahmad pun datang. Dia membawakan handuk bersih yang cuma ada satu. Nael kemudian memberikan kepada Caca terlebih dahulu.
Caca mengambil handuk tersebut dan berjalan ke toilet dan mulai mengeringkan rambutnya, tetapi dia ingat kalau dia tak punya baju salinan. Nael lalu memberikan baju gaun yang tadi dikembalikan oleh Caca. Dia pun meminta Caca untuk memakai nya.
Caca menghela nafas dan menurut, kemudian dia pergi untuk mengganti baju. Nael juga pergi mengganti baju yang dia pinjam dari Ahmad.
***
Tak lama kemudian Caca keluar dengan memakai gaun pemberian Nael yang tidak jadi dia kembalikan. Nael sekali lagi terpana melihat Caca, dia pun berdiri dan mendekati Caca.
"Kenapa? apa ada yang aneh sama saya?" tanya Caca dengan sinis.
Nael kemudian memberikan Caca sesuatu.
"Ini kalung mu, sekarang pakai kembali," kata Nael memberikannya kepada Caca. Caca kemudian memakainya dan Nael membantu Caca memakai kalung tersebut. Nael tersenyum kembali. Mereka pun menunggu hingga hujan reda.
Tak lama kemudian hujan mulai reda, Nael kemudian memaksa Caca untuk ikut pulang ke rumah dengan diantar oleh nya.
"Ahmad cepat ambil mobil, kita antar Carisa dulu pulang ke rumah."
"Iya bos, siap." Ahmad lalu menuju parkiran.
Setelah mobil siap mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi untuk mengantar Caca pulang ke rumah.
……………………………………………………………………………….
15 menit kemudian.
Caca telah sampai di rumah nya. Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Nael dan Ahmad.
"Terima kasih."
"Sama-sama, besok datang ke kantor dan selesaikan kembali pekerjaan kamu yang masih belom selesai itu," kata Nael sambil menatap Caca.
"Baik."
Ahmad kemudian kembali memacu gas mengantar Nael untuk pulang ke rumah.
*
__ADS_1
Bersambung.