
Pak Tris dan Pak Firman beserta anak buahnya yaitu para anggota kepolisian bersiap menuju sarang dimana Satya berada.
Selain mereka Cindy dan Sony pun ikut untuk melengkapi rencana Pak Tris dalam menangkap Satya.
"Baik Cindy, apa kamu sudah siap?" tanya Pak Tris.
Cindy mengangguk. "Saya sudah siap Pak Tris!" Cindy menatap langit dan mengingat ibu nya, sambil menggenggam erat tangan Sony dia bersumpah.
"Mama aku berjanji akan membalas perbuatan suami yang telah menyakitimu."
Cindy menatap Sony dan meyakinkan dirinya agar bersedia mengikuti rencana yang telah di ucapkan sebelumnya.
"Sony, lupakan dahulu Caca dan Nael. Sekarang kita harus membalas perbuatan orang itu yang telah menyakiti keluarga kita." Cindy menguatkan Sony.
"Baik Cindy, lagipula orang itu memang harus dihukum!" Sony menatap Cindy dan mendukung aksi kakaknya.
Pak Tris dan Pak Firman mendekati kakak beradik tersebut, kemudian Pak Firman berkata kepada Sony. "Hei Sony, jika kau membantu petugas kepolisian dalam menangkap bos mafia besar kali ini, maka aku berjanji akan membantu mengurangi masa hukuman mu di penjara."
Cindy senang mendengar hal tersebut kemudian menatap Sony dan berkata, "Baik, kami akan membantu mu menangkap penjahat itu."
Pak Tris kemudian menambahkan percakapan tersebut dengan berkata, "Sony sekarang hubungi Papa mu, dan bilang jika kau telah berhasil membawa Caca dari sini."
Sony mengangguk patuh, sedangkan Cindy memperbaiki riasannya kembali serta memakai penutup kepala lalu pergi bersama Sony menaiki mobil menuju Kediaman Satya.
Sementara itu, para penjahat anak buahnya Sony dan Satya telah di giring ke penjara, sedangkan para polisi tersebut menyamar menjadi para berandal lalu pergi menaiki mobil yang di kendarai oleh para penjahat itu sebelumnya.
Sebelum berangkat mereka berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu dan mengatur rencana kembali.
"Biarkan Sony dan Cindy masuk terlebih dahulu, sedangkan kita harus menunggu di sekitar Kediaman Satya. Kita akan menyergap bersama-sama saat penjahat itu telah mengungkapkan semua kejahatannya dan jika dia berbuat sesuatu yang tidak terpuji atau membahayakan seseorang maka jangan segan-segan tembak mati di tempat."
Mereka mengangkat satu tangan seperti memberi hormat lalu dengan penuh semangat mereka berseru serempak, "Siap Jenderal laksanakan!"
Para pasukan itu akhirnya berangkat menuju Kediaman Satya sedangkan Pak Tris dan Pak Firman menyusul dibelakang gerombolan bersama dengan anak buahnya.
……………………………………………………………………………
Kediaman Satya.
Biang kerok ini sedang kegirangan, dia mendapat kabar dari Sony jika dirinya berhasil membawa pengantin wanita ke rumahnya. Dengan hati penuh berdebar dia menunggu pengantin wanita di dalam kamarnya.
Sementara itu Sony telah sampai kemudian dia melangkah bersama Cindy yang masih menggunakan gaun pengantin masuk ke dalam rumah tersebut. Kemudian disusul oleh beberapa anak buah Pak Firman yang menyamar sebagai para perandal, sementara sisanya menunggu dan bersembunyi di sekitar kediaman Satya.
***
Di Kamar Satya.
Sony membuka pintu lalu berpura-pura mendorong Cindy masuk ke dalam kamar Satya. Satya yang melihat segera mendekap Cindy agar tidak terjatuh lalu berkata, "Tenang sayang jangan takut, mari sini masuk! duduklah bersamaku."
Satya menatap Cindy dari atas hingga ke bawah, dengan mata yang tertutup nafsu dia tidak menyadari jika itu adalah Cindy putri kandungnya sendiri di tambah lagi dengan penyamaran Cindy yang tergolong sempurna, dia memakai make up menyerupai Caca dan juga Wedding Veil yang dikenakan cukup tebal membuat Satya tak bisa mengenalinya.
***
Di lantai bawah.
Sementara Cindy sedang sibuk mengalihkan perhatian Satya di atas sana, lain halnya dengan anak buah Pak Firman di bawah sini, mereka mulai membekuk dan menangkap anak buah Satya satu persatu tanpa sisa secara diam-diam.
Mereka juga menginterogasi serta mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Satya, seperti penyimpanan senjata ilegal maupun barang-barang haram yang dikabarkan berada di dalam gudang tersembunyi milik Satya.
__ADS_1
Setelah menemukan gudang yang dimaksud, Para penegak hukum ini mulai menyita semua benda tersebut dan mengambilnya sebagai barang bukti.
"Bawa benda ini semua ke kantor, sebagai barang bukti. Jangan lupa bawa semua pengikut Satya semuanya dan masukan mereka ke dalam penjara. Sekarang waktunya kita menangkap penjahat itu!" perintah Pak Firman lalu mengepung seluruh Kediaman Satya dan tak lupa sesekali memelintir kumis tebalnya itu.
"Siap laksanakan!" patuh mereka lalu memasukan semua anak buah Satya ke dalam mobil.
***
Di Kamar Satya.
Satya mulai merayu Cindy yang dia kira adalah Caca. Pria tidak tahu malu ini juga mengucapkan kata-kata menjijikkan dan setelah dia puas mengucapkan semua perkataan beserta rayuan mautnya itu, dengan segera Cindy membuka suara. "Apa sudah selesai Papa berbicara?" Cindy lalu menoleh ke arah Satya.
Satya yang mengenali suara tersebut seketika merubah ekspresi, wajahnya yang tersenyum manis kini menjadi pahit melebihi pahitnya buah pare.
"Cindy!" Satya lalu berdiri dan menjambak gaun putrinya tanpa ampun.
Cindy lalu membuka kerudung nya dan seketika itu juga Satya menjadi murka.
"Anak sial*an! mana istri Papa?"
Cindy tertawa senang, "Bagaimana Papa, apa enak rasanya ditipu dan dipermainkan?" Cindy kemudian berubah menyeramkan.
Satya yang tidak terima dengan perlakuan Cindy kemudian berteriak memanggil seseorang.
"Sony!"
Tak berapa lama kemudian Sony masuk dan menyeringai ke arah Satya. Satya yang mengetahui dirinya telah dikhianati oleh kedua anak kandungnya sendiri menjadi murka.
"Papa kecewa pada kalian, seharusnya Papa buang saja kalian semua saat lahir jika Papa tahu kalau kalian sudah besar memberontak seperti ini!"
Cindy kemudian marah dia mengeluarkan kembali perasaan marahnya dan juga marah ketika Sony di peralat oleh Papanya sendiri.
"Kau bukan manusia!" ucap Cindy sebagai kata penutup atas kemarahannya itu.
Satya tertawa kencang lalu mengambil sesuatu di balik tubuhnya dan tanpa basa basi dia menembak ke arah Cindy.
"Dor!"
Cindy tak terkena tembakan karena dengan cepat Sony mendorong tubuh Cindy dan dia pun selamat, tetapi tidak dengan Sony dia tertembak di bahu bagian kanan.
"Sony!" teriak Cindy histeris lalu mendekati Sony yang terluka.
Satya kembali menodongkan senjata ke arah Cindy. Memakai gaun pengantin membuatnya kesulitan bergerak. Satya yang melihat hal tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan, sekali lagi pria ini ingin menembak Cindy dan saat Satya menarik pelatuk tersebut dengan cepat sebuah lemparan batu mengenai tangannya.
"Pletak!"
Senjata tersebut terhempas ke udara lalu terjatuh begitu saja.
Mereka semua menengok ke arah sumber tersebut dan ternyata itu adalah Om Tono ketua dari kelompok ketapel berbaju hitam yang datang untuk menyelamatkan Cindy dan juga Sony.
"Jangan sentuh keponakan ku!" Om Tono kemudian berkelahi dengan Satya.
"Om!" teriak Cindy dan Sony bersamaan. Cindy kemudian memberikan tanda kepada Pak Firman, jika situasi di dalam semakin tidak terkendali.
Pak Firman yang mendapat panggilan tersebut kemudian memimpin pasukannya masuk ke dalam lalu perlahan mendekati kamar Satya dan sesampainya di depan pintu tersebut, pria paruh baya bertubuh macho ini langsung menodongkan senjata ke arah Satya.
"Angkat tangan, jangan bergerak!" perintah Pak Firman lalu di ikuti oleh beberapa anak buah nya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Satya tersentak kaget dengan penyergapan secara tiba-tiba tersebut. Penjahat bermulut manis ini pun tak mau di tangkap begitu saja. Satya mengangkat kedua tangannya lalu berkata, "Sabar Pak polisi yang terhormat, apa kesalahan saya?" tanya Satya berpura-pura baik.
Pak Firman mendengus kesal. "Cih! kesalahan mu sudah banyak masih saja tidak mau mengaku!"
Pak Firman kemudian menyebutkan satu persatu kesalahan dan kejahatan Satya, dari bisnis haram hingga penculikan terhadap calon menantu Chandra Putra dan juga penyuapan terhadap oknum lapas serta penyerangan terhadap anak kandungnya sendiri.
Satya tak bisa mengelak lagi, diapun mengangkat tangannya dan seketika itu pula Kepala Polisi ini langsung membekuk Satya tanpa ampun.
"Borgol dia, lalu masukkan ke dalam kandang!" Pak Firman lalu mengedipkan sebelah mata ke arah Cindy.
"K-kandang?" tanya Satya lalu tercengang.
"Iya kau bukan manusia, orang seperti mu cocoknya masuk ke kandang!" Pak Firman mendorong Satya dan menggiringnya masuk ke dalam mobil untuk di jebloskan ke dalam penjara.
"Aku jamin kau tidak akan merasakan udara segar lagi setelah ini!" ucap Pak Firman di akhir penangkapannya itu lalu menutup pintu mobil dengan menyentaknya kuat-kuat.
Satya melihat Pak Tris yang sedang berjabat tangan dengan Pak Firman. Diapun mengamuk di dalam mobil, Pak Tris yang melihat hal tersebut datang menghampiri Satya.
Satya meludah ke arah Pak Tris lalu memaki pria tua polos tak berdosa ini, tetapi Pak Tris yang baik hati hanya menghela nafas dan tak membalas perbuatan Satya, beliau hanya mengatakan sesuatu yang membuat Satya diam seribu bahasa.
"Satya, anak buah ku memang lah tidak sebanding dengan jumlah anak buahmu, tetapi yang membuat kami menang adalah karena kami saling setia dan bersatu padu melawan mu. Sementara anak buahmu yang banyak itu hanya mementingkan diri sendiri, mereka semua tidak setia kepadamu bahkan mengkhianati mu."
"Firman sekarang bawalah mereka, aku harus kembali menunaikan tugasku sebagai seorang wali untuk seorang gadis."
Pak Tris menangis haru saat mengingat putri serta istri tercinta dan juga Djuanda beserta keluarganya.
"Aku sudah menepati janjiku kepada kalian, sekarang orang jahat itu sudah mendapatkan hukumannya, sekarang aku harus menunaikan tigasku sebagai wali nya Caca."
Pak Tris mengingat Caca, diapun kembali ke Kediaman Heru dengan di antar oleh beberapa anak buahnya.
Sirene polisi berbunyi, Pak Tris kemudian berbalik badan membiarkan Pak Firman beserta anak buahnya membawa semua penjahat tersebut pergi.
Sementara itu Cindy dan Om Tono membawa Sony ke rumah sakit untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu kanannya dengan di kawal oleh beberapa pihak berwajib dan setelah Sony mendapatkan penanganan, pria ini pun harus segera kembali ke dalam penjara.
………………………………………………………………………………
Di Kediaman Heru.
Mereka semua yang berada di Kediaman Heru bersuka cita ketika mendengar kabar bahwa Pak Tris dan Pak Firman berhasil menangkap Satya, terlebih lagi Nael.
Pria tampan ini langsung memeluk Pak Heru dan berkata, "Akhirnya penjahat itu telah tertangkap Pah," Nael menunjukkan kegembiraannya.
"Benar, kita harus memberitahu berita baik ini kepada Caca." Pak Heru mengusap air mata kebahagiaannya.
Nael mengangguk kemudian berlari menuju kamar Caca, tetapi langkahnya tercegat oleh Nenek.
"Tidak boleh masuk ke kamar pengantin wanita. Tidak baik, nanti tidak suprise lagi." Nenek lalu tertawa hingga gigi palsunya terlepas dari mulut.
"Huwa, gigi Nenek!" Nenek segera mengambil gigi tersebut dan tersipu malu, sedangkan yang lain hanya tertawa melihat Nenek.
Nael membenarkan ucapan Nenek, akhirnya dia mengurungkan niatnya tersebut lalu meminta semua orang untuk tidak menceritakannya kepada Caca dan membiarkan Pak Tris yang akan memberitahukan sendiri berita tersebut kepada Caca.
.
.
Bersambung.
__ADS_1