Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 20. Kepergian Pak Burhan


__ADS_3

Di Rumah sakit.


Caca telah sampai di rumah sakit, dia sesekali menyebut nama Ayah nya. Caca menangis, dia tidak ingin kehilangan Ayah untuk kedua kalinya. Dia kemudian meminta dokter untuk menyembuhkan Ayahnya.


"Tolong, Pak Dokter. Tolong Ayah saya, jangan sampai ada hal buruk menimpahnya. Saya mohon Dokter," ucap Caca dengan kata-kata yang memilukan.


"Bawa dia ke ruang operasi segera!" perintah Dokter sambil bersiap-siap.


***


Caca menunggu Ayah nya yang sedang di Operasi dengan penuh rasa cemas. Air mata nya terus mengalir, selalu terbayang rasa sakit yang dia alami ketika orang tuanya meninggal sewaktu dia kecil.


Caca juga tak lupa berdoa meminta kesembuhan untuk Ayah nya.


Tak lama kemudian Pak Tris dan Pak Heru tiba di rumah sakit dan langsung mencari Caca. Dengan mudah mereka menemukan Caca, karena Caca dikelilingi oleh orang orang kepercayaan mereka.


"Caca!" suara Pak Tris dan Pak Heru memanggil bersamaan.


Caca kemudian memeluk mereka sambil menangis kencang. Caca tak bisa berkata-kata lagi. Noda darah diseluruh baju menggambarkan jelas kejadian mengerikan yang terjadi didepan mata nya.


Nael dan Ahmad juga telah tiba di rumah sakit, dia melihat dari jauh dan tidak berani mendekat. Mereka melihat betapa sedihnya Caca di sana dengan baju yang kotor dengan darah, serta raut muka yang sudah pucat.


"Pak, Tris. Lihat Ayah lagi di operasi, dia nggak kenapa napa kan Pak? lihat, Pak Heru. Coba lihat, Ayah akan baik-baik saja kan, Pak?" kata Caca menangis.


"Ayah sudah nolongin Caca dari penjahat itu, Pak. Dia sendirian, dia berani masuk ke sana sendirian demi Caca, Pak."


"Dia masuk saat ada yang mau menodai Caca, Pak. Di..dia, dia tidak memikirkan dirinya sendiri." kata Caca sambil menangis pilu.


Pak Tris dan Pak Heru tak tahan mendengar tangisan Caca. Mereka pun ikut menangis, mereka lalu memeluk Caca dan berusaha menenangkan Caca.


"Tidak akan terjadi apa-apa sama Ayah mu, Ca. Tidak akan! percaya ya."


Nael terluka hatinya melihat Caca yang begitu teramat sedih, dia juga marah ketika ada orang yang berusaha menodai Caca, dan yang membuat dia lebih marah lagi adalah ketika dia tidak bisa berada disamping Caca saat ini.


Dia kemudian mengingat kembali masa-masa bersama Caca dan yang paling berkesan adalah ketika dia berdansa dengan Caca. Nael pun menangis.


***


Teh Mul menelepon Ahmad, dia ingin tahu dimana Caca berada. Ahmad pun memberitahu kepada mereka nama rumah sakitnya. Teman teman Caca dan teh Mul kemudian berangkat dengan Taksi.


***


Caca masih menangis, wajah nya sudah pucat. Caca pun pingsan.


"Caca! Caca!" teriak Pak Heru dan Pak Tris membangunkan Caca.


Nael pun panik melihat Caca pingsan, tetapi dia menahan dirinya. Dia hanya bisa melihat itu semua dari kejauhan.


"Suster! tolong dia! tolong rawat dia!" teriak Pak Heru panik.


Caca kemudian mendapat pertolongan. Para suster merawat Caca, mereka mengganti pakaian Caca dan memasang infus karena Caca mengalami dehidrasi.


***


Mba Dewi, Lista dan Teh Mul telah sampai di rumah sakit yang sebelumnya diberitahu oleh Ahmad. Mereka lalu mencari Ahmad.


"Mad. Gimana keadaan Caca?" tanya teh Mul cemas.


"Caca pingsan, lagi di rawat. Ayah nya juga lagi di operasi," jawab Ahmad.


"Mana, Pak Nael?" tanya Mba Dewi.

__ADS_1


Ahmad menunjuk Nael yang sedang berada di sudut ruangan sambil merenung, entah apa yang dipikirkan, mereka tidak berani mendekat.


Mereka bertiga kemudian menghampiri Pak Tris dan Pak Heru untuk menanyakan bagaimana keadaan Caca dan Ayah nya.


"Pak Tris. Bagaimana keadaan Caca, Pak?" kata Mba Dewi bertanya.


"Loh. Kalian kenapa bisa ada di sini?" kata Pak Tris bertanya.


Mereka bertiga saling bertatapan, apa yang harus mereka jawab.


"Ah itu nggak penting, Pak. Yang penting gimana keadaan Caca?" tanya Lista.


"Caca sedang di rawat."


***


Beberapa saat kemudian pintu operasi terbuka, mereka terkejut melihat banyak sekali luka lebam di sekitar wajah dan tubuh Ayah Caca. Terdapat perban putih yang melingkari kepala nya.


Pak Tris lalu bertanya kepada salah satu Dokter disana.


"Bagaimana, Dok? bagaimana keadaan beliau?"


"Operasi berjalan lancar, tetapi kita tidak tahu apa beliau sanggup bertahan atau tidak. Kepala nya terluka parah, ada tulang tengkoraknya yang retak seperti terkena hantaman benda keras."


"Dia juga kehilangan banyak darah, banyak sekali luka lebam di tubuhnya. Dia juga masih dalam keadaan kritis, kita hanya bisa berharap ada keajaiban dari Tuhan," jawab Dokter.


Mendengar hal itu semua orang merasa sedih. Pak Tris meminta mereka bertiga menjaga Caca yang masih tidak sadarkan diri. Kemudian Pak Tris dan Pak Heru pergi keruangan dimana Pak Burhan di rawat.


***


Teman-teman Caca masuk ke kamar dimana Caca di rawat. Nael melihat tidak ada orang, dia pun menghampiri ruang kamar tersebut dan masuk.


Teman teman Caca terlihat sedih dia melihat Caca tak berdaya. Nael hanya berani melihat di depan kamar. Lista yang melihat Nael, meminta Nael untuk bergantian melihat Caca. Mereka bertiga kemudian keluar dan bergantian dengan Nael untuk menemui Caca.


Nael duduk disamping Caca, dia mengingat ketika dia menolong Caca yang terkunci karena ulah Sony. Dia juga mengingat kembali saat dia memarahi Caca dengan alasan yang tak jelas, dan memecatnya dari kantor.


Nael pun hanya bisa diam, dia tidak tahu harus apa. Dia menggenggam tangan Caca dan menghapus air mata Caca.


Tak lama kemudian Caca mulai siuman. Mata nya terbuka perlahan dan melihat sekeliling lalu mengingat kejadian mengerikan tadi. Dia kemudian bangun dan memanggil Ayah nya.


"Ayah! dimana dia? dimana Ayah?" tanya Caca.


Caca melihat Nael yang berada disana sambil menggenggam tangannya. Caca pun berusaha melepaskannya. Dia tidak ingin di sentuh oleh siapa pun.


Caca melepas selang infusnya dan melupakan rasa sakitnya, yang di pikirkan adalah Ayah nya saja. Caca berlari keluar, teman-teman Caca lalu berusaha menghentikan Caca.


"Ca. Tunggu! kamu mau kemana? kamu masih lemah Ca."


"Iya, Ca. Jangan pergi."


Caca tak menghiraukan perkataan teman-temannya. Dia menanyakan kepada salah satu mata-mata yang tadi menyelamatkannya.


"Pak. Dimana Ayah saya? apa dia baik-baik saja? tolong antar saya kesana."


"Tidak Nona! jangan, keadaan nona masih sangat lemah. Pak Burhan sedang di rawat intensif, Non."


Caca tidak peduli dia kemudian mencari ruangan dimana ayah nya di rawat. Para perawat menahan Caca. Nael melihat Caca menangis, dia pun pergi menghampiri Caca yang sedang berontak melawan para perawat.


"Maaf, Sus. Biarkan saja dia, biar saya akan menjaga nya," kata Nael.


Para perawat pun setuju dan membiarkan Nael mengantarkan Caca, tapi dengan satu syarat tidak boleh terlalu lama karena kondisi Caca yang masih lemah.

__ADS_1


Caca menatap Nael dengan penuh amarah. Karena dia, nyawa Ayah nya sedang di pertaruhkan. Caca menepis tangan Nael yang mencoba memegangnya.


"Jangan sentuh saya! saya bisa berjalan sendiri!" bentak Caca sambil berusaha jalan dengan badan yang goyah.


"Baik. Tapi tolong ijinkan saya untuk menemani kamu Carisa."


Caca hanya terus berjalan dan tidak mendengarkan perkataan Nael. Nael kemudian menemani Caca dengan menjaga jarak nya.


***


Nael dan Caca telah sampai di kamar Ayah yang sedang di rawat. Di sana sudah ada Ibu dan Handi adiknya yang sedang menangis dan di temani oleh Pak Tris dan Pak Heru. Caca melihat Ibunya dan menghampiri mereka


"Ibu ..." ucap Caca memanggil Ibunya sambil menangis kembali.


"Caca! syukurlah kamu tidak kenapa-napa, Nak. Kamu sudah makan belum? wajah kamu pucat banget," kata Ibu sambil mengusap air mata Caca.


Caca hanya diam sambil memeluk Ibunya. Caca kemudian mengintip dari pintu kamar Ayah nya. Terlihat Ayah nya begitu lemah. Wajah sangarnya seketika hilang. Banyak selang yang terpasang pada tubuh dan wajah nya.


Caca tak kuasa menahan tangisnya, teringat lagi kejadian tadi ketika Ayahnya berusaha menyelamatkan harga diri nya. Caca pun kembali menangis kencang.


Ibu dan yang lainnya berusaha memenenangkan Caca yang menangis. Caca kemudian duduk di depan pintu kamar ayahnya yang sedang di rawat, dia selalu berdoa untuk kesembuhan Ayahnya. Begitu pula dengan yang lain.


Nael hanya bisa melihat itu dari kejauhan, dia tidak boleh mendekati Caca oleh Papa nya sendiri.


Beberapa saat kemudian terlihat seorang Dokter dan juga Perawat yang berlari cepat ke dalam ruangan dimana Ayah Caca di rawat. Mereka hanya berharap tidak ada hal buruk terhadap Pak Burhan. Mereka semua melihat dari luar kamar.


Semua perawat dan dokter berusaha menyelamatkan Pak Burhan yang tiba-tiba drop, kondisinya melemah. Karena kondisi nya yang kritis dan karena faktor usia. Dokter tak bisa menyelamatkan nya. Pak Burhan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Yah Ayah Caca meninggal. Dia telah meninggal dunia. Semua tidak percaya dengan hal itu, mereka melihat Caca yang hanya terdiam ketika dokter telah menyatakan bahwa Ayah nya telah meninggal dunia.


Dunia Caca serasa hancur. Bagaimana mungkin dia bisa kehilangan Ayah untuk kedua kalinya dan dalam kondisi yang sama setelah menyelamatkannya.


Caca terkulai lemas, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Temannya pun turut bersedih, merasakan kesedihan yang dialami oleh Caca.


Caca mengenang kembali masa-masa dimana dia bersama dengan Ayah nya. Dari menyelamatkan sewaktu masih kecil dan hingga dia terbujur kaku di hadapannya.


Caca menunduk, dia mengepalkan kedua tangan nya dan menaruh tangannya di depan dadanya, sepertinya sesak sekali dia menangis. Caca pun tidak kuasa menahan tangisnya dia pun berteriak memanggil ayahnya.


"AYAH!!!" teriak Caca.


Semua yang berada disana menghampiri Caca dan berusaha menenangkannya. Caca menangis hebat, dia lalu terdiam dan mencari seseorang.


Caca kemudian menghampiri Nael, Caca lalu memarahi Nael yang terlihat sedih. Nael membiarkan Caca melampiaskan amarah nya. Mereka semua hanya bisa melihat itu tanpa bisa membantu. Caca memukuli tubuh Nael, dia pun hanya bisa terdiam.


"Lihat, sekarang lihat! puas Bapak! apakah keluarga saya seorang pembohong? apakah pengorbanannya terhadap saya hanya hayalan belaka? saya begitu menghormati Ayah saya."


"Walau dia bukan Ayah kandung saya, tetapi kasihnya tidak terbatas. Dia sudah menganggap saya seperti putri kandungnya sendiri, lihat ibu saya juga dia membesarkan saya seperti anak sendiri."


"Ya memang keluarga kami pembohong! kami tidak memiliki hubungan darah, tetapi mereka, mereka merawat ku dengan kasih sayang. Kami memang pembohong karena terlalu banyak menyimpan rahasia."


Nael dan teman-teman Caca terkejut karena Ayah Caca dan Ibunya ternyata bukanlah orang tua kandung Caca dan mereka baru mengetahui hal itu sekarang, dalam keadaan hati Caca yang sedang hancur seperti ini.


Nael hanya terdiam melihat Caca yang terus-terusan memarahinya. Nael tak tahan lagi, Nael langsung memeluk Caca dengan erat, dia tak melepaskan nya walau Caca berontak.


Caca menangis sejadi jadinya, dia terlalu lemah untuk memukuli Nael lagi, Caca kembali pingsan. Semua orang berteriak histeris. Nael yang melihat itu tanpa berpikir panjang langsung membopong Caca ke ruang rawatnya kembali.


………………………………………………………………………………


Sementara itu di tempat lain.


"Lapor, Bos! Pak Burhan telah meninggal."

__ADS_1


"Bagus! sekarang, kita hanya tinggal membuat rencana ulang."


Bersambung.


__ADS_2