
"Tok tok tok!" Suara pintu diketuk.
"Ya silahkan masuk!" sahut Nael menyapa mereka semua.
Nael melihat para kumpulan pria yang masuk ke dalam ruangan nya sambil celingak cekinguk mencari sesuatu lalu mereka kemudian berkata, "Hai kamu pasti Nael ya anak nya Pak Heru?"
Nael mengerti dengan tujuan mereka yang datang keruangannya, Nael lalu berpura-pura tidak tahu dan menjawab pertanyaan mereka, "Iya benar saya Nael, silahkan masuk. Ada perlu apa ya?"
"Oh kita-kita datang kesini ikut sama Papa kita masing-masing mau lihat perusahaan ini, sekalian keliling-keliling," jawab salah satu pria seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Oh begitu, silahkan duduk dulu disana!" Nael mengarahkan mereka untuk duduk disofanya dan mengobrol terlebih dahulu.
Mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing dan mereka juga membicarakan tentang bisnis mereka masing masing.
"Oiya Nael boleh kita bertanya sesuatu?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya silahkan tanya saja," balas Nael lalu melanjutkan pekerjaannya.
Mereka terlihat malu-malu untuk mengatakannya tetapi karena rasa penasaran mereka begitu tinggi akhirnya mereka pun angkat bicara.
"Hm ... Caca kemana ya? apa itu meja kerja nya? soalnya kita melihat banyak buket bunga yang tersusun rapi di sana dan ada juga buket bunga dari kita," ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk meja kerja Caca.
"Iya benar, bunga dari saya juga ada disana. Ah Caca dia baik sekali, tidak membuang buket bunga dari kita."
"Benar sekali! Ah jadi penasaran ingin berjumpa dengan dia."
Caca tak bersuara, dia masih bersembunyi di kolong meja Nael. Caca hanya berharap Nael tidak membongkar persembunyiannya sedangkan Nael sesekali mengintip ke bawah meja nya dan meledek Caca yang sedang cemas.
"Oh iya benar itu meja kerja nya, dia tidak tahu sedang berada dimana," balas Nael sambil mengisengi Caca dengan kedua kaki nya.
"Wah sangat dekat dari sini ya, bisa lihat langsung jika dia bekerja," ucap salah satu dari mereka yang bernama Anthoni.
"Betul. Oiya Nael, bagaimana dengan Caca? apa benar yang di bilang oleh semua orang, kalau Caca itu sangat manis dan cantik?" tanya Gunawan.
Nael menatap semua pria tersebut, wajah mereka terlihat malu-malu kalau berbicara mengenai Caca, mereka seperti orang penasaran saja.
"Hmm ya benar, begitu lah." Kata Nael sambil melihat Caca.
Mereka pun seketika menjadi heboh, dan terlihat betapa penasarannya mereka ingin berjumpa langsung dengan Caca.
"Sungguh beruntung sekali kamu Nael bisa melihat Caca setiap hari dan setiap saat, kami jadi iri." Kata mereka.
"Iya." Kata Nael menganggukan kepala nya.
Caca kesal melihat tatapan Nael yang seperti ada maksud tersembunyi, dia pun mencubit kaki Nael.
"Aw!." Teriak Nael kesakitan.
"Ada apa Nael kenapa?" Tanya mereka yang mendekati meja Nael.
Caca makin panik, ketika pria tersebut berkumpul ke meja Nael, dia berharap tidak ada yang melihatnya bersembunyi di kolong meja Nael.
"Oh tidak ada apa-apa, silahkan duduk kembali, kalian mau minum apa?" Kata Nael mengusap kakinya.
Caca menghela nafas, dia merasa lega karena mereka kembali duduk.
"Tidak perlu repot-repot Nael, kita sebentar lagi juga pada pulang, nunggu Papa yang sedang rapat." Kata Mereka.
"Oh ya sudah." Kata Nael.
"Kenapa Caca belum kembali juga ya?, apa dia sangat sibuk?". Tanya salah satu dari mereka.
"Ya seperti itu lah, dia pergi dan datang sesuka hatinya." Kata Nael tersenyum melihat Caca.
"Ooh sayang sekali kalau kita tidak bisa bertemu dengan dia hari ini." Kata mereka dengan ekspresi kecewa.
"Nael. Apa Caca sudah punya pacar?, atau jodoh?" Tanya mereka penasaran.
"Entah lah." Kata Nael berbohong .
__ADS_1
"Ahh pasti Cowo yang dipilihnya nanti akan sangat beruntung." Kata mereka.
"Iya." Kata Nael.
"Apa kamu tidak menyukai Caca Nael?." Kata salah satu dari mereka.
Nael pun kaget, dia tidak menjawab, dia terlihat malu mengungkapkannya dihadapan semua orang.
"Nael sudah bertunangan dengan Sonia, gadis itu sudah menjadi pilihan Nael." Kata Anthoni.
"Oh iya benar, benar sekali, untunglah Nael tidak bertunangan dengan Caca, jadi kita masih punya peluang untuk mendekati nya. Hahahaa." Kata Mereka tertawa.
Nael melihat Caca. Seketika Caca terlihat sedih saat mendengar hal tersebut.
*******
Tawa mereka terhenti, ketika semua orang tua mereka datang mencari putra mereka.
"Oh ternyata kalian semua sedang ada di sini." Kata Papa Anthoni.
"Mari kita pulang, Papa sudah selesai rapat."
"Ah Papa tunggu sebentar lagi ya, kita masih belum bertemu dengan Caca." Kata Mereka dengan wajah kecewa.
"Sudah lah, kita masih bisa bertemu di lain waktu, lagian Papa masih punya banyak pekerjaan."
"Ya sudah Pa."
Kawanan Pria tersebut akhirnya pergi mengikuti Papa mereka masing-masing.
"Dah Nael, nanti kirim nomor Caca ya, atau fotonya." Kata mereka melambaikan tangan.
"Iya." Kata Nael.
Mereka akhirnya telah pergi meninggalkan kantor dan perusahaan ini.
****
Nael kemudian berjongkok untuk melihat Caca yang masih bersembunyi di kolong meja kerja nya.
"Kenapa?" Kata Caca.
"Sudah pulang semua nya, cepat keluar." Kata Nael.
"Benarkah?". Tanya Caca yang masih ragu untuk keluar.
"Iya benar." Kata Nael menarik tangan Caca untuk keluar.
"Tunggu dulu.. Aduh!"
Kepala Caca terbentur atas meja.
"Maaf, saya tidak sengaja." Kata Nael mengusap kepala Caca.
"Sudah lepas, biar saya yang keluar sendiri." Kata Caca yang masih mengusap kepalanya.
Caca kemudian keluar dari kolong meja Nael.
Karena terlalu lama bersembunyi, kaki Caca menjadi kesemutan dan sulit untuk di gerakan,
Caca berusaha berdiri, namun karena kesemutan di kakinya, membuat dirinya menjadi hilang keseimbangan.
Caca mulai terjatuh, tapi Nael dengan cepat menangkap Caca.
Mereka berdua kemudian saling bertatapan, membuat jantung mereka kembali berdetak dengan kencang, wajah mereka pun kembali memerah.
"Ah maaf." Kata Caca sambil melepaskan pegangannya dari Nael.
"Tidak apa." Kata Nael sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Caca pun kembali ke meja kerja nya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda terus.
Nael menahan Caca agar tidak pergi. Caca kemudian menatap wajah Nael.
"Apa, kenapa?". Tanya Caca.
"Kenapa sih kamu galak banget, sudah bagus saya bantu kamu hari ini." Kata Nael.
"Ya sudah terima kasih ya Pak." Kata Caca tersenyum terpaksa.
"Oke, sekarang saya mau menagih janji kamu, saya harap kamu tidak lupa dengan janjimu tadi ya." Kata Nael mengingatkan Caca.
Caca mengingat kembali perkataannya tersebut dan menjadi gelisah, apalagi ketika melihat wajah Nael yang sepertinya memiliki maksud jahat yang tersembunyi di balik pikirannya.
"Oke saya ingat." Kata Caca menarik nafas nya.
"Nah gitu donk." Kata Nael senang.
"Jadi Bapak mau apa?, tapi ingat minta nya jangan yang aneh-aneh, atau yang tidak bisa saya lakukan, seperti terbang begitu." Kata Caca jengkel.
Nael tersenyum lembut kepada Caca, kemudian dia menuju meja kerja nya untuk mengambil sesuatu, dan memberikan kepada Caca.
"Apa ini?". Tanya Caca.
"Ambil." Kata Nael sambil menyerahkan selembar kertas kepada Caca.
Caca kemudian mengambil nya dan melihat sebuah kertas tersebut.
"Ini kan surat pengunduran diri saya, terus kenapa dengan ini?, kenapa dikembalikan ke saya?" Tanya Caca yang bingung.
"Iya, mulai sekarang saya mau kamu menarik surat pengunduran diri kamu, dan mengurungkan niat kamu untuk berhenti bekerja dari sini." Kata Nael dengan wajah serius.
Caca terdiam sambil melihat surat pengunduran dirinya tersebut, lalu Caca menatap wajah Nael.
Terlihat wajah Nael yang begitu mengharapkan jawaban dari Caca agar tidak pergi dari diri nya.
Caca kemudian menghela nafas panjang, diapun mengingat janjinya kepada Nael.
Caca kemudian menyetujui permintaan Nael itu.
"Baiklah, saya tidak jadi berhenti bekerja dari perusahaan ini." Kata Caca sambil menatap wajah Nael.
Nael terdiam, terlihat mata nya berkaca-kaca mendengar perkataan dari Caca, dia senang mendengar hal tersebut.
Nael kemudian memegang kedua tangan Caca dan tersenyum lembut kepada Caca.
"Terima kasih." Kata Nael seperti terharu.
Caca hanya menganggukkan kepala nya dan kemudian dia kembali ke meja kerja nya.
Nael tak berhenti memandangi Caca yang keluar dari ruangan nya tersebut.
Akhirnya dia berhasil membuat Caca untuk tetap berada di dekatnya, dia pun tertawa kecil.
********
Drap. Drap. Drap. Langkah kaki pembawa pesan.
Pria tersebut melangkah cepat menuju ruangan Pak Tris dan Pak Heru.
"Lapor Pak, saya ada berita penting." Kata Pria tersebut dengan nafas tersengal-sengal.
"Kenapa?, ada ap?" Kata Pak Tris cemas.
"Satya telah mengumpulkan para mafia dan berencana akan menculik Nona Caca bagaimanapun caranya." Kata Pria tersebut.
Pak Heru dan Pak Tris berdiri dan kaget tak percaya.
"Caca dalam bahaya kembali!". Kata Pak Tris dan Heru bersamaan.
__ADS_1
Bersambung.