Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 49. Rencana Heru


__ADS_3

Di Kediaman Satya.


"Kre...ek!"


"Cetrek!"


Cindy memasuki sebuah kamar yang sudah tidak terpakai lagi. Disana terlihat kasur dan lemari yang masih tertata rapi. Cindy kemudian duduk di sebuah bangku rias milik Ibu kandung nya.


Mata nya tertuju kepada sebuah laci di meja rias itu, Cindy kemudian menarik laci tersebut.


"Srek!"


Dia melihat selembar foto lalu mengambilnya dan memperhatikan seksama sebuah foto itu dimana kala dirinya tengah bersama Sony dan juga Ibu kandung mereka dan berkata, "Ah sudah lama sekali kamu meninggalkan kami Ma."


Cindy kemudian memejamkan kedua matanya teringat selalu bayang-bayang Ibu nya yang telah tiada dan kejadian menyedihkan itu selalu berada di dalam benaknya.


"Mama bangun! Papa kenapa mama tidak mau bangun dan kenapa banyak darah di tubuh mama? kenapa ada pisau di perutnya," kata Cindy kecil menangis.


"Ibu mu telah meninggal karena bunuh diri dan penyebabnya adalah karena keluarga Djuanda! kau harus ingat itu, balaskan dendam Ibu mu!" balas Satya berteriak.


"Papa, mau kemana? Cindy sama Sony ikut Pah!" teriak Cindy kecil sambil memeluk Sony dan menangis.


Cindy membuka matanya dia selalu mengingat hal mengerikan tersebut dan sejak saat itu dirinya tidak pernah melihat Ayahnya kembali karena masuk penjara. Semenjak saat itu Cindy dan Sony di asuh Oleh Pak Tono, Cindy juga memendam dendam bertahun-tahun dan sangat membenci keluarga Djuanda.


Cindy teringat kenangan pahitnya di masa kecil. Dia kehilangan Ibu nya dan Ayahnya masuk penjara dan diapun harus hidup dengan keluarga Om nya (Pak Tono).


Cindy menaruh foto itu kembali lalu dia berdiri dan berjalan ke sekeliling kamar Ibu nya itu. Cindy membuka sebuah lemari yang belum pernah dia buka selama hidup nya.


Dia melihat dan menyisir setiap helai baju milik Ibu nya hingga pandangan mata nya tertuju kepada selembar foto yang terselip di antara tumpukan baju. Cindy yang penasaran lalu mengambil foto tersebut dan bertanya sendiri, "Foto siapa ini, dan siapa wanita ini?"


Terlihat di foto itu ada dua wanita yang sedang duduk dan tertawa bersama. Cindy kemudian memperhatikan kedua wajah wanita tersebut, dia seperti mengenalinya.


Yang satu adalah Ibu nya dan yang satu lagi mirip dengan Caca.


"Apakah dia Felicia?, inikah dia waktu muda dulu, wajahnya sangat mirip dengan Caca, dia cantik sekali?" Kata Cindy.


"Tapi kenapa mereka sepertinya berteman akrab?" Kata Cindy yang masih bertanya-tanya.


Cindy kemudian menyimpan foto tersebut, dia ingin menanyakan rasa penasaran tersebut kepada Ayahnya.


"Tunggu, lebih baik aku jangan tanya sama Papa." Kata Cindy mengurungkan niatnya.


Dia pun bertanya tanya dan berpikir, siapa yang bisa dia tanya mengenai foto ini dan masa lalu dari Ibunya.


"Oh aku tahu, aku akan tanya sama Om." Kata Cindy yang keluar dari kamar Ibunya sambil membawa foto tersebut.


………………………………………………………………………


Di Kantor.


Caca duduk dan menaruh surat pengunduran diri tersebut di dalam laci meja nya, dan mulai kembali bekerja.


Nael menghampiri Caca yang sedang mengerjakan laporan.


"Carisa." Kata Nael.


"Iya." Kata Caca.


"Ini semua pekerjaan kamu, saya kembalikan." Kata Nael dan menaruhnya di atas meja Caca.


"Ya Pak." Kata Caca pasrah.


Nael kembali keruangannya dengan gembira.


****


Pak Heru dan Pak Tris cemas mendengar kabar buruk tentang rencana Satya yang ingin menculik Caca.


"Heru, apa yang harus kita lakukan?, Caca dalam bahaya Heru." Tanya Tris.

__ADS_1


"Benar Tris, kita tidak tahu kapan dan bagaimana dia akan melakukan hal tersebut." Kata Heru berpikir.


"Kita harus bergerak cepat Heru, sebelum mereka berhasil menculik Caca." Kata Tris cemas.


Mereka pun berpikir keras untuk menggagalkan rencana Satya, atau setidaknya menyembunyikan Caca kembali.


"Tris, bagaimana kalau kita ubah saja penampilan Caca, agar mereka tidak mengenali Caca." Kata Heru.


"Apa Maksudnya Heru?". Tanya Tris.


"Iya Tris, tempat yang aman untuk dia sekarang adalah di perusahaan ini, tetapi Caca tidak bisa jika dia harus berada di tempat yang sekarang ini, dia harus bersembunyi di antara karyawan produksi kita di pabrik, agar dia bisa bersembunyi dibalik orang orang pabrik kita Tris." Kata Heru.


"Pindahkan menjadi karyawan Packing maksudnya?" Tanya Tris.


"Benar Tris. Karyawan Packing di pabrik kita sangat banyak, dan juga memakai seragam yang tertutup. Caca akan kita tempatkan di antara mereka, dengan begitu tidak ada yang bisa mengenalinya. Hanya untuk sementara waktu sampai kondisi benar-benar aman Tris." Kata Heru.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaannya yang sekarang?" Tanya Tris.


"Kita akan menggantinya dengan Sonia, mungkin dia bisa membantu kita kembali." Kata Heru.


"Kita tidak bisa mengambil resiko bila Caca kita pindahkan ke desa atau kota lain apalagi ke luar negeri, kita takut kejadian di desa terulang, atau kita tidak sempat menyelamatkan jika Caca jauh dari kita." Kata Heru.


"Jika Caca kita samarkan dengan karyawan pabrik yang jumlahnya ribuan di sini, mungkin menyulitkan mereka untuk menemukan Caca." Kata Heru menjelaskan.


"Benar, kita juga harus membuat Caca tinggal di pabrik ini, karena disini lah tempat aman untuk Caca." Kata Tris.


"Banyak petugas keamanan kita di sini yang bisa langsung terhubung dengan polisi, dan juga kita bisa meletakkan para penjaga dan pengawal Caca di perusahaan ini." Kata Tris.


"Benar Tris, mungkin kita harus membiarkan Caca untuk tinggal di mess mulai sekarang, dan menyebarkan berita jika Caca sudah tidak bekerja di sini lagi, dan berita jika Caca telah pergi jauh dari sini, agar mereka tidak tahu dimana Caca berada." Kata Heru.


"Baiklah Tris, kita akan membicarakan ini dengan Caca dan Nael juga." Kata Tris.


"Baik Tris, aku juga akan meminta bantuan Sonia kembali." Kata Heru.


Mereka pun mulai melakukan aksi mereka untuk menyelamatkan Caca.


Sementara itu di rumah Caca.


"Bibi ayo ikut kita harus pergi dari sini." Kata Sandy menarik tangan Bibi.


"Ada apa Sandy?" Tanya Bibi.


"Ikut saja dulu Bi, kita tidak punya banyak waktu." Kata Sandy membujuk Bibi.


Bibi Minarsih mengerti dia pun membereskan dan membawa barang-barang penting yang bisa di selamatkan.


Bibi dan Sandy kemudian pergi dari rumah.


Bibi bertanya kepada Sandy.


"Ada apa sebenarnya Sandy?" Tanya Bibi.


"Para penjahat sedang menuju rumah Bi, kita harus bersembunyi untuk sementara waktu, jika tidak kita bisa dalam bahaya." Kata Sandy.


"Apakah itu penjahat yang mengincar Caca?". Tanya Bibi.


"Begitu lah Bi." Kata Sandy.


Dari kejauhan mereka melihat kawanan penjahat yang menuju rumah Caca, mereka seperti ingin melakukan sesuatu terhadap rumah Caca.


Sandy dan Bibi bersembunyi agar tidak ada yang menemukan mereka.


"Ini dia rumahnya, cepat periksa!" Kata salah satu penjahat.


"Pintu nya dikunci bos!"


"Dobrak saja!"


"Baik bos!"

__ADS_1


Mereka mendobrak rumah Caca seperti mencari cari seseorang, ternyata mereka ingin menyandera Bibi.


"Bos tidak ada siapa-siapa, Bibi Caca juga tidak ada, sepertinya mereka telah kabur karena barang berharga dan surat surat tidak ada bos."


"Apa! Keterlaluan!, bagaimana mereka bisa tahu kalo kita datang ke sini?"


Salah satu dari mereka menelepon seseorang.


"Halo Bos!, tidak ada orang di rumah nya bos!".


"Oke baik bos kita akan langsung ke tempat tujuan."


Kawanan penjahat itu pun pergi entah kemana, Sandy dan Bibi kemudian pergi dari sana menuju tempat yang lebih aman.


"Sandy. Apa kamu tahu penjahat tersebut ingin kemana setelah ini?." Tanya Bibi cemas.


"Entah lah Bi, saya khawatir mereka akan langsung menemui Nona Caca." Kata Sandy menerka nerka.


"Ya Tuhan!, semoga Caca selalu dalam lindungan mu ya Tuhan." Kata Bibi berdoa.


Sandy melaju kencang menggunakan motor ya, dan membawa Bibi terlebih dahulu, setelah itu dia akan menghubungi Pak Tria mengenai yang terjadi di rumah Caca tadi.


…………………………………………………………………………


Di Kantor.


Tring.. Tring.. Suara Hp Pak Tris berbunyi.


"Ya Halo Sandy ada apa?". Kata Pak Tris.


Sandy kenudian menceritakan masalah tadi kepada Pak Tris melalui telepon nya.


"Baik lah Sandy, terima masih." Kata Pak Tris menutup panggilannya.


Pak Tris kemudian bertemu dengan Heru dan membicarakan tentang hal tersebut.


"Kita tidak bisa berdiam lama lagi Tris, mari kita bicara dengan Caca agar bisa dimulai penyamarannya." Kata Heru.


"Baik Heru." Kata Tris.


Mereka pun berdua pergi ke ruangan Caca.


*****


Caca sedang serius mengerjakan tugasnya.


Dia berhenti ketika Pak Tris dan Pak Heru datang ke tempatnya.


"Caca." Kata Pak Tris.


"Iya Pak, ada ap?" Tanya Caca.


"Bisa ikut Bapak sebentar." Kata Pak Tris.


"Baik Pak." Kata Caca sambil menutup laporannya.


Nael melihat ada Pak Tris dan Papa nya ruang Caca, dia pun menghampiri dan bertanya.


"Ada apa Pa?" tanya Nael.


"Penting, nanti saja kita bicarakan, mari Caca ikut saya sebentar." Kata Pak Heru mengajak Caca.


"Boleh Nael ikut Pa?" Pinta Nael.


"Ya sudah kamu boleh ikut, mari cepat, kita harus ke tempat yang lebih sepi." Kata Pak Heru.


Mereka kemudian pergi ke ruangan rahasia milik mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2