
Nael masuk ke dalam ruang kerja. Dia melihat Cindy yang sedang merias wajah nya. Nael lalu masuk dan tak menghiraukan sapaan nya.
Kemudian Nael keluar kembali dan duduk di tempat kerja Caca. Lalu mulai mengerjakan laporan produksi milik Caca yang belum di kerjakan dan laporan yang tertinggal.
"Pak Nael. Kenapa Bapak yang kerjain laporan Caca? mending cari orang baru Pak buat kerjain laporan ini," kata Cindy.
"Tidak perlu, laporan Caca akan saya pegang dan saya kerjakan sendiri," balas Nael.
"Tapi Pak. Laporan ini sangat banyak, bisa butuh 2 orang untuk kerjain laporan bekas Caca ini semua, saya bisa carikan orang untuk menggantikan pekerjaan Caca Pak."
"Si Caca juga tidak bertanggung jawab, dia malah pergi begitu saja. Harus nya kan mencari pengganti dulu atau setidaknya di bereskan dulu pekerjaannya baru pergi," kata Cindy menjelek kan Caca.
Nael yang mendengar perkataan Cindy menjelek-jelek kan Caca menjadi marah, tapi dia ingat agar tidak emosi dan menjaga sikap, dia pun menahan emosi nya itu.
"Tidak apa-apa, pekerjaan Caca atau posisi nya di sini tidak akan ada yang bisa digantikan oleh siapapun juga. Ini adalah urusan saya, mulai sekarang biar saya yang bertanggung jawab atas pekerjaan Caca, kamu cukup buat laporan yang biasa kamu kerjakan saja. Jika sudah selesai berikan kepada saya," kata Nael sedikit menahan emosi.
Ya tidak ada yang bisa menggantikan posisi Caca, apalagi di hati Nael sendiri. Nael kemudian berdiri, dia membawa semua pekerjaan Caca dan mengerjakan semua itu di ruang kerja nya.
Cindy terlihat kesal dengan perkataan Nael dan cara Nael yang tidak memandang nya sama sekali. Dia juga gagal meyakinkan Nael untuk mencari pengganti Caca untuk di tempatkan di sini.
***
Jam kerja telah selesai, seperti biasa bel berbunyi tepat waktu, seperti nya harus ada penghargaan bagi yang menekan bel tersebut, selalu on time.
Cindy membereskan meja kerja nya dan ingin pulang. Dia menjinjing tas nya, dan melihat Nael yang sedang sibuk lalu dia pergi dengan sedikit kesal.
………………………………………………………………………………
Di Ruang Staf keuangan.
Dewi membereskan meja kerja dan tas nya, dia menuju toilet sebelum pulang.
"Lis, tunggu dulu ya. Mba mau ke toilet dulu."
"Ya Mba. Lista tunggu di sini ya," kata Lista masih membereskan meja nya.
Dewi lalu menuju ke toilet untuk buang air kecil. Ketika ingin keluar dari toilet dia melihat Cindy yang ingin masuk ke dalam toilet juga. Dewi kemudian dengan cepat kembali ke dalam dan bersembunyi disalah satu toilet itu, dan mengintip Cindy dari celah pintu.
"Prak!"
Cindy melempar tas nya, sepertinya dia kesal dengan kata-kata Nael tadi diapun berbicara sendiri di depan cermin.
"Kurang ajar! awas lo ya Nael, gue nggak akan lepasin lo! oke tenang sekarang bagaimana, apa yang harus gua lakukan. Sebaiknya gua pulang dulu untuk berbicara dengan Sony, pasti dia bisa membantu. Ya sekali- kali adik gua harus di tanya, biar di bisa berperan dalam misi ini," kata Cindy.
Cindy menghapus make up nya yang telah luntur, dia mencuci muka untuk merias wajah nya kembali. Cindy kemudian mengeluarkan sejumlah alat rias dan make up dan mulai merias wajahnya.
Dewi mengintip dari pintu toilet dengan jantung yang berdebar tapi karena rasa penasaran nya yang besar dia mampu mengalahkan itu semua. Mba Dewi terkejut melihat wajah asli Cindy dari pantulan cermin.
__ADS_1
Karena serius melihat Cindy, kaki Dewi tak sengaja menjatuhkan tempat sampah yang berada di dalam toilet.
Cindy berhenti, dia kemudian menghampiri toilet dimana Dewi bersembunyi. Dewi panik melihat Cindy, dia pun memutar otak agar dia tidak ketahuan telah mendengar ucapan Cindy tadi. Dewi melihat tas nya, lalu dia mencari-cari sesuatu.
"Ah ketemu!"
Dewi menyiram toilet lalu membuka pintu toilet untuk keluar, dan berpura-pura sedang mendengarkan musik di HP nya dengan memasang earphone pada telinga nya.
"Eh Cindy kirain siapa."
"Mba Dewi sejak kapan ada di sini?" tanya Cindy.
"Dari tadi, habis BAB. Uuh bau jangan masuk dulu!" kata Dewi sambil menutup hidungnya.
Dewi kemudian segera keluar, Cindy melihat Dewi yang bertingkah aneh, dia pun mengikuti Dewi. Dewi berjalan menghampiri Lista, Cindy bersembunyi.
Dewi ingat ucapan Pak Tris mereka harus hati hati jika menyampaikan sesuatu, Dewi mengurungkan niatnya untuk memberitahu Lista, dia akan menceritakan kepada Lista di angkot nanti.
"Yu Lis, kita pulang." kata Mba Dewi.
"Yu." Kata Lista.
"Kenapa mba kok muka nya tegang gitu? kaya habis lihat setan?" tanya Lista.
"Nggak apa. Yuk cepat!" kata Dewi menarik Lista.
Mereka pun pulang dan mencari angkot. Ketika berada di dalam angkot, Dewi mulai bercerita kepada Lista tentang apa yang dilihatnya di toilet tentang Cindy.
"Sony mana? orang gudang yang dulu di pecat itu?" tanya Lista sambil berpikir.
"Iya, dan yang lebih kaget lagi, wajah Cindy berbeda setelah dia hapus make up nya. Kelihatan tua gitu, nggak seperti usia muda kaya kita gini, dia dulu bilangnya seusia sama Caca kan?" kata Dewi.
"Iya, terus mba tau dari mana?" tanya Lista.
"Tadi pas mba ke toilet liat Cindy lagi marah-marah, sambil ngomong Sony itu adik dia dan pas liat dia lagi cuci muka, Mba kaget wajah nya begitu, nggak cantik kayak biasanya."
"Yud besok kita kasih tau Pak Tris lagi," kata Lista.
"Iya, Pak Tris harus tau itu."
Mereka akhirnya menyimpan rahasia tersebut sampai hari besok tiba.
***
Nael masih bekerja, dia mengerjakan laporan Caca yang segunung, entah bagaimana Caca bisa mengerjakan ini semua sendiri.
Dia kemudian melamun, mengingat ketika Caca masih bekerja di sini, semua ingatan tentang Caca berada di pikiran nya.
__ADS_1
Nael pun bersedih, dia hanya bisa mengingat nya saja, tanpa sempat mengutarakan perasaan nya.
………………………………………………………………………………
Sementara itu di sebuah desa terpencil.
Caca sudah sampai bersama dengan ibu dan adiknya di sebuah desa tempat ibu nya berjualan dahulu, dengan bantuan orang-orang kepercayaannya.
Desa tersebut sungguh indah, banyak pepohonan dan sawah serta pegunungan, sungguh sejuk dan asri sekali. Mereka tinggal disebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk mereka bertiga.
"Caca! Handi! beresin semua barang-barang kamu ini, taruh di kamar dulu ya. Nanti sudah beres bantu Ibu beresin ruang tengah!" teriak Ibu sambil membawa barang miliknya.
"Iya, Bu!" Sahut Caca dan Handi bersamaan.
Caca masuk ke kamar nya, dia memulai membereskan barang dan merapihkan ke tempat yang seharusnya.
"Baju udah masuk lemari semua, sepatu juga udah buku-buku sudah di laci. Kasur juga udah di beresin. Ah cape, istirahat dulu deh!"
Caca mengistirahatkan badannya sejenak, dia lalu melihat tas yang dulu dia pakai untuk pergi bekerja. Terlintas kembali masa-masa dia bekerja dulu. Caca lalu membuka tasnya tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya.
"Ada pulpen, buku catatan, buku jurus menghajar orang dari Ayah nya dan apa ini."
Caca mengeluarkan benda tersebut, begitu lembut, itu adalah sapu tangan milik Nael yang diberikan untuk dirinya.
Caca kemudian mengingat kembali ketika dia memakai sapu tangan milik Nael untuk mengeringkan wajahnya.
Caca menangis mengingat hal-hal manis dan juga menyakitkan ketika berada disana. Dia lalu mengusap air mata nya, dia sudah berjanji untuk kuat menghadapi apa pun, demi Ayah dan orang tuanya. Caca kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya membereskan kamar.
***
Seorang Pria masuk ke kamar Caca, dia meminta ijin untuk pergi. Tak lupa Caca dan Ibu berterima kasih kepada pria tersebut karena sudah membantu dan menjaga mereka selama di perjalanan.
"Tunggu sebentar!" kata Caca menahan pria tersebut.
"Iya ada apa Nona?"
Caca kemudian mencari kertas dan pulpen untuk menulis sesuatu, karena disana tidak ada telepon rumah dan sinyal seluler pun susah sekali.
Caca lalu menulis surat untuk Pak Tris dan teman-temannya di Kota melalui Pria tersebut.
"Nah ini sudah semua, tolong berikan kepada Pak Tris ya. Biar nanti Pak Tris yang akan bagikan surat itu!" pinta Caca.
"Baik Nona."
"Terima kasih."
Pria tersebut langsung pergi dan menjalankan perintah dari Nona muda nya.
__ADS_1
*
Bersambung.