Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 29. Caca Dalam Bahaya


__ADS_3

Sementara itu di desa.


Sandy datang membawa surat dari teman-temannya, Caca pun nampak senang.


"Ini Nona," kata Sandy sambil memberikan surat kepada Caca.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Caca mulai membuka surat tersebut satu persatu Dimulai dari Pak Tris, Pak Heru, Dewi, Lista dan seterusnya. Tiba pada surat dari Nael, dia pun membukanya.


"Srek srek." Caca membuka surat dan mulai membaca nya. Mata Caca terbelalak ketika melihat isi dari surat yang di tulis oleh Nael.


Air mata nya perlahan jatuh bercucuran. Caca menangis sambil melihat kertas tersebut secara dekat terlihat air matanya membasahi surat dari Nael.


Caca tak menyangka kenapa Bos yang dia kenal selama ini bersikap seperti itu, kata kata kasarnya telah melukai hati Caca.


"Dirimu selalu menyusahkan banyak orang. Lihat, banyak orang di sekeliling mu, mereka semua sedang berada dalam bahaya hanya karena dirimu, pantas saja Ayah mu meninggal itu semua karena dirimu."


Caca menangis, dia mengerti Cinta nya tidak akan pernah terbalas.


***


"Drap drap drap!" Suara langkah kaki berlari.


"Gawat Nona Caca! kita harus segera pergi dari sini!" teriak Sandy sambil menarik tangan Caca untuk segera pergi.


"Ada apa? kenapa kamu terlihat sangat cemas?" tanya Caca sambil menghapus air mata nya.


"Satya sedang menuju ke sini Nona, dia bersama dengan beberapa orang penjahat untuk menangkap Nona."


"Apa!"


Caca kemudian menurut lalu segera berlari dengan Sandy. Saat di pintu keluar Caca terkejut banyak sekali orang yang sudah berada di depan rumahnya sambil menahan Ibu dan juga Handi.


Terlihat juga beberapa penjaga Caca yang sudah terkapar tak berdaya. Ibu menangis dan hanya mengatakan jangan dan tolong.


"Halo Calon menantu ku," ucap Satya dari balik kerumunan.


Caca membulatkan matanya, Caca sontak terkejut tubuhnya seketika gemetar dan lemas. Dia hanya bisa menangis ketakutan, masa lalu nya telah hadir. Dia adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua kandung nya.


"Jangan takut sayang. Papa mertua kamu sudah datang untuk menjemput kamu sayang, mari kesini. Tak disangka kamu sudah besar dan secantik ini, seperti ibumu. Ah pantas saja Sony tergila-gila sama kamu. Hahahaha."


"Sony? apa maksudnya?" tanya Caca dalam hati.


Beberapa saat kemudian Sony muncul dan menghampiri Caca yang sedang terdiam. Sandy berusaha menghadang Sony yang terlalu dekat dengan Caca.


"Jangan berani mendekati Nona Caca!" ucap Sandy sambil menahan Sony.


"Minggir kau!" bentak Sony.


"Tidak akan aku biarkan kau menyentuh Nona Muda kami!" bentak Sandy tak takut.


Sony marah kepada Sandy karena perkataannya tersebut. Sony tanpa ragu melayangkan pukulanya ke wajah Sandy. Sandy terjatuh tetapi dia tetap menjaga Caca.


Para penjahat yang melihat hal itu ingin ikut menghajar Sandy, tapi Sony menghentikannya.


"Biar saya saja yang menghadapi dia, kalian tidak usah ikut campur!"


Pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh Sony. Sandy kalah dan tak berdaya, dia pun terkapar lemas. Mereka semua lantas tertawa.


"Hahahaha."

__ADS_1


Caca berusaha membangunkan Sandy yang tergeletak di tanah. "Bangun Sandy, kamu tidak apa-apa kan? tolong lah bangun."


"Hahaha. Memang sudah tidak ada lagi penjaga sehebat Burhan untung saja dia sudah mati. Kalau tidak dia pasti sedang berjuang mati-matian sekarang. Hahaha." Satya tertawa lepas.


"Betul Pah, mereka semua lemah! cuih! bentak Sony sambil meludah ke arah Sandy.


Caca terkejut dan syok mengetahui Sony ternyata adalah putra nya Satya.


"Ja...jadi ... ka...kau ..." ucap Caca terbata-bata.


"Iya Caca, kamu jangan takut seperti itu. Nah Caca sayang, sudah tidak ada lagi penghalang antara kita." Sony lalu mendekati Caca.


Ibu menangis. Ibu hanya bisa memohon kepada Satya dan juga Sony. "Tolong jangan sakiti Caca Nak, tolong lepaskan dia Satya. Habisi saya saja, tapi jangan apa-apakan Caca, saya mohon."


"Tenang saja Ibu, Caca tidak akan kenapa-kenapa kok lagian kenapa harus takut dengan calon suaminya."


Caca menatap Sony dengan penuh amarah Caca memberanikan diri, kemudian dia berdiri dan membentak Sony.


"Kamu bukan calon suami saya!"


Sony tidak senang dengan perkataan Caca. Sony lalu menarik tangan Caca agar bisa melihat wajah nya dari dekat, lalu kedua tangannya memegang pundak Caca dan Sony mulai meremasnya.


Caca merasa kesakitan, dia berusaha melepaskan cengkeraman Sony.


"Akh Sakit! lepasin tangan kamu Sony!" teriak Caca sambil menahan kesakitan.


Sony merasa senang dengan Caca yang menggeliat kesakitan seperti itu, diapun semakin bernafsu dengan Caca.


Sony kemudian mendekatkan wajah nya agar bisa menjangkau bibir manis Caca. Caca lantas menolak, dia berusaha menjauhkan wajah nya dari Sony.


Ibu tidak bisa membantu Caca dia hanya menangis, tangan nya di pegang oleh 2 orang pria. Ibu tidak bisa melepaskannya.


"Hahaha. Tunggu Sony kamu harus sabar, kamu bisa menikmati Caca setelah kita pulang dari sini!" kata Satya kepada Sony.


"Tidak Pah! Sony cuma ingin memberitahu Caca kalau saya begitu mencintainya," ucap Sony dengan tatapan penuh nafsu.


…………………………………………………………………………


Di dalam perjalanan.


Sementara itu Pak Tris dan Pak Heru sudah sampai di desa dan sebentar lagi akan menuju rumah Caca. Nael berharap tak terjadi hal buruk terhadap Caca, dia juga berharap Caca tak membaca surat dari dirinya.


***


Kembali lagi kepada Caca.


Sementara itu Sony menarik tangan Caca untuk masuk kedalam rumah. Caca berusaha melawan, tapi tenaga nya tak sebanding dengan Sony. Caca dan Sony akhirnya masuk ke dalam rumah dan Sony lalu mengunci pintu.


Caca ketakutan setengah mati, dia berusaha menggambil kunci yang di pegang oleh Sony. Terdengar suara ibu dari luar yang memanggil-manggil Caca dan menangis. Sony mempermainkan Caca, dia senang dengan wajah Caca yang cemas dan takut.


Sony menangkap tubuh Caca, tapi Caca berhasil lolos. Caca berusaha mengindari Sony lalu dia mengambil barang yang berada di sekitarnya untuk membela diri. Sony hanya tertawa senang melihat hal tersebut.


Caca memegang sapu dan menghunus kan ke arah Sony tetapi Sony tidak takut, dia malah semakin senang dan terus mendesak Caca hingga ke sudut ruangan.


"Jangan mendekat dan jangan berani macam-macam!" bentak Caca mengancam dengan membawa sapu.


"Hahaha. Caca kamu cantik sekali seperti itu, ah aku tidak sabar lagi!"


"Mau apa kamu? saya bilang jangan mendekat!"


Sony bergerak cepat lalu menarik ujung sapu tersebut dengan mudah dan membuangnya. Dia berusaha menangkap Caca yang sedang berlari, seperti main kucing-kucingan saja.


Tak lama kemudian Sony berhasil menangkap Caca, dia mendekap Caca dengan sangat kuat agar tidak bisa melarikan diri. Caca memberontak tapi dia tak bisa melepaskan diri dari dekapan Sony.

__ADS_1


"Lepas! jangan sentuh saya!" teriak Caca seperti orang jijik.


****


Sementara itu mobil Nael telah sampai dan berhenti di kejauhan. Mereka melihat banyak sekali se kelompok para berandal di depan rumah seseorang.


"Itu rumah Caca!" teriak Pak Tris.


"Tunggu! kita jangan kesana, lebih baik kita turun di sini dan mencari bantuan kepada warga sekitar," kata Pak Heru.


"Tolongg!"


"Ah jangan!"


"Lepaskan!"


Nael kenal dengan suara itu, dia mendengar suara tersebut dari dalam rumah. Nael segera berlari mendekati rumah tersebut.


Ahmad kemudian mengikuti Nael untuk menjaga nya sedangkan Pak Tris dan Heru mencari pertolongan. Mereka pergi ke rumah Nenek Caca yang tidak terlalu jauh dari lokasi mereka sekarang ini.


***


Nael telah tiba dan mendekati rumah Caca lalu berusaha masuk lewat pintu belakang secara diam-diam agar tidak ketahuan. Mereka menunggu hingga saat yang tepat untuk masuk ke dalam.


Ibu Caca menangis dan meminta tolong agar melepaskan Caca yang sedang di sekap oleh Sony di dalam, entah apa yang akan dilakukan Sony terhadap Caca.


Semua penjahat lalu tertawa.


"Hahahaha. Kalian dengar itu! dengar teriakan Caca! seperti nya Sony ingin memiliki Caca seutuhnya." Satya membanggakan Sony


***


Sony berusaha membawa tubuh Caca agar terjatuh ke atas sofa yang berada di ruang tamu. Caca hanya bisa menjerit meminta tolong kepada Sony agar tidak melakukan hal menjijikan tersebut kepada dirinya.


Caca melawan dan memberontak tetapi Sony semakin menggila dan kehilangan akalnya, dia merobek baju Caca tanpa ampun.


***


Nael tak tahan lagi mendengar teriakan dari Caca yang sedang membutuhkan pertolongan. Nael kemudian masuk dan melihat Sony yang sedang berada di atas tubuh Caca sambil berusaha merenggut kehormatannya.


Nael sontak marah besar melihat Sony memperlakukan Caca seperti itu, dia lalu menarik tubuh Sony agar menjauhi Caca dan tanpa basa basi Nael langsung mendaratkan pukulannya kepada Sony.


Sony lantas tak terima, dia kembali ingin memukul Nael tapi dengan cepat Ahmad memegang tangan Sony. Sony kemudian di keroyok oleh Ahmad dan Nael.


Caca hanya memejamkan mata dan menutup telinga nya sambil terduduk diam, dia tidak ingin melihat itu semua. Bayang-bayang kedua ayah nya selalu berada di dalam pikirannya.


***


Tak lama kemudian warga desa bersama Nenek dan Paman datang. Para warga menolong mereka yang sedang di tawan. Paman Barhan dan Birhan menghajar para berandalan tersebut.


Nenek juga tidak mau kalah bertarung, dengan tongkat nya dia memukuli para penjahat. Para penjahat tersebut kewalahan terlihat Nenek mencekik salah satu dari mereka.


"Ampun Nek! Nenek jago banget!" kata Penjahat itu meminta ampun.


"Apa? Selamet? nama Nenek itu Romlah panggilannya Rosalinda, bukannya Selamet! ah lu bikin emosi aja!" kata Nenek sambil mengetuk kepala penjahat dengan tongkat nya.


Mereka ketakutan dengan kehebatan si Nenek, mereka sampai menyebut si Nenek dengan sebutan.


..."Nenek Gila!"...


***


Para Warga berhasil mengusir para penjahat, Satya memanggil Sony untuk kabur agar tidak di tangkap warga. Salah satu penjahat tersebut masuk dan menarik Sony untuk keluar agar bisa melarikan diri. Caca dan keluarga nya berhasil selamat.

__ADS_1


Nael berjalan perlahan mendekati Caca. Dia prihatin melihat kondisi Caca yang begitu buruk. Banyak sobekan pada bajunya, rambut indahnya tak beraturan dan dia hanya menangis tersedu-sedu. Seperti nya trauma nya kembali, bahkan bertambah.


Bersambung.


__ADS_2