
Laporan Caca akhir nya selesai setelah di bantu oleh Nael, seperti biasa Caca berterima kasih kepada Nael.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Caca segera merapihkan meja kerja nya dan menelepon Ayah nya meminta untuk di jemput.
Saat merapihkan tas, Caca teringat sapu tangan milik Nael masih berapa pada nya. Caca bergegas memberikan nya kepada Nael.
Caca mengetuk pintu ruang kerja Nael, dan Nael mempersilahkan Caca untuk masuk.
"Ya, Carisa. Masuk, ada apa?" tanya Nael.
Caca lalu mengulurkan tangan nya kehadapan Nael.
"Apa itu Carisa?" tanya Nael.
"Ini sapu tangan, Pak Nael. Sudah saya cuci bersih, Pak. Terima kasih," kata Caca.
"Simpan saja" kata Nael
"Tidak, Pak. Jangan ini milik Bapak! Bapak jijik ya bekas di pakai saya? tenang kok, Pak. Sudah saya cuci, dikasih pewangi sachetan dan sudah di setrika juga," kata Caca memaksa.
"Sudah nggak apa-apa, buat kamu saja. Saya masih banyak sapu tangan seperti itu di rumah," kata Nael sambil merapihkan tas nya.
Caca hanya bisa berterima kasih kepada Nael sambil menggenggam sapu tangan tersebut di dada nya. Ah begitu lembut, bahan sapu tangan nya terbuat dari sutera berkualitas tinggi.
"Carisa. Tolong panggil, Ahmad. Bilang saya mau pulang," pinta Nael
"Iya, Pak."
Caca tersenyum kepada Nael. Ah senyum yang begitu indah dan tulus. Tak lama kemudian ayah Caca datang.
Caca menghampiri Ayah nya yang sudah berdiri di depan. Sontak semua yang melihat Caca langsung berpaling. Semua karyawan pabrik membicarakan Ayah Caca yang begitu sangar.
"Wah nggak kebayang ya kalo nanti Caca punya pacar, bisa pada takut dan menyerah lihat ayah nya."
Mereka semua tertawa.
Walau mereka membicarakan Ayah Caca, tetapi mereka sangat menghormati dan mengagumi wibawa sang Ayah.
***
Malam telah tiba, hari pun telah berganti, pagi hari telah datang.
Caca hari ini meminta agar ayah tidak usah mengantar dan menjemput nya lagi ketempat kerja, karena Caca sudah merasa aman dan berani pergi sendiri lagi, dan dia tidak ingin merepotkan ayah nya sendiri.
"Ayah. Hari ini Caca pergi sendiri aja ya," kata Caca.
"Bagaimana bisa begitu?" kata Ayah sambil mengunyah makanan nya.
"Ya. Caca sudah berani kok," jawab Caca.
"Ya sudah, hati-hati dijalan. Kalau ada yang macam-macam telepon Ayah saja ya," kata Ayah sambil mengepalkan tangan nya.
Caca mengangguk dan tersenyum lalu pamit untuk pergi. Caca kembali pergi ke tempat kerja dengan menaiki angkot.
Di perjalanan menuju kantor, Caca melihat mobil mewah dengan plat nomor yang sudah tidak asing bagi nya.
"Ah itu mobil, Pak Nael. Tumben pagi-pagi sudah datang," kata Caca dalam hati.
Caca sudah sampai di tempat kerja, dia turun dari angkot dan berjalan masuk. Caca melihat banyak orang berkumpul di dalam kantor.
"Wah ada apa ini ya? kenapa semua sudah pada datang pagi-pagi? dan ngapain pada kumpul di sini? apa gua kesiangan ya?" tanya Caca dalam hati.
Caca melihat jam tangan nya. Masih jam 7.20 WIB. Caca berjalan masuk ke ruangan nya, menaruh tas milik nya dan melihat Nael yang sudah berada di ruangan nya. Dia terlihat sibuk menelepon seseorang.
Caca kemudian pergi ke dapur, seperti biasa dia membuatkan kopi untuk Nael dan Pak Tris. Setelah membuatkan kopi, Caca menemui Mba Dewi dan Lista yang juga sudah datang. Mereka kemudian mengobrol.
"Tumben, Mba. Ini ada apa ya rame-rame?" tanya Caca penasaran.
__ADS_1
"Ya ampun, Caca. Masa kamu nggak tau, Pak Heru kan mau datang kesini dan baru pulang dari luar negeri," kata Mba Dewi.
"Ya, Caca. Emang kamu nggak dikasih tau apa? hari ini ulang tahun nya Pak Heru. Rencana nya nanti sore semua staf kantor di undang makan-makan," Kata Lista.
"Nggak tahu, Mba. Lis. Beneran sumpah! nggak ada yang kasih tahu," kata Caca.
"Ya ampun. Emang nya Pak Nael nggak kasih tahu kamu apa. Dia kan ruangan nya deket sama kamu," kata Lista.
"Enggak," kata Caca menggelengkan kepala nya.
Tak lama kemudian Cindy datang dan memasuki ruangan kantor, seketika semua mata orang yang berkumpul tertuju kepada nya.
Caca melongo melihat Cindy yang begitu cantik. Dandanan nya begitu sempurna, lebih cantik dan sexy dari pada penampilan kemarin.
Caca kemudian menunjuk Cindy.
"Nah, Cindy! kesini say," kata Caca memanggil Cindy.
"Iya, Ca. Ada apa?" tanya Cindy.
"Eh, kemarin kita nggak dikasih tau kan sama Pak Nael kalo hari ini pulang cepet karena Pak Heru mau ulang tahun," kata Caca kepada Cindy.
"Eh maaf, Ca. Aku lupa bilang ke kamu, sebenar nya Pak Nael sudah bilang sama aku kemarin, dan minta sampein juga ke kamu. Tapi maaf banget, Ca. Aku lupa," kata Cindy.
"Oh, gitu. Ya sudah nggak apa - apa," kata Caca seperti hilang harapan.
***
Jam masuk sudah berbunyi. Nael memanggil Caca.
"Carisa," panggil Nael.
"Iya, Pak."
"Tolong print lagi laporan yang kemarin ya," kata Nael.
"Baik, Pak."
"Dempul terus," kata Caca menggoda Cindy.
Cindy hanya tersenyum malu.
Caca memberikan laporan tersebut kepada Nael sambil keluar menuju ruang Pak Tris.
"Laporan apa sih itu, Ca? itu laporan yang kamu kerjain kemarin bareng Pak Nael kan?" tanya Cindy kepo.
"Itu laporan buat bikin produk baru," jawab Caca.
Seketika Caca mengingat kemarin, "Pantes aja dia minta di kerjain buru-buru, mungkin buat laporan ke pak Heru, soalnya hari ini kan pulang cepat."
Ah Caca menghela nafas panjang lagi, dia melihat jam sudah pukul 10.00 WIB. Caca dan Cindy mulai bekerja kembali.
***
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa mereka makan di kantin. Mereka mulai membicarakan tentang ulang tahun pak Heru nanti malam. Mereka sibuk membicarakan tentang penampilan mereka untuk malam nanti.
Caca menghelas nafas panjang lagi, dia tidak bawa baju bagus untuk salinan, tidak membawa sepatu dan lain-lain.
"Ca. Tumben manyun aja," kata Mba Dewi menyenggol bahu Caca.
"Nggak apa-apa, Mba. Cuma bingung aja, nanti ke acara pak Heru. Saya nggak bawa baju salinan, nggak bawa make up, nggak bawa sepatu. Saya malu masa mau pake seragam ini ke sana," kata Caca pasrah.
"Iya, sih. Ah Cindy kenapa sih bukan nya bilang ke Caca? terus kamu ikut kan Ca?" tanya Lista.
"Iya. Maaf," Kata Cindy.
"Semua harus hadir, Ca. Kata nya nanti di absen disana, karena ada rapat penting juga," kata Mba Dewi.
"Rapat apa, Mba?" tanya Caca.
"Rapat buat peluncuran produk baru," jawab Mba Dewi.
__ADS_1
"Oh," kata Caca sambil mangut-mangut.
***
Bel masuk sudah berbunyi. Mereka masuk dan bekerja kembali. Saat asyik mengerjakan pekerjaan, Nael memanggil Caca.
"Carisa," panggil Nael.
"Iya, Pak."
"Tolong di revisi laporan ini ya, ada yang salah sedikit," kata Nael sambil menunjukan angka dan kata yang salah.
"Baik, Pak."
Caca mengerjakan revisi laporan tersebut. Sesekali mata nya melihat ke arah jam dinding.
"Ah sudah jam 2 siang." kata Caca dalam hati.
Caca pergi ke toilet sebentar, disana dia melihat banyak karyawan dan karyawati kantor yang sudah mulai bersiap-siap, ada yang berdandan, mengganti baju dan lain lain. Caca kemudian berlalu dan kembali keruangan nya.
Nael meminta laporan revisi yang sudah dibuat oleh Caca, dia pun memberikan nya kepada Nael.
"Oiya. Jam 3 sore kita akan berangkat, tempat nya lumayan jauh dari sini. Jadi siap-siap saja dari sekarang," kata Nael kepada Cindy dan Caca.
"Baik, Pak."
***
Semua orang kantor sudah berkumpul, sudah bersiap untuk berangkat.
Caca melihat sekumpulan orang di hadapan nya, Caca kembali minder dengan penampilan nya. Kemudian Caca sedikit lega karena ada yang berpenampilan seperti dia.
"Itu, Teh Mul!" kata Caca.
Sebagian karyawan penting dan kepala bagian sudah ada yang berangkat, menumpang dan ada pula yang menyetir mobil sendiri.
Nael melihat akan kekurangan mobil. Dia lantas menyuruh Ahmad memakai mobil sedan inventaris kantor untuk mengantar karyawan yang tersisa, dan Nael akan menyetir sendiri bersama sisa nya nanti.
Nael menyuruh Ahmad untuk berangkat duluan jika mobil sudah terisi. Nael belum berangkat karena mau mengambil sample produk baru yang sudah jadi.
Karyawan yang masih belum berangkat ada Mba Dewi, Lista, Caca, Cindy dan Teh Mul. Mereka melihat di dalam mobil yang di kemudikan oleh Ahmad sudah terisi oleh Mas Karyo, dan Mas Eko, masih muat untuk satu orang lagi.
Ahmad kemudian menawarkan kepada cewek-cewek tersebut.
"Siapa yang mau ikut? ayo sini," kata Ahmad.
Mereka saling bertatapan satu sama lain, mereka risih karena yang menumpang semua adalah laki-laki.
Akhirnya Caca mengalah untuk ikut ke rombongan Ahmad. Caca berhenti ketika Teh Mul menahan Caca masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Ca. Biar Teh Mul aja yang ikut rombongan Ahmad," kata Teh Mul menggantikan Caca.
"Oh. Ya sudah teh, makasih ya. Hati-hati di jalan," kata Caca kepada Teh Mul.
Ahmad terlihat begitu senang, mereka kemudian pamit untuk berangkat duluan.
***
Lima menit kemudian Nael datang dengan mobil nya dan menghampiri para gadis-gadis yang sudah menunggu di depan kantor.
"Ayo. Semua masuk!" perintah Nael.
"Baik, Pak."
Mereka memilih bangku belakang tetapi hanya cukup untuk tiga orang. Sedangkan bangku depan masih kosong. Cindy kemudian duduk di bangku depan tersebut.
"Oke, girls. Kita let's go!" kata Nael menancap gas.
Mereka semua senang karena bisa semobil bersama dengan Nael. Mobil pun melesat maju menuju ke tempat tujuan
Bersambung.
__ADS_1