
Di Kediaman Satya.
Satya sedang mencari Cindy yang tidak ada kabar, hingga tak berapa lama kemudian anak buah Satya datang dan memberitahu sesuatu.
"Lapor Bos! Nona Cindy sedang berada di rumah Pak Tono."
"Oh begitu, baiklah sekarang pergi dan bawa dia kemari!" perintah Satya.
"Baik Bos!"
"Cindy, jika benar orang itu adalah dirimu, maka terimalah kehancuran mu!" ucap Satya dalam hati.
Satya menggengam sesuatu, itu adalah foto Wina dan Felicia yang berada dikamar Cindy dan juga beberapa bukti yang lainnya yang mengarahkan Cindy adalah orang misterius berbaju hitam.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Heru.
Nael dan Caca kembali mengerjakan tugas mereka dengan penuh konsentrasi dan penghayatan mereka sama-sama tidak bergeming hingga tiba saat Nael mengucapkan sesuatu.
"Yes! akhirnya sudah selesai," ucap Nael sambil meraih cemilan di hadapannya.
"Enter!" Nael lalu menggoyang-goyangkan kursinya itu di hadapan Caca sambil menunggu tugas nya tercetak sempurna.
"Apa coba maksudnya?" tanya Caca yang masih menyelesaikan laporannya.
Nael tersenyum dia mendekati Caca lalu bersandar dengan tangan kiri yang menopang kepalanya di atas meja lalu memandangi wajah Caca yang berada di sebelah kanannya sambil cengar-cengir seperti kuda.
Caca yang dipandangi terus oleh Nael menjadi tidak fokus, sesekali Caca melirik ke arah Nael dengan ujung matanya.
"Jangan pandangi aku seperti itu, kau membuatku jadi tidak fokus bekerja!"
Nael tidak menjawab dia terus memandangi Caca dari ujung kaki hingga ujung rambutnya lalu tersenyum dan berkata, "Ah ternyata aku sudah menyukai mu cukup lama."
"Cukup lama? setahuku kau bekerja saja belum ada setahun," balas Caca.
Nael tersenyum kembali lalu bertanya kepada Caca, "Kau ingat pertemuan pertama kita?"
Caca mencoba mengingat nya lalu menjawab Nael dengan mata dan tangan yang masih bekerja. "Ya di ruang rapat dan disaat kau membantuku."
"Kau salah, pertemuan pertama kita itu saat kita masih kecil."
"Masih kecil?" Caca menaikkan satu alisnya.
"Iya kau tahu kenapa kadal peliharaan ku bernama Caca Marica? kau ingat kepada siapa kau memberikan kadal itu?" tanya Nael.
Caca kemudian berusaha membuka memori lama yang berada di dalam otak nya itu, yang dia ingat dia pernah memberikan satu ekor anak cicak kepada seorang anak laki-laki. Beberapa saat kemudian Caca dengan kepalanya yang sudah mengebul penuh dengan asap mengangguk pelan lalu menjawab pertanyaan Nael, "Hm, tidak ingat!"
"Gubrak!"
Sekian lama Nael menunggu ternyata dia tidak ingat sama sekali. "Ya sudah tidak apa jangan dipaksakan nanti kepala mu bisa terbakar."
__ADS_1
Caca kemudian menengok ke arah Nael dan membalas perkataannya dengan tersenyum lalu berkata, "Aku ingat dan tak akan pernahku lupakan kejadian itu. Anak laki-laki itu, dialah satu-satunya yang mau menerima pemberian ku dan juga orang yang mau berbicara dengan ku."
Nael mendekat kemudian Caca melanjutkan kembali perkataannya, "Kau tahu, dia adalah teman pertama ku. Semua orang menjauhi ku karena status ku yang begitu berbeda, mereka takut karena aku dan keluarga ku yang selalu dibayangi oleh si jahat Satya. Tidak ada yang mau bergaul denganku, itulah kenapa aku selalu ingin hidup sederhana dan menyembunyikan identitasku." Caca lalu bersedih.
Nael tercengang, sepertinya dia salah menanyakan pertanyaan itu, "Maaf, jangan bersedih. Harusnya aku tidak bertanya seperti itu."
Caca menunduk lalu seperti ada aliran listrik yang mengalir dan tersambung didalam otak Caca yang membuatnya konek seketika.
"Teng!"
"Eh tunggu! kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dan bisa tahu kejadian itu? apa jangan-jangan anak laki-laki itu ---?"
Caca berhenti bicara lalu menengok ke arah Nael dan seketika Caca terperanjak kaget melihat wajah Nael yang sudah banjir deras oleh air mata, seluruh wajahnya telah basah. Nael melipat bibir atas nya hingga membentuk lengkungan kebawah lalu menangis terisak-isak sambil menganggukkan kepala nya.
"Hiks!"
"Tunggu kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Caca yang terkejut dengan ekspresi wajah Nael.
Nael kemudian tanpa basa basi langsung memeluk Caca dan mengusap-usap pipinya ke pipi Caca, dengan menangis dia berkata, "Iya Carisa, hiks. Anak laki-laki itu adalah aku! akhirnya kamu mengingatnya Carisa."
Caca senang tapi melihat Nael yang mewek seperti bayi diapun langsung menjauhkan wajah Nael dari wajah nya itu dengan kedua tangannya. "Ikh pergilah menjauh dari pipiku, kau telah menodai pipiku yang mulus dan suci ini!"
Nael tidak mengindahkan perkataan Caca dia terus memeluk Caca dengan erat dan tak melepaskan nya. "Tidak akanku lepaskan kau Carisa!" Nael mengusap usap pipinya ke Caca.
"Setidaknya laplah dulu wajah mu itu! wajah mu penuh dengan ingus, ikh menjijikan!"
"Tak mau!"
"Akh pergilah jangan mendekatiku seperti itu!"
Kejadian itu tanpa sadar di saksikan oleh dua pasang mata, mereka yang melihat langsung menggelengkan kepala dan memijat pelipis kepala mereka yang tak sakit lalu berkata, "Tris lebih baik kita biarkan saja dahulu mereka berdua."
"Ah ya sudahlah."
Mereka berdua kemudian keluar dari ruang kerja pribadi Nael dan menutup pintu itu dengan perlahan dan sesampainya di depan Pak Heru berkata kepada Pak Tris, "Nael benar-benar membuatku malu, mengapa dia menangis seperti itu depan seorang wanita?"
Pak Tris lalu tersenyum dan membalas perkataan Pak Heru, "Biarkan saja seperti nya mereka sedang mengenang sesuatu, bukankah itu bagus untuk mempererat hubungan mereka."
"Kau benar Tris tetapi mau ditaruh kemana wajah ku ini setelah melihat Nael seperti itu. Aku benar-benar malu." Pak Heru kemudian membenamkan wajahnya ke bahu Pak Tris.
Pak Tris mengusap bahu sahabatnya itu seperti sedang menenangkannya. Lalu menatap ke langit-langit rumah Heru yang begitu tinggi dan menghela nafas.
"Ternyata ayah dan anaknya sama saja, sama-sama baper!" ucap Pak Tris dalam hati.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Sementara di ujung sana ayah dan anak sedang baper, lain halnya dengan yang berada di ujung sini. Ayah dan anak ini sama-sama sedang bersitegang. Ya dia adalah Satya dan Cindy.
"Cindy coba kamu jelaskan semua kepada Papa tentang semua ini!" Satya lalu melempar semua yang dia temukan di kamar Cindy.
__ADS_1
"Kenapa Papa masuk kamar Cindy tanpa ijin!" ucap Cindy melipat tangannya di depan dada dan mendengus kesal.
"Kenapa Papa harus minta ijin sama kamu sementara ini adalah rumah Papa. Sekarang lebih baik jujur apa kamu orang misterius berbaju hitam tersebut." Satya menatap Cindy dengan tajam.
Cindy tak bisa mengelak semua bukti telah mengarah kepadanya.
"Brak!"
Satya memukul meja dengan keras hingga membuat Cindy dan penjahat lainnya tersentak kaget.
"Kenapa kamu diam, jawablah sekarang! kenapa kamu melakukan itu Cindy? lihat sekarang adikmu dipenjara itu semua gara-gara kamu!"
Cindy kesal dan tak tahan lagi dia kemudian mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada Satya yang mempunyai kumis melengkung rapih itu dan yang pastinya dia jahat. Cindy kemudian menceritakan apa yang Satya lakukan terhadap Ibu kandungnya itu.
"Kau yang telah menghabisi mama, kau juga yang telah membuatku membenci keluarga Djuanda. Kau yang mengarang semuanya dan membuat yang benar menjadi salah, jadi kau jangan salahkan aku! aku begini semua karena dirimu!"
Satya lalu mendekat ke arah Cindy lalu menaruh tangannya di atas bahu Cindy, terlihat cincin batu akik dikelima jarinya Satya dengan berbagai bentuk dan juga rupa-rupa warnanya.
Satya menghela nafas, lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengunci Cindy didalam kamarnya.
"Rusli, cepat kurung dia! dan jangan ada yang berani mengeluarkannya dari kamar. Akan aku kasih wanita tidak tahu diri ini dalam waktu dekat kepada pria hidung belang sebagai hukumannya!"
"Jangan Pah! kenapa kau begitu kejam! aku tidak sudi! kau mau menjualku! Papa jangan lakukan itu atau aku akan membalas mu!"
"Brak!" Satya menutup pintu kamar Cindy dengan sangat kencang, dia tidak perduli dengan semua teriakan dan ancaman Cindy dia kemudian pergi dan memerintahkan semua penjaga nya untuk menjaga Cindy agar tidak kabur sampai pria hidung belang itu datang dan membawa Cindy pergi.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Heru.
Nael telah berhenti menangis diapun melepaskan pelukannya lalu Caca dengan cepat mengambil tisue dan membersihkan pipinya dari air mata dan ingus nya Nael.
"Ikh menjijikan!"
Nael lalu menggenggam tangan Caca dan melanjutkan pembicarannya yang tadi.
"Iya Carisa anak laki-laki itu adalah aku, itu berarti kamu mengingatnya."
Caca mengangguk, dia juga tidak menyangka Nael adalah anak laki-laki yang pernah berbicara dan menjadi teman pertamanya.
"Ah dunia ini begitu sempit," ucap Caca dalam hati.
Nael mencium tangan Caca dan berkata, "Carisa sejak saat itu aku selalu menunggu mu, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, kau cinta pertamaku, kau begitu manis dan menggemaskan. Kau juga begitu ceria dan bersemangat."
Caca terharu mendengar itu semua dari Nael dan membalas perkataan Nael, "Benarkah semua yang kamu katakan itu?"
Nael hanya menangguk lalu mendekati Caca kembali. "Benar Carisa sumpah demi apapun itu adalah benar."
Caca tersenyum dia akhirnya menemukan teman pertamanya sedangkan Nael bahagia karena Caca telah mengingatnya dan menyadari bahwa Caca adalah Cinta pertamanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.