
Keesokan harinya.
Di Penjara.
Pagi-pagi buta seorang penjaga lapas menghampiri sel tahanan dimana Sony di tahan dan membuka pintu.
"Kre..eek ..." kurang lebih begitu bunyinya.
Pintu besi pengurung orang jahat itu terbuka, lalu dengan sigap petugas yang telah di suap itu memerintahkan kepada seseorang untuk bergegas pergi.
"Cepatlah keluar dan ikuti aku, sebelum ada orang lain yang melihat!"
Sony mengangguk lalu keluar dari dalam sel tahanan itu dan mengikuti penjaga lapas yang sudah bersekongkol dengan Satya sebelumnya.
Sesampainya di depan pintu lapas, Sony melangkahkan kakinya keluar dari tempat tersebut dengan mantap, lalu berdiri sambil memejamkan kedua matanya pria itu mulai menarik nafas dalam-dalam.
"Ha..ah ... segar sekali!" ucap Sony setelah menghembuskan nafasnya.
Sony menghirup udara segar, bukan karena segarnya udara di pagi hari melainkan segarnya udara setelah keluar dari penjara. Dengan wajah tersenyum menatap langit Sony berkata, "Aku sudah bebas! Tunggulah sayang, aku akan segera datang untuk membawamu pergi dari sana!"
Dan tak lama kemudian Sony menaiki mobil yang memang sudah datang khusus untuk menjemput dirinya.
"Selamat datang kembali Bos muda!" seru pria di dalam mobil.
"Terima kasih, mari kita berangkat untuk bertemu dengan yang lain!" perintah Sony kepada anak buahnya.
"Baik Bos!" patuh pria itu lalu menancap gas dan mengendari mobil tersebut dengan kecepatan penuh.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Mobil pembawa Sony telah sampai di rumah Satya dan tak lama kemudian pria jahat ini langsung menyambut putranya dengan sangat ramah.
"Selamat datang Sony putraku, selamat datang! ayo masuk." Satya merangkul Sony masuk ke dalam rumah.
Sony menatap rumah itu tiada henti, dekorasi indah tersusun rapi di setiap ruangan. Sony tersenyum melihat Ayahnya yang sedang bahagia, padahal jauh di dalam lubuk hati pria muda ini terpendam panas api yang membara.
Satya menatap Sony yang nampaknya tidak suka dengan kebahagiaannya itu, diapun mengingatkan Sony sesuatu.
"Janji membebaskan mu dari penjara sudah Papa penuhi, sekarang penuhilah janjimu. Bawa Caca kemari!" bisik Satya di telinga Sony, lalu menepuk kedua pundak anaknya dan tersenyum bahagia.
Sony menatap sinis Satya, lalu memalingkan wajahnya dengan menahan amarah dia membalas perkataan itu, "Baik, Papa jangan khawatir. Sony akan membawa Caca dari sana." Sony lalu pergi ke kamarnya.
Satya tersenyum tipis lalu memanggil seseorang. "Rusli!" dan tak butuh lama Rusli pun datang dengan segera dan bertanya, "Iya Bos ada apa?"
"Layani Sony dengan baik, lalu ...." Satya berhenti bicara kemudian mendekatkan wajah nya ke Rusli dan berbisik, "Jangan beritahu Sony jika aku membohongi dan hanya memperalat dirinya. Setelah dia berhasil membawa Caca, kau harus langsung menelepon orang lapas itu lagi untuk menangkap Sony dengan segera dan bilang orang tersebut datang untuk menangkap Sony dengan tuduhan penculikan kembali yang diperintahkan oleh keluarga Heru."
Rusli mengangguk patuh dan Satya hanya menyeringai lalu menarik diri dan pergi dari sana meninggalkan Rusli yang berdiri sambil menggelengkan kepalanya dengan mata terus menatap pria kejam itu dari kejauhan.
***
Sony menatap ke sekeliling kamarnya, bayangan wajah Caca selalu ada dibenaknya. Teringat terakhir kali dia menumbangkan raga Caca di atas kasur miliknya itu dan berhasil merampas ciuman dari bibir ranum gadis pujaan hatinya.
Dia memejamkan mata lalu menarik nafas dalam-dalam mencoba mengingat kembali harum aroma tubuh Caca saat dia berhasil membenamkan wajahnya dan menciumi leher jenjang putih mulus wanita tersebut.
Sony membuka matanya dengan kasar dan mengepalkan erat tangannya, lalu sekuat tenaga dia hantamkan kepalan tangannya itu ke arah dinding yang tidak bersalah disampingnya hingga terdengar suara yang cukup keras.
"Bug!" ("Aw sakit!" teriak dinding itu tanpa suara.)
Sony bergetar karena marah, wajahnya merah padam mengingat satu nama yang menjadi penghalang bagi dirinya dan Caca. "Nael, tunggu lah pembalasanku!"
……………………………………………………………………………
__ADS_1
Di Mess Pak Tris.
Sandy menghampiri Pak Tris dan memberikan sesuatu kabar yang penting.
"Pak Tris, ternyata Cindy tidak berbohong. Sony telah keluar dari penjara!" ucap Sandy lalu menunggu jawaban dari Pak Tris.
Pak Tris terdiam lalu memegang wajahnya dengan sedikit memberi tekanan diarea dagu dan mulutnya dengan satu tangan seperti berpikir, lalu Pak Tris mulai angkat bicara dan meminta sesuatu kepada Sandy.
"Sandy hubungi Cindy dan jalankan sesuai rencana kita!" perintah Pak Tris lalu menarik nafas dan tersenyum tipis.
"Baik Pak!" balas Sandy dengan patuh.
Sandy menghubungi Cindy untuk bertemu dan mengajak bekerja sama, sedangkan Pak Tris menghubungi seseorang, yaitu Pak Firman.
"Halo Firman, apa kau sudah siap menangkap ikan besar hari ini?" tanya Pak Tris dengan wajah datarnya.
"Tentu saja Tris, aku sudah siap!" jawab Pak Firman.
"Aku sudah menabur umpan berupa ikan kecil, ku serahkan sisanya padamu," balas Pak Tris lalu memberitahukan rencananya.
"Bagus! aku mengerti sampai jumpa disana!" jawab Pak Firman.
"Baik!" Pak Tris menutup panggilan tersebut dan menghela nafas.
Dia lalu memegang sebuah foto dan menangis. "Apa kau melihat ini sayang, aku telah berjanji padamu akan membalas semua perbuatan orang jahat itu." Pak Tris lalu mencium dan memeluk erat foto itu di dadanya. Sebuah foto dimana terdapat wajah Istri dan putrinya tercinta.
……………………………………………………………………………
Kediaman Heru.
Hari masih pagi tetapi suasana di kediaman Heru sudah sangat sibuk, para pelayan lalu lalang menyiapkan berbagai keperluan untuk pernikahan nanti malam.
Terlihat Valen dengan semangat mendekor dan menyelesaikan menghias kamar pengantin untuk adik tercintanya. Sementara itu Nael sedang mengungsi di kamar lain sejak kemarin malam.
"Hihihi.. Aku yakin mereka pasti akan tercengang dan terkagum-kagum melihat kamar ini." Valen memandangi hasil karyanya sambil bertolak pinggang lalu pergi dari kamar Nael.
***
Caca telah bangun dia mengingat jika dia harus bersiap-siap karena sebentar lagi team make up akan datang untuk merias dirinya.
Sedikit meregangkan tubuhnya dan menguap sehabis bangun tidur, dengan mengucek kedua matanya Caca menengok ke arah jam yang berada di atas meja samping tempat tidurnya itu dan berkata, "Ah sudah jam 7 pagi."
Caca bergegas bangun dari tempat tidurnya untuk mandi, mengingat jam 10 dia akan melangsungkan pengikatan janji suci dirinya dengan Nael sang kekasih yang akan menjadi suami sah nya secara hukum dan agama.
***
Tak lama kemudian Caca selesai berkemas diapun turun dan berkumpul dengan yang lain untuk melakukan sarapan bersama.
"Pagi!" sapa Caca kepada semua yang berkumpul di meja makan.
"Pagi!" jawab mereka dengan senyuman.
Caca mencari-cari seseorang dia tidak menemukan pria itu dimanapun. Valen yang memperhatikan Caca langsung berkata, "Nael ada di taman halaman belakang, dia lagi memandangi sesuatu." Valen lalu tersenyum.
"Oh begitu, apa dia sudah sarapan?" tanya Caca.
"Sudah, dia bangun paling pagi di hari ini, apalagi lihat wajahnya yang sudah tidak sabaran menunggu malam tiba. Ca bersiaplah nanti malam akan ada yang membuat kamu kewalahan." Valen menggoda Caca dan terkekeh.
Caca menelan ludah, dia tahu maksud dari perkataan Valen. Caca pun terbata-bata membalas perkataan itu. "K-kewalahan b-bagaimana?"
Valen tertawa melihat Caca yang gugup, sedangkan Pak Heru hanya menggelengkan kepalanya dan makan dengan perlahan menghindari dirinya agar tidak keselek nasi.
"Sudah Caca, jangan dengerin Valen. Sebaiknya kita bergegas karena ada acara penting jam 10 nanti, pendeta juga sebentar lagi akan datang kesini." Pak Heru kemudian melanjutkan makannya begitu pula dengan Valen dan Caca.
__ADS_1
***
Setelah selesai Caca pergi untuk melihat halaman belakang yang telah di hias oleh Valen. Mata nya tak berhenti menatap sambil berjalan perlahan hatinya berdecak kagum memandangi dekorasi yang begitu indah, suasana sakral namun indah terpampang nyata di sana.
Pandangannya terhenti melihat seorang pria telah berdiri di altar, tempat yang akan menjadi saksi pengikatan janji suci mereka berdua. Pria itu tersenyum, lalu berjalan mendekati Caca dan mengajaknya untuk naik ke altar indah nan suci itu bersama.
"Nael ...."
Nael memeluk Caca dari belakang lalu berkata, "Lihatlah! ini akan menjadi tempat dimana kita mengikat janji, saling mengucapkan sumpah setia."
Caca tersenyum dan berbalik menghadap Nael, "Benar, apa kamu gugup?" tanya Caca.
"Sedikit." Nael tersenyum lalu mengecup kening Caca, dan berkata dengan lembut. "Tinggal beberapa jam lagi, kamu akan menjadi istriku."
Caca tersenyum senang, raut kebahagian terlihat di wajah mereka berdua. Mereka saling memandang satu sama lain kemudian bergantian menatap altar di hadapannya. Di dalam hati mereka berharap, hanya selalu kebahagiaan yang akan datang setelah ini.
***
Setelah puas memandangi taman belakang Caca di panggil oleh Bi Lila.
"Nona, sudah ada yang menunggu Nona di dalam kamar."
"Siapa Bi?" tanya Caca penasaran.
"Keluarga Nona dari desa," balas Bi Lila
Caca tersenyum lebar lalu bergegas dia berlari menuju kamar untuk menemui keluarganya dan melepas rindu kepada mereka.
***
Sesampainya di kamar Caca lalu memeluk Ibu dan juga Handi, dia menangis karena bahagia bisa bertemu dengan keluarganya. Caca mencari-cari seseorang dan bertanya, "Mana Nenek dan Bibi?"
Ibu menghapus air mata Caca lalu menjawab, "Masih di rumah, nanti mereka menyusul. Sekarang kamu bersiap ya, orang yang mau merias kamu sudah datang."
Caca mengangguk, lalu Ibu menuntun Caca untuk duduk dengan segera team make up itu pun mengeluarkan peralatan perangnya yang begitu lengkap dan mulai merias Caca.
…………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Para penjahat masing-masing kumpulan terdiri dari anak buah Satya dan Sony telah berkumpul dan tinggal menunggu perintah untuk bergerak.
"Ayo kita pergi untuk menjemput wanita cantik milik Bos besar!" perintah Sony kepada para anak buahnya.
"Baik Bos!" ucap mereka dengan serempak lalu menaiki beberapa mobil yang telah disipakan menuju kediaman Heru.
Sementara itu Satya tengah tertawa setelah rombongan tersebut meninggalkan halaman rumah dan menantikan seseorang yang sebentar lagi akan hadir di dalam kamarnya.
……………………………………………………………………………
Di Mess Pak Tris.
"Pak Tris, mereka sudah bergerak!" ucap Sandy seperti bersiap.
"Apa mereka sangat banyak?" tanya Pak Tris mulai bersiap.
"Banyak sekali Pak!" Sandy tengah bersiap.
"Ayo kita berangkat sekarang!" perintah Pak Tris.
"Baik Pak!" Seru Sandy lalu menghubungi yang lainnya untuk segera berkumpul di Kediaman Heru.
.
__ADS_1
.
Bersambung.