
Dewi dan Lista menulis surat balasan untuk Caca dan memberikannya kepada Pak Tris untuk di kirimkan.
Nael juga membalas surat untuk Caca dengan kata kata kasar nya. Nael terpancing emosi, dia ingin Caca mengetahui betapa marahnya Nael terhadap surat dari nya itu.
"Pak, kenapa kita kirim pesan pake surat? bukannya lebih enak pake HP atau telepon gitu?" tanya Lista.
"Di desa sana susah sinyal nya, rumah Caca juga belum ada saluran telepon."
"Wah Caca jadi orang gunung. Hahaha."
"Oiya tadi Pak Nael dapat surat apa ya dari Caca?" tanya Mba Dewi.
"Surat Cinta mungkin. Hihihi."
Mereka semua tertawa, mereka lalu membalas pesan tersebut untuk di kirim ke Caca melalui jalan rahasia agar tidak ada yang mengikuti Sandy.
***
Nael sangat kesal dengan surat dari Caca, dia sangat marah mengetahui sifat Caca yang tidak baik. Dia memarahi setiap orang yang di lalui nya tanpa alasan yang jelas.
Cindy tertawa melihat itu, dia merasa puas. Cindy juga berhasil memainkan perasaan Nael yang begitu mudah terpancing emosi, Cindy lalu menelepon seseorang.
"Halo."
"Halo."
"Bagaimana? apa kalian berhasil mengikutinya?"
"Berhasil Nona, kita sudah mengikuti nya."
"Bagus, sebentar lagi kita akan tahu dimana letak persembunyiannya Caca. Pantau terus, dan kasih kabar jika ada sesuatu yang penting."
"Baik Nona!"
Cindy menutup teleponnya dan tersenyum.
……………………………………………………………………………
Sementara itu di desa nan jauh disana, Ibu mengajak Caca untuk berkeliling dan mengunjungi keluarga Ibu yang berada disana.
Mereka berkeliling menggunakan sepeda. Caca dan Ibu terlihat senang, akhirnnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Ibu dan Caca kemudian memberi salam kepada Nenek.
Nenek yang melihat menantu dan cucu nya datang sangat senang, dia kemudian memeluk dan mencium Ibu dan Caca. Nenek tidak lupa menyambut mereka berdua.
"Selamat datang menantu, selamat datang juga buat Caca. Mari masuk, Nak."
Nenek adalah Ibu dari Pak Burhan. Nenek terkenal jagoan juga, umurnya sudah renta dan pendengaran nya pun sedikit berkurang. Tak heran jika banyak yang sedikit emosi jika berbicara dengan Nenek.
Nenek tinggal bersama Paman Barhan (adik Pak Burhan) dan Istri, kemudian juga ada anak nya Paman yaitu Dodi.
Lalu di sebelah rumah Nenek ada rumah Paman Birhan dan Istrinya, kedua Paman Caca jago bela diri semua seperti Pak Burhan, sehingga Caca merasa aman di sini.
"Gimana Bu kabarnya, sehat?" tanya Ibu Caca.
"Wah Ibu emang jago silat," kata Nenek memperagakan ilmu bela dirinya.
Caca hanya tertawa melihat kelakuan Neneknya, sedangkan Ibu Caca hanya bersabar menghadapi Nenek yang kurang pendengarannya.
"Kenapa Caca ketawa? Nenek memang jago silat, tuh lihat. Banyak piala bekas Nenek lomba, menang semua!" kata Nenek dengan percaya diri.
"Iya Nek. Iya." kata Caca mengangguk.
"Kalian datang bukannya tanya kabar Nenek sehat atau tidak, kalian malah nanya Nenek memang jago silat. Bagaimana sih mantu sama cucu. Ya sudah mari sini duduk," ajak Nenek.
Ibu langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minum untuk Caca, sedangkan Caca duduk bersama Nenek dan mengajak Caca mengobrol.
"Nak Cantik, umur kamu sekarang berapa?" tanya Nenek bertanya.
"Umur Caca 20 tahun Nek."
"Ditanya umur kamu Nak, bukan nanya tukang kebun. Disini mah mana ada tukang kebun. Hahaha," ucap Nenek sambil tertawa.
__ADS_1
"Hahaha.. 20 tahun Nek." Caca sedikit mengeraskan suaranya.
"Oh 20 tahun, ya sudah jangan teriak-teriak. Nenek juga denger, Nenek kan nggak budek. Hahaha." Nenek tertawa lagi.
"Sudah punya pacar belum? Hehehehe." Nenek bertanya kembali.
"Belum Nek!" jawab Caca.
"Iih bukan nya balon, tapi Nenek nanya kamu udah punya pacar belum?"
"Belum Nek, belum."
Beberapa saat kemudian Ibu datang dan menghentikan percakapan tersebut sebelum menjadi perang.
"Sudah! sudah cukup. Ni makan dan minumnya."
"Terima kasih," kata Nenek dan Caca bersamaan.
Caca dan Ibu senang setidaknya Nenek masih dalam keadaan sehat, walau mereka mengobrol dengan sedikit urat tetapi Nenek tidak marah kepada keluarganya.
***
Hari sudah malam, Caca dan Ibu kembali kerumah untuk beristirahat. Mereka harus bangun pagi untuk besok berjualan.
"Ibu, besok kalo ada waktu senggang lagi ajak Caca ke tempat biasa Ayah dan Ibu main dulu ya!" kata Caca bersemangat.
Ibu terdiam, dia mulai mengingat suaminya. Ibu lalu sedih, tapi dia tidak ingin membuat putrinya ikut bersedih.
"Ya Ca, siap!"
"Yes!" balas Caca gembira.
Caca masuk ke dalam kamarnya, kemudian tertidur karena sudah lelah beraktivitas seharian.
…………………………………………………………………………………
Di Mes Pak Tris.
Sementara itu Pak Tris mendapat telepon dari orang kepercayaan nya.
"Maaf Pak darurat! Pak Satya dia bebas besok!"
"Apa!" Pak Tris terkejut hingga telepon genggam miliknya terlepas dari pegangannya, karena berita buruk telah hadir.
"Halo Pak, Hallo!"
"Tut tut tut!" Suara panggilan terputus.
Pak Tris kembali mencemaskan semua orang khususnya Caca, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Satya yang begitu kejam akan melakukan balas dendam terhadap semua orang.
…………………………………………………………………………
Keesokan Harinya di kantor.
"Tap.. Tap.. Tap.."
Seseorang berjalan cepat menghampiri Pak Tris dan Pak Heru yang menunggu di ruang rahasia.
"Apa betul hari ini Satya akan keluar dari penjara?" tanya Pak Heru.
"Betul Pak, rencana nya Pak Satya akan bebas siang ini."
"Kita semua dalam bahaya Tris!" ucap Pak Heru cemas.
"Betul Heru! apa yang harus kita lakukan? apa kita harus beritahu Nael juga mengenai ini?" tanya Pak Tris.
"Lebih baik Nael jangan diberitahu, kita juga belum mengetahui apa rencana Satya setelah keluar dari penjara. Yang bisa kita lakukan adalah penjagaan yang ketat untuk Caca dan perusahaan kita ini." balas Pak Heru.
"Mengenai para penyusup di sini bagaimana?" tanya Pak Tris
"Kita akan menjebak dan menangkap mereka, dan memaksa mereka untuk bicara siapa mereka dan apa hubungan mereka dengan Satya."
__ADS_1
"Baik lah Heru, sekarang penjagaan untuk Caca harus di perketat, oke!"
"Baik Pak!"
Mereka pun kembali bekerja dan berusaha menutupi kepanikan mereka. Pak Tris meminta bantuan Dewi dan Lista untuk memata-matai Cindy kembali.
Pak Tris juga memberitahu jika Caca dalam bahaya, karena musuh Ayahnya akan keluar dari penjara.
"Apa itu benar Pak?" tanya Dewi.
"Iya Dewi, musuh Djuanda akan keluar dari penjara siang ini. Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Caca dan juga perusahaan ini."
"Kasian Caca, tapi kenapa Satya ingin menguasai perusahaan ini Pak?" tanya Dewi.
"Karena pemegang saham terbanyak di sini adalah Djuanda Ayah kandung Caca."
"Jika dia berhasil menangkap Caca, maka Caca akan di paksa untuk menanda tangani semua kekayaan Ayah nya untuk dibalik nama ke atas nama Satya."
"Otomatis perusahaan ini juga akan berada di bawah kekuasaan Satya, belum lagi putra nya yang sangat berambisi memiliki Caca seutuhnya, bagaimana nasib Caca bila hal itu terjadi." Pak Tris lalu cemas dan sedih.
"Apa Bapak tau siapa putra nya Satya?" tanya Lista.
"Saya tidak tahu namanya, dan belum pernah bertemu dengan mereka. Kalau info dari mata-mata kita, Satya punya dua anak kandung Wanita dan Pria dan mereka sama-sama ber ambisi seperti Ayah nya, gila harta dan kekuasaan."
Lista dan Dewi mengerti dia akan berusaha membantu Caca sebaik mungkin.
***
Hari ini Nael sangat pendiam dan dingin, karyawan pun tidak ada yang berani mendekat atau menegur Nael. Hati Nael sudah seperti es batu, dia tidak ingin berharap apa-apa lagi dari Caca dan berusaha melupakan Caca.
…………………………………………………………………………………
Di Desa.
Caca dan Ibu sedang berjalan-jalan keliling desa setelah selesai berdagang.
"Ca, lihat sungai itu! di sungai itu tempat Ibu dan Ayah pertama kali ketemu." Ibu menunjuk sungai di depan nya.
"Wah ceritain donk, hehe." Caca mulai penasaran.
Mereka lalu duduk di tepi sungai dan Ibu mulai bercerita.
"Dulu Ibu lagi nyuci baju di sungai ini, terus Ayah kamu kebetulan lagi mancing di sungai ini. Waktu Ibu lagi nyuci tiba-tiba baju Ibu hanyut kebawa arus dan tersangkut di kail pancingannya. Ibu mengejar baju tersebut dan bertemu lah sama Ayahmu itu."
"Hihihi.. Kaya cerita di film-film aja nih." Caca sedikit tertawa.
"Ibu berterima kasih kepada Ayah, kemudian kami saling mengobrol dan lama-lama menjadi akrab."
"Kami sering ketemuan, jalan berdua. Ibu merasa nyaman dan aman di samping Ayah kamu. Ayah kamu sering menolong Ibu jika ada kesulitan, kadang jantung Ibu berdebar kencang kalo lagi dekat Ayah." Ibu lalu tersenyum.
"Ibu juga nggak suka kalo lihat Ayah kamu jalan sama cewe lain, mau nya marah aja. Ayah kamu pernah memberikan Ibu hadiah, Ibu senang sekali. Walau cuma hadiah kecil, tapi terasa berharga."
"Kami mempunyai perasaan yang sama, akhirnya kami berdua jatuh Cinta dan memulai pacaran."
"Jatuh Cinta?" tanya Caca sambil mengingat-ingat kejadian yang serupa dengan nya
Bagaimana jantungnya selalu berdegub kencang jika bersama dengan Nael. Perasaan nyaman di dekatnya, suka melihat dia dan senang dengan pemberiannya. Apakah itu Cinta?
Caca terdiam, dia menundukkan kepala nya sambil memegang dada sebelah kiri nya. Lalu tersenyum.
Akhirnya Caca menyadari bahwa dia telah jatuh cinta kepada Nael. Tak terasa Caca menjadi sedih dan mulai menangis.
"Suatu hari Ayah kamu datang ke rumah, kemudian melamar Ibu. Dia tanpa rasa takut mengungkap kan di depan keluarga Ibu."
"Ibu senang, keluarga Ibu juga senang. Akhirnya kami menikah."
"Terima kasih Ibu. Akhirnya Caca tahu satu hal."
"Tahu apa Ca?" tanya Ibu.
"Tidak apa Bu."
__ADS_1
Caca kemudian mengajak Ibu untuk berkeliling kembali. Mereka lalu berjalan dengan perasaan lega dalam hati nya.
Bersambung.