
Di sore hari nya.
"Hoam!"
Nael mengerjapkan kelopak matanya lalu sedikit melakukan peregangan sehabis bangun tidur dengan masih berbaring di atas kasur dia menatap keluar dinding kaca di hadapannya yang tertutup vitrase.
"Sepertinya aku ketiduran lumayan lama, sampai sore begini. Dia juga sepertinya ketiduran."
Nael lalu terdiam sejenak mengingat kembali kejadian tadi siang dan mengapa dirinya tertidur bersama Caca di dalam paviliun tersebut. Nael tersenyum dan menatap wajah Caca yang masih tertidur di atas dada bidangnya.
"Carisa," ucap Nael dengan lembut dan membelai wajah cantik dihadapannya lalu menyelipkan beberapa helai anak rambut kebelakang daun telinga Caca agar tidak ada yang mengganggu pemandangannya.
"Andai saja bisa seperti ini setiap hari, bisa menatap dia saat tertidur dan bersama menghabiskan hari-hari. Ah aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba."
Nael tersenyum sendiri memikirkan bagaimana jika hari itu tiba, apa saja yang bisa dia lakukan bersama Caca tanpa ragu atau malu-malu dan lamunan itu sukses membuat wajah pria tampan itu memerah dengan sedikit pergerakan sekaligus dorongan sesak dibagian bawahnya.
"OMG!"
"Cih begitu saja kamu tergoda! sabar lah sedikit tunggu sampai hari itu tiba dan jangan berani kau macam-macam!" ucap Nael sambil menggerutu sendiri dan menceramahi bagian bawah nya yang tiba-tiba bangun tersebut.
("Kau yang membuatku begini dasar mesum!" sahut saudara satu tubuh dengan beda ukuran itu tanpa suara.)
Nael berusaha bangun, sebagian tubuh nya yang tertindih oleh Caca membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak.
Nael selembut mungkin menggeser Caca berusaha membuatnya agar tidak terbangun dan menarik tangannya yang tertindih itu dengan perlahan dan setelah selesai Nael mulai mengangkat kepala Caca yang menindih dada nya untuk berpindah ke sebuah bantal yang berada di sampingnya.
Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Nael berhasil memindahkan kepala Caca ke bantal tanpa membangunkannya.
"Fiuh untunglah dia tidak terbangun, sekarang kita pindahkan tangannya."
Nael menghela nafas lalu berbalik perlahan untuk bangun tetapi pergerakan tubuh Nael membuat tangan Caca yang berada di dada nya terjatuh dan menyentuh saudara Nael yang berada di bagian bawah itu.
"Glek!" Nael menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ugh tidak! kenapa seperti ini."
Tangan Caca yang tidak sengaja berada di atas saudaranya itu sontak membuat Nael menjadi panas dingin dan bergetar hebat, ditambah lagi bagian bawahnya itu semakin memberontak ingin keluar dari sarangnya saat Caca sedikit meremasnya.
"Ugh! jangan Carisa, kau membuatku dalam masalah besar."
Nael meremas sprei di sampingnya sambil menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara apapun. Nael sedikit frustasi dia terdiam sesekali menggeleng agar pikiran kotor itu terlepas dari kepalanya.
"Akh bahaya sekali kalau begini terus habislah aku!"
__ADS_1
Nael lalu meraih tangan Caca bermaksud memindahkan nya ke posisi aman, dengan sekuat tenaga dia menahan hasrat yang bergejolak didalam dirinya itu dengan hati yang ketar ketir takut Caca keburu membuka mata.
Nael yang panik berusaha tenang melepaskan saudaranya itu dari gengaman tangan Caca.
"Ku mohon jangan buka mata mu dulu Carisa," ucap Nael di sela aksi penyelamatan saudaranya itu.
Pergerakan tangan Nael membuat Caca terbangun dia perlahan membuka mata dan Nael tak sadar kalau Caca mulai memperhatikan Nael yang sedang sibuk melepaskan sesuatu.
"Kau sedang apa Nael, kenapa tangan ku di pegang seperti itu dan apa ini yang keras-keras panjang?" tanya Caca yang masih setengah sadar dan tangan yang bergerak seperti memeras.
"Glek!" Nael meneguk ludahnya.
"Ow jangan di remas seperti itu ..." ucap Nael lirih.
Caca merasakan ada yang aneh diapun bangun lalu duduk dan melihat apa yang terjadi.
"Carisa jangan bangun!" teriak Nael.
Wajah Nael berubah menjadi pucat pasi diapun semakin panik ketika pandangan Caca turun kebawah apalagi tangan Nael yang masih menggengam tangan Caca yang masih berada di tempat itu.
"Alamak!" ucap Nael pelan tapi tertekan.
Melihat hal tersebut sontak saja membuat Caca terkejut. Mata Caca seketika membola, terlihat di kedua bola matanya itu seperti keluar api yang membara dan berkobar-kobar. Caca pun berubah menjadi medusa cantik yang begitu menyeramkan.
Caca telah salah paham dia mengira Nael sengaja membuat tangan nya agar memegang hak milik Nael itu akibatnya Caca pun menjadi geram dia menarik tangannya dan tanpa basa basi mendaratkan telapak tangannya ke wajah tampan Nael.
"Plak!"
"Dasar mesum! kau sengaja bukan, memanfaatkan situasi seperti ini!" teriak Caca lalu turun dari tempat tidur.
"Carisa percaya lah aku tidak ada maksud macam-macam dengan mu, kejadiannya begitu cepat dan aku juga bingung harus menjelaskannya dari mana." Nael berusaha meyakinkan Caca kalau dia tidak mempunyai niat buruk.
Emosi Caca sedikit mereda tetapi itu tetap tidak mengurangi rasa curiganya.
"Sudah lah lebih baik aku keluar!"
Caca berjalan menuju pintu keluar, tetapi Nael menghadang Caca dengan tubuhnya dan tidak mengijinkan Caca untuk keluar sebelum kesalahpahaman ini menghilang.
Nael merangkapkan kedua tangannya dan berkata, "Carisa ku mohon jangan marah, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, sumpah demi apapun aku tidak bermaksud berbuat seperti itu. Ini hanya salah paham."
Caca menatap Nael dengan rasa kesal tetapi dia merasa iba dengan Nael yang terus menerus memohon kepadanya.
"Kalau memang itu tidak di sengaja kenapa kamu malah diam saja tidak menepis tanganku? kau malah memejamkan kedua mata dan memasang wajah yang menyebalkan tadi."
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Nael mendelik dia seperti kehilangan muka, Nael begitu malu sekali diapun tertunduk sambil terus menahan Caca agar tidak pergi dan berusaha menjelaskan kembali.
"Tadi aku ingin melepaskannya Carisa, tetapi kamu keburu bangun mau tidak mau itu semua terjadi."
Caca menghela nafas dia tidak tega juga memarahi Nael apalagi itu tidak disengaja. "Huh baiklah anggap saja aku percaya, tetapi setelah ini jangan harap aku mau menemani mu berdua di dalam kamar lagi!"
Caca lalu berjalan keluar dari paviliun tersebut dan meninggalkan Nael yang sedang dilanda perasaan gundah gulana.
"Carisa kenapa aku merasa tidak berdaya bila berhadapan denganmu." Nael lalu tersenyum dia menatap bagian bawahnya itu dengan perasaan senang hingga rasa sakit yang diciptakan oleh tamparan Caca hilang begitu saja.
"Ya setidaknya aku sudah merasakan sentuhannya sedikit, benarkan saudaraku!" seru Nael lalu keluar dari paviliun dengan perasaan semangat kembali.
…………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
"Bos sidang Bos muda besok jam 11 siang."
"Baik, apa orang itu sudah siap. Bagaimana dengan semuanya, apa berhasil?"
"Siap Bos semuanya sudah teratur tinggal menjalankan saja."
"Ya sudah biarkan saja berjalan dahulu sebagaimana mestinya."
"Baik Bos."
"Rusli!" teriak Satya.
"Iya Bos!"
"Besok pastikan pria itu untuk datang dan boleh membawa Cindy pergi segera agar aku tidak melihat wajah nya terus dan kembali mengingat Wina si j*lang itu."
"Baik Bos!"
"Sementara aku pergi mengurus sidang Sony di pengadilan, kalian jaga Cindy agar tidak kabur dari sini."
"Baik Bos!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1