Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 34. Kencan Pertama Nael dan Caca


__ADS_3

Nael telah siap berkemas dan segera menuju ke rumah Caca. Nael lalu menelepon Ahmad untuk ketemuan di depan Bioskop bersama dengan Mul.


Nael menaiki mobil nya dan menyetir mobil sendiri, dan pergi menjemput Caca.


***


15 menit kemudian.


Beberapa saat kemudian Nael telah sampai di rumah Caca. Nael berdiri di depan pintu dengan perasaan yang sedikit gugup sekaligus senang lalu Nael mengetuk pintu dihadapan nya dan tidak lupa memberi salam.


"Krek!" Suara pintu terbuka. Bibi membuka pintu dan melihat seorang pria tampan yang tengah berdiri di hadapan nya. Bibi tanpa basa basi langsung menyuruh Nael untuk masuk dan duduk di dalam.


Nael kemudian masuk dan duduk di sofa sambil netra nya melihat ke sekeliling seperti mencari-cari seseorang.


"Permisi Bi, Carisa nya ada?" tanya Nael terlihat gugup.


"Tunggu ya saya panggil Caca dulu, tadi dia baru selesai mandi," jawab bibi sambil membawakan minuman dan tersenyum.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Bibi kemudian memanggil Caca karena Bibi melihat Nael yang sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan keponakannya itu. "Ca, ada pacar kamu datang nih! cepetan!" teriak Bibi memanggil Caca.


"Byur!" Seketika Nael menyemburkan sedikit minumannya. Nael menjadi salah tingkah karena Bibi yang tiba-tiba mengatakan Nael adalah pacarnya Caca hingga wajah Nael sedikit merona.


"Pacar? siapa Bi?" tanya Caca dari dalam kamar.


"Itu yang kemarin anter kamu naik mobil kesini."


"Oh. Ya Bi tunggu sebentar!" balas Caca.


Caca telah selesai berkemas, dia kemudian berjalan keluar dari kamar lalu menghampiri Nael yang menunggu nya di ruang tamu.


Nael senang melihat Caca yang telah hadir dihadapan nya dia terlihat begitu cantik dan manis. Rambut indah nya terurai dan terlihat jepit rambut bermotif bunga pada rambut sebelah kiri nya. Memakai dres mini di bawah lutut yang sederhana.


Caca membalas tatapan Nael dengan sebuah senyuman manis. Caca juga senang melihat Nael yang begitu tampan, kaos polos dipadukan celana jeans panjang yang serasi.


Mereka berdua melamun cukup lama entah apa yang mereka pikirkan hingga beberapa saat kemudian lamunan mereka di hentikan oleh suara Bibi Minarsih dan mulai menggoda mereka berdua.


"Ya sudah sana pergi, katanya mau nonton bioskop. Masa nontonin diri masing-masing sih. Hihihi."


Mendengar hal itu Nael dan Caca tersenyum dan tertawa kecil, mereka lalu berpamitan kepada Bibi untuk pergi berjalan-jalan.


"Hehe Bibi. Ya sudah Caca berangkat ya Bi."


"Saya ijin ya Bi bawa Carisa keluar malam hari ini."


"Ya. Hati-hati jangan lupa, pulang jangan terlalu malam, kalau bisa Bibi beliin makanan ya."


"Ya Bi tenang aj." Caca dan Nael lalu masuk ke dalam mobil.


Di sepanjang perjalanan, Nael sesekali menatap Caca yang sedang asyik melihat jalanan. Dia senang sekali bisa mengajak Caca keluar bersama walau hanya sekedar jalan-jalan biasa. Nael juga tak sabar untuk menonton film bersama dengan Caca.


***


Beberapa saat kemudian.


Nael dan Caca akhirnya telah sampai, begitu juga dengan Ahmad dan Mul yang sudah tiba sejak tadi. Mereka bertemu di tempat yang sudah di rencanakan.


Ahmad yang iseng kemudian dengan mengambil ponsel dan diam-diam mengambil foto Caca dan Nael yang baru tiba, dia segera memberitahukan nya kepada Mul. Mul terlihat senang melihat foto tersebut.


Nael dan Caca menghampiri Ahmad dan Mul yang sudah menunggu mereka, Caca terlihat senang ketika melihat ada Teh Mul yang ikut nonton bersama nya.


Caca lalu menggenggam tangan Teh Mul dengan hati yang sedang gembira dia berkata, "Eh ada Teh Mul dan Bang Ahmad, seru donk kalo begini Caca jadi bisa duduk bareng berdua sama Teh Mul."


Nael dan Ahmad saling memandang, mereka nampak tak setuju dengan ucapan Caca. Mereka tidak mau kalo Mul dan Caca duduk bersama yang mereka mau adalah Nael duduk bersama Caca dan Mul bersama Ahmad, titik!


Ahmad yang sudah memiliki misi dan rencana dan tidak ingin dipisahkan dari Mul kemudian menyela kegembiraan Caca.


"Eh maaf saya sudah pesan tiket tadi, jadinya yang benar itu Mul sama saya duduk nya dan Caca duduk disebelah Pak Nael ya." Ahmad lalu pergi bersama Mul dan meninggalkan Caca berdua dengan Nael.

__ADS_1


Nael tersenyum senang, sedangkan Caca sedikit merinding mendengar ucapan Ahmad tadi. Mereka kemudian saling bertatapan, Caca melihat wajah Nael yang tersenyum lembut kepada nya dan terlihat sedikit malu, tapi hati Nael senang karena dia bisa duduk bersebelahan dengan Caca.


***


"Teng tong teng tong.. Teng tong teng tong.. Mohon perhatiannya, pintu teater 2 akan segera di buka, bagi yang memiliki tiket diharapkan masuk, karena film akan segera di mulai, teng tong teng tong." Suara Khas pemanggil kaum bucin berbunyi.


Akhirnya giliran mereka pun tiba. Nael dan Caca masuk sambil menunjukan tiket mereka kepada Nona Cantik yang berdiri di depan pintu masuk dengan baju seragam khas dan nampak ada belahan di sebelah kiri di bagian rok bawah nya.


Caca tampak gelisah saat masuk ke ruang bioskop yang cukup gelap. Nael yang mengetahui akan hal tersebut tanpa ragu langsung menggengam tangan Caca dengan erat dan menuntun Caca masuk kedalam lalu mencari kursi mereka berdua.


Setelah menemukan tempat duduk yang sesuai dengan tiket mereka, Nael dan Caca kemudian duduk. Ahmad ternyata sangat pintar sekali mencari tempat duduk, mereka berada jauh dari Nael dan Caca agar bisa berduaan dan film romantis juga yang di pilihnya.


Nael menuntuk Caca untuk duduk di pojok dan disusul Nael yang duduk di sebelah nya, mereka lalu menunggu Film tersebut di putar. Nael tak lupa memesan makanan untuk Caca dan memanggil seorang yang sedang menawarkan makanan untuk datang menghampiri mereka.


"Kamu mau pesan apa Carisa?" tanya Nael.


"Apa aja Pak!" balas Caca yang masih memanggil Pak pada Nael.


"Ya sudah pop corn 2, sama kopi nya 2 ya."


***


Tak lama kemudian pesanan mereka pun sampai. Caca terlihat senang melihat pop corn di hadapannya, dia pun mulai memakannya padahal film belum di mulai.


Beberapa saat kemudian Film tersebut telah di mulai, para pasangan bucin pun terlihat mesra. Mereka saling berdekatan, tetapi tidak dengan Caca dan Nael mereka terlihat canggung.


Caca sedikit terkejut ketika tangan nya tersentuh oleh Nael, Nael kemudian meminta maaf.


"Maaf Carisa, saya tidak sengaja."


"Tidak apa, Pak."


Mereka kembali menonton film yang masih berlangsung. Caca melihat pop corn Nael yang masih utuh. Nael mengerti ketika melihat Caca yang memandangi pop cornnya tersebut, kemudian Nael memberikan pop cornnya untuk Caca.


"Terima kasih." Caca tersenyum senang.


"Sama-sama."


Kali ini tangan Caca yang tidak sengaja menyentuh tangan Nael ketika menerima Pop Corn Nael. Caca kemudian meminta maaf. ("Ah dasar pasangan baru!" ucap Author yang tiba-tiba ikut campur).


Caca dan Nael saling memandang begitu lama. Nael dan Caca larut dalam suasana. Nael berusaha mendekatkan wajahnya kearah Caca dengan perlahan, tetapi dengan cepat Caca memalingkan wajah nya. Nael sedikit kecewa karena gagal meraih apa yang di inginkan yaitu mendaratkan bibirnya kepada Caca.


Beberapa saat kemudian lampu kembali menyala terang. Menandakan berakhirnya film, mereka lalu mengecek kembali barang bawaannya takut ada yang tertinggal. Nael dan Caca menunggu semua orang meninggalkan ruangan dan ketika sudah sepi Nael menuntun Caca untuk keluar dari dalam Bioskop.


Ahmad dan Mul terlihat di depan pintu keluar bioskop dan sedang tertawa bersama, seperti nya misi mereka sukses.


***


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Mereka lalu memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah janji dengan Bibi untuk tidak pulang larut malam. Mul dan Caca kemudian saling berpamitan dan Ahmad hanya menggoda Nael.


"Bagaimana sukses nggak?" terdengar suara Ahmad kepada Nael.


Nael hanya tersenyum, dia hanya berpikir tidak semudah itu untuk mendapatkan Caca itu semua perlu proses dan juga perjuangan.


Nael kemudian mengantar Caca ke rumah dan memberikan makanan untuk Bibi sekalian berpamitan kepada Bibi Minarsih dan tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada Bibi yang telah memberikan ijin.


…………………………………………………………………………………


15 menit kemudian.


Nael telah sampai di rumah lalu turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam. Pak Heru cemas dengan putra nya yang tidak memberi kabar kemudian terlihat Nael yang memasuki rumah.


Pak Heru kemudian bertanya kepada Nael, "Kamu habis darimana Nael?"


"Habis jalan-jalan Pa, Papa kenapa disini, kenapa tidak istirahat?" tanya Nael dan menuntun Ayahnya untuk masuk kedalam kamar.


"Bagaimana Papa bisa istirahat jika kamu dalam bahaya Nael."


"Tidak akan ada apa-apa Pa, percaya ya. Nael hanya jalan-jalan sama Carisa sebentar."


Nael lalu pergi menuju kamarnya. Pak Heru cemas dengan keselamatan putra nya, karena bahaya bisa datang kapan saja. Heru bermaksud akan membuat rencana agar Nael tidak terlalu dekat dengan Caca.

__ADS_1


***


Dikamar.


Caca dan Nael mengingat momen mereka hari ini. Mereka terlihat senang, Nael pun mengirim pesan kepada Caca.


"Terima kasih untuk hari ini, sampai jumpa bertemu besok, selamat malam."


Caca pun membalas.


"Sama-sama terima kasih juga karena sudah mengajak saya jalan jalan."


Mereka lalu tersenyum. Malam telah larut mereka pun beristirahat.


………………………………………………………………………………


Ke esokan harinya.


Hari sudah pagi, Caca pun bersiap untuk pergi bekerja setelah sarapan.


"Bi, Caca berangkat dulu."


"Iya hati-hati ya di jalan."


Caca kemudian naik angkot langganan menuju tempat kerja nya.


***


15 menit kemudian


Caca telah sampai di depan pintu gerbang perusahaan, Caca kemudian dikagetkan dengan teman-temannya dari belakang hingga membuat Caca terperanjat kaget hingga merasa lemas di sekujur tubuhnya.


"Ciee yang kemaren nonton bareng," ucap Lista menggoda Caca.


"Hem ceritain donk kemarin bagaimana?" tanya Mba Dewi.


Caca sempat bingung dengan mereka yang tahu dirinya dan Nael menonton bareng. Caca kemudian bertanya, "Loh kok pada tau?"


"Ya tau dari teh Mul," jawab Lista.


Mul hanya tersenyum senang, mereka tak henti-henti nya menggoda Caca sampai masuk ke dalam kantor. Caca hanya bisa tersipu malu, wajahnya merah seketika.


***


Di ruang kerja Caca.


Caca masuk dan duduk di meja kerja nya, dia pun mengingat kembali masa-masa dia bekerja dulu. Caca melihat laci lemari nya yang terkunci dan kemudian mengambil kunci yang berada di dalam tas nya. Caca lalu membuka laci tersebut.


Beberapa saat kemudian Nael masuk dan melihat Caca yang sedang memandangi isi dari laci tersebut. Nael tersenyum senang karena Caca telah kembali bekerja. Nael berjalan mendekati Caca dan ingin melihat nya juga.


"Carisa, boleh tahu itu isi nya apa?" tanya Nael.


Caca mengangguk tertanda setuju Nael nampak senang. Dia kemudian duduk di sebelah Caca, lalu Caca memperlihatkan isi dalam laci tersebut.


Nael begitu terharu melihat sebuah foto. Dimana itu adalah foto Caca bersama Papa dan Mama nya di depan rumah mereka yang sangat besar, dan juga surat dari Papa nya Caca. Nael lalu membaca nya.


"Dear Dandelion Kecil Papa yang manis, suatu saat pasti kamu akan mengerti betapa keras nya hidup, Papa berharap kamu akan selalu kuat dalam menghadapi setiap masalah dan kesulitan dalam hidup ini, teruslah berusaha dan berjuang, ingat kekuatan dalam Dandelion Kecil ini, terus lah tersenyum, salam dari Papa mu yang mencintai mu Djuanda."


Nael melihat satu lembar foto lagi dan dia sangat mengenal gadis kecil dalam foto tersebut. Dia adalah Caca yang sedang meniup Dandelion kecil di tangannya. Wajah nya begitu manis, lembut dan bersinar.


Nael melihat ada gantungan Kunci Dandelion yang diberikan oleh Ayah Caca ketika dia masih kecil. Itu adalah Dandelion pertama yang dia tiup bersama dengan ayahnya.


Nael akhirnya mengerti betapa berharga nya kenangan tersebut bagi Caca. Nael lalu menatap Caca yang sepertinya merindukan orang tua nya. Nael lalu menghiburnya dengan senyuman lembut nan menawan milik nya.


"Carisa, kopi saya mana?"


"Ah iya, bentar ya Pak!" Caca lalu pergi menuju dapur.


Nael tersenyum, dia memegang foto tersebut dan berjanji akan menjaga dan melindungi Caca sekuat tenaga, mencintainya setulus hati dan akan membuat Caca selalu tersenyum.


***

__ADS_1


Pak Heru melihat kedekatan mereka. Pak Heru cemas dengan mereka yang sudah terlalu dekat, dia pun berlalu pergi dengan perasaan bimbang. Perasaan bimbang dengan keselamatan putra nya dan janjinya terhadap sahabatnya.


Bersambung.


__ADS_2