Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 23. Caca Pergi


__ADS_3

Setiba nya di rumah Nael hanya tersenyum senyum sendiri, dia senang telah mengetahui apa arti dari perasaan nya selama ini, dia tidak sabar ingin mengungkapkannya kepada Caca.


"Ah bagaimana ya cara ngomongnya? Carisa saya jatuh cinta sama kamu, Ah tidak! Carisa apa kamu mau jadi pacar aku? eh jangan! terlalu lebay, Carisa apa kamu ingin menikah dengan ku? ah pernyataan bodoh apa itu. Carisa aku akan menjadi bodyguard nya kamu dan melindungi mu setiap saat wah koq jadi aneh begini. Hihihi," ucap Nael dalam hati.


Ahmad hanya bingung dengan tingkah aneh Bos nya, ada apa dengan dia.


"Bos. Bos. Woi Nael!" kata Ahmad sambil berteriak.


"Apa Mad? kenapa teriak sama saya?" kata Nael.


Seketika lamunan nya menghilang.


"Oh Carisa jangan pergi."


"Cepat mandi sudah siang, katanya mau ke kantor dan kerja."


"Oiya besok saja saya ungkapinnya, ah tidak nanti saja sore sepulang kerja," ucap Nael dalam hati.


Ahmad hanya geleng geleng kepala melihat bosnya yang aneh sepulang dari rumah sakit.


***


Nael kemudian bersiap lalu dia bercermin.


"Oke ayo Mad! kita berangkat," kata Nael sambil mengantongi sisir.


"Wah kenapa ya bos bergaya hari ini, ada apa ya?" tanya Ahmad dalam hati.


"Hey Mad cepet jangan bengong aja!" teriak Nael lalu masuk kedalam mobilnya.


……………………………………………………………………………


Setibanya di kantor.


Disana terlihat ada Pak Heru yang sudah menanti dirinya. Nael berjalan perlahan, dia ingat Papa yang memarahi nya kemarin.


"Nael, ikut Papa."


"Baik, Pah."


Mereka lalu masuk ke dalam dan mengunci pintu kunci.


"Nael kamu telah tahu kejadian Caca kemarin bukan?" kata Pak Heru bertanya.


"Iya Pa. Nael juga minta maaf."


"Tidak apa-apa Nael, kamu belum tahu saat itu terjadi. Papa juga minta maaf karena menyimpan ini kepada kamu."


"Caca sudah menjalani masa-masa sulit sejak kecil, hidup nya dikelilingi oleh bahaya. Karena harta warisan Papa nya, dia telah kehilangan Ayah nya Pak Burhan yang menjadi bodyguard setia nya ketika masih kecil."


"Papa cuma ingin bercerita sedikit tentang Caca. Kamu tahu Caca anak siapa?"


"Tidak Pa. Nael hanya tahu dia kehilangan orang tua kandung ketika kecil dan pak Burhan bukan ayah kandungnya."


"Betul Nael dan itu baru secuil kebenaran tentang Caca. Ayah kandung Caca bernama Djuanda dan Ibu nya bernama Felicia, dan nama asli Caca adalah Carisa Lie Djuanda."


Nael terkejut mendengar nama-nama tersebut, dia sepertinya sudah mengenal nama tersebut sejak kecil.


"Iya Nael. Djuanda telah banyak membantu kita, terutama saat kita sedang krisis keuangan, mereka lah yang membantu keuangan perusahaan kita ini."


"Tanpa bantuan Djuanda, mungkin perusahaan ini tidak akan berjalan dan menjadi besar seperti sekarang ini."


"Caca masih dalam bahaya, ada mata-mata musuh Ayah nya di dalam perusahaan kita ini. Papa hanya ingin kamu berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan serupa kembali."


"Berhati-hati lah kepada setiap orang yang berada disini. Jangan gegabah atau ceroboh dan menurut info dari mata-mata kita, diperusahaan kita ada penyusup berjumlah 3 orang, 2 Pria dan 1 Wanita. Papa minta tolong kamu bantu Papa mencari orang-orang tersebut."


"Dan untuk itu demi keselamatan Caca, Papa dan Pak Tris mengirim Caca jauh dari sini dan mereka akan berangkat siang ini juga. Disini dia sudah tidak aman dan kita tidak boleh memberitahu kepada siapapun dimana Caca berada sekarang ini."

__ADS_1


"Caca akan pergi dari sini? dia akan kemana?" tanya Nael sambil tak menyangka.


"Iya Nael, dia akan pergi ke desa dimana tempat Ibu dan Ayahnya berada dahulu."


"Desa mana itu Pa?"


"Papa tidak bisa beritahu kamu Nael, Papa takut mereka akan menemukan Caca jika kamu tahu keberadaan Caca dan kamu pergi mencari nya. Karena mata-mata mereka pasti bisa dengan mudah langsung menemukannya dengan hanya mengikuti kamu."


"Caca dan Ibunya sudah setuju untuk pergi dari sini. Kamu jangan khawatir Nael, dia dikelilingi oleh mata-mata dan bodyguard kepercayaan Ayahnya terdahulu."


"Mereka akan mengirim pesan kepada kita jika Caca dalam masalah."


"Tapi kenapa mendadak seperti ini, kenapa?" kata Nael sedih.


Nael sedih karena dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Caca, dia kemudian pergi dan ingin bertemu dengan Caca, berharap dia masih berada di rumah sakit dan belum pergi kemana-mana.


"Nael! Nael! kamu mau kemana? Naell!" Pak Heru berteriak memanggil nama Nael.


Nael tak menghiraukan panggilan dari Ayah nya, dia langsung tancap gas menuju rumah sakit dan berharap tidak terlambat untuk bertemu dengan Caca.


***


Ahmad yang melihat Nael pergi, kemudian berlari mengejar Nael yang membawa mobil dengan kencang sekali.


"Nael! mau kemana? Nael!" teriak Ahmad


Ahmad berhenti berlari, dia tidak sanggup mengejar laju mobil Nael yang mengebut kencang.


"Dia mau kemana? apa dia mau menemui Caca? tapi kenapa terburu-buru seperti itu?" kata Ahmad bertanya-tanya.


Ahmad lalu kembali ke kantor dan memberitahu Pak Heru tentang hal tersebut.


"Pak. Pak Heru! Nael pergi dari sini, entah mau kemana dia Pak."


"Saya juga tidak tahu dia mau kemana, Nael pergi begitu saja ketika tahu Caca akan pergi jauh dari sini."


"Iya Ahmad, semoga saja dia tidak kenapa-napa dijalan."


"Apa dia mau menemui Caca Pak?"


Pak Heru hanya terdiam, dia pun menyadari satu hal, tentang kepedulian anaknya terhadap Caca. Pak Heru berpikir apa mungkin Nael Anak nya menyukai Caca? Pak Heru hanya tersenyum dan juga sedih.


"Entah lah, Mad."


***


Ahmad kemudian memberitahu kepada Dewi, Lista dan Mul kalau Caca sudah pergi dari sini dan tidak akan bekerja disini lagi. Ahmad juga memberitahu kepada mereka untuk tidak menceritakan apa-apa mengenai Caca yang terjadi kemarin.


Ahmad memberitahu juga kalo disini ada penyusup dan kalau ada yang mencurigai seseorang, harus lapor.


Mereka mengangguk mengerti, mereka tidak memberi tahu Cindy karena mereka belum mengetahui sifat Cindy seperti apa, mereka harus berhati-hati.


……………………………………………………………………………


Di sisi lain, Nael berusaha secepat mungkin ke tempat tujuan. Dia ingin bertemu Caca walau itu untuk yang terakhir kalinya.


***


Setiba nya di rumah sakit Nael tidak menemukan Caca. Kamar bekas dia dirawat juga sudah kosong, Caca telah pergi.


Nael pun kecewa, dia memarahi dirinya sendiri. Kenapa dia baru menyadari perasaan nya sekarang, saat Caca telah pergi jauh dari hadapannya.


Nael terdiam lalu dia mengingat kata-kata Pak heru ayahnya, bahwa ada beberapa penyusup di perusahaan nya.


Nael pun berjanji akan mengungkap para penyusup tersebut dengan secepatnya. Nael pun berjanji akan membuat tempat ini menjadi aman untuk Caca kembali.


Dia pun kembali ke kantor untuk memulai penyelidikan dan membantu ayah nya untuk menemukan siapa para penyusup tersebut.

__ADS_1


………………………………………………………………………………


Setibanya di kantor dia melihat meja kerja Caca yang kosong. Nael teringat Caca yang bekerja di sana, dia kembali sedih.


***


Jam istirahat telah berbunyi, Lista dan Mba dewi ingin menuju ke kantin, diapun ingin mengajak Cindy untuk makan bersama, ketika mereka keluar dari ruang kerja nya.


Mereka melihat Cindy berjalan ke arah ruang HRD dengan langkah yang terburu buru entah mau apa dia kesana, mereka pun mengikuti Cindy.


"Cindy ngapain ya kesana Lis? bukan nya itu ruangan Pak Tono? ada perlu apa ya dia kesana? jalan nya juga terburu buru," tanya Mba Dewi.


"Nggak tau, Mba. Kita panggil aja yu," kata Lista.


"Tunggu, Lis! kamu nggak ngeliat apa dia aneh begitu, jalan sambil tengok kanan kiri. Kita tunggu aja disini," kata Mba Dewi menahan Lista.


"Ya Mba. Tapi Lista udah laper," kata Lista dengan perut berbunyi.


"Sabar ya perut," kata Mba Dewi mengusap perut Lista.


***


Mereka melihat Cindy masuk ke dalam ruang HRD, dan menutup pintu tersebut. Lista dan Mba dewi saling menatap sambil bertanya-tanya, untuk apa dia menutup pintu dan mengunci nya.


Mereka mendekati ruangan tersebut dengan rasa penasaran, terdengar percakapan mereka membahas tentang Caca.


"Apa ada kabar mengenai Caca?" suara Cindy.


"Belum ada Non. Info dari mata-mata kita, Caca sudah meninggalkan kota ini," suara Pria tidak dikenal.


"Apa kalian mengikuti Caca pergi ke mana?" suara Pak Tono.


"Kami sudah berusaha mengikuti Caca, tetapi penjagaan mereka terlalu ketat hingga kita kehilangan jejak Caca."


"Dasar bodoh! lalu bagaimana dengan bos besar? apa dia sudah tau kabar ini?".


"Belum Non. Yang tahu kabar ini baru bos muda."


"Oke, jangan beritahu bos besar dulu sampai kita ada kepastian dimana Caca berada."


"Baik Non."


"Apa rencana kamu sekarang Cindy?".


"Caca sudah pergi dari sini, kita lupakan dulu masalah dia, target kita sekarang adalah merebut perusahaan ini terlebih dahulu. Kita akan menaruh lebih banyak lagi orang orang kepercayaan kita dengan menyamar menjadi karyawan di sini, Caca sudah di pecat."


"Pak Nael akan menjadi karyawan baru lagi, om harus mencari orang yang dapat di andalkan, nanti kita akan membuat karyawan lama di sini di pecat semua satu persatu dan mengganti mereka dengan orang orang kepercayaan kita, dan itu adalah tugas om."


"Baik lah Cindy, serahkan saja semua sama Om."


Lista dan Mba Dewi tidak menyangka Cindy dan pak Tono termasuk penyusup yang dibicarakan oleh Ahmad tadi. Mereka segera pergi da langsung menghadap kepada Pak Tris untuk melaporkan apa yang mereka dengar tadi.


"Lis. Ayo kita beritahu Pak Tris tentang ini," kata Mba dewi.


"Ayo."


"Tapi bagaimana cara kita menyampaikannya? apa Pak Tris akan percaya?" tanya Mba dewi.


"Tenang, semuanya sudah di rekam. Hihihi," kata Lista sambil tersenyum dan menunjukan telepon genggam milik nya.


"Elu pinter Lis," kata Dewi mengacungi kedua jempol nya.


"Iya dong."


"Cuma kadang-kadang doank. Hihihi, sudah ayo kita pergi dari sini sebelum ketahuan."


Mereka segera mencari Pak Tris dan memberikan rekaman suara tersebut kepada beliau.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2