Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 73. Pagi yang indah.


__ADS_3

Di Kediaman Heru.


Seperti biasanya dipagi hari, Bi Lila dan para asisten rumah tangga lainnya di kediaman Pak Heru sedang bekerja sesuai dengan tugas mereka masing-masing.


Bi Lila telah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Heru dan mulai menatanya di meja makan lengkap dengan semua peralatan makannya juga dan setelah semuanya siap, dia pun menunggu hingga keluarga tersebut berkumpul di meja makan.


Tak lama kemudian Valen keluar dari kamar nya lalu berjalan untuk turun kebawah dan saat ingin menapakkan langkah kakinya di anak tangga pertama Valen mengingat jika Caca sedang berada didalam kamar Nael.


Valen yang penasaran kemudian mengurungkan niatnya untuk turun kebawah karena dia ingin menjenguk dan melihat kondisi Caca terlebih dahulu, untuk itu dia lalu melangkahkan kakinya kearah kamar Nael.


"Tok tok tok!" Valen mengetuk pintu kamar Nael.


Setelah cukup lama Valen menunggu dan tidak mendapat balasan dari dalam dia kemudian meraih gagang pintu kamar Nael lalu membukanya.


"Ceklek!"


"Wah pintunya tidak di kunci, apa mereka sudah turun kebawah?" ucap Valen berbicara dan bertanya sendiri.


Valen membuka pintu kamar Nael lalu berjalan masuk ke dalam dengan langkah kaki yang mantap hingga langkahnya berhenti sendiri ketika dirinya dibuat syok oleh pemandangan tak terduga didepan matanya.


"Hah!" Valen terkejut dia lalu menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara berisik.


"Glek!" Valen menelan ludahnya.


Valen begitu tercengang hingga mulutnya menganga karena tengah mendapati Nael sedang tidur berdua bersama Caca dengan posisi yang saling berpelukan. Pikirannya pun langsung diliputi oleh beragam pertanyaan saat itu juga.


"Wah habis ngapain mereka?" tanya Valen dalam hati.


Valen kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengusir setiap pertanyaan buruk yang hinggap dikepalanya. Lalu dengan ekspresi Valen yang masih sedang tercengang perlahan berubah menjadi senyuman dan dia berusaha menahan tawa kecilnya saat melihat Nael sedang tertidur pulas begitu pula dengan tampang polosnya Caca saat dia masih tertidur.


"Ah biarkan saja mereka seperti itu, lebih baik aku tidak usah membangunkan nya," ucap Valen sambil tertawa cekikikan.


Valen kemudian memutar balik badan nya dengan berjalan perlahan dengan kaki yang seperti berjinjit menuju pintu kamar Nael dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan mereka.


Valen kemudian membuka pintu itu dengan sangat pelan dan berhati-hati lalu menutup pintu tersebut dan sebelum Valen pergi dari kamar Nael tidak lupa dia mengucapkan dengan bibir yang sedikit dia majukan, "Sorry, selamat buobuo."


Setelah itu Valen bergegas turun menuju meja makan dengan perasaan senang dan wajah yang tersenyum-senyum penuh bahagia.


***


Sesampainya di meja makan Valen lalu meraih bangku nya dan duduk sesekali memikirkan sesuatu yang membuatnya tertawa dan tersenyum sendiri.


Bi Lila yang melihat Valen datang lalu menyapa nya seperti biasa, "Selamat pagi Nona Valen."


Valen tak mengindahkan sapaan dari Bi Lila yang membuat Pak Heru keheranan dengan sikap Valen yang biasanya cerewet.


"Aa." Pak Heru dengan posisi mulut yang masih terbuka dan sendok berisi makanan yang hampir masuk kedalam mulutnya seketika berhenti sejenak dari ritual makannya setelah melihat Valen yang bertingkah aneh.


"Am." Pak Heru kemudian memasukan sendok berisi makanan tersebut kedalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan perlahan dan melanjutkan ritual makannya dengan terus memperhatikan Valen yang masih saja cekikikan.

__ADS_1


"Ada apa Valen, kenapa tingkahmu aneh sekali?" tanya Pak Heru.


"Ah tidak ada Pah, yuk kita makan!" ucap Valen lalu mulai mengambil makanan.


"Papa sudah makan dari tadi, mana Nael dan Caca? kenapa jam segini mereka belum bangun? Bi Lila tolong panggilkan mereka!" tanya Pak Heru dan memberi perintah kepada Bi Lila.


"Baik Tuan!" balas Bi Lila.


"Tunggu Bi! tidak usah mengganggu mereka. Sebentar lagi juga mereka akan turun, tadi saya sudah menjenguk mereka jadi biarkan saja!" jawab Valen dengan cepat menghentikan langkah Bi Lila.


"Baiklah Non."


"Sedang apa mereka sampai jam segini belum bangun?" tanya Pak Heru dengan polosnya.


Valen menatap wajah ayahnya yang sedang minum dengan bibir yang mengerucut dan mengucapkan dalam hatinya, "Ah Papa ini seperti tidak pernah muda saja!"


"Ya sudah biar saya yang bangunkan mereka!" jawab Pak Heru lalu mulai bangkit dari kursi makannya.


Baru saja Pak Heru menungging untuk bangun, Valen dengan secepat kilat mencegah Ayahnya untuk bangun.


Valen menggaruk garuk tangannya yang tidak gatal dan mencari alasan agar Papa nya itu mengerti dan tidak pergi ke kamar Nael.


"Papa hari sudah siang lebih baik pergi saja ke kantor dan kalau ada sesuatu titipkan pesan saja kepada Valen nanti biar Valen yang sampaikan kepada mereka!" ucap Valen dengan sedikit menyengir seperti kuda.


Pak Heru mengeryitkan dahinya dan menghela nafas melihat tingkah putrinya tersebut dan membalas perkataan Valen, "Ya sudah Papa pergi dulu ya, Bi Lila tolong panggilan Pak Budiman!"


"Baik Tuan!" ucap Bi Lila lalu pergi mencari Pak Budiman ketempat biasanya dia menggoda para pelayan wanitanya Pak Heru.


"Baik Pah nanti Valen sampaikan kepada mereka. Hati-hati dijalan," ucap Valen dengan sedikit kelegaan hati.


"Fiuh! untung lah Papa tidak curiga." Valen kembali menyantap sarapan pagi nya sambil tertawa cekikikan hingga membuat Bi Lila yang sedang mencuci piring merinding seketika.


"Siapa yang tertawa seperti itu? hihh!" ucap Bi Lila sambil bergidik sendiri.


***


Di Kamar Nael.


Matahari semakin tinggi, Nael dan Caca mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Akibat mereka begadang sampai pagi membuat mereka akhirnya bangun kesiangan.


"Hoam!" Nael mulai membuka matanya dan menutup mulutnya agar nafas naga nya itu tidak menyebar kemana-mana.


Nael mengerjapkan kelopak matanya dan dengan mata yang masih menyipit dia mulai melihat pemandangan yang indah di hadapannya, wajah Caca yang masih tertidur pulas diatas dadanya dengan tangan kiri Caca yang masih berada di atas dada sebelah kanan Nael.


Nael menggeser sedikit kepalanya agar bisa menatap wajah Caca secara penuh dan jelas, diapun mengingat kejadian semalam yang membuat mereka tertidur dengan posisi seperti itu.


Dia meraih tangan kiri Caca dan melihat cincin pertunangan mereka yang masih tersemat dijari manis nya Caca, lalu Nael mengecup cincin itu dan mulai tersenyum manis dan dengan pikiran yang melayang kemana-mana.


"Hehehe." Begitulah tertawa nya sambil memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan Caca.

__ADS_1


"Ah pagi yang indah!" ucap Nael dalam hati.


Nael memandangi Caca tanpa henti dan dengan penuh penghayatan, sesekali Caca bergerak dan itu sontak saja membuat Nael menjadi semakin gemas dengan Caca yang berwajah manis dan menjadi semakin cantik melihat tampang polosnya itu jika sedang tidur. Nael lalu memanfaatkan situasi tersebut dengan mematuk kening Caca hingga berkali-kali.


"Cup cup cup!"


Aji mumpung dia sebelum Caca terbangun dan tiba saat nya Caca mulai mengerjapkan kelopak matanya dan dengan mata yang masih berat dia menggeser posisi tidur nya dan membelakangi Nael lalu Caca kembali tertidur.


"Glek!" Nael menelan ludah nya itu dengan susah payah dia melihat lekukan tubuh Caca dari belakang hingga membuat ada sesosok lainnya yang menjadi ikut terbangun.


Nael melihat ke arah tubuh bawahnya dan berkata, "Ah bisa bahaya kalau seperti ini terus, lebih baik aku mandi saja," ucap Nael lalu menuju kamar mandinya.


***


Tak berapa lama kemudian Caca terbangun, dia mulai membuka matanya yang masih sepet untuk dibuka. Caca kemudian duduk di atas kasur Nael dan mengingat kembali kejadian semalam. Caca lalu menengok ke arah Nael tetapi Nael sudah tidak ada di sampingnya.


"Kemana dia?" tanya Caca pelan.


Caca lalu melihat jam yang berada di meja kamar Nael dan berkata, "Wah sudah siang mungkin Nael sudah pergi ke kantor."


Caca lalu bergegas mencari kamar mandi Nael untuk membersihkan dirinya dan mengambil handuk yang telah di berikan oleh Bi Lila kemarin, dengan langkah yang masih berat dia berjalan ke kamar mandi. Hingga tiba di depan pintu Caca lalu memegang handle pintu tersebut.


Sementara itu Nael juga telah selesai mandi dia menuju pintu kamar mandi dengan masih memakai handuk mini seukuran pinggangnya saja yang menutupi area dewasanya itu lalu mulai membuka pintu kamar mandinya.


"Cekrek!" Nael dan Caca membuka pintu bersamaan.


Nael menarik pintu kamar mandi sedangkan Caca mendorongnya dan hingga akhirnya pandangan mereka pun berpapasan satu sama lain.


"Glek!" Nael dan Caca menelan ludah bersamaan.


Mereka memandangi satu sama lain, kali ini Caca yang terpana melihat Nael yang berpenampilan seperti itu. Pikirannya pun melayang tak karuan memandang tubuh Nael yang begitu sempurna dimata nya, apalagi sehabis mandi dengan rambut yang masih basah sehabis keramas dan dengan wangi sabun segar yang menyeruak di hidungnya.


Caca seketika menggelengkan kepala nya dan dengan cepat membalikkan tubuhnya agar tak berpikir yang macam-macam. Sedangkan Nael hanya tersenyum sumringah melihat Caca dengan wajah memerahnya itu.


"Maaf saya pikir Bapak sudah pergi ke kantor," ucap Caca sambil memeluk handuk di dadanya.


"Bah, dia malah bilang Bapak lagi!" ucap Nael sambil menepuk jidatnya dan mendengus kesal mendengar ucapan Caca.


"Hei aku ini tunangan mu bukan Bapak mu!" ucap Nael sambil membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maaf," balas Caca menengok kearah Nael sambil menundukan badan lalu berbalik kembali keposisinya semula.


***


Sementara itu Valen sedang mondar mandir di lantai bawah, dia menunggu Caca dan Nael yang begitu lama keluar dari kamar tetapi yang ditunggu belum juga menampakan batang hidung nya. Valen ingin menyampaikan pesan dari Pak Heru untuk mereka sedangkan Peter sudah datang untuk menjemputnya.


"Idih lama banget sih mereka keluarnya. Lagi apa sih?" tanya Valen penasaran.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2