Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 81. Drama Sarapan Pagi.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Matahari belum muncul tetapi Caca sudah bangun pagi-pagi sekali dan sedang sibuk membantu Bi Lila memasak di dapur.


"Tak tak tak!"


Caca memotong sayur dan bahan lainnya dengan semangat, tangannya begitu lincah memainkan pisau dan tak butuh waktu lama semua bahan tersebut akhirnya teriris dan terpotong dengan rapih sesuai ukurannya.


Semua bahan telah siap Caca kemudian mulai memasak. Dengan keahlian yang diajarkan oleh sang Ibu dan seringnya Caca membantu Ibu memasak di dapur, sehingga urusan memasak itu adalah perkara mudah bagi Caca karena sudah menjadi kebiasaan baginya.


Caca begitu senang memasak hatinya sedang semangat menggebu akan tetapi beda halnya dengan para pelayan di rumah Heru, mereka terlihat cemas dan khawatir dengan Caca yang merepotkan dirinya sendiri.


"Nona sudah jangan merepotkan diri anda, biarkan saja kami yang mengerjakan semua ini Nona."


"Benar Nona, nanti kami akan dimarahi oleh Tuan besar jika kedapatan Nona bekerja disini."


Caca menghentikan aktivitas memasaknya sejenak. Dengan tangan yang masih memegang spatula dia menatap para pelayan wanita tersebut satu persatu lalu berkata, "Tidak apa, kalian jangan takut. Pak Heru tidak akan memarahi kalian, tenang saja."


Mendengar ucapan Caca yang begitu semangat, Bi Lila pun angkat bicara, "Biarkan Nona Caca yang memasak disini bersama dengan saya, kalian pergilah dan kerjakan pekerjaan yang lainnya."


"Baik lah Bi!" ucap para pelayan wanita tersebut lalu meninggalkan Caca dan Bi Lila memasak di dapur.


Caca melanjutkan kembali perangnya dengan peralatan dapur yang masih berada di hadapannya itu, sehingga satu persatu menu makanan pun telah siap tersaji dan Bi Lila dengan sigap menata makanan tersebut di atas meja makan agar terlihat rapi dan sempurna.


"Oke sudah semua!" seru Caca lalu membereskan peralatan masaknya kemudian mencuci semua peralatan tersebut hingga bersih.


Caca kemudian berjalan mendekati dan berdiri di samping meja makan besar yang berada diruang makan tersebut, kemudian dia mulai melihat dan menghitung kembali menu masakannya itu.


"Ah ada yang kurang!" Caca kemudian kembali ke dapur dan membuatkan kopi untuk Nael dan juga Pak Heru.


***


Di Kamar Nael.


Sementara itu sinar matahari perlahan mulai masuk menyinari kamar Nael melalui celah-celah pintu kaca pembatas kamarnya. Nael membuka matanya perlahan dengan mata yang masih menyipit Nael menatap ke arah balkon kamar dan teringat tentang percakapannya dengan Caca kemarin malam.


Nael lalu tersenyum kemudian dia bangkit dari kamar tidurnya dan berjalan ke arah balkon berniat untuk menemui Caca lewat tempat tersebut.


"Srek!"


Nael membuka pintu kaca pembatas kamarnya dia melangkahkan kaki dan berjalan mendekati kamar Caca, hingga sampai di tempat yang dituju Nael berdiri di depan pintu kaca itu lalu meraih sesuatu.


"Srek!"


Nael menggeser pintu kaca pembatas kamar Caca yang kebetulan tidak terkunci, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kekasihnya itu.


Mata Nael mencari-cari Caca ke segala arah baik di tiap sudut kamar tidur bahkan kamar mandi juga tak luput dari pencariannya, namun wanita yang dicari tersebut tidak kunjung dia temukan.


Tak menemukan orang yang dia cari di dalam kamar, Nael lalu keluar dari kamar tersebut dan mulai menuruni anak tangga dengan hati yang masih bertanya-tanya, "Kemana dia?"


Nael mulai mencari di lantai bawah dan pencariannya berakhir ketika dia menemukan Caca yang sedang membantu Bi Lila mengeringkan peralatan masak di dapur untuk ditaruh ke tempatnya semula.


Caca sedang sibuk dengan urusannya itu sedangkan Nael memperhatikan Caca dari jauh dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di samping tembok dapur Nael lalu tersenyum melihat itu semua.


Sehabis membersihkan dan mengeringkan semua peralatan masak Caca mulai menaruh barang-barang tersebut kembali ke tempatnya semula dan mulai bertanya kepada Bi Lila. "Bi Lila ini taruh dimana? apa di taruh di lemari ini?" tanya Caca dengan tangan yang masing memegang panci.


Bi Lila yang melihat Caca kesulitan merapihkan peralatan dapur diapun mendekati Caca dan membantunya. "Ya benar taruh di sana. Mari sini biar Bibi yang taruh, Nona istirahat saja."


"Tidak usah Bi, tanggung biar Caca yang selesaikan ini!" balas Caca dengan semangat.


"Ya sudah Nona kalau begitu Bibi mau panggilkan Tuan Heru dan Tuan Nael karena sarapan sudah siap. Tolong Nona berhati-hatilah, jangan nekad naik-naik bangku untuk menaruh barang ini di tempat yang tinggi. Nanti biar saya atau pelayan lain saja yang menaruhnya."

__ADS_1


"Baik Bi!" Caca mengangguk dan mulai kembali melakukan pekerjaannya.


Caca terdiam dan menatap semua panci dan yang lainnya yang masih berantakan. "Cih tanggung banget, bikin mata gatal saja lihat ini semua tidak rapih, sekalian taruh saja deh!"


Caca lalu mencari sesuatu untuk pijakan kakinya dan mulai menaiki bangku tersebut dengan satu tangan yang memegang sebuah barang.


"Hem pakai bangku ini kan tidak licin, Ini mudah sekali! kenpa harus takut. Jangan panggil aku Caca kalau aku tidak bisa mengerjakan ini semua. Hihihi." Caca tertawa senang dan itu membuat Nael yang sedang memperhatikan Caca menjadi gemas sendiri.


"Dasar wanita itu keras kepala sekali," ucap Nael berbicara sendiri.


Posisi yang cukup tinggi membuatnya kesulitan menaruh barang tersebut namun Caca tak kehabisan akal diapun menjinjitkan kedua kakinya agar dapat menjangkau lemari tinggi di hadapannya.


***


Tak berapa lama kemudian Bi Lila masuk ke dalam dapur untuk melanjutkan kembali pekerjaannya dan ketika dia melihat Caca yang sedang menaiki bangku, Bi Lila pun terkejut lalu dia segera menghampiri Caca dan tak sengaja berteriak, "Nona Caca hati-hati!"


Karena teriakan dari Bi Lila sontak membuat Caca terkejut diapun menengok ke arah Bi Lila hingga dia kurang berkonsentrasi mengakibatkan dirinya kehilangan keseimbangan, alhasil Caca jatuh terpeleset dari bangku.


"Hua tolong!' Caca memejamkan kedua matanya.


"Brak!"


"Prang!"


"Klontang klontang!"


"Nona Caca!" teriak Bi Lila.


Bangku yang Caca naiki terbalik, panci ditangannya jatuh dan terguling ke sembarang arah. Caca pun terjatuh tetapi ada yang aneh dia merasa seperti ada yang menahannya, Caca mulai membuka matanya perlahan dan melihat seseorang yang sedang memeluk dirinya dengan erat.


"Nael!"


Ya sebelumnya Nael melihat Caca yang ingin terjatuh maka dari itu Nael berlari cepat menghampiri Caca dan dengan sigap kedua tangannya menangkap dan menahan tubuh Caca agar tidak terjatuh ke lantai.


Kedua pandangan mereka bersatu membuat keduanya saling memandang satu sama lain.


"Fiuh syukurlah!" Bi Lila menghela nafas lega sambil kedua tangan memegang dadanya.


Pak Heru yang datang untuk sarapan mendengar keributan di dalam dapur, diapun menyempatkan diri untuk melihat kejadian yang berlangsung cepat itu.


"Ehem! uhuk!"


Deheman dan suara batuk Pak Heru membuat lamunan Nael dan Caca seketika sirna, Nael kemudian melepaskan pelukannya itu dan Caca berterima kasih kepada Nael.


"Terima kasih!" ucap Caca menundukkan kepalanya.


"Sama-sama."


Nael mulai menceramahi Caca. "Kau ini! kenapa naik ke bangku itu, kalau tidak bisa seharusnya jangan dikerjakan! kamu benar-benar keras kepala."


Caca semakin menunduk dia benar-benar takut sekarang, apalagi Bi Lila dan Pak Heru mendekat kearahnya dan memasang wajah sedikit marah.


"Sudah yang penting kamu tidak apa-apa kan Ca?" tanya Pak Heru memegang pundak Caca.


"Tidak apa Pak."


"Bi Lila tolong bereskan ini semua ya. Mari kita sarapan bersama." Pak Heru kemudian mengajak Caca ke meja makan.


Caca menganggukkan kepala dan meminta maaf kepada semua orang yang berada disana sedangkan Nael melihat Caca dengan gemas lalu tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya itu, lalu menatap Caca yang sedang berjalan dan berkata, "Aish Carisa kamu selalu membuatku gemas."


***

__ADS_1


Drama jatuh telah berakhir dan tiba saatnya mereka berkumpul di meja makan, disana sudah tersaji beberapa makanan dan mereka pun memulai ritual sarapan pagi.


Nael melihat Caca yang masih menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sudah jangan dipikirkan, sekarang cepat makanlah selagi masih hangat!" ucap Nael lalu meraih kopi di hadapannya.


"Slurpp!" Nael menyeruput kopi tersebut dan tersenyum senang, lalu menatap ke arah Caca.


"Carisa!"


"Hem, ada apa?" tanya Caca.


"Ini pasti kopi buatan kamu, iya kan?"


Caca mengangguk dan tersenyum sedangkan Nael terus meminum kopi tersebut hingga habis. Nael lalu menaruh cangkir kopi itu dan menatap ke arah Caca dan berkata, "Ah sudah lama sekali aku tidak merasakan kopi buatan mu itu, rasanya begitu nikmat memang kopimu membuatku kangen saja seperti kamu yang selalu ngangenin."


"Deg!"


Mendengar perkataan itu wajah Caca seketika berubah memerah dan Nael tertawa melihat itu diapun mencubit pipi Caca dengan gemas.


"Sakit!" Caca lalu membalas dengan mencubit perut Nael.


"Aw, baiklah maaf!"


Nael dan Caca kemudian sama-sama melepaskan cubitannya itu dan tak menyadari kelakukan mereka tersebut disaksikan oleh Pak Heru yang sedang mengunyah makanan.


Nael mulai memakan sarapannya itu, ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, Nael membuka kedua matanya dengan lebar, lalu menatap Bi Lila dengan mulut yang masih penuh makanan Nael lalu bertanya, "Bibi siapa yang masak makanan ini? rasanya enak sekali!"


Bi Lila tersenyum dan menatap Caca dengan sedikit membungkukkan badannya lalu Bi Lila membalas pertanyaan Nael, "Nona Caca yang masak semua makanan ini Tuan."


Setelah mendengar perkataan Bi Lila, Nael lalu menatap Caca dengan wajah tak percaya.


"Ah benarkah!"


"Benar Tuan!"


"Baiklah kalau begitu aku akan menghabiskan semua makanan ini!"


Caca senang mendengar apa yang diucapkan oleh Nael. Dia ternyata menyukai masakan Caca dan memakan semua itu dengan lahap.


"Bagi aku sedikit, aku belum makan!" ucap Caca sambil memegang piringnya yang masih kosong.


"Kau masak lagi saja sana! yang ini buatku semua."


"Tidak mau! kau sangat rakus sekali!"


"Krucuk krucuk!"


"Bunyi apa itu?" tanya Nael.


"Itu suara perutku, aku sangat kelaparan."


"Cih, ini ambil nasi saja sama garam!"


"Arkkhh!"


Pak Heru menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya, diapun merasa seperti sedang menonton drama anak muda saja. Sedangkan Bi Lila dan para pelayan lain hanya tersenyum dan menahan tawa melihat tingkah Nael dan Caca.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2