
"Pak Tris!"
"Iya ini saya!"
Pak Tris mendekati Nael yang menggigil karena tertangkap basah sedang mendekati Caca tanpa seijin nya.
Ahmad dan Sandy masuk ke dalam dan terkekeh melihat ekspresi Nael yang begitu panik sedangkan Caca sudah jangan di tanya lagi, dia memegang perut nya yang sakit karena tertawa hingga keluar air mata melihat Nael yang berdiri ketakutan.
"Ada perlu apa Pak Tris kesini?" tanya Nael.
"Harus nya saya yang bertanya itu kepada mu Nael, sedang apa kamu disini dan ada perlu apa? apa kamu lupa dengan perintah saya, apa akibatnya dan apa yang akan terjadi setelah ini?" jawab Pak Tris dan balik bertanya.
"Saya hanya mengantarkan makanan dan berbicara sebentar, dan tidak ada lagi selain itu Pak Tris."
Nael menghapus keringatnya yang sedikit keluar dari dahi nya. Dia takut ketahuan telah membohongi Sandy. Pak Tris menarik nafas dalam-dalam ingin marah juga rasanya percuma.
"Ah alasan, kamu sudah berani melawan perintah saya dan juga telah membohongi Sandy. Sudah sekarang kamu keluar, jangan mengganggu Caca. Dia tidak boleh pergi kemana-mana, Caca harus banyak belajar tentang mengelola perusahaan dan mengatur keuangan serta bisnis ayah nya."
Nael tertunduk mengerti, dia akhirnya mengakui kesalahannya. "Baik Pak Tris. Maaf kan saya Pak, maaf kan saya juga Carisa. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagus! Ahmad antar Nael pulang sekarang dan Sandy jaga depan kembali."
"Baik Pak!" jawab Ahmad dan Sandy bersamaan.
Nael melangkahkan kaki nya dan berjalan keluar dengan perasaan campur aduk, perasaan pribadi dan peraturan serta tanggung jawab berdebat bersamaan dalam dirinya.
………………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Di ruang tamu Cindy memperhatikan adiknya yang sedang bolak balik dihadapannya tengah memikirkan sesuatu, terkadang dia berbicara sendiri sambil tersenyum dan terkadang emosi dan karena tingkah nya itu membuat Cindy sakit kepala.
"Sony! kenapa kamu bolak balik saja di hadapan ku hah! apa yang kamu pikirkan? kenapa tingkahmu membingungkan seperti itu?" tanya Cindy.
Sony berhenti dan menatap Cindy, lalu dia mendekati Cindy dan duduk di sebelahnya. Dengan perasaan yang menggebu-gebu dia menceritakan kepada Cindy.
"Cindy kamu tahu sesuatu? aku sedang senang, akhirnya Caca kesayanganku telah ditemukan. Dan aku sudah tidak sabar untuk membawa nya kesini."
"Lalu, kenapa tidak kau bawa gadis pujaan hatimu itu kesini sekarang juga?" tanya Cindy seolah tak perduli.
Sony mengela nafas panjang. Lalu menjawab pertanyaan Cindy, "Andaikan saja Papa mengijinkan nya, tentu sekarang juga aku akan datang menemuinya dan mengajak nya ikut bersama denganku."
"Kau terlalu percaya diri, sudah jelas-jelas Caca menolak mu tapi kamu masih mengejarnya. Ya sudah, tunggu lah sampai Papa kasih ijin kepamu!" ucap Cindy kesal.
__ADS_1
"Apa salahnya dengan itu? aku yakin setelah aku berhasil melakukan itu kepada Caca, mau tidak mau dia pasti akan menerima ku. Cindy apa kamu setuju bila aku menculik Caca sekarang juga."
Cindy menatap Sony tidak yakin dan membalas pertanyaannya itu, "Terserah kau mau melakukan apa, tapi jangan malam ini. Lebih baik besok karena Papa sedang tidak ada di sini dan aku juga akan pergi untuk suatu urusan, dengan begitu kau bisa melakukan apapun bersama Caca sepuas hati mu."
Cindy lalu berjalan pergi menuju kamar nya. Sony senang karena Cindy mendukungnya, dia melontarkan senyum nya sambil memikirkan Caca.
"Baiklah aku akan bersiap untuk besok, akan aku pastikan besok malam Caca akan tidur dalam dekapanku hanya bersama ku dia dan aku akan melakukan penyatuan sebagai bukti cinta ku. Ah bersiaplah Caca sayang, kau pasti akan mengerang dengan kencang, aku sudah tidak sabar untuk mendengar jeritan mu itu."
Sony tertawa senang, dia percaya diri sekali dengan rencana nya tersebut akan berhasil. Cindy hanya melihat Sony dari kejauhan, dia akan merencanakan sesuatu juga untuk menggagalkan rencana Sony.
……………………………………………………………………………
Ke esokan harinya.
Caca menemui Sandy karena ingin menanyakan sesuatu kepada Sandy.
"Sandy."
"Iya Nona Caca. Ada apa?" tanya Sandy.
Caca terlihat malu dan ragu mengatakannya, tapi dia memberanikan diri melanjutkan pembicaraannya tersebut.
"Sandy boleh saya bertanya padamu? kalau menurut kamu hadiah apa yang cocok untuk seorang pria? dan apa saja kesukaan pria?" tanya Caca.
"Untuk pria? siapa itu?" tanya Sandy dan menatap wajah Caca yang malu-malu.
"Sudah jangan banyak tanya jawab saja!" ucap Caca dengan sedikit memukul bahu Sandy.
"Baik lah Nona. Saya akan menjawab nya."
"Bagus, jadi apa yang disukai oleh seorang pria? dan apa hadiah yang menurut kamu bagus untuk pria itu?" tanya Caca penasaran dan semangat mengebu-gebu.
"Hem, banyak yang disukai oleh pria, tapi ada satu yang pasti tak bisa di tolak oleh pria manapun."
"Apa itu Sandy?" tanya Caca semakin penasaran.
"Sebuah pelukan dan ciuman mesra contohnya," jawab Sandy tanpa dosa.
"Bah!"
Caca terlihat kesal dengan jawaban Sandy yang tidak sesuai dengan harapannya. Caca kemudian mendengus kasar dan mulai memarahinya.
"Dasar lelaki! apa kamu pikir saya wanita murahan begitu!" ucap Caca kesal sambil memukul Sandy sekuat tenaga hingga Sandy terpental beberapa meter dari tempat asalnya.
__ADS_1
Caca kemudian pergi dengan perasaan emosi seperti terlihat ada kepulan asap di atas kepala tepat diubun-ubun nya. Caca mengerutu dengan kesal.
"Apa-apaan jawaban dari Sandy itu, sangat tidak membantu sekali. Buang-buang waktu saja. Huh!"
Sandy tertawa melihat Nona mudanya mendengus kesal. Sandy tahu sebenarnya hadiah tersebut pasti ditujukan untuk Nael. Sandy lalu tersenyum dan akan membantu Nona muda nya mencarikan hadiah.
…………………………………………………………………………………
Di kantor.
Suasana kantor sangat sibuk karena mereka akan pulang cepat dan akan mengikuti pesta ulang tahunnya Nael termasuk Mba Dewi dan Lista.
Pak Tris datang dan akan masuk kedalam ruangannya untuk bekerja, tetapi langkahnya di terhalangi oleh Dewi dan Lista yang memepetnya seperti begal jalanan.
"Ada apa kalian hah? saya mau jalan jadi susah begini, mau apa?" tanya Pak Tris.
Dewi dan Lista kemudian menuntun Pak Tris berjalan kedalam ruangannya dengan harapan Pak Tris akan mengabulkan keinginan mereka.
"Pak Tris, silahkan diminum kopi nya," ucap Dewi.
"Pak Tris, sini saya pijitin pundak Bapak," ucap Lista.
Pak Tris mencium ada bau-bau keanehan pada mereka, Pak Tris berpikir mereka tiba-tiba melakukan hal tersebut pasti dengan maksud tersembunyi.
"Sudah jangan basa basi, langsung saja katakan kalian mau apa?" tanya Pak Tris dan menepis tangan Lista.
Mba Dewi dan Lista saling menatap satu sama lain. Mereka lalu tersenyum dan mulai bertanya kepada Pak Tris, "Pak, hari ini Pak Nael kan ulang tahun. Nanti ada pesta di rumahnya. Caca boleh ikut ya Pak? boleh ya please."
"Iya Pak, tidak seru kalau Caca tidak ikut kesana," ucap Lista menimpali perkataan Dewi.
Pak Tris menyeruput kopinya yang masih hangat lalu mengeluarkan suara khas sehabis meneguk kopi dan menaruh cangkir kopi itu ke tempatnya semula. Dia tak menghiraukan Dewi dan Lista yang sedari tadi menunggu jawaban Pak Tris dengan perasaan harap-harap cemas.
"Tidak! Caca tidak boleh ikut kesana!" jawab Pak Tris dengan tegas.
"Tapi Pak Tris kenapa tidak boleh?" tanya Lista seperti memelas.
"Caca harus banyak belajar apalagi Nael sering saja menganggunya, membuat dia tidak fokus dalam belajarnya, jadi dia tidak boleh datang kesana. Titik!" jawab Pak Tris sambil menatap Nael yang baru saja datang keruangannya.
"Bah! belum nanya sudah di tolak duluan," ucap Nael dalam hati.
Bersambung.
*
__ADS_1
*
Hai hai hai. terima kasih bagi yang sudah mampir, jangan lupa di goyang jempolnya dan bawa bunga sekebon buat author biar tambah semangat up nya. 🤗🤗🤗