Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 92. Membujuk


__ADS_3

Kediaman Heru.


Rombongan pembujuk Caca telah datang, dia terdiri dari Lista, Dewi dan juga Teh Mul. Mereka datang dengan misi mendekatkan hubungan yang renggang menjadi mesra dengan metode apa adanya.


"Oke siap girls, kita harus berhasil kali ini!" semangat Lista yang menggebu.


"Yu jalan jangan banyak gaya!" Dewi mendorong Lista agar segera memulai pembujukan.


Sesampainya di pintu kamar Caca, mereka bertiga mengetuk pintu dan berteriak bersamaan.


"Tok tok tok!"


"Caca woi buka pintunya! lihat siapa yang datang?" teriak mereka bersamaan.


"Siapa?" sahut Caca dari dalam.


"Sama teman sendiri lupa hah! cepat buka pintunya! Apa nggak kangen sama teman sendiri!" teriak Mul dari luar.


Mendengar teman-teman nya datang, Caca yang sedang murung menjadi gembira, diapun bergegas membukakan pintu untuk mereka masuk.


"Tunggu!" teriak Caca sambil berlari membukakan pintu.


"Apa gua bilang juga, nurut kan tuh dia kalau sama kita-kita!" ucap Lista.


Tak butuh waktu lama pintu kamar dihadapan mereka terbuka dan secepat kilat mereka berbondong-bondong masuk seperti orang yang sedang berburu barang diskonan di pusat perbelanjaan.


Lista juga tidak lupa menarik Nael agar ikut masuk ke dalam selagi Dewi dan Mul mengalihkan pandangan Caca.


"Bapak tunggu disini, jangan bersuara. Serahkan tugas ini kepada kami, genk cewe-cewe cantik!" ucap Lista berbisik dan menyuruh Nael bersembunyi.


Nael hanya mengangguk-angguk patuh, harga dirinya sebagai Bos muda pun musnah ditangan cewek-cewek penuh semangat ini. Dia rela membuang jauh-jauh ego sebagai Pria tampan dan juga sebagai Bos penerus perusahaan Chandra Putra. Demi apa coba? demi Caca. Biar apa coba? biar bisa ketemu wanita pujaan hatinya lah.


***


"Sudah ya Ca, jangan marah lagi. Pak Tris saja tidak mempermasalahkan hal itu. Kenapa kamu yang bawa perasaan?" Dewi membujuk Caca.


"Benar Ca, kasian semua nya kalau kamu begini terus. Semua sayang sama kamu," Mul membujuk Caca.


"Iya kasian semuanya yang peduli sama elo, apalagi Pak Nael dia sampai sakit parah karena diacuhkan sama lo Ca, Pak Nael juga tidak mau makan sampai kurus begitu badannya. Dan lebih parahnya dia menderita penyakit kesepian."


"Segitu parahnya kah Lis?" tanya Caca mulai khawatir.


"Benar! Pak Nael sampai tidak ke kantor karena sakit mencret gara-gara masuk angin!" Lista menakuti Caca kembali.


Lista yang berucap bohong membuat Nael malu tak karuan, diapun mengerutu sendiri di tempat persembunyiannya. "Siall! awas saja dia nanti, bakal gua potong gajinya!"


Caca menghela nafas, sepertinya dia mulai terbujuk dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh teman-temannya.


"Ya sudah sekarang kamu temui Pak Nael kasian dia butuh kasih sayang kamu Ca, kamu mau nanti dia sakit parah? Apalagi sebentar lagi kalian mau menikah." Dewi membujuk Caca kembali.


"Iya jangan marahan lagi ya, kalau marah kan nanti nggak enak begitu-begitunya," ucap Lista memeragakan sesuatu kepada Caca, sontak saja hal tersebut membuat wajah Nael yang sedang bersembunyi memerah seketika.

__ADS_1


"Lihat muka Caca merah!" Mul menunjuk wajah Caca.


"Wkwkwk apa Ca? sini sayang, Suami mu akan datang kepelukanmu." Lista mengoda kembali.


"Dasar setan cabul!" teriak Caca menghindar dari Lista.


Lista tertawa dan menggoda Caca kembali. "Nanti kasih tahu ya rasanya seperti apa."


"Deg!" seketika Caca dan Nael dilanda perasaan malu yang luar biasa.


Dewi dan Mul hanya terkekeh mendengar ucapan Lista yang terang-terangan. Entah urat malunya bermasalah atau memang tidak punya urat malu sampai dia berani mengucapkan itu di depan orangnya secara langsung.


"Bagaimana rasanya siapa yang tahu kalau belum mencoba." Nael mesam-mesem sendiri.


"Hush! Lista kamu makin ngaco aja." Dewi dan Mul mengeroyok Lista yang masih memperagakan hal tersebut yang membuat Nael semakin penasaran membayangkan hari jadinya saat malam pertama bersama Caca.


"Hahahaha..!" Caca tertawa senang. Akhirnya wanita satu ini tertawa lepas dan membuat semuanya ikut senang.


Nael tersenyum lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan menatap Caca yang sedang asyik tertawa, diapun mendekati kumpulan cewek-cewek yang masih saja menggoda mereka berdua.


"Begitu senangnya menggoda kami berdua Hem!" ucap Nael yang tiba-tiba muncul dibelakang Caca.


"Pak Nael, kenapa keluar sekarang!" teriak mereka histeris.


Caca berbalik dia tertegun melihat Nael yang sudah berada di dekatnya.


"S--sejak kapan dia disini!" teriak Caca tak kalah histeris, mukanya pun merah seketika mengingat perbincangan konyol tersebut.


Mereka mengangguk kompak juga berusaha membujuk dan merayu kembali. Setelah perdebatan panjang akhirnya Caca kalah telak, diapun akhirnya memaafkan semua yang telah membohonginya lalu tersenyum.


Mereka akhirnya tertawa bersama melihat Caca yang telah kalah berdebat dengan teman-temannya itu, kemudian genk somplak itupun meninggalkan Caca dan Nael berdua di dalam kamar dan sebelum mereka keluar, Dewi menasehati Caca sekali lagi.


"Sudah ya jangan marahan lagi, kita kebawah dulu nanti kamu menyusul ya Ca." Dewi melambaikan tangannya kepada Nael dan Caca.


Caca mengangguk. "Iya Mba Dewi terima kasih."


Nael memeluk Caca dari belakang dan sontak saja genk somplak yang belum keluar dari kamar itu berbalik seketika dan memalingkan wajah seperti tidak melihat apapun.


"Sosor terus!" sahut Lista sebelum keluar dari balik pintu dan tertawa dengan begitu senang.


"Blam!" pintu itu kembali tertutup rapat.


Caca terkekeh dengan kelakuan teman-temannya diapun sampai lupa kalau Nael sedang memeluknya dengan mesra.


"Kita baikkan ya," ucap Nael lalu membenamkan wajahnya dibahu Caca.


Caca mengangguk dan itu membuat Nael tersenyum senang, Nael memutar tubuh Caca agar berhadapan dengannya lalu menatap wajah Caca dengan penuh bahagia.


"Maaf. Kalau kamu memang masih marah, ucapkan saja tidak apa. Yang terpenting kamu jangan acuhkan aku seperti kemarin ya."


Caca membalas dengan senyuman dan anggukkan kepala.

__ADS_1


Nael memeluk Caca dengan lembut lalu menggoda kekasihnya itu, "Benar juga kata Lista, kalau kita marahan, nanti tidak enak begitu-begitunya."


Nael terkekeh sedangkan Caca langsung mendorong tubuh Nael dengan segera dan berkata dengan tegas, "Jangan dengerin ucapan Lista si cabul itu!"


"Baiklah, jangan cemberut. Senyumlah," ucap Nael menarik kedua ujung bibir Caca agar tercipta sebuah lengkungan manis.


Nael tersenyum kemudian menatap Caca kembali, dia senang karena hubungan mereka telah membaik lalu mendekatkan wajahnya dan berusaha meraih sesuatu yang dia inginkan.


"Tok tok tok!"


"Tuan Nael ... Nona Caca. Tuan Heru dan teman-teman Nona sudah menunggu untuk makan malam bersama!" panggil Bi Lila dari depan pintu.


"Baik Bi sebentar!" sahut Nael lalu menghela nafas karena tidak jadi mendapatkan ciuman kangennya itu.


"Ayo kita makan bersama!" ajak Nael kepada Caca.


Caca terkekeh melihat Nael yang gagal mendapatkan ciuman darinya, Caca menahan Nael menggandeng tangannya untuk keluar kamar.


"Kenapa diam?" tanya Nael.


Caca tersenyum, dia menarik tangan Nael agar sedikit turun dan dengan cepat Caca menyatukan bibirnya kepada Nael.


"Deg!"


Nael yang mendapatkan kejutan tak terduga namun menyenangkan itu langsung tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Caca.


Nael pun langsung menyambut mesra, mereka sama-sama memejamkan mata dan menikmati pertautan tersebut sampai mereka lupa jika ada yang sudah kelaparan menunggu mereka berdua turun.


"Lama sekali mereka turunnya, sedang apa mereka itu?" tanya Pak Heru sambil menyendok nasi.


"Kita makan saja dulu Heru," ucap Pak Tris memulai ritual makan malamnya.


"Kita duluan saja makannya Pak, mereka mungkin lagi berbincang-bincang," ucap Dewi.


"Omong kosong! pasti mereka berdua sedang bermesraan dan pelukan bahkan ciuman!" ucap Lista tanpa dosa dan memeragakan adegan tersebut di depan banyak orang.


"Uhuk!"


"Uhuk!"


Pak Heru dan Pak Tris keselek nasi berjamaah lalu dengan cepat Dewi dan Mul menyodorkan air minum untuk kedua orang tua yang tengah batuk itu.


"Ah maaf saya keceplosan Pak!" ucap Lista sambil menundukkan badannya berkali-kali.


Kedua orang tua itu menggelengkan kepala karena Lista yang suka sekali bicara blak-blakan, tetapi walaupun begitu mereka tidak marah karena bantuan dari Lista lah Nael dan Caca akhirnya berbaikkan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2