
Nael meletakan tubuh Caca di atas kasur. Nael lalu melepaskan genggaman tangan Caca dari kerah baju nya. Perawat dengan cepat merawat Caca kembali, kondisinya lemah. Semua orang menghampiri Caca untuk melihat kondisinya.
Pak Tris dan Pak Heru meminta Ibu dan Adik Caca untuk menunggu dan menemani Caca saja, sedangkan mereka yang akan mengurus semua administrasi dan keperluan lainnya.
Teman-teman Caca berusaha menenangkan Ibu Caca yang menangis. Nael duduk disamping Caca, sambil memandangi wajah nya yang lemah.
"Kasian, Caca. Caca yang malang," ucap Ibu menangis.
"Sewaktu kecil dia kehilangan kedua orang tua nya dan sekarang dia telah kehilangan Ayah nya. Trauma nya telah kembali, rasa sakit nya telah kembali lagi kepadanya," kata Ibu Caca sambil menangis.
Nael hanya mendengarkan perkataan Ibu Caca, mata nya hanya tertuju kepada Caca, dia kembali mengingat perkataan nya kemarin.
"Dan satu lagi. Kamu itu bawahan saya, jangan belagak sok akrab dengan saya. Kamu tidak usah peduli dengan saya, orang seperti kamu mana mungkin pernah merasakan kehilangan orang tua. Hanya saya yang tahu bagaimana kehilangan seorang Ibu, dan kamu tidak perlu ikut campur!"
Nael hanya menunduk sedih mengingat kata-kata nya tersebut, ternyata Caca mengalami banyak hal berat dan menyedihkan daripada dirinya.
Dia baru mengerti akan rasa penasarannya terhadap Caca, kenapa dia takut akan gelap, kenapa ayah nya yang berbeda dari nya dan kenapa dia selalu misterius. Nael lalu bersedih dan menitikan air mata.
Kejadian tersebut membuat teman-teman Caca menjadi penasaran. Mereka ingin tahu tentang Caca sebenarnya, lalu Mba Dewi memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf, Ibu. Tapi boleh tidak bercerita sedikit tentang Caca sewaktu kecil? kami benar-benar ingin tahu, tapi kalo Ibu tidak berkenan juga tidak apa-apa, Bu."
Ibu Caca memandang semua orang, dia lalu memandang Caca.
"Dulu. Saya hanya pedagang makanan keliling dan suami saya Pak Burhan adalah seorang hansip. Kami berdua tinggal di desa dan rumah kecil."
"Kami bertemu dengan orang tua Caca, ketika ada pusat kuliner di desa itu. Saya kebetulan sedang berjualan disana."
"Caca masih didalam kandungan, mereka sedang ada kunjungan kerja disana. Mereka menghampiri saya karena mencium aroma enak dari masakan saya. Kemudian saya pun menawarkan kepada mereka."
"Ayah kandung Caca sangat tampan dan Ibu Caca sangat cantik, wajahnya mirip dengan Caca saat ini."
"Mereka berdua terlihat seperti orang kaya, banyak pengawal di sekeliling mereka, walau begitu mereka tetap ramah meski saya kotor dan cuma orang miskin."
"Keesokan harinya, Ibu nya Caca datang kepada saya kembali. Dia suka dengan masakan saya, kali ini dia datang sendiri dan hanya dikawal oleh dua orang pengawal. Ayah Caca ternyata sedang sibuk dengan tamunya."
"Karena dia akan pulang ke Kota, dia meminta saya untuk bekerja menjadi pembantu di rumahnya."
"Kemudian Ayah Caca datang menghampiri istrinya bersama dengan suami saya, dia bercerita suami saya telah membantunya melawan perampok ketika mengambil uang di Bank."
"Ayah Caca kemudian menginginkan suami saya menjadi salah satu body guardnya. Karena itu lah kami pindah dan bekerja di rumah mewah nya."
"Mereka sangat baik, memberikan kami tempat tinggal di sebuah komplek perumahan yang kami tempati sekarang ini."
"Suatu hari Ibu Caca merasakan mulas dia ingin melahirkan, saya segera membawa nya kerumah sakit dan Caca kemudian lahir."
"Caca menambah kebahagiaan keluarga ini, apalagi wajahnya yang lucu dengan rambut yang berdiri, membuat semua orang yang melihatnya tertawa. Ayah Caca sering memanggilnya Dandelion Kecil papa yang imut dan manis."
"Suami saya di tugas kan menjaga Caca, karena dia putri satu-satunya."
"Suami saya sangat bahagia, karena kami memang belum mempunyai anak dia juga telah menganggap Caca sebagai putrinya sendiri. Ayah Caca juga telah mengijinkan Caca bermain bersama dengan suami saya."
__ADS_1
"Lambat laun mereka semakin dekat, kalo ada masalah selain ke orang tua nya, Caca juga suka mengadu ke Pak Burhan. Saya juga senang dengan kedekatan mereka. Caca anak yang baik."
"Ketika berusia tujuh tahun keluarga Caca mengalami masalah besar, dia dikhianati oleh orang yang pernah mereka bantu, dia adalah Satya yang jahat. Dia ingin menguasai semua kekayaan keluarga Caca dan dia semakin marah karena orang tua Caca menolak untuk menjodohkan Caca dengan putranya."
"Caca sudah dijodohkan dengan orang yang tepat, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, maka mereka akan dipertemukan."
"Satya. Dia tidak tahu diri, dia pernah dipenjara oleh ayah Caca karena korupsi di perusahaan nya. Dari kabar yang beredar dia jatuh miskin dan istrinya menjadi gila lalu bunuh diri."
"Satya juga kabur dari penjara dan menjadi buronan seketika itu dia juga ingin balas dendam dan ingin membunuh seluruh keluarga Caca."
"Suatu hari orang tua Caca sedang memperingati hari jadi pernikahan nya, pesta itu begitu meriah. Ibu Caca cantik sekali dengan gaun putih yang sederhana."
"Pak Burhan, suami saya sedang cuti karena saya keguguran dan beliau meminta suami saya untuk menemani saya dahulu selama beberapa hari."
"Setelah selesai acara. Caca kecil sedang bermain di taman, dia terlepas dari pantauan para penjaga karena mereka sedang sibuk dengan orang tua Caca yang sedang di serang oleh kawanan penjahat. Caca kecil di culik."
"Ayah Caca melihat anaknya diculik langsung mengejar para penculik tersebut, istrinya terbunuh saat itu juga."
"Caca kecil hanya menangis dia ketakutan, penjahat itu mengunci Caca didalam sebuah mobil van yang sempit dan gelap."
"Ayah Caca tak pikir panjang diapun langsung menolong Caca yang menangis ketakutan."
"Ayah Caca berhasil menyelamatkan Caca tetapi dia terluka parah lalu dia menelepon suami saya untuk datang ke alamat yang telah dia berikan dan meminta membawa polisi juga."
"Mereka berdua bersembunyi di dalam ruangan bekas rumah tak perpenghuni yang begitu gelap. Tapi para penjahat itu menemukan Ayah dan Caca. Para penjahat itu segera memukuli Ayah Caca hingga tak berdaya."
"Caca hanya menangis diapun segera di bawa oleh para penjahat, tetapi suami saya datang tepat waktu dan langsung menghajar para penjahat tersebut. Caca pun berhasil diselamatkan dan dibawa kabur oleh suami saya."
"Akhirnya Caca dibawa pulang ke rumah dan diadopsi oleh kami. Kehadiran Caca menjadi penghibur bagi kami yang baru saja kehilangan anak karena keguguran."
"Caca kecil tidak mau keluar kamar. Dia takut dan tidak mau makan atau minum, dia hanya menangis memanggil kedua orang tua nya."
"Pak Burhan selalu menghibur Caca, dia selalu menenangkan Caca saat sedih. Caca kembali tersenyum ketika anak saya Handi lahir, dia menyayangi handi seperti adik sendiri. Sejak saat itu Caca telah menjadi bagian dari keluarga kami ...."
Ibu Caca kembali menangis dia tidak sanggup menahan kesedihannya, diapun berhenti bercerita.
"Maaf" kata Nael.
"Saya minta maaf sama Ibu dan Carisa. Karena kebodohan saya semua ini terjadi, mohon maafkan saya!" kata Nael sambil meminta maaf kepada ibu Caca.
"Tidak apa, Nael. Semua sudah terjadi," kata Ibu Caca sambil mengusap air mata nya.
***
Pak Heru dan Pak Tris datang, mereka sudah mengurus semua administrasi dan akan membawa jenazah pak Burhan ke rumah duka dan akan segera di makamkan.
"Semua sudah siap, Bu Siti. Mari kita ke rumah duka. Kita harus ikhlas," kata Pak Heru.
"Baik, Pak. Bagaimana dengan Caca? siapa yang akan menemani nya jika dia sadar?" tanya Ibu Caca.
"Biar saya saja yang menemani Carisa," jawab Nael sambil menatap Caca yang terbaring.
__ADS_1
Pak Heru tak mengijinkan, karena Caca sangat marah kepada Nael.
"Tidak boleh! Caca sedang marah kepada mu. Bagaimana kalau dia sedih kembali dan mengamuk seperti tadi."
"Biarkan Nael yang menjaga Caca untuk malam ini saja, Heru." Pak Tris menenangkan Pak Heru.
"Baik lah," kata Pak Heru setuju.
Teman-teman Caca kemudian meminta ijin untuk pulang karena hari sudah malam. Nael meminta Ahmad untuk mengantar mereka sampai ke rumah mereka masing-masing.
***
Sirene ambulans berbunyi, menandakan jika Ayah Caca akan pergi menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir dan tak akan pernah kembali lagi. Tugas nya telah selesai, dia telah menepati janjinya untuk melindungi dan setia kepada Caca dan keluarga nya.
"Selamat jalan, Pak Burhan. Kami semua menghormati mu."
……………………………………………………………………………………
Di Mobil.
Ahmad sedang mengendarai mobil untuk mengantarkan teman-teman Caca pulang ke rumah mereka masing-masing.
Selama perjalanan mereka hanya sedih dan menangis melihat Caca dan kisah nya yang sangat memilukan.
"Nggak nyangka ya. Caca punya cerita tragis waktu kecil," kata Mba Dewi.
"Bener, Mba. Apalagi dia juga harus kehilangan Ayahnya sekarang. Caca yang malang." kata teh Mul.
"Saya salut sama ketabahan nya, selama ini dia nggak pernah cerita masalah nya se waktu kecil dan juga masalah keluarga nya. Kita pikir dia cuma orang biasa seperti kita, ternyata dia orang penting yang tidak kita sangka selama ini," kata Lista.
"Iya saya juga selama kerja baru tahu kejadian ini. Pak budi yang mulutnya selalu keceplosan saja tidak pernah membicarakan hal ini kepada saya. Itu menandakan bahwa Caca begitu berharga dan nyawa nya selalu dalam bahaya," kata Ahmad.
"Bener, Mad. Bagaimana pun Caca tetap teman kita. Kita juga harus selalu mendukung dia dan bantu dia lupain kesedihan nya," kata teh Mul.
Mereka pun kembali mengingat masa masa bersama Caca yang riang dan baik hati.
……………………………………………………………………………
Di Rumah sakit.
Nael sedang menemani Caca yang masih terbaring. Caca selalu mengingau dan memanggil ayah dan papa juga mama nya.
Nael selalu mengingat kenangan bersama Caca. Walau tak banyak tapi dia selalu mengingatnya. Bagaimana dia selalu menolong Caca berkali-kali saat terpeleset jatuh atau saat dia ketakutan akan gelap dan tertawa bersama saat mereka bekerja di gudang.
Nael hanya ingin Caca segera sadar, dia ingin sekali meminta maaf pada Caca.
***
Hari telah malam, Nael yang sedih kemudian tertidur disamping Caca.
Bersambung.
__ADS_1