
Di Kediaman Heru.
Para tamu untuk menyaksikan acara pemberkatan pernikahan telah hadir, penjaga juga sudah siap berjaga di tempat masing-masing baik di dalam maupun di luar Kediaman Heru.
Pendeta telah berdiri di altar pernikahan, begitu pula dengan pria tampan dengan mengenakan jas putih khas pemberkatan pernikahan yang sudah tidak sabar untuk melihat kekasihnya datang dan mengenakan gaun putih pemberkatannya.
Sama seperti Nael para tamu dan keluarga juga ingin melihat pengantin wanita segera hadir dan melangsungkan pengikatan janji suci mereka.
***
Di Kamar Caca.
Ibu menangis haru menatap Caca yang begitu cantik, kemudian Ibu menghapus air mata nya dan berusaha tersenyum agar Caca tidak ikut bersedih.
Sambil memegang kedua pundak Caca, Ibu berkata, "Kamu cantik sekali sayang. Putri kecil Ibu, hari ini kamu akan menjadi milik keluarga Heru, layanilah suami dan juga keluarga mu dengan baik. Kamu juga harus berbakti dan hormat kepada mereka yang lebih tua darimu. Ibu merestui kalian berdua, semoga kebahagiaan yang selalu kalian dapatkan ...." Tangisan Ibu akhirnya pecah, wanita hebat ini menangis karena harus melepaskan putrinya sebentar lagi.
Caca tak kuasa menahan tangis ketika Ibu menangis serta berbicara seperti itu kepadanya, ucapan dari Ibu membuat Caca merasa kehilangan. Dia merasa dirinya akan semakin jauh dari keluarganya, dengan berusaha agar tak menangis Caca terus tersenyum dan hanya sanggup mengangguk patuh.
Kemudian mereka saling menatap dan berpelukan penuh haru, membuat yang berada di dalam kamar itu pun ikut menangis. Dengan berlinang air mata penuh kebahagian Ibu menggapai wedding veil yang tersemat di belakang rambut indah putrinya, sebuah kain putih tipis menerawang itu mulai perlahan menutupi mahkota bagian atas kepala hingga menutupi seluruh wajah putri cantik dihadapannya.
"Jangan menangis, sekarang tunggu lah disini sampai Pak Tris menjemput dan membawa mu turun dari kamar ini." Ucap Ibu lalu keluar dari kamar Caca sesekali dia menengok ke arah putrinya dan pergi menghilang begitu saja dari pandangan mata.
Para Bride Maids berusaha menenangkan Caca, mereka adalah ketiga teman Caca yang selalu setia menghibur dirinya dikala sedih.
"Sudah ya Ca, jangan menangis. Kita selalu disamping kamu." Mereka bertiga memeluk Caca.
Caca menghapus air matanya dengan sapu tangan yang pernah dia simpan sebelumnya, dia teringat ketika sapu tangan itu diberikan oleh Nael untuk dirinya. Caca lalu memeluk erat sapu tangan itu lalu berusaha tersenyum kembali walau bibirnya masih bergetar kuat menahan kesedihan.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Sementara itu Rusli memberi kabar kepada Satya jika rombongan Sony sudah mulai mendekati Kediaman Heru.
"Bagus itu berarti sebentar lagi Sony akan merebut Caca, mengingat jumlah penjaga Heru dan Djuanda sangat tidak sebanding dengan rombongan kita, aku yakin Sony akan berhasil merebut Caca dari tangan Nael dengan mudah," ucap Satya dengan penuh yakin.
Rusli menghentikan keyakinan Satya lalu dia berkata, "Tapi Bos, ada sejumlah polisi yang sedang dalam perjalanan ke rumah Heru juga, mereka telah ditugaskan untuk menjaga kediaman Heru."
Satya menghela nafas, tetapi dengan percaya diri dia berkata, "Jangan takut orang-orang kita sangatlah banyak, suruh sebagian rombongan Sony putar balik untuk menghalangi polisi-polisi itu di tengah jalan. Buatlah kerusuhan di jalan yang akan mereka lalui, dengan begitu kita bisa menghambat waktu mereka."
"Baik Bos!" Rusli kemudian menjalankan perintah Satya dan menghubungi Sony, dan dengan cepat Sony menjalankan rencana tersebut.
…………………………………………………………………………
Di Kedimanan Heru.
Pak Tris tengah menggandeng seorang pengantin wanita, pria ini pun menuntun layaknya seorang ayah kepada putrinya. Mereka berjalan dan berhenti sejenak di depan barisan kerumunan yang telah menantikan mereka.
Suasana pun menjadi bahagia dan penuh haru tetapi tidak dengan Ibu, dia merasakan hal lain. Dalam hati mengapa putrinya berbeda dari yang dia lihat sebelumnya ditambah lagi para teman Caca yang tidak berada di samping putrinya.
***
Pak Tris mulai berjalan perlahan mengandeng pengantin wanita tersebut, tetapi langkah kakinya terhenti ketika Sandy memberitahukan sesuatu. "Pak, Sony dan rombongannya sebentar lagi akan tiba. Para polisi pengecoh yang dibawa oleh Pak Peter sedang menghadapi kerusuhan di jalan, sedangkan pasukan polisi dari Pak Firman sudah dalam perjalanan dari arah lain menuju kesini."
Pak Tris tersenyum kemudian membalas perkataan Sandy, "Bagus, sejauh ini berjalan lancar. Kita ikuti permainan mereka, jika Sony dan rombongan itu datang berikan perlawanan yang biasa saja, kita harus terus bertahan hingga Pak Firman dan pasukannya sampai kesini. Jangan sampai mereka curiga. Sekarang jaga kamar Caca dengan ketat, jangan biarkan Pengantin asli keluar dari kamarnya."
"Baik Pak Tris!"
Sandy mengerti, diapun mematuhi perintah tersebut dan segera melaksanakannya.
***
Di Kamar Caca.
Caca nampak gelisah dia menatap jam sambil terus mondar mandir dalam kamar.
__ADS_1
"Sudah jam 10 kenapa Pak Tris belum datang menjemputku, apa terjadi sesuatu?" ucap Caca sedikit khawatir.
Teman-teman Caca juga merasa ada yang aneh dengan kejadian ini, untuk memastikan sesuatu Dewi berkata, "Benar, coba Mba lihat ke depan dulu ya Ca."
Caca mengangguk. "Coba lihat sebentar saja, nanti cepat kesini lagi."
"Iya." Dewi kemudian membuka pintu, tetapi pintu itu dia tutup kembali karena melihat ada beberapa orang yang menjaga di depan kamar Caca.
Dewi kemudian menghampiri Caca dan yang lainnya. Melihat wajah Dewi yang panik, Caca bertanya, "Kenapa Mba, ada apa?"
Dewi kemudian menjelaskan tentang apa yang dilihatnya di depan. Caca dan yang lain cemas, apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana.
Caca lalu berkata sesuatu, "Aku akan melihatnya, aku ingin memastikan dia adalah orang ku atau bukan." Caca menuju pintu kamarnya.
"Tapi Ca, bahaya." Teman-teman Caca menahan agar tidak keluar.
"Biar gue yang lihat," ucap Lista menawarkan diri.
Lista mengintip, kemudian melihat secara seksama orang-orang yang berada di depan tersebut. Caca yang penasaran kemudian bertanya, "Lis, coba lihat pergelangan tangan orang-orang itu. Apakah ada tanda kecil berbentuk bunga dandelion?"
Lista mengangguk kemudian mencari-cari di setiap pergelangan para penjaga tersebut. "Iya ada Ca."
Caca menghela nafas dan berkata, "Itu adalah penjaga pribadiku, tetapi mengapa mereka ada di depan sana. Harusnya mereka berada di taman atau di luar rumah ini bukan? lalu kemana Pak Tris?" tanya Caca begitu heran.
"Mana kita tahu Ca," balas Teh Mul.
Caca mengingat sesuatu, kemudian dia berlari dan mengintip ke pintu kaca pembatas balkon yang kebetulan bisa melihat taman Heru dari atas kamarnya.
Caca menyibak gorden tersebut perlahan dan memperhatikan secara seksama dari kejauhan, dirinya terkejut mendapati Pak Tris tengah menggandeng pengantin wanita lain.
"Siapa wanita itu?" tanya Caca lalu bergetar.
Caca terdiam sejenak kemudian dia membuka pintu kaca pembatas tersebut dan berlari menuju balkon. Caca berusaha memanggil Nael tetapi niatnya diurungkan ketika dia melihat segerombolan orang datang menghampiri kerumunan para tamu dibawah sana.
"Siapa mereka?" tanya Caca lalu melangkah mundur dan berjongkok kemudian dia mengintip kerumunan dibawah sana dengan hati-hati.
***
Semua tamu dan keluarga berteriak panik, apalagi semua penjahat tersebut membawa senjata, baik senjata tajam maupun senjata api.
Nael menoleh kebelakang dan terkejut ketika menatap pria yang tak asing lagi bagi dirinya.
"Sony! bagaimana bisa dia ada disini?" ucap Nael dalam hati.
Nael segera menghadang Sony yang semakin mendekat, dia tahu tujuannya adalah mengambil Caca dari sisi nya.
"Berikan Caca kepadaku Nael, maka semuanya akan selamat!" ucap Sony memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyandera semua tamu dan keluarga Nael.
Semua panik dan menangis, Nael melihat semua itu tetapi dia juga tidak ingin jika calon istrinya di ambil oleh orang jahat dihadapannya.
***
Sementara itu Caca dan teman-teman yang sedang mengintip langsung syok setengah mati melihat Sony dengan para berandalan yang telah menyandera semua orang.
"Nael!" Caca lalu berdiri tetapi dengan sigap para teman Caca menahan Caca dan berusaha menarik Caca agar masuk kembali ke dalam kamar, kemudian mereka mengunci semua pintu dan jendela kamar.
"Jangan ceroboh Ca. Kita tunggu saja disini, mungkin Pak Tris sudah merencanakan sesuatu." Ucap Dewi memegang tangan kanan Caca.
"Benar, lebih baik kita berdoa saja agar tidak terjadi sesuatu." ucap Teh Mul memegang tangan kiri Caca.
"Iya kali ini kita harus menunggu. Haduh kenapa jadi riweh begini!" ucap Lista tak kalah panik.
Caca hanya menangis, dia berharap tidak ada yang terluka kali ini. Terlintas kembali kejadian masa lalu jangan sampai hal tersebut terulang kembali.
***
__ADS_1
Sementara itu pasukan polisi lengkap dengan persenjataan telah tiba di kediaman Heru, kemudian Pak Firman selaku pemimpin pasukan kali ini memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Kalian semua tunggu aba-aba dari saya! kita harus menunggu kabar dari Pak Tris.
Mereka mengerti, dan tiba saat Pak Firman mendapat info, mereka segera bergerak dan masuk ke dalam.
Suara sirene polisi berbunyi, membuat para anak buah Sony terkejut, dan bergetar. Sony yang mulai panik menenangkan dirinya.
"Sial! darimana datangnya mereka, bukankah anak buahku telah menghadang mereka dijalan."
Pak Tris tersenyum dan itu dilihat oleh Nael, Nael pun keheranan dengan tingkah Pak Tris yang terlihat santai dan tidak panik.
"Mungkinkah Pak Tris punya rencana tersembunyi." ucap Nael dalam hati.
Sony kembali geram melihat Nael yang masih bersikukuh mempertahankan Caca. Kemudian pria jahat penuh ambisi ini mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Pistol!" teriak tamu yang melihatnya, dan sontak saja semua mata tertuju kepada Nael dan Sony.
Teriakan demi teriakan diucapkan oleh mereka yang berada disana.
"Jangan lakukan itu!" teriak Pak Heru dan Valen yang ikut panik.
Sony tak menghiraukan ucapan tersebut dia menodongkan senjata api tersebut tepat di dahi Nael, tetapi Nael tak gentar. Dia tak bergerak mundur atau menghindari senjata tersebut, dia telah mengingat janjinya kepada Caca, bahwa dia rela melindungi kekasihnya itu.
"Lihat ini dasar para polisi kepar*t! lihat semua ini para penjaga kalian keluarga Heru yang setia! satu kali aku bergerak maka nyawa pria di depanku ini akan melayang. Lebih baik kalian menyingkir! letakkan semua senjata kalian, maka semuanya akan selamat dan biarkan aku pergi membawa Caca!" teriak Sony mengertak semuanya.
Para polisi itu berhati-hati dan tidak bertindak gegabah, mereka mengikuti perintah Pak Firman untuk menjatuhkan senjata dan bersabar terlebih dahulu dan dengan cepat anak buah Sony mengambil semua senjata tersebut.
Sony menyeringai melihat mereka yang patuh diapun tertawa dan berkata, "Dasar lemah! itulah kalian para penegak hukum yang sanggup dibayar dengan uang. Kalian semua tidak lah berguna!"
Nael geram diapun berkata, "Kau yang lemah, berani menodongkan pistol ke arah ku!"
Sony tak terima diapun meninju perut Nael dengan keras dengan satu tangan.
"Bug!"
Seketika Nael meringis kesakitan, dia merasakan senap dibagian perutnya.
"Uhuk!" Tetapi Nael lanjut berdiri, Sony menyeringai lalu meninju wajah Nael.
"Bug!"
Seketika itu pula darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Semua berteriak histeris melihat Sony yang bertindak arogan terhadap Nael.
"Jangan!" mereka menangis tak berdaya mengingat anak buah Sony telah menahan mereka satu persatu.
Para penjahat itu tertawa melihat Nael dan yang lainnya yang merasa tidak berguna.
Nael menghapus darah dari mulutnya itu dan dengan kuat dia menghajar wajah Sony.
"Bug!"
Sony tak terima apalagi melihat darah segar mengalir pula di bibirnya, dengan wajah merah padam dia kemudian menarik pelatuk ditangannya lalu menodongkan kembali pistol itu ke arah Nael dan ....
"Dorr!!" suara senjata api itu melesat.
Semua tercengang, mendengar suara tembakan tersebut. Terlebih lagi Caca, di dalam kamar dia mengintip kejadian tersebut, Caca menangis sambil mengamuk dia berteriak.
"Nael!!!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1
……………………………………………………………………………
Wah-wah apa yang terjadi selanjutnya! tunggu di episode selanjutnya ya.