
Caca kemudian menghampiri teman-teman nya, dia melihat ke sekeliling mencari seseorang.
"Oiya, Mba. Kemana Cindy?" tanya Caca.
"Tau nih! dari tadi nggak keliatan," kata Mba Dewi.
"Tadi sih gue lihat dia lagi teleponan sama seseorang. Nggak tahu sama siapa, tapi kayaknya terlihat serius," kata Lista.
Tak lama Cindy pun muncul.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, mereka pun membicarakan masalah pulang dengan siapa dan dengan apa.
Caca mengingat dia belum bertukar pakaian. Seragam dan sepatunya masih berada di kamar Valen.
***
Caca kemudian mencari Teh Mul untuk mengajaknya berganti pakaian. Caca menemukan Teh Mul yang sedang mengobrol dengan Ahmad. Sepertinya mereka semakin dekat saja.
Caca kemudian mengajak teh Mul untuk menemui Valen dan mengganti pakaian mereka. Untung saja mereka mengingat jalan menuju kamar Valen.
Caca dan Teh Mul akhirnya menunggu Valen, karena dia belum datang ke kamarnya. Lima menit berlalu, akhirnya Valen datang ke kamar nya bersama dengan Nael.
"Eh. Caca, Mul kenapa disini? kirain sudah pulang," kata Valen.
"Kita mau ganti pakaian Valen," kata Teh Mul.
"Oh gitu. Nggak apa di bawa saja, kalo ada waktu baru di kembalikan."
"Jangan Valen! itu baju seragam soalnya. Mau dicuci besok. Biar bisa dipakai lagi," kata Mul.
"Oh gitu. Ya sudah tunggu sebentar ya," kata Valen sambil mengambil kartu VVIP nya.
***
Nael kemudian masuk ke kamar nya yang berada di sebelah kamar Valen. Mereka sekeluarga memang akan menginap di hotel tersebut selama beberapa hari.
"Yuk masuk!" ajak Valen.
Mereka bertiga masuk kedalam kamar yang mewah tersebut. Caca dan Teh Mul melihat baju nya berada di atas kasur Valen. Mereka segera mengambil nya.
Tiba-tiba handphone Caca berbunyi. Caca melihat handphone nya. "Ah dari Lista."
"Halo."
"Halo. Caca elo dimana? kita udah mau balik nih, cepetan, mumpung ada yang mau anterin."
"Kalo nunggu sebentar lagi bisa nggak? kita baru mau ganti baju, kalo nggak kalian duluan saja ya."
"Ya sudah, Ca. Kita duluan ya, nti elo sama Teh Mul gimana?"
"Gampang lah gua mah."
"Kenapa Ca?" tanya Teh Mul.
"Mereka pulang duluan, Teh."
"Lah. Kita gimana ini?" tanya Teh Mul.
Mendengar hal tersebut Valen kemudian menelepon Nael.
"Halo. Kenapa?"
"Halo, Nael. Kamu lagi apa? capek nggak?" tanya Valen.
"Habis mandi, nggak capek kok. Kenapa?" Tanya Nael.
"Kamu kesini aja ya dulu."
"Oke. Saya pakai baju dulu ya."
Caca ingin menelepon Ayah nya untuk menjemput, tetapi Caca memikirkan teh Mul. Dia akan pulang dengan siapa, lagian sudah malam.
Valen menghampiri Caca dan Teh Mul yang sedang mikir bagaimana cara mereka pulang, rumah mereka jauh dari sini.
"Sudah tenang aja nanti saya minta Nael buat anter kalian ya."
Caca dan teh Mul senang mendengar hal itu.
"Terima kasih, Valen."
Tak lama kemudian mereka telah selesai berganti pakaian.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Nael datang dan menanyakan kepada Valen kenapa memanggil nya kesana.
"Ada apa nyuruh saya kesini?" tanya Nael.
"Nael. Minta tolong anterin Caca sama Mul ya pulang kerumah. Dia ketinggalan rombongan," kata Valen tersenyum.
"Oh. Ya sudah, saya telepon Ahmad dulu ya. Kunci mobil nya ada sama Ahmad," kata Nael.
Nael menelepon Ahmad untuk datang ke kamar Valen. Tak butuh lama Ahmad pun datang, dia melihat Caca dan Mul yang belum pulang.
"Loh kirain sudah pada pulang semua," kata Ahmad.
"Belum, Mad. Tadi kita tukeran baju dulu, terus mereka duluan karena nggak enak kelamaan nunggu. Kita suruh mereka pada balik duluan," kata teh Mul menjelaskan.
"Tapi, Nael. Mobil nya lagi di pakai sama pak Budiman buat anter tamu nya pak Peter tadi," kata Ahmad.
"Terus mobil inventaris kantor tadi mana?" tanya Nael.
"Mobil inventaris dibawa sama rombongan pak Joko. Karena sekalian mereka pulang ke mess, jadi mobilnya bisa sekalian di taruh di pabrik."
"Terus nggak ada mobil yang nganggur nih?" tanya Nael.
"Nggak ada sudah dipakai semua tadi."
"Ada, motor saya Bos. Tapi paling bisa anter satu orang aja," kata Ahmad.
Caca dan teh Mul saling menatap, kemudian Caca mengalah.
"Ya sudah, Bang. Abang anter teh Mul aja pake motor Abang," kata Caca.
"Terus kamu, Ca?" teh Mul bertanya.
"Saya telepon ayah saya saja Teh. Minta di jemput."
Caca lalu mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas nya. Kemudian Nael mencegah tangan Caca untuk menelepon Ayah nya.
"Tidak usah, Carisa. Biar saya anter kamu pakai motor Peter," kata Nael dengan senyum lembut.
"Valen. Pinjam motor Peter ya. Ada dimana kuncinya?" tanya Nael.
"Kebetulan ada di saya, Nael."
Valen bergegas mengambil kunci motor Peter yang di simpan dalam laci lemarinya.
Ahmad dan teh Mul terlihat sangat gembira sekali. Mereka pun pergi ke tujuan masing masing.
Valen tersenyum melihat perubahan sikap adiknya terhadap Caca yang begitu peduli dan begitu hangat. Selama ini dia banyak di kelilingi oleh wanita-wanita cantik. Tetapi tidak ada satu pun yang berhasil merebut hati nya, dia selalu bersikap dingin terhadap wanita yang mencari perhatian nya. Valen pun kembali ke kamar nya dan beristirahat.
***
Sementara itu, terlihat Nael dan Ahmad keluar dari parkiran dan menuju ke arah Caca dan teh Mul
Ahmad membersihkan jok belakang motor nya dan mempersilahkan teh Mul untuk duduk dibelakangnya. Teh Mul tersenyum dan menuruti perintah Ahmad.
Nael menyuruh Caca untuk naik, motor Peter sangat besar dan tinggi, seperti motor balap dengan mesin 250 cc.
"Ayok naik!" pinta Nael.
Caca memegang pundak Nael dan menaiki motor tersebut, mereka sudah bersiap untuk meluncur.
***
Selama diperjalanan pulang. Caca merasa canggung seperti ada perasaan yang aneh dalam diri nya, dia bingung harus apa.
Motor besar Peter terasa tidak nyaman. Jok motor belakangnya sedikit tinggi. Caca tidak bisa duduk tegak. Caca hanya menahan tubuh nya agar tidak jatuh dengan memegang bagian belakang motor, (Ah sungguh aneh posisi seperti itu.)
Saat melaju kencang. Tiba-tiba Nael mengerem mendadak karena lampu hijau mendadak berubah menjadi lampu merah.
Caca spontan memeluk tubuh Nael karena kaget. Caca akhirnya berdekatan dengan tangan memeluk Nael.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," kata Caca sambil melepaskan pelukan nya.
"Iya. Saya juga minta maaf karena nge rem mendadak," kata Nael.
Mereka kemudian melanjutkan kembali perjalannya. Akhirnya Caca sudah sampai di rumah nya.
Caca kemudian turun. Terlihat Ayah Caca menunggu di depan rumah dengan sangat khawatir. Terlihat ada sekitar lima cangkir kopi bekas Ayah nya di atas meja.
Ayah melihat Caca yang turun dari motor. Dia pun berdiri sambil bertolak pinggang, seperti ingin memarahi Caca. Nael juga turun, untuk menemani Caca masuk ke dalam rumah.
"Caca! kamu habis dari mana? tidak telepon Ayah, Ayah telepon nggak di angkat-angkat. Nggak ada kabar! kamu itu pulang sama siapa? cowo ini, siapa dia hah?" tanya Ayah memarahi Caca.
"Hey. Kamu! berani kamu ajak anak saya sampai pulang larut malam begini!" bentak Ayah Caca memarahi Nael.
__ADS_1
"Ayah. Itu, Pak Nael. Bosnya Caca, dia nganterin Caca ke rumah. Harus nya kita yang berterima kasih," kata Caca menahan Ayah nya.
Nael membuka helm nya, dia kemudian menjelaskan kepada Ayah nya Caca. Akhirnya emosi Ayah Caca mereda, dia pun berterima kasih kepada Nael.
"Oh, Maaf Nael. Saya tidak sengaja. Terima kasih telah mengantar Caca."
"Sama-sama."
Nael pamit pulang. Nael menaiki motor dan menyalakan mesin, dia pun pergi untuk pulang.
***
Sekitar 50 meter dari rumah Caca. Nael berhenti dia menengok ke arah rumah Caca, disana dia melihat ayah Caca memarahi Caca kembali.
Tiba-tiba terlihat ibu Caca keluar dari pintu rumah nya, dan memarahi Ayah Caca dengan membawa lap dapur bermotif kotak-kotak. Ayah Caca meminta maaf kepada ibu Caca.
Caca lalu masuk ke dalam rumah sambil tertawa dan meledek ayah nya dengan menjulurkan lidah nya. Nael pun tersenyum dan kembali menancap gas.
***
Sesampainya di hotel, Nael berniat memulangkan kunci motor Peter, dia pun menelepon Valen. Ternyata dia belum tidur, Nael pun ijin masuk ke kamar Valen.
"Sini, Nael. Masuk," Kata Valen.
Nael pun masuk ke dalam kamar Valen. Valen lalu meminta Nael untuk duduk di kamar Valen dulu.
"Nih kunci motor Peter, thank's."
"Sama-sama."
Nael melihat gaun yang dipakai Caca saat pesta tadi. Valen melihat Nael yang memandangi gaun tersebut.
"Oiya, Nael. Karyawati kamu cantik dan lucu-lucu ya," Kata Valen pura-pura tidak melihat.
"Itu. Siapa namanya? Dewi ya. Dia kelihatan agak dewasa. Terus Lista, dia seperti nya sedikit berani, terus Cindy, haduh dia centil dan cuma mementingkan wajah dan penampilan nya saja. Saya yakin wajah cantiknya berasal dari make up nya saja. Terus yang terakhir haduh siapa ya lupa nama nya?" Kata Valen berpura-pura lupa.
"Carisa," kata Nael yang masih memandang gaun tersebut.
"Oiya, Dia Caca. Dia itu baik hati ya, cantik banget. Cantik nya itu alami, muka nya juga nggak ngebosanin," kata Valen sambil melirik Nael yang masih di depan gaun tersebut.
"Cuma, Caca orang nya apa ya? kaya sedikit misterius, apalagi saat dia milih-milih gaun Dia --" kata Valen terputus.
"Misterius bagaimana, Len?" kata Nael memotong pembicaraan Valen.
Nael kemudian duduk disamping kakak nya. Valen tersenyum dan melanjutkan cerita nya.
"Iya. Kamu tau kan baju saya tuh banyak banget, eh Caca malah milih gaun yang simple gitu aja, untung aja ke tolong sama visualnya yang sudah cantik, dan yang paling aneh dia memandang gaun putih itu seperti mengingat seseorang." Kata Valen melirik Nael.
"Seseorang, maksudnya?." Tanya Nael.
"Ah ngapain sih ceritain orang lain, bukannya kamu itu nggak tertarik sama cewek cewek, dan nggak suka ngurusin masalah hidup orang lain." Kata Valen sambil menguji adiknya.
"Gpp cuma nanya aja." Kata Nael.
"Oke, jadi Caca pas make gaun putih itu, dia menghampiri cermin besar yang ada di sana, raut wajah nya seperti sedang sedih, dan yang mengagetkan lagi dia bilang mama di depan cermin, ah misterius banget kan." Kata Valen.
"Terus ada cerita lucu lagi, kami tahu nggak panggilan kecil Caca?." Tanya Valen.
"Nggak tahu, apa panggilannya?" Tanya Nael sedikit penasaran.
"Dandelion Kecil. Hahahaha." Kata Valen sambil tertawa.
"Dandelion kecil?, kenapa bisa dipanggil begitu? apa nya yang lucu?." Tanya Nael kepada kakaknya.
"Iya kata Papa nya Caca, jadi Caca cerita kalo dulu waktu dia bayi rambutnya berdiri semua seperti bunga dandelion, kecil bulat dengan rambut berdiri, lucu kan. Hahaha." Valen pun tertawa kembali.
Nael kemudian mengingat Ayah nya Caca yang begitu sangar.
"Ah masa iya sih Ayah nya Caca bilang kaya gitu, sepertinya mustahil." Kata Nael dalam hati.
Nael pun tersenyum membayangkan bagaimana wajah Caca ketika masih bayi dengan rambut seperti itu.
Valen melihat adiknya yang sedang tersenyum, dia pun senang.
"Ya sudah kamu istirahat sana, besok kamu kan harus kerja ke kantor lagi." Kata Valen sambil mengusir Nael.
"Iya iya tunggu, oiya masalah pembicaraan Papa, Pak Tris yang bersama Carisa, apa kamu tau sesuatu?." Tanya Nael.
"Tidak tau, mungkin belum waktu nya bagi kita untuk tahu itu, biarkan saja, jangan dipusingkan, huuahh Kaka cape mau bobo, malem." Kata Valen sambil mengunci pintu nya.
Nael pun masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat.
Bersambung.
__ADS_1