
Ke esokan harinya.
Hari sudah pagi Caca dan mulai terbangun sesekali mengerjapkan kelopak matanya karena sinar yang masuk lewat jendela kamarnya. Matanya membulat sempurna ketika dia melihat sebuah buket mawar pink di hadapannya. Caca lalu duduk di tepi kasurnya dan mengambil bunga tersebut lalu mencium aroma bunga itu.
"Ah aroma khas bunga mawar yang lembut dan segar."
Caca lalu mengingat kejadian kemarin malam dan betapa indahnya malam itu bagi nya. Dia lalu menaikkan sedikit tangannya keatas agar matanya dapat melihat dengan jelas hadiah pemberian dari Nael yaitu sebuah cincin yang indah, cincin dengan bertahtakan batu berlian kecil yang simple dan mewah.
Setelah puas memandangi cincin tersebut Caca juga menatap kalung pemberian dari Nael, kalung emas bermotif bunga dandelion yang begitu cantik, bunga bulat dan manis sekali.
Caca lalu menatap cermin dan menyentuh bibirnya, dia mengingat setiap kejadian yang tak terlupakan bagi nya, dia pun tersenyum dan menjadi malu sendiri.
***
Tak lama kemudian lamunan Caca terhenti, ketika Ibu memanggil nya turun untuk sarapan. Caca kemudian menaruh Cincin tersebut di dalam laci nya lalu bergegas keluar untuk menghampiri Ibu nya.
Terlihat Ibu sudah menunggu Caca di meja makan sambil membersihkan meja yang sedikit kotor lalu berkata kepada Caca, "Ca sini sarapan dulu."
Caca tersenyum senang melihat ada sayur asem, dan lauk kesukaannya di atas meja. Ada ikan asin goreng, lalapan, sambel terasi dan ayam goreng.
Caca segera mengambil piring lalu makan dengan lahap tanpa memperdulikan sekelilingnya. Ibu senang kalo melihat Caca makan, dia berpikir putrinya itu tidak akan menyukai masakan seperti ini, tetapi dia salah putrinya menyukai semua jenis makanan.
Caca yang sedang asyik makan dengan mulut penuh makanan teringat sesuatu, diapun bertanya kepada Ibu, "Bu, Nenek sama Bibi kemana?"
Ibu memperhatikan Caca yang masih makan lalu menjawab pertanyaan Caca, "Nenek sama Bibi lagi keluar rumah, lagi jalan-jalan pagi katanya."
"Oh, terus sama siapa lagi di temeninnya?" tanya Caca kembali.
Ibu mendekati Caca sambil terkekeh. "Sama Sandy tentunya."
Caca ikut terkekeh juga lalu mengucapkan sesuatu kepada Ibunya, "Nenek centil ya Bu."
"Iya." Ibu dan Caca lalu membereskan meja sehabis makan.
…………………………………………………………………………
Di Taman.
Sementara itu Nenek, Bibi dan Sandy telah sampai di taman komplek. Mereka kemudian istirahat sebentar dan duduk di bangku taman lalu Nenek yang kecapean dengan wajah kisutnya meminta minum kepada Bibi Minarsih. "Minarsih, saya minta minum, ca..pe."
Mendengar Nenek yang meminta minum kepadanya, Bibi Minarsih segera mengambil botol dari dalam tas lalu memberikannya kepada Nenek. "Iya, nih minum nya."
Nenek lalu meneguk minuman itu sambil sesekali mengeluarkan suara khas setelah minum, "Ah segarnya." Setelah selesai minum Nenek kemudian memanggil Sandy dan menyuruhnya untuk duduk disamping Nenek.
Sandy yang baik hati langsung menuruti permintaan Nenek lalu duduk manis di samping Nenek. Nenek bukan tanpa alasan mengajak Sandy, kemudian Nenek membagikan sesuatu dan dia ingin Sandy mempelajari nya.
"Nenek sudah tua, suatu saat pasti akan pergi dari dunia ini, Nenek mempunyai putra terbaik dalam bela diri, tetapi dia kini telah tiada."
"Nenek ingin kamu seperti dia, menjaga Caca sepenuh tenaga, Nenek akan ajari kamu teknik yang mudah tapi sangat berguna bila di butuhkan nanti.," kata Nenek kepada Sandy.
Sandy mengangguk mengerti dengan ucapan Nenek.
Nenek lalu meminta Sandy untuk melakukan sesuatu kepada dirinya, "Coba kamu serang Nenek, bebas saja serangannya."
Sandy sempat ragu tetapi dia akhirnya menurut dan melakukan apa yang di minta oleh Nenek. Sandy kemudian melayangkan pukulan kepada Nenek dan membuat semua pengunjung di taman sontak berteriak histeris, karena melihat seorang Nenek tua renta ingin di hajar oleh seorang pria muda.
Nenek kemudian menangkis serangan dari Sandy dengan mudah membuat semua orang terheran-heran, bagaimana Nenek tua renta tak bertenaga seperti itu dapat menangkis serangan dari seorang pria muda.
Nenek tersenyum dan berkata kepada Sandy, "Kunci utama nya bukan lah pada kekuatan, melainkan pada sebuah Teknik."
Nenek mengajarkan teknik tersebut kepada Sandy lalu sekarang giliran Nenek yang memukul Sandy. Sandy yang mengingat hal tersebut dan dengan mudah Sandy melakukannya.
Sandy yang terheran-heran lalu berkata kepada Nenek, "Wah benar Nek, saya bisa melakukannya, tanpa tenaga, hanya membutuhkan tenaga lawan, saya bisa mengembalikan serangan dengan teknik ini."
Nenek lalu tersenyum dan membalas perkataan Sandy, "Suatu saat pasti akan berguna, gunakan itu jika lawan mencoba menyerang kamu."
Sandy senang dan berterima kasih kepada Nenek. Nenek lalu meminta pulang dan dia melihat Sandy dengan tatapan manja. "Sandy, Nenek minta gendong."
Sandy tertawa dan dengan gagah menggendong Nenek dengan senang, mereka pun menuju rumah untuk pulang.
***
Hari sudah siang Caca mendapat pesan masuk, dia pun membuka nya.
"Nanti saya jemput jam 5 sore, siap siap ya."
Ternyata itu adalah pesan dari Nael. Caca pun membalas pesan tersebut, "Iya."
"Jangan lupa pakai baju yang saya kasih ya."
__ADS_1
"Iya."
…………………………………………………………………………
Sementara itu.
Heru menemui Tris, dia ingin membicarakan mengenai rencana nya di telepon kemarin malam. Heru memberikan sebuah dokumen dan sebuah tiket untuk seseorang.
"Apa ini?" tanya Tris kepada Heru.
Heru menyerahkan semua dokumen tersebut agar Tris menerimanya lalu berkata, "Ini ada sebuah tiket untuk Caca ke luar negeri dan dokumen ini untuk Caca kuliah disana."
Tris menatap Heru dengan perasaan kecewa dan dengan tegas menolaknya lalu membalas perkataan Heru dengan pertanyaan, "Kenapa bukan kamu saja yang kasih ke Caca?"
Heru melihat respon dari Tris yang kecewa, lalu Heru memohon kepada Tris dan menjawab, "Saya tidak sanggup Tris, tolong, Caca sangat dekat dengan mu, pasti dia akan mengerti jika kamu yang meminta nya."
Tris memandang Heru, hatinya masih bertanya-tanya kenapa Heru tega melakukan hal tersebut lalu membalas perkataan Heru, "Kenapa Heru, kenapa kamu tega seperti itu kepada Caca? kenapa kamu tega memisahkan mereka, bukankah kita telah berjanji kepada Djuanda."
Heru menatap Tris lalu bersedih. "Maaf Tris, saya terpaksa, saya tidak ingin nyawa Nael dalam bahaya, saya tidak ingin mereka mengetahui Nael adalah jodohnya Caca."
"Tapi kenapa kamu ingin menjodohkan Nael dengan wanita lain? bagaimana dengan masa depan Caca nanti, kita sudah lihat bagaimana mereka saling menyukai dan hubungan mereka sudah begitu dekat. Apakah mereka bisa menerima nya?" tanya Tris dan mulai bersedih.
"Maaf Tris, kita akan mencarikan jodoh untuk Caca nanti. Andaikan saja Satya keluar penjara 3 tahun lagi mungkin Caca dan Nael bisa menikah, tetapi itu semua di luar dugaan kita."
Tris hanya terdiam, dia bingung harus berbuat apa, dia hanya kecewa dengan Heru sahabatnya. Heru telah melupakan kebaikan Djuanda dan janjinya, hanya karena takut dengan seseorang.
Tris kemudian berdiri, dan sebelum dia pergi Tris mengatakan sesuatu kepada Heru, "Mulai sekarang masa depan Caca biar menjadi tanggung jawab saya, kamu urus saja urusan mu itu, untuk dokumen dan tiket ini, saya tidak akan pernah menerimanya, tidak akan!"
Tris meninggalkan Heru dengan penuh rasa kecewa. Heru telah ingkar janji kepada Djuanda. Apa yang harus dia kata kan kepada Caca nanti, dia pasti sangat terpukul mendengar hal ini.
………………………………………………………………………………
Di Rumah Caca.
Jam sudah menunjukan pukul 16.00 wib. Caca kemudian bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan Valen. Caca berdiri, dia mengambil kotak berisi gaun yang diberikan Nael kemarin, gaun yang indah untuk diri nya.
Caca lalu mengenakan gaun tersebut, dia nampak senang sekali. Sesekali dia melenggak lenggok di depan cermin kamar nya. Caca mulai merias dirinya, walau tak sehebat yang lain tapi masih bisa lah pake bedak sama lipstik. Caca lalu memilih warna yang natural, sesuai dengan kesukaannya dan juga gaunnya.
"Ah selesai."
Caca menengok kearah jam dan tak terasa sudah pukul lima sore. Caca melihat keluar jendela dan melihat sebuah mobil melaju mendekati rumah nya.
Senyumnya melengkung indah ketika melihat pria tersebut turun dari mobilnya. "Ah itu Nael!"
***
Ibu membukakan pintu, dia melihat Nael yang begitu tampan, sudah seperti artis korea saja, Ibu sampai terkagum-kagum melihat ketampanannya. Nael tak lupa mengucapkan salam kepada Ibu.
Tak lama kemudian mata Nael tertuju kepada Caca yang mendekat ke arah nya. Caca telah memakai gaun pemberian Nael, Nael pun senang, dia pun memuji Caca yang begitu Cantik.
Ibu menggoda mereka berdua, Nael dan Caca tersipu malu, mereka kemudian meminta ijin untuk pergi ke acara Valen.
Nael membukakan pintu untuk Caca masuk ke dalam Mobil. Caca tersenyum manis kepada Nael, mereka akhirnya berangkat. Di sepanjang jalan mereka saling menatap satu sama lain.
"Carisa."
"Iya Pak."
"Kamu Cantik hari ini."
Caca tersipu malu, dia senang dengan ucapan Nael yang memuji nya dengan masih tersenyum Caca lalu membalas perkataan Nael, "Terima kasih. Bapak juga sangat tampan hari ini."
Nael lalu tersenyum senang mendengar pujian dari Caca, dia sedikit mendongakkan kepala nya dan berkata, "Ah masa? saya memang tampan sejak dulu."
"Iya deh." Caca lalu tertawa melihat tingkah Nael.
Nael melihat Caca kembali dan memanggil nya. "Carisa."
Caca menoleh kearah Nael dan bertanya, "Ya Pak, ada apa?"
Nael meraih tangan Caca dan mengenggam nya, dia tak ingin melepaskan Caca. Caca senang, tangan Nael yang besar dan begitu hangat, terasa nyaman bila di genggam oleh nya. Kali ini Caca mengatakan sesuatu yang Nael tak menyangka.
"Nael, boleh saya panggil kamu Nael?" tanya Caca sedikit canggung.
Nael sangat senang akhirnya Caca memanggil dia dengan nama nya, bukan Pak lagi dan berkata, "Boleh Carisa, boleh sekali."
"Tapi kalo dikantor panggil Bapak lagi ya. Hihihihi," kata Caca tertawa kecil.
Nael menatap Caca dengan lembut dan berkata, "Ya sayang."
__ADS_1
Caca tersentak kaget mendengar hal itu. Caca lalu menatap Nael yang tersenyum kepada nya. Caca pun balas tersenyum, tertanda dia setuju di panggil sayang oleh Nael.
***
Tak lama kemudian mereka telah sampai di hotel tempat acara pernikahan Valen. Tempat itu sangat lah megah. Nael dan Caca keluar dari mobil, disana terdapat banyak karangan bunga tanda selamat untuk Valen dan Peter.
Nael menuntun Caca, mereka pun masuk hotel. Tempat tersebut berada di hotel paling atas, mereka pun menaiki lift.
Sesampainya di tempat pernikahan Valen, Caca pun berdecak kagum, dekorasi nya luar biasa, pelaminan besar yang sangat indah dan mewah.
Karpet merah setapak dengan bunga bertabur di atas nya di sepanjang jalan, dan yang pasti banyak pondokan berjejer di kanan kiri jalan.
Caca dan Nael menemui teman temannya yang sudah berada di sana, acara akan segera di mulai, mereka semua berkumpul.
Para tamu undangan juga telah hadir, Nael pun meminta ijin untuk bergabung dengan keluarga nya kepada Caca.
"Saya kesana dulu ya sayang," ucap Nael kepada Caca.
'Iya Nael," balas Caca kepada Nael.
Ahmad dan teman-teman Caca seperti terkena sambaran petir mendengar Nael mengucapkan sayang kepada Caca dan Caca yang berani memanggil Nama Nael langsung. Mereka pun menggoda Caca habis habisan.
"Cie cie. Ya sayang. Ah Nael."
Caca hanya malu dengan ledekan itu, tapi dia senang, mereka pun menyaksikan acara yang sebentar lagi di mulai.
***
Tak berapa lama MC lalu datang dan memulai acara.
"Ya para hadirin dan para tamu yang terhormat, selamat datang, sebentar lagi acara kita mulai, silahkan semua berkumpul di sini untuk memeriahkan acara pernikahan yang indah ini, sebelumnya saya mengucapkan selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua, bersama saya Doni selaku pembawa acara di sini."
"Marilah kita mulai dengan memperkenalkan kedua keluarga masing masing pasangan mempelai di mulai dari pihak lelaki, inilah dia Ayah dan Ibu Peter."
Semua bertepuk tangan musik Khas pernikahan pun di putar, mereka memasuki ruangan dan menyapa semua orang yang hadir, dan naik kepelaminan.
satu persatu semua keluarga Peter telah di sebutkan, sekarang adalah keluarga dari pihak perempuan.
"Ya sekarang kita perkenalkan pihak keluarga dari mempelai perempuan, silahkan masuk Pak Heru Chandra Putra, dan putra nya Nathanael Chandra Putra, silahkan masuk dan menaiki pelaminan."
Mereka semua bertepuk tangan, Caca melihat Nael yang begitu berkharisma dan tampan.
"Nah ini lah yang di tunggu tunggu, siapa lagi kalo bukan pasangan kita kali ini, Valencia dan Peter, beri tepukan yang meriah."
Confeti pun bersautan sana sini. Para tamu bertepuk tangan dengan meriah, mereka semua terkagum kagum dengan Peter dan Valen, yang begitu tampan dan Cantik.
Mereka telah menaiki pelaminan dan acara kemudian di mulai, dari minum sampanye potong kue pernikahan dan lain lain.
Para tamu kemudian mempersilahkan untuk memakan makanan yang telah di sediakan. Nael mencari Caca dan bergabung bersama dengan teman temannya yang sedang makan.
Nael duduk di samping Caca, dia pun memperhatikan Caca yang sedang lahap makan, Nael pun senang melihat tampang Caca yang begitu polos.
Caca telah selesai makan, Nael mengambil sapu tangan dari saku nya dan mengelap sisa makanan yang berada di sisi bibir Caca.
Caca pun kaget dengan hal itu mereka hanya tersenyum, sedangkan teman nya hanya menggoda mereka terus.
***
Tiba-tiba suasana menjadi tegang, ada tamu yang tak di undang telah hadir. Ya dia adalah Satya dan Sony serta Cindy yang telah berada di Pintu masuk utama.
Kondisi begitu mencekam, melihat Satya bersama rombongan para berandal yang sudah berada di depan, masuk begitu saja. Para pengawal berusaha menahan mereka, tetapi Satya dan anak nya berhasil masuk.
Satya lalu bertenpuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Pak Heru, "Selamat untuk Heru, selamat!" Satya menghampiri Heru dan Valen, diapun memberikan selamat dan hadiah untuk mereka.
Caca bersembunyi dibalik badan Nael, Caca takut ada mereka orang-orang jahat di sana. Teman-teman Caca pun menyembunyikan Caca di balik badan mereka.
Sony mencari Caca dan dengan mudah menemukannya. Dia pun tersenyum jahat, begitu pula dengan Cindy mereka lalu menghampiri Caca yang tengah bersembunyi.
***
Para Tamu langsung mengingat Satya, dia adalah orang kejam. Mereka kemudian membicarakan tentang keluarga Djuanda yang telah dihabisinya.
Caca hanya menutup telinga nya dia tidak ingin mendengar tentang apapun mengenai keluarga nya, terlalu menyakitkan untuk di dengar oleh Caca.
Satya kemudian melihat Sony yang berjalan ke arah Caca, diapun mengikuti Sony yang akan bertemu dengan Caca. Nael menghadang Sony yang ingin mendekati Caca.
Suasana kian memanas, Caca hanya bisa memeluk tangan Nael agar Sony tak merampasnya kembali. Caca lalu teringat Sony yang telah berlaku tak pantas terhadap diri nya.
Sony menyapa Caca, "Hai Cantik apa kabar?"
__ADS_1
*
Bersambung.