Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 85. Pernyataan mengejutkan.


__ADS_3

Persidangan Sony telah selesai mereka kemudian mendiskusikan sesuatu sebelum pergi ke kantor.


"Caca selamat sekarang Sony sudah dipenjara, Bapak harap kamu sedikit tenang dengan keputusan sidang tadi," ucap Pak Tris.


"Benar Caca, sekarang kamu bisa bernafas lega Sony tidak akan mengganggumu lagi," ucap Pak Heru menimpali.


Mendengar perkataan Pak Tris dan Pak Heru Caca menjadi terharu sambil menangis dia membalas perkataan dua orang tua itu. "Terima kasih Pak Heru, terima kasih Pak Tris. Jika bukan karena kalian mungkin aku tidak akan pernah mendapat keadilan."


Pak Heru dan Pak Tris ikut terharu, mereka ikut senang melihat Caca bahagia. Nael merangkul Caca lalu menenangkan Caca dengan menyandarkan Caca di bahunya dan membiarkan Caca meluapkan perasaannya yang sedang menangis terharu tersebut.


"Sudah jangan menangis, bagaimana pun juga kami sudah menganggap kamu sebagai putri kandung sendiri. Ayah mu Djuanda sudah mempercayakan kami untuk menjagamu," ucap Pak Heru.


"Benar Caca. Masalah lain janganlah terlalu dipikirkan lebih baik memikirkan masa depanmu dengan Nael saja, bukankah itu menyenangkan." Pak Tris mulai menggoda Nael dan Caca.


Mendengar perkataan Pak Tris membuat Nael menjadi salah tingkah, dia menatap Caca yang telah berhenti menangis.


"Benar Carisa lebih baik kamu memikirkan masa depan dengan ku saja, itu pasti lebih menyenangkan. Bagaimana, apa kamu berminat? aku akan menceritakan bagaimana aku bisa membahagiakan kamu nanti dan memberi kedua orang tua ini beberapa orang cucu yang lucu dan menggemaskan," ucap Pria tampan ini dengan membusungkan dadanya seperti sedang membanggakan diri sendiri tanpa perasaan malu.


Pak Heru memijat pelipis kepala dan sebelum Nael putranya yang tidak tahu malu itu menceritakan hal-hal yang tidak pantas, Pak Heru dengan cepat menyela pembicaraan mereka.


"Sudah jangan membicarakan hubungan mesra kalian berdua di depan banyak orang, bikin malu saja! Tris ayo kita pergi ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan kalian tunggu sampai Ahmad datang untuk menjemput."


Pak Heru mengajak Pak Tris untuk pergi dan membiarkan pasangan muda itu berduaan.


"Ya sudah Bapak pergi ke kantor dulu ya, nanti kalian menyusul setelah Ahmad datang menjemput, Nael sekarang ajak Caca jalan-jalan dulu dan jangan lupa jaga dia!" perintah Pak Tris.


Nael tersenyum senang, akhirnya dia mendapat ijin dari Pak Tris untuk mengajak Caca jalan-jalan. "Baik Pak Tris, terima kasih."


"Sama-sama."


Pak Tris lalu menyusul Pak Heru menaiki mobil menuju kantor dengan Pak Budiman.


Caca melepaskan genggaman tangan Nael lalu berkata, "Nael kamu tunggu sebentar disini ya aku mau ketoilet."


"Oke aku tunggu disini," balas Nael lalu Caca pergi ke toilet.


……………………………………………………………………………


Di mobil Satya.


"Bos kenapa kita tidak jalan dari tadi?" tanya seorang supir Satya.


Satya mengisap rokok lalu segera mematikannya, dia tersenyum menyeringai sambil membuka pintu mobil kemudian membalas pertanyaan supirnya itu. "Tunggu sebentar disini, aku masih ada urusan penting, saatnya menemui kucing kecil itu terlebih dahulu."

__ADS_1


"Kucing kecil? apakah Nona Caca maksudnya?" tanya supir itu dalam hati.


"Baik Bos!"


Satya menutup pintu tersebut lalu berjalan menuju kemana perginya Caca kemudian menunggu hingga wanita itu keluar dari toilet.


***


Caca mencuci tangan lalu menatap cermin hatinya sedikit lega dengan berakhirnya sidang ini, dia lalu berkemas meninggalkan toilet untuk menemui pria tampan yang sudah menunggu nya sejak tadi.


"Syukurlah, aku harap tidak ada masalah lagi kedepannya, tapi bagaimana dengan Satya, apa dia akan melepaskan aku begitu saja?" tanya Caca lalu menghela nafas.


Caca keluar dari toilet pandangannya sedikit terusik dengan sesosok pria bertubuh besar dengan wajah yang tidak asing lagi baginya. Pria itu menatap Caca penuh dengan arti, entah apa yang dipikirkan oleh pria tersebut tetapi Caca mulai bergetar ketakutan ketika Satya mulai mendekat.


"Halo kucing kecil ku yang manis!" Sapa Satya menunduk melihat wajah Caca yang ketakutan.


"Sa...satya!" Caca terbelalak, dia tidak menyangka pria itu mendekatinya dengan senyuman menakutkan.


"Ma..mau apa? jangan mendekat!" bentak Caca dengan sedikit keberanian.


Satya tidak menjawab dia terus mendekati Caca lalu memainkan rambut Caca dengan cara memutar-mutar ujung rambut tersebut.


"Kenapa terkejut, jangan takut kucing manis. Papa lihat kamu begitu senang disana bersama pria itu apa dia itu tunanganmu? kapan hari jadinya, jangan lupa undang Papa." tanya Satya lalu meraih tangan Caca dan melihat cincin di jari manis Caca.


Caca menyentak tangannya dengan kuat agar terlepas dari Satya. "Lepas! kamu bukan Papaku."


Satya terus menatap Caca lalu melanjutkan perkataannya, "Sony telah gagal mendapatkan mu, tetapi ingatlah ini sayang, bahwa aku masih hidup. Jika Sony tidak bisa mendapatkan mu maka aku yang akan membawa mu pergi dari kekasihmu itu."


"Dan ...."


"Dan apa?" tanya Caca bergetar hebat.


Satya mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Caca dengan kata-kata yang menakutkan.


"Aku akan meminta kepada Sony selama dia masih dipenjara agar bisa mencicipi mu terlebih dahulu sebelum aku memberikan dirimu kepada Sony dan kau sayang bersedialah menjadi partner ranjangku."


"Deg!" seketika Caca mematung jantung nya tak berhenti berdebub kencang hingga dia tidak mampu menjawab kata-kata itu.


"Hahahaha, kau takut? bagaimana rasanya tubuh gadis belia ini, seperti nya nikmat sekali. Aku gagal mendapatkan Felicia, mungkin putri kandungnya bisa mengantikan itu semua," ucap Satya dengan tatapan buas dan laparnya.


Caca tersadar dia tidak mau Satya menindasnya. "Kau benar-benar biadab, kenapa berkata hal yang tidak pantas seperti itu, bahkan umurmu lebih jauh daripada diriku, apa pantas seorang Ayah berkata seperti itu ketika anak nya sedang menderita di penjara!" bentak Caca dan tidak menyangka.


"Kucing manis kenapa kau marah seperti itu? kenapa mengkhawatirkan Sony. Dia telah dihukum lalu bukankah kau juga yang tidak mau memanggil Papa kepadaku, tunggu lah akan tiba saatnya sayang, aku akan membawamu pergi untuk tinggal bersamaku dan untuk sementara ini aku tidak akan mengganggu kalian. Silahkan nikmatilah hari kebebasan ini bersama dengan kekasihmu itu."

__ADS_1


Satya tertawa dengan kencang lalu meninggalkan Caca yang sedang terduduk lemas karena katakutan.


"Menjijikan sekali! Hiks! ... Apa mungkin ... mungkin orang jahat itu hanya mengertakku saja agar aku tidak bisa hidup dengan tenang karena telah membuat Sony dipenjara," pikir Caca dan berbicara pelan sambil menangis tersedu-sedu.


***


Sementara itu Ahmad telah datang menghampiri Nael untuk menjemput mereka ke kantor.


"Nael, mana Caca?" tanya Ahmad.


"Lagi ke toilet, tetapi ...."


"Tapi apa Bos?"


"Kenapa lama sekali dia selesainya, tunggu disini sebentar ya Mad."


"Oke!"


Nael lalu berjalan menemui Caca dan menemukan Caca yang sedang terduduk lemas sambil menangis ketakutan. Nael yang melihat kondisi Caca seperti itu segera berlari menghampiri Caca.


"Carisa!"


"Nael!"


Caca memeluk Nael dia menangis histeris entah kenapa wanita ini menangis dan apa penyebab dia begitu ketakutan, Nael lalu mengamati sekitar tetapi dia tidak menemukan siapapun yang patut dicurigai.


"Ada apa Carisa?" tanya Nael penasaran.


Caca tak menjawab dia terdiam dan menghapus air matanya. Caca masih termangu memikirkan ucapan Satya yang begitu menakutkan.


"Nael, kita ke kantor sekarang ada yang ingin aku sampaikan ke Pak Tris. Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kita sampai disana ya."


"Baiklah Carisa, ayo kita pergi."


Caca mengangguk mereka kemudian menemui Ahmad dan pergi ke kantor, Nael merasa cemas dengan Caca yang begitu tertekan.


"Ada apa dengan dia? kenapa tidak mau bercerita dan kenapa raut wajahnya begitu tertekan sekali, bukankah sudah baik-baik saja sebelum ke toilet, lalu ekspresi ini, ada apa dengannya?" ucap Nael bertanya-tanya dalam hati.


"Ahmad kita ke kantor sekarang ya!" perintah Nael sambil menatap Caca tiada henti.


"Oke!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2