
Di Depan pintu gerbang perusahaan.
Suasana di depan sangat ramai dengan sekelompok berandal dan para penjaga keamanan perusahaan. Kedua kubu bersitegang.
***
Pak Heru dan Pak Tris telah sampai di depan pintu gerbang perusahaan.
"Mau apa kalian semua kesini?" tanya Heru.
"Tenang Pak. Kami hanya ingin menjemput Nona Caca," kata salah satu berandal.
"Dia tidak ada di sini! silahkan kalian pergi sebelum saya menelepon polisi!" ucap Pak Heru dengan nada meninggi.
"Bohong! kami tidak percaya! mari semua kita masuk dan mencari Nona Caca! kita harus menemukan dan membawa nya kehadapan bos besar!" teriak para berandalan itu.
***
Mereka semakin berulah. Kondisi menjadi semakin memanas antara dua kubu. Para berandalan tersebut merangsek masuk dan para penjaga keamanan berusaha menahan mereka.
"Tris, panggil polisi dan pasukan keamanan kita kesini," kata Heru.
"Baik, Heru."
Pak Tris menghubungi anggota kepolisian dan juga para penjaga keamanan pribadi. Pak Heru dan Pak Tris berharap bantuan bisa segera datang.
***
Banyak nya para berandal membuat petugas keamanan pabrik kewalahan. Mereka pun berhasil masuk sambil berteriak agar mencari Caca dengan cepat.
"Bagus! sekarang kita cari dia sampai ketemu! kalian cari di setiap sudut perusahaan ini! jangan sampai dia kabur atau lolos dari sini!" teriak pemimpin berandalan itu.
"Ayo semua!" teriak mereka bersama-sama.
…………………………………………………………………………
Di Tempat Rahasia.
Nael dan Caca sangat cemas dengan berita kemunculan sekelompok berandal yang ingin membawa Caca dari sini.
"Apa mereka akan menemukan kita di sini, Pak?" tanya Caca cemas.
Nael melihat Caca yang berbicara seperti itu. Dia mengerti rasa takut yang di alami oleh Caca, dan apa akibat nya jika para berandal itu berhasil membawa Caca.
"Tidak, Carisa. Mereka tidak akan menemukan kamu di sini. Dan aku tidak akan membiarkan mereka membawa kamu begitu saja," ucap Nael sambil menenangkan Caca.
"Tapi bagaimana? jumlah mereka sangat banyak. Saya takut mereka akan melukai seseorang," ucap Caca begitu ketakutan.
Nael memegang pundak Caca dan berusaha meyakinkan nya.
"Tidak! tidak akan aku biarkan kamu pergi dari sini, dan tidak akan aku biarkan kamu pergi jauh dari aku lagi," kata Nael dengan yakin.
"Apa kamu yakin? jarak kita sudah semakin jauh setelah pertunangan mu dengan Sonia," ucap Caca sedih.
Nael menatap wajah Caca. Terlihat air mata Caca keluar dengan perlahan. Nael menghapus air mata itu. Nael kemudian memeluk Caca dengan lembut.
Caca melepaskan pelukan itu dan berusaha menjauhi Nael.
"Tolong jangan lakukan itu, jangan mendekat, kau sudah milik orang lain," kata Caca kepada Nael.
Nael tidak tahan dengan ucapan Caca yang sedih dengan pertunangan palsu nya dengan Sonia. Nael kemudian ingin menjelaskan kepada Caca tentang pertunangan nya dengan Sonia hanya lah sandiwara.
"Carisa. Tolong jangan bersikap seperti itu, jangan bersedih. Pertunangan ku dengan Sonia ---"
Perkataan Nael terputus karena seorang pria masuk dan menyuruh Caca bersembunyi di tempat yang aman.
"Maaf Nona, kalian harus mencari tempat sembunyi yang aman. Para berandal tersebut berhasil masuk dan sedang mencari Nona di setiap sudut perusahaan ini," kata Pria tersebut.
"Apa kita harus lari dari sini?" tanya Caca.
"Jangan Nona, mereka ada yang menunggu di pintu gerbang masuk depan maupun pintu gerbang belakang," jawab Pria itu.
"Baiklah tolong jaga depan kembali, untuk Carisa, biar saya yang jaga dan saya juga akan mencari tempat untuk bersembunyi," kata Nael kepada pria itu.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Pria tersebut kemudian keluar dan menjaga keamanan depan.
Nael berpikir dan berusaha mencari tempat yang tepat untuk Caca bersembunyi.
"Sini kamu ikut saya," kata Nael menarik tangan Caca.
"Kita mau kemana?" tanya Caca.
"Sudah ikut saja dulu," jawab Nael.
Nael dan Caca pergi ke suatu tempat. Caca melihat tempat gudang tak terpakai di depan nya. Tak ada listrik begitu gelap dan sempit.
"Ayo masuk," kata Nael.
"Tidak! jangan kesana," kata Caca takut.
"Disana tempat yang aman untuk kamu," kata Nael menarik Caca.
"Tolong jangan," ucap Caca memohon kepada Nael.
Nael mengerti ketakutan Caca, dia pun berusaha menenangkan nya.
"Jangan takut, aku akan menemani mu masuk ke dalam sana," kata Nael menatap Caca.
Caca memandang Nael. Dia sedikit lega karena Nael akan menemani nya bersembunyi di tempat gelap tersebut.
***
Terdengar dari depan suara sekelompok berandal yang mengarah ke tempat mereka.
"Ayo kita cari di bagian sini! teriak berandal itu.
Caca kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana bersama Nael.
"Baik. Sekarang kita akan masuk untuk bersembunyi," kata Nael sambil menggenggam tangan Caca.
Mereka kemudian masuk ke dalam. Caca kembali gemetar ketakutan.
"Oke kita duduk di sana," kata Nael sambil menuntun Caca.
Nael dan Caca duduk di sudut gudang dan menutupi diri nya dan Caca dengan tumpukan barang agar tidak terlihat oleh berandalan tersebut.
"Cepat cari di bagian sini!" teriak berandal itu.
"Apa kalian menemukan Nona Caca?"
"Belum bos, dia tidak ada dimana-mana,"
"Sial! bagaimana dia bisa tidak di temukan!" teriak berandal itu.
"Kita cari kemana lagi bos?" tanya mereka.
"Itu! tempat itu kita belum cari," kata mereka menunjuk gudang tempat Caca dan Nael bersembunyi.
"Oke kita cari kesana," kata mereka.
Caca panik mendengar berandalan tersebut mendekati tempat persembunyian nya. Dia spontan memeluk Nael dengan begitu erat. Nael membiarkan hal tersebut dan membalas memeluk Caca untuk menenangkan nya.
"Bos tempat nya gelap banget, tidak ada lampu dan aliran listrik di dalam, cuma ada barang yang bertumpuk-tumpuk," kata salah satu berandal.
"Betul, lagi pula Nona Caca takut dengan gelap, jadi dia tidak mungkin bersembunyi disana, ya sudah ayo kita pergi dan cari di tempat lain,"
Mereka kemudian pergi menyisir tempat lain dan meninggalkan gudang yang gelap tersebut.
***
Perasaan Nael sedikit lega setelah mengetahui berandalan tersebut meninggalkan tempat persembunyian nya. Rencana Nael telah berhasil.
Nael kemudian menggambil telepon genggam nya dan menyalakan senter untuk menerangi sedikit ruangan itu.
Nael melihat Caca yang masih memeluk nya sambil memejamkan kedua mata. Nael kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Sudah jangan takut. Mereka telah pergi," kata Nael melepaskan pelukan Caca.
"Tidak! bagaimana kalau mereka masih menunggu kita di depan?" tanya Caca yang masih enggan melepaskan pelukan nya.
Nael kemudian melepaskan Caca perlahan, dia pun memegang kedua pundak Caca. Caca kemudian membuka mata nya dan melihat sedikit terang di dalam tempat mereka bersembunyi, dia pun melepaskan pelukan nya.
"Syukurlah mereka telah pergi," kata Caca menarik nafas.
"Nit nit nit," suara Handphone Nael low bat.
"Ayo kita keluar dari sini, aku takut berada di sini. Disini minim cahaya," kata Caca menarik Nael.
Nael tidak mau bangun.
"Kenapa? ayo cepat, handphone kamu pasti akan mati, dan semua akan kembali gelap," kata Caca mulai panik.
Nael menarik tangan Caca agar dia kembali duduk.
Tak lama kemudian keadaan kembali gelap gulita. Handphone Nael mati. Caca kembali panik. Dia berusaha mencari sesuatu untuk menjadi pegangan nya.
Nael mendekati Caca yang panik. Dan menyuruh nya untuk duduk bersama nya. Nael kemudian mengajak Caca untuk berbicara.
"Aku tahu kenapa kamu takut akan gelap, kau mempunyai trauma karena kehilangan Ayah dan Papa mu disaat seperti ini," kata Nael.
Caca diam tak bersuara, dia hanya mengingat kembali masa lalu nya dan mulai menangis.
"Kau juga pernah mengalami masa sulit saat seperti ini. Trauma mu muncul karena kamu selalu memikirkan semua ketakutan mu itu, dan kau tak bisa melupakan nya dengan mudah," kata Nael.
"Kau juga selalu sendirian saat mengalami trauma mu itu. Aku tidak bisa menghilangkan semua trauma dan ketakutan mu itu. Tapi setidaknya aku bisa menambahkan sedikit kenangan manis dalam hidup mu, dan ku harap kau akan mengingat kenangan ini ...."
Caca bingung kenapa Nael berhenti bersuara.
"Kenapa, Pak? kenapa Bapak diam?" tanya Caca panik.
Tak lama kemudian Caca merasakan seperti ada nafas seseorang di dekat wajah nya.
Caca merasakan kedua tangan Nael yang meraih wajah nya. Tak lama kemudian Caca merasakan ada sesuatu yang mendarat tepat di bibir nya. Caca sontak terkejut.
Yah, Nael mencium Caca dengan mesra. Caca menangis, dia berusaha melepaskan ciuman Nael, tetapi Nael tetap memegang Caca dan tak melepaskan nya.
Caca akhirnya pasrah, dia pun menerima ciuman dari Nael yang begitu lama dan mesra. Tapi entah kenapa perasaan Caca juga menjadi sedikit tenang dan senang saat Nael mencium nya.
…………………………………………………………………………
Kondisi di kawasan perusahaan.
Bunyi sirene polisi terdengar dari kejauhan, mobil mereka melaju cepat ke arah perusahaan. Para berandalan itu kemudian lari terbirit-birit dan pergi dari kawasan perusahaan agar tidak di tangkap oleh polisi.
Pak Heru senang bantuan telah datang dan para berandalan tersebut telah pergi meninggalkan perusahaan nya.
Perlahan seseorang turun dari mobil. Dia adalah seseorang yang memiliki bintang empat di seragam nya. Dia adalah Pak Firman sang Jenderal polisi.
"Ada apa ramai-ramai begini? apa berandalan tersebut telah berbuat ulah dan melakukan kejahatan disini?" tanya Pak Firman.
"Untunglah mereka telah pergi Firman," kata Heru.
Mereka ternyata berteman. Pak Heru kemudian mengajak Firman untuk masuk dan membicarakan sesuatu tentang masalah yang terjadi.
……………………………………………………………………………
Di gudang.
Nael perlahan melepaskan ciuman nya, dia merasa Caca telah tenang. Nael mendekat dan mulai mengatakan sesuatu yang membuat hati Caca damai.
"Ku harap kau mengingat kenangan manis ini, dimana pun kau berada. Disaat kau berada di tempat gelap, di saat trauma mu muncul, selalu ingatlah kejadian ini. Aku juga berharap kenangan ini bisa mengurangi sedikit trauma mu," ucap Nael dengan lembut.
Caca hanya mengangguk dan tersenyum, dia akhirnya mengerti kenapa Nael melakukan hal tersebut.
"Terima kasih, Nael."
Nael terkejut sekaligus senang, ketika mendengar Caca kembali memanggil nama nya.
"Sama-sama. Ya sudah mari kita keluar," kata Nael tersenyum.
__ADS_1
Mereka kemudian keluar dari tempat persembunyian nya itu.
Bersambung.