Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 74. Pakaian Dalam.


__ADS_3

Di Kantor.


Pak Tris masuk kedalam ruangannya dia melihat Dewi dan Lista yang sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa cekikikan.


Pak Tris seperti mendengar sesuatu yang membuat telinga nya sedikit gatal hingga akhirnya diapun menguping pembicaraan mereka berdua dari pintu depan ruangan.


"Caca kemarin tidur di kamar Pak Nael itu berarti mereka bobo berdua donk?" tanya Lista kepada Dewi.


"Ya juga ya, Caca kemarin tidur di kasurnya Pak Nael, apa Pak Nael juga bobo disebelah Caca gitu kali ya?" balas Dewi dan bertanya kembali.


"Ya bisa jadi. Apa mereka melakukan itu tidak ya?" Lista lalu tertawa bersama Dewi.


"Ya tidak tahu, Pak Nael orang baik-baik mana mungkin dia melakukan hal itu kepada Caca," balas Dewi.


"Ya kali aja Pak Nael melakukan macam-macam saat Caca tidak sadar, atau melakukan celap celup begitu," ucap Lista sambil meng adu-adu kan tangan kanan dan kirinya yang mengepal.


"Hush ngaco kamu!" balas Dewi mendorong tubuh Lista.


Pak Tris mendengarkan semua pembicaraan mereka yang sedang membicarakan Nael dan Caca, karena pembicaraan tersebut sedikit mengarah ke hal yang tidak baik, lalu dengan cepat Pak Tris menghentikan obrolan yang tak berarti tersebut dengan tegas.


"Uhuk uhuk! pagi-pagi sudah ngomongin orang. Mana laporan kalian saya minta hari ini segera dan selesai sekarang juga!" perintah Pak Tris lalu masuk kedalam ruangannya sambil memicingkan kedua matanya dengan tatapan tajam ke arah Lista dan Dewi.


"Glek!"


Lista dan Dewi menelan ludahnya dengan susah payah lalu mereka membalas perkataan Pak Tris secara bersamaan. "Ba..baik Pak!"


……………………………………………………………………………


Di Kamar Nael.


Nael menyingkir lalu membiarkan Caca untuk masuk ke dalam kamar mandinya.


"Ya sudah sana cepat masuk!" ucap Nael sedikit kesal.


Caca tersenyum melihat Nael yang terlihat kesal lalu Caca masuk ke dalam kamar mandi dan dengan cepat dia menutup pintu tersebut dan berkata dengan suara kencang, "Baik Pak!"


"Ukh!" Seperti ada pisau yang menacap di dadanya, Nael pun langsung memegang dada bidangnya itu yang terasa sakit tapi tidak berdarah.


Nael yang mendengar Caca memanggil nya Pak lagi membuat dirinya kesal diapun mengepalkan satu tangannya dan meninju udara disekitarnya dengan bibir yang dilipat kedalam.


Nael kemudian mendengar suara Caca yang sedang tertawa geli didalam kamar mandi membuatnya kembali ingin mengerjai Caca.


"Awas dia, lihat saja nanti!" ucap Nael dalam hati.


Nael kemudian berkemas meninggalkan Caca yang sedang asyik di dalam kamar mandi nya lalu turun untuk sarapan pagi. Nael sedikit merapihkan kemeja nya dengan mengulung lengan kemeja agar tidak terlalu kepanjangan.


***


Valen melihat Nael yang sedang menuruni tangga dia pun langsung memasang wajah mengkerut karena terlalu lama menunggu Nael untuk turun. Kalau ibarat karet mah direndam minyak kelamaan jadinya melar.


"Kenapa Valen? kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nael dengan gaya super cool nya.


"Kau ini! sedang apa di dalam sana sampai jam segini baru turun? apa kau melakukan kerja bakti sampai bangun kesiangan seperti ini? atau yang lainnya?" tanya Valen dan mencoba menggoda Nael sambil berjalan mengekor dibelakang Nael.


"Kerja bakti? yang lainnya? Cih! apa maksudnya itu," ucap Nael dengan begitu pelan dan berpikir.

__ADS_1


Nael kemudian menceritakan kepada Valen tentang kejadian semalam yang terjadi kepada Caca, karena hal itulah dia menjadi kesiangan.


"Jadi seperti itulah Valen ceritanya kenapa kami berdua kesiangan," ucap Nael kepada Valen sambil meminum kopi buatan Bi Lila.


"Oh begitu." Valen mangut-mangut.


"Hem begitulah." Nael meminum kopi nya kembali.


"Jadi pas tadi pagi saya lihat kamu sedang bobo berdua sambil pelukan itu juga gara-gara kejadian semalam?" tanya Valen memancing Nael kembali.


"Burrr!"


Nael sontak menyemburkan kopinya dan berubah menjadi panik dengan wajah yang berubah sedikit memerah.


"Ka..kapan kamu melihatnya? apa Papa juga lihat?" tanya Nael sedikit kegelagapan.


Valen kemudian tertawa melihat ekspresi adiknya yang seketika berubah menjadi panik dan berkata, "Tidak Nael untungnya hanya aku saja yang melihatmu. Benarkah kau tidak melakukan yang lainnya?" tanya Valen tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya berkali-kali.


Nael menghela nafas panjang dan bersyukur lalu membalas pertanyaan Valen dengan sedikit kesal, "Melakukan apa? kami berdua tidak melakukan apa-apa!"


"Ya sudah jangan marah-marah, kemana Caca? apa dia masih tertidur?" tanya Valen.


"lagi mandi," balas Nael dengan santai.


"Oh, oiya aku ada baju baru dan perlengkapan yang lainnya untuk Caca nanti Bi Lila yang akan antarkan ke kamar." Valen lalu bersiap-bersiap untuk pulang.


"Oke oke." Nael lalu tersenyum nakal seperti ingin mengerjai seseorang. "Hehehe." Begitulah tawa jahatnya.


Valen kemudian menyudahi pembicaraan tersebut karena Peter menghampiri Valen dan memintanya untuk segera pulang. Valen kemudian menyampaikan pesan yang tadi dititipkan oleh Ayahnya untuk Nael dan Caca.


"Begitukah? baiklah aku akan patuh! Ya sudah hati-hati, cepat sana pulang layani suamimu itu!"


"Huh bilang saja kamu ingin berduaan dengan Caca tanpa gangguan orang lain." Valen berlalu dan pergi bersama Peter.


Nael merasa senang sekali mendengar pesan dari Papa nya itu, rasanya ingin sekali dia menari dan berputar-putar diiringi oleh lagu-lagu yang mesra dan indah karena dia bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama dengan Caca.


***


Kemudian Nael berjalan dan menghentikan Bi Lila yang ingin mengantarkan seperangkat peralatan mandi, baju dan lain-lain untuk Caca.


"Sini Bi Lila biar saya saja yang berikan untuk Carisa," ucap Nael merampas barang itu dari tangan Bi Lila seperti rampok.


"Ya Tuan."


"Ya Bi."


Bi Lila kemudian membereskan kamar kosong di sebelah Nael untuk Caca menginap beberapa hari di rumah Heru sampai ada keputusan dari Pak Tris dan Pak Heru.


Nael lalu berjalan ke kamar nya sambil membawa makanan untuk Caca dengan senyum menawannya dan pikiran yang melayang kemana-mana, Nael yang iseng tidak akan memberikan baju tersebut sampai Caca mengikuti kemauannya.


***


Sementara itu Caca sedang dalam masalah, dia tidak mempunyai baju pengganti atau baju salinan. Caca lupa meminjam kepada Valen atau meminta kepada Bi Lila, akibatnya mau tidak mau dia membuka lemari milik Nael, dengan masih memakai handuk lalu Caca mulai mencari baju seadanya untuk dia kenakan.


"Aish pakai baju yang mana? semuanya pasti kebesaran untukku pakai. Ah pakai yang ini saja deh. Terus yang dalam ini pakai apa? huhuhu."

__ADS_1


Caca akhirnya memakai kaos dan celana pendek milik Nael yang terlihat kebesaran untuk nya tetapi itu tidak jadi masalah baginya, tetapi bagaimana dia memakai semua itu tanpa dalaman sama sekali hingga rasa dinginnya angin AC masuk kedalam pakaiannya.


"Ah sejuknya," ucap Caca sambil memejamkan kedua matanya seperti ada angin yang mengalir didalam tubuhnya.


"Tidak apa lah, aku pakai ini saja dulu untuk sementara waktu, nanti kalau ketemu Bi Lila baru deh minta baju sama daleman yang baru."


Beberapa saat kemudian Nael masuk ke dalam kamar nya, matanya langsung mencari-cari seseorang.


"Carisa!" panggil Nael.


"Glek!" Caca menelan ludahnya itu.


Caca mengira kalau Nael sudah pergi ke kantor dan ternyata dia salah akhirnya Caca berlari sekencang-kencangnya dan bersembunyi di dalam lemari Nael yang besar itu karena dia malu tidak memakai pakaian dalam dan memakai baju Nael yang kebesaran.


Nael lalu menaruh makanan untuk Caca di meja sambil terus mencari Caca wanita pujaan hatinya itu.


"Hei cepat makanlah! apa kamu masih mandi?" tanya Nael.


"Apa Bapak tidak pergi ke kantor?" tanya Caca dari dalam lemari.


"Aish dia memanggilku Bapak lagi! kemana dia? suara nya saja tapi wujudnya tidak kelihatan."


Nael berjalan perlahan ke arah lemari nya untuk mengganti baju karena dia tidak jadi ke kantor dan saat membuka lemarinya dia menemukan Caca yang sedang bersembunyi didalam lemarinya dengan posisi duduk memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya.


Nael yang berhasil menemukan Caca, seketika itu pula senyumannya mengembang sempurna. Sedangkan Caca wajahnya berubah menjadi merah dan menatap Nael seperti kucing jalanan yang minta dikasihani. "Miau!"


"Sini keluar! cepat makan." Nael menarik Caca.


"Iya tapi pergilah keluar dulu saya malu kalau begini atau setidaknya panggilkan Bi Lila dan mintakan baju yang pas untuk saya dan juga pakaian dalamnya, Pak." Caca menarik tangannya dan enggan keluar.


"Iya baju untuk kamu ada di saya sini tapi sekarang keluarlah dulu saya mau lihat ..." Nael berhenti berbicara.


"Mau lihat apa!" bentak Caca.


"Mau lihat kamu pakai baju apa itu," jawab Nael sekenanya.


Caca kemudian keluar dan berdiri sambil menutupi dadanya yang mengayun bebas dengan handuk apalagi dibawahnya yang sudah kedinginan terkena angin AC.


"Ya sudah mana bajunya cepat saya mau ganti!" bentak Caca.


Nael menunjuk-nunjuk pipinya meminta Caca melakukan sesuatu kepada pipi nya itu dan berkata, "Cium disini dulu, lalu saya kasih bajunya."


"Plak!" Caca menampar Nael dengan tangannya.


"Nah sudah di cium pakai tangan, sekarang mana bajunya!" Caca mendengus kesal.


Nael akhirnya menyerah karena Caca membuat pipinya menjadi berkedut dan merah walau tak kencang tapi rasanya sakit sekali dia pun memberikan baju tersebut kepada Caca dan mengelus pipinya yang masih terasa panas.


"Akh sakit sekali!"


.


.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2