Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 82. Bobo siang.


__ADS_3

Drama sarapan pagi telah selesai, terlihat Nael sedang mengelus-elus perutnya akibat kekenyangan karena kebanyakan makan dan hal itu membuat dirinya menjadi sulit berjalan.


Caca menemani Nael yang sedang duduk sesekali Nael bersendawa dan menunggu perutnya itu mencerna semua makanan yang telah ditelannya.


"Ah makanan mu itu bisa membunuhku Carisa."


Mendengar ucapan Nael Caca mendengus kesal. "Huh! kau yang salah, makan tak ingat orang malah menyalahkan makananku."


"Puk!"


Caca menepuk perut Nael yang tengah buncit dadakan itu karena kesal dan Caca langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Nael dan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar.


"Akh jangan di tepuk seperti itu, aku bisa muntah nanti! jangan lari Carisa!"


Nael lalu berusaha berdiri dan berjalan perlahan seperti ibu-ibu yang sedang hamil menuju kamarnya yang berada dilantai atas sana.


"Bah! kenapa anak tangganya terasa banyak sekali."


"Si Carisa itu, awas saja dia nanti. Bukannya menolongku dia malah lari meninggalkan ku. Arg! berat sekali rasanya membawa perut ini."


Nael melangkah menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati dan setelah seperempat jam berjuang akhirnya dia pun sampai di dalam kamar nya itu.


……………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


Satya berjalan masuk ke kamar Cindy, dia mendekati Cindy dan memerintahkan sesuatu, "Segera kemasi barang-barangmu, besok setelah sidang Sony selesai akan ada pria yang menjemputmu!"


Tanpa menunggu balasan dari Cindy Satya sudah berbalik badan dan keluar dari kamar itu lalu menutup pintu dengan sangat keras.


"Brak!"


"Cih! sial, kenapa aku harus menuruti perintahnya."


Cindy lalu menelepon seseorang agar menjemputnya di tempat yang telah di rencanakan.


"Baiklah Cindy."


"Terima kasih!"


Cindy menangis, tetapi mengeluarkan air mata pun rasanya percuma karena yang terpenting baginya sekarang adalah memikirkan cara untuk melarikan diri dari ayahnya sendiri sejauh mungkin.


………………………………………………………………………………


Di Kediaman Heru.


Hari sudah semakin siang, Nael juga sudah membaik. Karena kebanyakan makan tadi pagi, makan siang pun akhirnya dia lewatkan.


"Akhirnya, perut ini sudah kembali normal," ucap Nael sambil mengelus perutnya yang sudah kembali kebentuk semula.


Nael lalu membuka pintu pembatas kamarnya berharap bisa berjumpa dengan wanita pujaan hatinya itu tetapi, apalah daya Caca tidak berada di dalam kamarnya.


"Kemana dia, apa dia ada di dapur setelah makan siang? lebih baik aku mencarinya."


Nael menuruni tangga dan berjalan menuju dapur, tetapi Caca juga tidak berada disana. Diapun berjalan kembali menyusuri setiap ruangan dalam rumahnya.


***


Tak berapa lama kemudian Nael tersenyum lebar dia telah menemukan Caca yang sedang duduk melamun di tepi kolam renang sambil bermain air dengan kedua kakinya.


Nael pun berjalan perlahan memantapkan langkah kaki agar mendekat kepadanya dengan sedikit menjinjit seperti langkah kaki kuda dan memastikan agar Caca tidak mendengar suara langkah kakinya itu.


Setelah dirasa cukup dekat, Nael berdiri tepat di belakang Caca. Nael dengan tatapan jahat dia mulai menjulurkan kedua tangannya kedepan dan berusaha mendorong sesuatu dan hingga akhirnya, "Byur!"


"Bluk bluk bluk!"

__ADS_1


Caca terjatuh ke kolam berenang miliknya dan Nael tertawa puas setelah melihat Caca jatuh ke dalam kolam tersebut.


"Hahaha! sekarang kita impas Carisa."


Nael masih saja menertawakan Caca, hingga akhirnya Nael berhenti tertawa dan terdiam setelah mendengar suara Caca yang berteriak meminta tolong.


"Akh tolong! to..tolong aku ... tolong!"


"Splash splash!"


"Bluk!"


"Bluk!"


"Bluk!"


"Carisa! hei kemana dia, apa jangan-jangan!"


"Shitt!"


Nael berubah menjadi cemas lalu tanpa pikir panjang diapun langsung terjun ke kolam untuk menolong Caca yang ternyata tidak bisa berenang.


"Byur!"


Nael mencari dan meraih tubuh Caca yang tenggelam dan membuatnya menepi lalu mengangkatnya ke atas.


"Carisa! hei bangun, kamu jangan bercanda!" ucap Nael membangunkan Caca.


Nael menepuk pipi Caca berulang kali karena tak ada balasan dari Caca, Nael lalu mendekatkan wajahnya untuk memastikan sesuatu dan dirinya dibuat cemas karena Caca tidak bernafas.


"Deg!"


"Carisa bangunlah!"


Nael bergegas melakukan penyelamatan terhadap Caca dia membaringkan tubuh Caca kemudian menumpuk kedua telapak tangannya yang mengarah kebawah, meletakkannya diatas dada Caca lalu menekan dada itu dengan cepat namun berhati-hati.


"Ayolah bernafas!" ucap Nael disela-sela aksi penyelamatannya.


"Carisa bangunlah!"


Beberapa saat kemudian Nael melihat ada air yang keluar dari mulut Caca dan seketika itu juga Caca mulai kembali bernafas.


"Uhuk! uhuk!"


Caca memuntahkan semua air yang telah di telan olehnya dan mulai membuka matanya perlahan. Caca langsung menarik nafas dalam-dalam karena merasakan sesak di dadanya.


"Carisa!"


"Uhuk!"


Nael langsung mengangkat sedikit kepala Caca agar mendekat dengan nya dan dengan wajah yang cemas bercampur rasa lega Nael lalu memeluk Caca dengan erat.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak bisa berenang ... tolong maafkan aku Carisa!"


Caca menatap wajah Nael dari dekat tetapi karena merasa kelelahan akibat tenggelam membuatnya kembali tak sadarkan diri.


"Carisa!"


Tubuh Caca terkulai lemas dan Nael bergegas membopong tubuh Caca ala bridal style lalu masuk ke kamar yang berada di dalam paviliun dekat kolam tersebut dan berteriak memanggil Bi Lila.


"Bi Lila tolong kemari sebentar!" teriak Nael.


Bi Lila yang sedang membersihkan rumah bagian tengah, menghentikan sejenak aktivitasnya itu lalu bergegas menghampiri Nael yang memanggil dirinya.


"Iya Tuan ada apa?" tanya Bi Lila.

__ADS_1


Melihat kondisi Caca yang tak sadarkan diri dan melihat mereka dalam basah kuyup membuat Bi Lila terkejut.


"Nona Caca!" Bi Lila segera menghampiri mereka berdua lalu tanpa banyak bicara Bi Lila pergi mencari sesuatu untuk mengeringkan tubuh mereka berdua dan kembali lagi untuk memberikan handuk juga pakaian ganti.


Nael membiarkan Bi Lila mengeringkan tubuh Caca dan juga mengganti pakaiannya yang basah sementara Nael pergi mengurus dirinya. Tak berselang lama Bi Lila telah selesai mengganti pakaian Caca, Bi Lila kembali mengerjakan pekerjaannya dan membiarkan Nael menemani Caca.


Nael menghampiri Caca yang masih terbaring dan duduk di samping Caca, ada perasaan bersalah pada wajah Nael dia merasa sangat bersalah kepada Caca. Nael mengenggam tangan Caca lalu mencium punggung tangan itu dan berkata, "Maaf Carisa, sekarang cepatlah bangun."


Tak berselang lama Caca mulai membuka matanya, dengan tatapan sayu dia melihat ke sekeliling kamar tersebut yang terlihat indah baginya. Nael yang merasakan ada pergerakan pada tubuh Caca diapun tersenyum lega lalu menatap Caca penuh haru.


"Nael kita ada dimana, apa ini surga?" ucap Caca dengan suara parau.


Nael tak menggubris perkataan tersebut dia langsung menarik tubuh Caca agar mendekat dengannya lalu memeluk Caca dengan erat.


"Akhirnya kamu bangun juga Carisa, maaf ya aku tidak sengaja mendorong kamu jatuh ke kolam."


Caca mengingat kembali kejadian tersebut ternyata Nael begitu khawatir kepadanya. Caca lalu tersenyum dan menjawab, "Tidak apa."


"Maaf Carisa, aku sangat khawatir sekali. Aku pikir aku akan kehilangan dirimu." Nael yang masih merasa bersalah mendekap Caca dengan begitu erat lalu membenamkan wajah Caca pada dada bidangnya itu.


"Jangan peluk aku seperti ini, nanti aku kehabisan nafas lagi." Caca berusaha mendorong tubuh Nael.


"Deg!"


Mendengar ucapan Caca, Nael segera mengendurkan pelukannya dan meminta maaf kembali.


"Oh! begitu maaf."


Nael melepaskan pelukannya dan menatap Caca kembali, dia mengusap rambut Caca yang masih sedikit basah. Lalu mengecup kening Caca dengan lembut.


Mendapat perlakuan manis dari Nael membuat jantung Caca kembali berdebar, sekuat hati dia menolak perlakuan tersebut karena malu.


"Jangan bersikap seperti itu, bagaimana jika ada yang lihat? aku malu."


Nael melihat Caca yang tertunduk malu lalu menarik dagu runcing Caca hingga kedua netra mereka saling bertemu.


"Kenapa harus malu, bukankah kau itu calon istriku." Nael mulai merayu Caca.


Wajah Caca seketika memerah lalu memalingkan wajahnya dengan segera, ditatap seperti itu oleh Nael membuat dirinya menjadi gugup apalagi dengan mendengar ucapannya yang mengatakan dia adalah calon istri Nael membuat hati Caca menjadi berbunga-bunga.


"Baru calon, kita belum sah secara hukum maupun agama, lebih baik kita keluar sekarang aku takut Pak Heru mencurigai kita berbuat macam-macam."


"Papa sedang tidak ada di rumah dan pulang nanti malam, disini hanya ada kita berdua, kenapa harus malu," balas Nael.


Caca tak membalas perkataan Nael dia lalu bangkit dari kasur dan Nael tak akan membiarkan itu terjadi. Nael dengan cepat menarik pergelangan tangan Caca agar duduk kembali.


"Temani aku dulu disini."


"Mau apa kamu?" tanya Caca sedikit panik melihat tatapan Nael.


Nael lalu menarik pinggang ramping Caca agar mendekat kepadanya lalu memeluk Caca kembali dengan mesra.


Nael menjatuhkan dirinya kemudian menarik tubuh Caca agar tidur di atas dada bidangnya itu lalu memeluk Caca seperti bantal guling kesayangannya dan berkata, "Temani aku bobo siang ya, penyelamatan tadi membuatku mengantuk," ucap Nael dengan manja lalu mengecup kening Caca dengan lembut.


"Hoam!" Nael lalu tertidur meninggalkan Caca yang masih terjaga.


"Bagaimana ini aku tidak bisa bergerak, dia memelukku begitu erat."


"Hufft!"


Caca menghela nafas panjang dan akhirnya dia pasrah menerima keadaan, tetapi Caca merasa senang diapun tersenyum karena bisa memandangi wajah tampan Nael yang sedang tertidur pulas.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2