Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 99. Nenek datang.


__ADS_3

"Dorr!"


Nael terpejam kemudian perlahan dia membuka kedua matanya dan mendapati seseorang telah menyelamatkan dirinya.


Dia adalah si pengantin wanita, dengan cepat wanita itu mendorong tangan Sony dan alhasil tembakan itu pun meleset dan mengenai pagar pembatas altar disamping kepala Nael.


"Caca!"


"Carisa!"


Pekik Nael dan Sony bersamaan, begitu pula dengan yang lain semua berteriak histeris penuh takut dan rasa syukur.


Nafas wanita itu menggebu, lalu menatap ke arah Sony dan berkata. "Cukup!" kemudian membuka kerudungnya.


Semua mata tertuju kearah pengantin wanita dan mereka terkejut ketika melihat pengantin itu ternyata bukanlah Caca.


Sama hal nya dengan yang lain, Nael dan Sony tak kalah terkejut. Mereka seketika membulatkan mata karena mengenali sosok wanita itu lalu bersama-sama mereka berkata.


"Cindy!"


***


Di Kamar Caca.


Sementara itu Caca sedang mengamuk ingin turun ke bawah, dia menangis sambil terus memanggil nama Nael. Semua teman dan para penjaga tidak tinggal diam, mereka berusaha terus menahan dan menenangkan Caca.


"Tolong biarkan aku turun kesana!" Caca meronta minta di lepaskan.


"Jangan Nona! dibawah sangat berbahaya, setidaknya tunggulah sampai Sandy dan yang lainnya berkumpul kembali!" ucap salah satu pengawal Caca.


"Minggir! aku mau melihat Nael!" Caca mendorong penjaga tersebut, tetapi mereka tetap bertahan agar Nona mudanya tidak terlihat oleh Sony.


"Mengertilah Nona, mereka adalah orang-orang berbahaya! kita tidak mau jika Nona sampai celaka!" seru mereka.


Caca tidak menghiraukan larangan dari siapapun, dia tetap bersikukuh ingin menemui Nael, entah kekuatan dari mana akhirnya Caca mampu menerobos kawanan penjaganya itu dan mulai menuruni anak tangga.


"Nona jangan ke bawah!" panggil para penjaga Caca bersamaan.


"Caca jangan pergi ke sana!" panggil teman-teman Caca mengikuti di belakang.


Namun wanita keras kepala ini terus berlari, dia sedikit mengangkat gaunnya agar mudah untuk berlari. Sambil menangis dia berlari dengan hati yang terus diliputi oleh kecemasan berharap tidak terjadi sesuatu kepada pria yang dicintainya.


"Nael ... jangan pergi!"


***


Selagi perhatian mereka teralihkan oleh perdebatan di depan sana, para anggota polisi bergerak perlahan mendekati para sandera. Mereka terus berjalan hingga berdiri tepat di belakang para penjahat tersebut dan dengan sigap mereka merampas senjata berbahaya itu dari tangan masing-masing anak buah Sony.


"Grep!"


Secepat kilat senjata tersebut berpindah tangan, mereka pun terkejut ketika petugas polisi telah membekuk mereka secara bersamaan.


Sony menoleh ke belakang ekpresinya seketika berubah menjadi geram saat melihat semua anak buahnya telah tertangkap dengan begitu mudah.


Dia kemudian kembali menatap Cindy dengan kesal lalu menjambak rambut kakak perempuannya dengan kasar dan berkata, "Jadi Cindy, kamu bersekongkol dengan mereka? bukankah kau mau membantuku membawa Caca dari sini? mana janjimu!" Sony terlihat marah dan kecewa.


Cindy menahan tangan Sony. Sambil meringis kesakitan dia berkata, "Itu dulu ketika kau bilang Papa akan membebaskan dirimu sepenuhnya, tetapi orang itu telah membohongi mu Sony, dia hanya memperalatmu. Dia membebaskanmu dengan waktu satu hari saja! dia juga hanya menggunakan dirimu sebagai alat untuk memenuhi ambisinya dan setelah ambisinya itu terpenuhi maka dia akan menjebloskan kamu kembali ke dalam penjara!"


Sony terdiam dan tidak menyangka, tetapi dia tidak percaya begitu saja. "Bohong! kau pasti sengaja menggagalkan rencana ku untuk balas dendam kepada Papa bukan? kau lah yang telah membodohiku!" teriak Sony kemudian mengambil kembali senjata api yang terjatuh tadi tetapi dengan cepat Nael mengambil senjata itu sebelum Sony berhasil mendapatkannya.


Nael lalu menodongkan pistol itu ke arah Sony, tetapi dengan cepat Cindy menghadang Nael dan meminta agar Nael tidak menembak adiknya. Begitu pula dengan semua orang yang berada disana, mereka meminta Nael untuk menahan diri agar tidak menembak Sony.

__ADS_1


"Jangan Nael, jangan melakukan tindakan jahat itu!" teriak Pak Heru dari kejauhan.


Cindy membelakangi Sony dan merentangkan kedua tangannya lalu meminta sesuatu kepada Nael. "Jangan Nael, aku mohon jangan tembak Sony, dia adikku. Dia keluarga ku satu-satunya ..." Cindy lalu menangis.


Nael tak tega melihat hal tersebut, dia menghela nafas. Walau pun Nael sangat membenci Sony, tetapi dia tidak ingin menjadi orang jahat. Nael menurunkan senjata itu, kemudian meminta Sony agar menyerahkan diri ke polisi.


"Pergilah dari sini dan kembalilah ke dalam penjara, maka aku akan membiarkanmu tetap hidup!" ucap Nael dengan tegas.


Cindy berterima kasih, lalu berbicara kepada Sony. "Sony dengarkanlah aku, kembalilah ke penjara sebelum terlambat. Jangan berbuat hal buruk, aku tidak ingin kau di hukum lebih dari ini."


Sony mengepal tangannya dengan kuat, dia tidak ingin menerima kekalahan begitu saja. "Baik! Ini demi kamu Cindy, aku akan kembali ke penjara."


Mereka semua bersyukur karena Sony akhirnya menyerahkan diri. Cindy menangis haru melihat Sony yang tidak mengikuti jejak ayahnya.


"Bagus Sony, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu. Setelah kau bebas nanti aku akan mencarikan wanita yang lebih layak untuk mu."


Sony hanya mengangguk dan menatap Nael dengan gusar kemudian berjalan ke arah Pak Firman untuk menyerahkan diri.


***


Sementara itu Caca telah berdiri tepat di depan banyaknya kerumunan dan melihat semua kejadian tersebut, tangisan Caca membuat semua mata tertuju kepadanya.


Para kerumunan itu kemudian bergerak dan spontan menggeser diri, mereka memberikan ruang lalu mengatur jarak seperti membuat jalan setapak dimana Nael jauh berada di depan sana, hingga akhirnya pandangan Nael dan Caca bertemu satu sama lain.


Caca berdiri tak bergerak, seluruh tubuhnya lemas dan bergetar hebat. Caca masih menangis penuh haru melihat Nael dalam kondisi baik-baik saja. Nael yang melihat Caca sedang menangis kemudian berjalan mendekati, sambil tersenyum bahagia dia menatap kekasihnya itu tiada henti.


"Nael ... hiks ... Nael .... kau terluka." Caca mengusap darah di ujung bibir Nael.


Nael menghapus air mata Caca kemudian meraih wajah kekasihnya itu dan berkata, "Aku baik-baik saja, berhentilah menangis."


Caca memejamkan mata berusaha tak menangis lalu mengangguk beberapa kali. Nael yang mengerti ketakutan Caca lalu memeluknya, begitu pula dengan Caca dia membalas memeluk Nael dengan sangat erat.


***


Sementara itu Sony tersenyum dan menatap Caca dengan wajah menginginkan gadis tersebut, dia senang akhirnya Caca telah muncul dihadapannya.


Sony kemudian mengincar senjata api di sabuk Pak Firman dan saat tangannya akan di borgol, dengan cepat Sony mengambil senjata tersebut lalu menyergap Caca seperti binatang buas.


"Caca!"


"Carisa!"


Teriak mereka bersamaan lalu meminta Sony agar tidak melukai Caca tetapi Sony terus mendekap Caca dan tak mau melepaskannya dengan sedikit mengunci pergelangan tangan kanannya di leher Caca dan tangan kiri memegang senjata.


Sony lalu berkata dan mengancam semuanya, "Jangan bergerak! atau dia akan mati!"


Semua penjaga Pak Heru dan Pak Tris berkumpul di sekeliling Sony dan menunggu waktu yang tepat untuk menyelamatkan Caca dari tangan penjahat itu.


"Sony jangan lakukan itu!" teriak Nael sambil menahan diri.


Sony tertawa kemudian berkata kepada Nael. "Jika aku tidak bisa memiliki Caca, maka kau juga tidak boleh memilikinya."


Sony kemudian menarik pelatuk senjata tersebut dan disaat yang bersamaan ada sesuatu benda dengan cepat melayang lalu menghantam tangan kiri Sony sehingga senjata api itu pun terjatuh ke sembarang arah.


"Akh!" Sony berteriak kesakitan karena sebatang tongkat kayu menghantam keras tangan kirinya.


Semua tercengang melihat kejadian yang begitu cepat sekaligus menegangkan dihadapan mereka, semua mata berbondong-bondong melihat darimana asalnya tongkat tersebut dilempar.


Mereka melihat dan menatap kagum sesosok wanita tua yang baru saja datang dan tengah berdiri di seberang sana. Caca tersenyum dan menangis bahagia, dia pun berteriak memanggil wanita tua tersebut.


"Nenek!"

__ADS_1


Semua penjahat yang mengenal Nenek lantas saja bergetar ketakutan, apalagi mengingat kejadian di desa waktu lalu. Mereka lantas merinding jika mengingat kehebatan si Nenek.


"I-itu Nenek Gila!" teriak mereka menunjuk-nunjuk Nenek yang sedang tersenyum menyeringai tak kalah seram dari Burhan putranya.


"Jangan sentuh Cucu ku!" teriak Nenek dengan suara paraunya lalu meminta minum kepada Sandy.


Sony pun kesal melihat Caca telah lolos dari tangannya karena Nael telah menarik Caca dengan cepat dan menjauhi Sony.


"Dasar Nenek sial! tua bangka!"


Tetapi Nenek yang tak mendengar dengan jelas hanya tertawa mangut-mangut saja. Berbeda dengan Sandy, pria tampan satu ini menjadi geram, kemudian secepat kilat dia berlari ke arah Sony lalu melayangkan tendangannya sambil mengatakan sesuatu.


"Panggil dia Suhu Rosalinda!"


"Bug!"


Wajah Sony terkena tendangan Sandy, membuat dirinya terkapar di tanah.


"Sandy!" seru semua yang mengenal lelaki jantan ini.


Caca menatap kagum penjaganya itu, lalu dengan cepat semua penjaga pribadi Nael dan Caca membuat formasi berkumpul melindungi mereka berdua.


"Maaf karena kami datang terlambat, kami harus pergi sebentar karena ada sesuatu urusan yang mendadak. Kami harus membantu tuan Peter menghadapi preman di jalan." Sandy meminta maaf kepada Nael dan Caca.


Nael dan Caca hanya mengangguk lalu mereka kembali menatap Sony yang telah di bekuk oleh pengawal Nael dan Caca.


Pak Firman menatap semua penjaga muda bersemangat tersebut lalu menatap Pak Tris yang berdiri di sampingnya dan berkata, "Mereka semuanya sangat hebat, sepertinya polisi disini tidak ada gunanya, apalagi nenek tua itu." Pak Firman menunjuk Nenek yang sedang memukuli anak buah Sony satu persatu saat mereka masuk ke dalam mobil bersangkar besar itu hingga mereka semua tak bisa berkutik di hadapan Nenek.


Pak Tris hanya tersenyum dan mereka akhirnya tertawa ketika melihat tingkah Nenek yang bersemangat menghajar penjahat.


***


Cindy berlari menghampiri Pak Tris, lalu meminta agar menepati janjinya untuk tidak menghabisi Sony atau melukai adiknya itu.


"Pak Tris, aku sudah membantu mu. Sekarang bantu aku agar orang mu atau polisi tidak menghabisi nyawa Sony. Dan satu lagi, kau juga mau membantuku melawan Satya bukan."


Pak Tris mengangguk. "Baik Cindy, terima kasih. Aku sudah berjanji kepadamu, mana mungkin aku lupa dengan kerja sama kita."


"Terima kasih Pak Tris." Cindy lalu menghampiri Sony dan meminta sesuatu agar mau menurutinya.


Pak Tris kemudian menghampiri Nael dan Caca yang sedang berkumpul dengan keluarga Pak Heru lalu berkata, "Caca semua nya sudah aman sekarang, Bapak masih ada urusan sebentar. Tolong tunggulah Bapak, setelah Bapak kembali kesini kita akan melanjutkan lagi acara pemberkatan kamu ya."


Caca mengangguk, kemudian Pak Heru menghampiri Pak Tris, "Terima kasih Tris, rencanamu luar biasa. Aku minta maaf sebelumnya karena telah meragukanmu. Sekarang kamu ingin kemana Tris?" tanya Pak Heru.


Pak Tris menghela nafas lalu menatap sahabat nya itu. "Tidak apa Heru, aku harus menunaikan tugas besar ini. Tunggulah aku sebentar saja, setelah selesai kami berdua akan kembali kesini dan melanjutkan kembali acara pemberkatan ini."


Pak Heru mengangguk lalu meminta para pelayan merapihkan semua kekacauan di taman halaman rumahnya.


Valen dan yang lain membawa Caca kembali ke kamar untuk memperbaiki riasan Caca yang sedikit berantakan, mereka menuntun Caca yang masih syok dengan kejadian yang menimpahnya tadi dan menghibur Caca agar berhenti menangis.


***


Pak Tris bersyukur karena semua telah aman, kemudian dia mendekati Pak Firman dan berkata, "Ikan kecil sudah tertangkap, apa kau sudah siap untuk yang lebih besar?"


Pak Firman menghisap cerutu besar miliknya kemudian menghembuskan semua asap itu dari dalam mulutnya tanpa sisa lalu berkata, "Mari kita tangkap biang nya!"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2