
Nael mematung mendengar ucapan dari Pak Tris yang melarang Caca untuk tidak datang ke pesta ulang tahunnya.
"Iya Nael, tidak akan saya biarkan dia datang kesana."
"Tapi Pak, nanti Caca sama siapa disini?" tanya Lista.
"Ada saya disini yang menemani Caca. Saya tidak ikut biar nanti Sandy yang menggantikan kami berdua kesana. Saya masih harus mengajari Caca banyak hal. Sudah kalian bubar semua, saya masih banyak pekerjaan!" perintah Pak Tris.
Mereka kemudian bubar dan melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.
***
Nael hanya bisa menghela nafas dan menerima kenyataan yang ada. Dia lalu kembali ke ruangannya dengan langkah yang lemas tak bertenaga seperti orang yang kurang darah.
Sonia mendapati Nael yang sedang duduk lemas tak bersemangat dan sedang memutar-mutar telunjuknya dipermukaan meja dengan bibir yang mengerucut. Sonia lalu menghampiri Nael.
"Kenapa Nael? kenapa kamu manyun saja?" tanya Sonia.
"Tidak ada." Nael lalu menghela nafas panjang.
"Lalu kenapa kamu seperti tidak bersemangat seperti itu?" tanya Sonia kembali.
Nael lalu mendongak dan melihat wajah Sonia dengan tatapan memelas lali menceritakan semua yang terjadi kepada Sonia
"Itulah akibatnya, salah sendiri kamu tidak mematuhi perintah dari Pak Tris. Masih saja menggoda Caca, sekarang kamu yang merana bukan?" ucap Sonia sambil terkekeh.
Bagai kena petir disiang bolong Sonia bahkan menyalahkan nya juga. Nael pun menjadi semakin tak punya muka, hari ulang tahun nya kali ini bagaikan sayur tanpa garam serasa hambar.
"Yang lebih sedihnya lagi Sonia, Caca tidak boleh datang ke acara nanti malam dan malah Sandy yang disuruh datang oleh Pak Tris untuk menggantikan mereka berdua. Ah apa-apa an itu," ucap Nael kesal.
Sonia yang tadi nya terkekeh mendadak gugup mendengar Sandy akan datang ke pesta ulang tahun Nael.
"Sa...sandy?"
"Iya Pria itu yang akan datang, ah kenapa Caca tidak ikut sekalian sih!" ucap Nael sedikit mengambek.
Sonia tak mengubris perkataan Nael, dia lalu berjalan kembali ke tempat kerja nya dan mulai memikirkan bagaimana penampilan dirinya nanti malam dan tersenyum malu-malu sambil duduk manis dibangku nya.
"Ah dia ternyata sama saja, tidak dapat membantu!" ucap Nael dalam hati.
Nael lalu pergi berjalan keluar untuk menemui Pak Joko dan melanjutkan kembali pekerjaan nya yang tertunda kemarin.
………………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Sony sedang sibuk menata dan menghias kamarnya dengan begitu indah. Kelopak bunga mawar merah bertaburan di atas kasur milik nya, bukan hanya tempat tidur bahkan kamar mandi pun di hias sedemikian rupa oleh Sony.
Cindy masuk kedalam kamar Sony untuk mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Sony malah menarik nya untuk melihat sekeliling kamar nya.
"Lihat Cindy. Betapa indah bukan? ini sengaja aku siapkan khusus untuk Caca nanti malam. Dia pasti akan menyukai nya dan aku sudah tidak sabar untuk itu."
__ADS_1
Cindy melepaskan tangannya dari Sony dan tak memperdulikan itu semua.
"Terserah mau mu. Aku akan pergi malam ini jadi kau punya waktu untuk berduaan bukan?" ucap Cindy.
"Kau benar, pergilah dengan begitu kami jadi bisa leluasa bermain di atas sana," kata Sony sambil menujuk atas kasurnya.
"Ya sudah selamat bersenang-senang, semoga usaha mu berhasil."
"Terima kasih Cindy, aku akan berusaha semaksimal mungkin membawa Caca kesini."
Cindy kemudian meninggalkan Sony dan menyiapkan beberapa keperluan untuk menggagalkan usaha Sony.
……………………………………………………………………………
Di kawasan Packing.
Caca masih memikirkan apa hadiah yang akan dia berikan untuk Nael, dia semakin kesal jika mengingat hadiah yang disarankan oleh Sandy.
"Dasar Sandy kurang ajar, berani nya dia berbicara seperti itu."
Kelakuan Caca ternyata tak disukai oleh Shinta and the genks, mereka berencana untuk mengerjai Caca pada istirahat nanti.
"Lihat si Linda, sok kecantikan banget. Apalagi cara dia kemarin yang memarahi cowo tampan (Sandy) di depan semua orang."
"Benar sekali, ada kabar juga kalau dia berani mendekati Pak Nael, Oppa kita. Tidak ada yang boleh mendekati Pak Nael pokoknya, dia itu milik kita, ya kan?"
"Iya Shinta, tapi ada kabar juga kalau Pak Nael yang mengejar dia, tapi dengan sombongnya dia malah menolak Pak Nael mentah-mentah."
Mereka berencana akan mengerjai Caca dan melakukan aksi pembulian. (Belom tahu aja lu si Caca itu siapa, Huh!).
***
Jam istirahat telah berbunyi, Shinta and the genks mulai melakukan aksinya. Mereka menunggu hingga kondisi sepi dan Teh Mul pergi terlebih dahulu dan setelah itu mereka mulai mendekati Caca.
"Hai Linda, kamu di panggil sama Teh Mul disuruh ke kantin sekarang," ucap Shinta.
"Oh begitu, oke saya kesana," balas Caca.
Caca kemudian berjalan ke arah kantin, tetapi Shinta dan kawan-kawan menarik Caca untuk mengikutinya ke gudang belakang.
"Loh kenapa kalian membawa saya kesini? bukannya kantin di depan sana?" tanya Caca.
"Sudah diam jangan banyak tanya ikuti saja kita!" ucap Shinta menarik tangan Caca dengan paksa.
"Tidak mau! kalian mau apa?" Caca mulai ketakutan, Caca berpikir mereka adalah orang suruhan Satya untuk menculiknya.
"Jangan! apa kalian pengusupnya Satya?" tanya Caca.
"Apa maksud mu? kami hanya ingin memberikan pelajaran kepada mu karena telah berani menggoda Pak Nael, Oppa kita."
Caca tercengang mendengar pernyataan mereka, lalu berkata dengan penuh tanda tanya dengan mengangkat satu alisnya, "Oppa?"
__ADS_1
Caca tertawa dan membuat Shinta and the genks semakin geram.
"Sudah kita bawa saja ke gudang sana lalu kita kunci dia di dalam sana, tapi sebelum itu kita lihat dulu wajah nya yang ketakutan," ucap Febi sambil tersenyum jahat.
Caca berontak apalagi dia melihat gudang tersebut sangatlah gelap, dia tidak bisa berteriak meminta tolong karena mulutnya dibekap oleh Febi.
***
Nael masih berada di kawasan produksi bersama dengan Pak Joko, sedangkan Sandy juga berniat untuk menemui Caca dan akan memberi saran mengenai hadiah untuk Nael.
Nael dan Pak Joko mengunjungi gudang bahan baku tepatnya dibelakang sana yang kebetulan Caca juga berada disana tepat dimana Caca di kerjai oleh Shinta dan kawan-kawan.
Sandy tak menemukan Caca dimanapun, dia terlihat cemas karena tidak ada kabar dari Caca. Sampai suatu panggilan masuk berdering.
"Halo!" jawab Sandy.
"Halo Sandy cepatlah kesini! saya melihat Nona Caca sedang di bawa kesuatu tempat."
"Baiklah dimana tempatnya?" tanya Sandy.
"Di belakang tepatnya gudang bahan baku."
Sandy tak pikir panjang dia langsung bergegas menyelamatkan Nona muda nya dan berharap itu bukanlah orang suruhan Satya.
***
Sementara itu Shinta menarik paksa penutup kepala dan masker yang dipakai oleh Caca.
"Coba kita lihat, seberapa cantik sih dia sampai berani menggoda pria tampan kemarin dan juga Pak Nael kita."
Mereka tertawa melihat Caca yang ketakutan, Caca gemetar karena takut penyamarannya terbongkar dan takut juga dengan gudang yang begitu gelap dibelakangnya.
"Jangan lakukan itu atau kalian akan menyesal!" ancam Caca.
"Menyesal kenapa Linda? disini kami yang berkuasa," ucap Febi sambil tersenyum.
"Jangan! tolong!" teriak Caca.
"Silahkan teriak sepuasnya disini tidak akan ada orang yang mendengarmu, mereka sedang keluar istirahat."
Perlahan masker pada wajah Caca terbuka, tapi rasa penasaran mereka terhenti ketika Sandy dan penjaga Caca datang tepat waktu dan menghentikan aksi mereka.
Mereka langsung membuat penjagaan disekitar Nona Muda mereka, tak tanggung-tanggung ada 10 orang yang datang untuk menyelamatkan Caca.
"Jangan kalian berani macam-macam dengan Nona Muda kami!" ucap mereka dengan kompak.
"Glek!" mereka menelan ludah bersamaan
"Apa-apaan ini?" tanya mereka dalam hati.
*
__ADS_1
Bersambung.