Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 75. Rindu


__ADS_3

Di Kantor.


Pak Heru dan Pak Tris sedang berbicara mengenai sesuatu tentang Nael dan Caca.


"Tris sebaiknya Caca tinggal dulu di rumah saya untuk sementara waktu sampai kita mendapat jadwal dari pengadilan untuk sidang terkait kasus kemarin, dimana Caca adalah korban dan Nael termasuk saksi. Jadi kita tidak boleh membiarkan mereka keluar dari rumah untuk sementara waktu. Itu juga untuk keselamatan mereka berdua."


"Saya juga sudah mencarikan pengacara yang bagus untuk Caca nanti dan para saksi juga sudah kita amankan agar terhindar dari segala ancaman dari Satya dan juga anak buahnya. Semoga saja Sony dihukum berat karena kasusnya itu."


"Kamu benar Heru Satya sangat kejam dia pasti melakukan berbagai cara agar Sony bisa terlepas dari penjara, ditangkapnya Sony pasti menambah daftar dendam Satya kepada Caca dan juga yang berhubungan dengan keluarga Djuanda. Ah kasus ini semakin sulit saja, kita juga bisa dalam bahaya Heru."


"Benar Tris kita juga jangan terlalu banyak bepergian ke luar Kota, karena kondisi sekarang sedang tidak aman."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mereka disini dan juga dengan Sonia?" tanya Pak Tris.


"Nanti setiap hari Ahmad yang akan bolak balik antar pekerjaan mereka kesana Tris dan untuk Sonia dia mau fokus berkuliah dulu."


Mereka berdua kemudian terdiam lalu Pak Heru mengingat sesuatu tentang kejadian kemarin lalu bertanya kepada Pak Tris. "Tris kemarin Nael melihat ada sesosok orang berbaju hitam misterius yang membantu kita menemukan Caca saat di culik, apa itu orang mu?"


"Orang berbaju hitam? tidak Heru. Jadi dia yang memberitahu alamat Caca di culik?" balas Pak Tris dan kembali bertanya.


"Iya, ah entahlah dia ada di pihak kita atau berada di pihak musuh. Setidaknya kita harus berterima kasih kepada orang tersebut."


"Untuk penyusup disini menurut info dari Sandy orang tersebut adalah salah satu penjaga keamanan perusahaan kita Heru, dia telah melarikan diri karena telah tertangkap oleh Shinta dan kawan-kawannya kemarin."


"Syukurlah Tris itu berarti perusahaan kita sudah aman sekarang."


"Iya Heru. Sekarang kita tinggal memikirkan rencana masa depan Nael dan Caca."


Pak Tris mengingat pembicaraan Dewi dan Lista tadi diapun meminta sesuatu kepada Pak Heru, "Heru tolong jaga sikap Nael kepada Caca, awas saja dia kalau melakukan hal macam-macam kepada Caca. Berikan satu kamar untuk Caca jangan tidur dikamar Nael nanti bisa terjadi bencana alam."


Seketika itu pula Pak Heru mangut-mangut mengerti dengan ucapan Pak Tris dia lalu menatap sahabatnya itu entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan hingga mereka berdua tertawa bersama.


……………………………………………………………………………


Di Penjara.


Satya mengunjungi Sony yang berada di penjara dia melihat Sony sedang dalam kondisi berantakan, hal itu membuat Satya semakin marah.


"Papa tolong keluarkan Sony dari sini! berjanjilah bawa Sony dari sini Pah!" Sony merengek seperti bayi saja.


"Kamu tenang saja untuk sementara kamu jalani hukuman ini sampai jadwal sidang kamu di tentukan. Papa akan mencari cara agar kamu bisa bebas."


"Terima kasih Papa, maaf Sony telah melawan perintah dan larangan Papa."


"Itulah akibatnya sekarang terima ini sebagai hukumanmu. Bersabar saja sekarang, apa kamu tahu dimana Cindy?" tanya Satya.


Sony menggelengkan kepalanya, Satya sedang mencurigai Cindy yang tidak pernah menjenguk Sony atau pulang kerumahnya ada kabar juga kalau Cindy terlibat dalam orang misterius berbaju hitam tersebut.


"Baiklah kalau begitu Papa pulang dulu."


"Baik Pah."


Satya lalu pergi dan memikirkan sesuatu, entah apa yang dia pikirkan yang jelas dia punya rencana jahat untuk Caca dan rencana yang lainnya untuk orang berbaju hitam misterius tersebut.


…………………………………………………………………………


Di Kediaman Heru.


Caca sedang makan dengan lahap sekali, dia tidak memperdulikan Nael yang sedang memperhatikannya karena dia sedang mengurusi cacing di perutnya yang sedang demo.


"Aa. Kenapa lihat-lihat?" Caca berhenti makan dan bertanya dengan tampang sangarnya.


Nael hanya tersenyum melihat Caca yang sedang makan sesekali dia mengelap atau mengambil nasi yang menempel di pipi Caca hingga Bi Lila saja sampai tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Tuan mudanya yang tengah kasmaran itu.


"Menjijikan!" ucap Caca kepada Nael tetapi Nael hanya diam saja.


Tak lama kemudian setelah Caca makan dia diajak oleh Bibi Lila untuk ke kamar yang telah dia siapkan untuk Caca.


"Silahkan Nona ini kamar Nona untuk menginap selama beberapa hari disini."


"Terima kasih Bi."

__ADS_1


Nael yang mendengar hal itu sedikit kecewa karena dia tidak bisa bobo bareng dengan Caca atau memandang nya lagi lalu berkata kepada Bi Lila, "Ah bagaimana itu bisa terjadi, kenapa Bibi membereskan kamar ini? harusnya dibiarkan saja." Nael lalu mendengus kesal.


Bi Lila tersenyum dia mengerti dengan maksud dan kekecewaan Tuan muda nya itu lalu menjawab pertanyaannya Nael, "Maaf Tuan Nael ini perintah dari Tuan Heru."


Caca tersenyum setidaknya dia bisa aman dari Nael yang sedikit mesum itu dan berkata, "Kamar nya bagus Bi, saya jadi punya privasi sendiri." Caca lalu menatap Nael dengan tatapan tajamnya.


"Terima kasih Non, ya sudah Bibi tinggal dulu ya, masih banyak pekerjaan yang lainnya."


"Baik Bi."


Bi Lila lalu pergi meninggalkan Caca dan Nael berdua lalu menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya.


***


Caca kemudian berkeliling kamarnya dia senang karena kamarnya sangat luas dan rapih, apalagi terdapat balkon tempat bersantai yang dapat melihat taman belakang rumah Pak Heru yang luas nan indah juga kolam berenang berwarna biru segar terlihat dari atas kamar tersebut.


Caca lalu termenung, dia sedikit mengingat rumah lamanya. Rumah keluarga Djuanda yang lebih besar dan indah daripada rumah Nael, dia mengingat ketika bermain dan berenang bersama dengan Papa dan Mama nya dan tanpa terasa air mata Caca turun membasahi pipinya.


"Ah rindu sekali dengan mereka," ucap Caca dalam hati.


Nael tiba-tiba datang mendekat lalu menghapus air mata Caca yang membuat Caca sontak berhenti melamun.


"Kenapa kau menangis Carisa, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Nael.


"Tidak ada, kenapa Bapak masih disini? pergilah kekamar mu!" ucap Caca lalu mendorong Nael keluar dari kamarnya.


"Brak!" Caca menutup pintu itu dengan keras membuat Nael jadi tak berani menganggunya.


Nael menghela nafas kebiasaan Caca memanggil Bapak kepadanya tidak pernah hilang dia hanya bisa menunggu sampai Caca benar-benar berhenti memanggilnya Pak.


***


Tak lama kemudian Ahmad datang ke rumah Nael untuk memberikan pekerjaan mereka yang tertunda dia lalu menghampiri Nael yang tengah manyun diruang tengah.


"Eh Bos kenapa manyun saja?" tanya Ahmad.


"Tidak apa Mad, kamu kenapa kesini?" tanya Nael.


"Oh ya sudah sini biar saya kerjain sekarang."


Ahmad mencari-cari seseorang lalu bertanya kepada Nael, "Mana Caca?"


Nael dengan tampang coolnya lalu menunjuk kamar atas dan berkata, "Ada dikamar itu."


"Oh ya tugas Caca juga ada disitu Pak Tris minta sekarang diselesaikan. Ya sudah saya balik dulu ya masih ada kerjaan lain," ucap Ahmad lalu pergi dari rumah Nael.


"Ya Mad."


Nael sedikit tersenyum itu berarti dia bisa bekerja bersama dengan Caca dan bisa berdekatan kembali di ruang kerja bawah miliknya.


Nael lalu meminta Bi Lila untuk memanggil Caca untuk turun. "Bi tolong panggilin Carisa ya, bilang ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dan saya tunggu dia di ruang kerja sekarang ya."


"Baik Tuan."


"Terima kasih Bi, jangan lupa siapin cemilan dan antar ke ruang kerja saya ya Bi," ucap Nael sambil tersenyum bahagia.


"Baik Tuan." Bi Lila lalu menjalankan perintah Nael.


"Bagus! dengan begini aku bisa melihat Caca lagi dan bisa dekat-dekat sama dia." Nael lalu mengeluarkan tawa jahatnya kembali.


***


"Tok tok tok!"


Caca membuka pintu dan melihat Bi Lila di depan pintu kamarnya.


"Iya Bi ada apa?" tanya Caca.


"Dipanggil Tuan Nael Non, katanya ada pekerjaan dari kantor yang harus diselesaikan sekarang."


Caca mengerti, dia lalu turun kebawah dan meminta Bi Lila untuk mengantarnya keruang kerja Nael karena Caca belum tahu dimana ruangan tersebut berada.

__ADS_1


***


Sesampainya disana Bi Lila mengatakan sesuatu kepada Caca. "Ini Nona ruangan nya. Tuan Nael sudah didalam, saya akan siapkan cemilan dan makan siang untuk kalian berdua jadi saya permisi dulu ya untuk ke dapur."


"Baik Bi, terima kasih."


"Sama-sama Nona."


Caca mempunyai firasat buruk dibalik pintu di hadapannya. Caca kemudian berbicara sendiri, "Entah apa yang akan terjadi didalam? semoga aja dia tidak berbuat macam-macam."


"Tok tok tok!"


"Masuk Carisa!" sahut Nael dari dalam


Caca lalu membuka pintu untuk masuk kedalam dan menengok ke kanan dan kirinya lalu melihat kesekeliling ruangan kerja Nael yang penuh dengan lemari berisi buku-buku.


"Tutup pintunya!" pinta Nael.


"Baik!" sahut Caca.


Caca lalu berjalan kembali menuju meja besar dengan satu set peralatan komputer lengkap dan juga sebuah Laptop dan melihat Nael yang sedang duduk disana sambil memandangi Laptopnya dengan wajah serius.


"Sini Carisa cepat duduk disini dan kerjakan tugas ini sekarang!" perintah Nael sambil menepuk-nepuk kursi yang berada disebelahnya.


Caca menarik dafas dalam-dalam ketika melihat tugas yang bertumpuk didepannya lalu duduk disebelah Nael. Rasanya seperti horor sekali untuk Caca berada disana.


"Bagus! sekarang kamu kerjain ini sekarang, harus selesai sekarang juga dan jangan pergi kemana-mana sampai tugas ini selesai."


"Baik Pak!"


"Aish Pak lagi!" ucap Nael kesal.


"Maaf."


Mereka kemudian mengerjakan tugas tersebut bersama-sama, hingga Nael bertanya sesuatu kepada Caca.


"Carisa."


"Hem."


"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Nael sambil mengetik laporannya.


"Mau tanya apa?" tanya Caca dengan wajah lurus ke komputer.


"Kenapa kamu tadi menangis? apa ada sesuatu yang menganjal dihatimu?" tanya Nael menatap Caca.


Caca berhenti mengerjakan laporannya dia mengingat sesuatu lalu menjawab pertanyaan Nael, "Tidak ada hanya rindu dengan seseorang."


"Kau merindukan kedua orang tuamu?"


Caca menengok ke Nael dan menatapnya lalu kembali melihat ke komputernya.


"Iya sudah lama sekali aku merindukannya dan yang membuat aku sedih adalah sampai sekarang aku belum sempat mengunjungi makamnya." Caca mulai bersedih.


Nael mengeser dan mengubah posisi kursi Caca agar bisa berhadapan dengan nya lalu berkata, "Jangan bersedih suatu saat kamu pasti bisa mengunjunginya dan aku akan ikut menemanimu."


Caca lalu menatap Nael dan tersenyum senang lalu berkata, "Terima kasih."


"Bagus!" Nael membelai rambut Caca lalu mendekatkan wajahnya kepada Caca seperti ingin meraih sesuatu yang ada di wajah Caca dan saat ingin berhasil ....


"Tok tok tok!"


"Tuan ini saya bawa cemilan!"


"Akh gagal deh." Caca hanya tertawa melihat Nael yang sedang mengerutu karena tak berhasil mendapatkan apa yang dia mau karena Bi Lila datang dengan tiba-tiba.


"Hihihi."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2