
Caca kemudian melangkah keluar dari kantor tetapi Nael masih menahan Caca.
"Ada apa lagi?" tanya Caca.
Nael kemudian memegang pundak Caca menatap wajahnya lalu tersenyum dan berkata, "Semangat ya! jangan lupa selalu kata-kata ku tadi,"
Caca lalu membalas senyuman dan mengangguk pelan. "Iya, Pak."
Nael cemberut mendengar Caca memanggil nya Pak, kemudian Nael menggoda Caca sambil menghentak hentakkan kedua alisnya dan meminta sesuatu kepada Caca. "Bisa panggil yang tadi di dalam gudang tidak?"
Caca tersenyum dan tersipu malu jika mengingat kejadian tadi digudang tetapi melihat bos nya itu tidak melepaskan dirinya akhirnya Caca menuruti kemauan Nael. "Iya, Nael."
Nael tersenyum senang medengar namanya disebut oleh Caca dia lalu melepas Caca untuk bekerja di divisi yang berbeda mulai besok.
***
Di Mess Caca.
Sesampainya di mes, Caca membuka kunci pintu mes baru nya, Caca kemudian merapihkan dan menata sedikit agar sesuai dengan keinginan nya.
Terlihat semua isi dalam mes tersebut, semua barang di dalam masih baru. Mes tersebut telah di siapkan sebelum nya dan telah disesuaikan untuk kebutuhan Caca. Caca berusaha menyesuaikan diri. Kini dia tinggal sendiri dan jauh dari orang tua.
"Tok tok tok!" suara pintu di ketuk.
Caca membuka pintu. Dia senang melihat Pak Tris yang berada di depan dan mengunjungi dia malam ini.
"Masuk, Pak Tris."
"Terima kasih, Ca."
"Ada apa Pak datang malam-malam begini?" tanya Caca.
"Tidak ada, Ca. Bapak cuma mau lihat aja kesini. Bagaimana kamu suka dengan tempat nya?" tanya Pak Tris.
"Ya, Pak. Saya suka," jawab Caca.
"Caca. Besok kamu akan bekerja di bagian packing. Lebih cape tenaga dari pada pikiran. Saya bermaksud akan mengajari kamu beberapa laporan keuangan dan yang lain-lain setelah kamu pulang bekerja di sini," kata Pak Tris.
Caca mengerti, dia tidak bisa kuliah atau keluar dari sini, karena sangat beresiko sekali, ancaman dari luar sungguh nyata untuk diri nya.
Caca menjawab, "Baik, Pak." Lalu diam dan bersedih
"Bagus. Jangan sedih begitu dong, kan ada Bapak di sini. Masalah ilmu, biar Bapak yang ajari kamu sampai pandai, biar kamu bisa sehebat Djuanda. Bapak juga tidak kalah hebat dengan dosen kampus dalam mengajar," kata Pak Tris dengan percaya diri.
"Hihihi. Iya, Pak. Caca percaya," balas Caca tertawa kecil.
"Oke. Di sana ada meja dan komputer, besok kita mulai belajar nya ya. Sekarang kamu istirahat sudah malam, besok pagi kan sudah mulai bekerja ya. Kalau butuh sesuatu jangan ragu minta sama Bapak ya, Ca." kata Pak Tris.
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Ya sudah. Bapak balik ke mess ya. Selamat malam," kata Pak Tris.
"Selamat malam, Pak."
………………………………………………………………………………
Keesokan harinya.
__ADS_1
Caca mulai bersiap, dia mengenakan seragam lengkap nya, kemudian bercermin.
"Wah benar juga, jadi nggak ada yang bisa ngenalin kalau pakai pakaian lengkap ini," kata Caca.
"Tok tok tok!"
Caca membuka pintu. Dia sangat senang, ternyata yang datang adalah teman-teman nya.
"Mba Dewi, Lista! sini masuk," kata Caca dengan gembira.
"Dih. Ini mes kenapa bisa bagus begini?" kata Lista bertanya-tanya dan melihat ke sekeliling.
"Iya. Kayak bukan mes aja ya," kata Mba Dewi.
"Iya, Mba. Seumur umur saya baru kali ini lihat mes cakep begini. Biasa nya mah pada buluk semua. Hahaha," kata Lista tertawa.
"Hehe. Jadi pengen juga punya satu yang kayak begini," kata Mba Dewi.
"Hoh oh Mba," kata Lista mengangguk.
"Oh begitu. Jadi kesini cuma penasaran mau lihat dalam mes doang?" kata Caca.
"Hehe. Maaf Ca, jadi lupa tujuan kita kesini," kata Mba Dewi.
"Tidak apa Mba. Duduk dulu ya," kata Caca.
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa yang ada berada di dalam.
"Idih ada sofa nya juga. Empuk lagi," kata Lista.
"Sudah lah Lista, jangan norak kamu. Bikin malu aja," kata Mba Dewi.
"Kita datang kesini cuma mau lihat kamu Ca. Kita masih bisa bertemu di sini, walau sembunyi-sembunyi dan harus ijin dulu sama Pak Tris. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama kita ya," kata Mba Dewi.
"Iya, Ca. Kita ngerti kamu kan tidak boleh keluar dari pabrik ini," kata Lista.
Caca senang karena teman-teman nya memeperdulikan diri nya. Caca kemudian memeluk teman nya itu.
"Terima kasih ya," ucap Caca sambil menangis.
"Sama-sama."
"Eh. Bagaimana kalau kita main kode-kode an, jadi kita bisa tahu kalau kamu itu dalam masalah atau tidak. Atau lagi apa dan lagi butuh apa gitu," kata Lista memberi saran.
"Bagus juga tuh ide kamu, Lis."
"Oke jadi kita mulai ya, misal kalau Caca butuh bantuan kirim pesan aja huruf 'H' Help, ke salah satu dari kita, karena kalo lagi mendesak susah banget tuh ngetik karena buru-buru. Nanti Teh Mul kita kasih tahu juga," kata Lista.
Mereka mengangguk mengerti. Lalu mereka melanjutkan kembali tentang kode dan yang lain-lain nya.
"Tok tok tok!" suara pintu di ketuk. Obrolan mereka kemudian terhenti.
Caca mengintip terlebih dahulu, kemudian dia membuka pintu.
"Teh Mul, Pak Tris. Mari masuk," kata Caca.
"Eh ada Lista dan Dewi," kata Pak Tris.
__ADS_1
"Iya, Pak."
"Ca. Ayo kita pergi sekarang. Sebentar lagi bel masuk bunyi. Kamu pergi sama Mul ya, disana nanti Mul yang ajarin kamu masalah packing barang. Dan Mul ajarin Caca yang mudah saja ya," kata Pak Tris.
"Baik, Pak." Jawab Caca dan Mul bersamaan.
"Dan kalian! cepat keluar! jangan lama-lama nanti ada orang yang curiga," kata Pak Tris memarahi Dewi dan Lista.
"Baik, Pak."
Mereka semua kemudian keluar dari mes dan menuju tempat kerja mereka masing-masing.
………………………………………………………………………………
Di Kantor.
Nael sudah datang dan sedang memandangi meja kerja Caca yang sepi. Hanya tersisa tugas dan laporan yang setinggi gunung.
Nael kemudian duduk di meja kerja Caca. Dia pun memandangi dan menyentuh peralatan kerja Caca yang dulu di pakai oleh Caca saat bekerja. Nael sedih karena dia tidak bisa melihat dan mendengar suara Caca seperti biasa nya. Bahkan dia tidak bisa memanggil nama Caca lagi.
Sonia datang dan melihat Nael yang sedang merenung di meja kerja Caca, kemudian Sonia melangkah perlahan mendekati Nael.
"Carisa," kata Nael sambil menengok ke arah Sonia.
"Oh maaf. Ternyata kamu Sonia," ucap Nael sedih.
Sonia mengerti kesedihan Nael. Sonia lalu menyentuh pundak Nael.
"Tidak apa. Jangan bersedih, ini untuk kebaikan kamu dan Caca, lagipula dia masih berada di sini bukan? kamu masih bisa mengunjunginya atau menemui nya di kawasan pabrik," kata Sonia menenangkan Nael.
"Terima kasih. Iya, kamu benar. Boleh kah nanti kamu temani saya menemui Carisa?" tanya Nael.
"Tentu saja. Saya juga ingin menemui nya," kata Sonia sambil tersenyum.
Nael senang, setidaknya dia bisa melihat Caca. Dia pun tak sabar menunggu hingga sore nanti. Sonia kemudian duduk di tempat kerja Caca, dia lalu memulai untuk membantu menyelesaikan tugas Caca yang banyak tersebut.
…………………………………………………………………………
Di Pabrik bagian Packing.
Teh Mul mengantarkan Caca ketempatnya bekerja. Disana banyak sekali wanita yang berpenampilan seperti diri nya.
"Oke Ca. Karena kamu baru pemula, jadi kamu duduk di sini ya. Nanti saya akan ajari kamu cara mengemas semua barang-barang ini," kata Teh Mul.
"Baik, Teh."
Teh Mul kemudian mulai mengajarkan Caca pekerjaan baru nya dengan senang hati.
……………………………………………………………………………
Sementara itu.
"Bagaimana? apa sudah ada kabar dimana Caca berada?" tanya Sony.
"Belum, Bos. Saya belum menemukan Nona Caca. Di tempat bekerja yang lama sudah berganti dengan orang baru Bos," kata penjahat itu.
"Cari terus sampai ketemu!" bentak Sony.
__ADS_1
"Baik, Bos."
Bersambung.