
Di Kantor.
Pak Tris mengunjungi ruangan Nael. Nael terlihat sedang bersama dengan Sonia.
"Pak Tris. Silahkan masuk, ada perlu apa Pak? kenapa tidak panggil saya saja?" tanya Nael.
"Tidak apa, Nael. Saya kesini mau lihat Sonia," jawab Pak Tris.
"Iya, Pak Tris. Ada apa?" tanya Sonia.
"Sebelum nya saya mengucapkan terima kasih karena kamu sudah bersedia membantu kami untuk menyelamatkan nyawa Caca. Saya berjanji tidak akan melibatkan kamu terlalu lama," jawab Pak Tris.
"Sama-sama. Tidak apa Pak Tris, saya senang bisa membantu kalian."
"Terima kasih banyak, kamu sungguh baik hati,"
"Terima kasih kembali Pak."
"Oiya, Nael. Caca sedang belajar dengan pekerjaan baru nya, dan malam hari dia akan belajar mengurus beberapa macam laporan dan bagaimana cara mengurus sebuah perusahaan agar kelak Caca siap memegang perusahaan besar Djuanda ayah nya."
"Untuk itu, dia pasti akan sibuk dan tidak akan banyak waktu. Bapak juga meminta kalian untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun kalau Caca masih bekerja di sini dan di bagian apa dia bekerja sekarang."
"Bapak masih mengkhawatirkan Caca, karena kita masih belum menemukan siapa satu orang lagi penyusup tersebut."
"Dan jika kamu bertemu Caca di lapangan produksi, tolong bersikap biasa saja ya. Jangan sampai ada orang yang mencurigai kalian. Anggap saja Caca seperti karyawan packing lain nya." pinta Pak Tris.
"Baik, Pak Tris. Saya mengerti."
"Ya sudah. Itu saja yang mau saya sampaikan kepada kamu dan juga Sonia. Saya pergi dulu ya." Kata Pak Tris dan meninggalkan ruangan Nael.
***
Nael kembali murung, seperti nya dia hanya bisa melihat Caca dari kejauhan saja dan tidak bisa mendekati Caca seperti dulu lagi.
"Sabar ya, Nael. Semua pasti akan indah pada waktunya. Lebih baik sekarang kamu juga giat belajar agar kamu bisa memegang perusahaan ini nantinya," ucap Sonia.
"Benar! kamu benar Sonia. Saya akan belajar dan memperbaiki diri saya agar bisa lebih baik lagi dan juga pantas untuk Carisa," kata Nael sambil bekerja kembali.
Sonia melihat Nael yang begitu sangat mencintai Caca. Dia berharap suatu hari nanti Tuhan akan memberikan Pria yang akan memcintai diri nya dengan tulus dan juga sepenuh hati.
…………………………………………………………………………
Di bagian packing.
Caca belajar dari Teh Mul tentang cara mengemas produk dengan baik. Disana juga dia bekerja bersama wanita packing yang lain nya.
"Hai. Kamu karyawan baru ya?" tanya salah satu wanita yang bernama Maya.
"Iya. Saya baru kerja hari ini," jawab Caca.
"Oh, pantes masih bingung dan grogi ya kemas barang nya. Oiya nama nya siapa?" tanya Maya.
Caca bingung, karena dia belum mencari nama samaran untuk diri nya.
"Nama saya. Hmm ... Nama saya itu ---" kata Caca terputus-putus.
"Nama nya Linda," jawab Teh Mul cepat.
"Hehe. Iya nama saya Linda," kata Caca mengangguk dan sedikit lega.
"Oh, Linda. Saya Maya, salam kenal ya."
__ADS_1
"Salam kenal juga," balas Caca.
Mereka berdua berjabat tangan. Maya kemudian pergi dan kembali ke meja nya untuk bekerja.
"Huft! makasih ya Teh," kata Caca.
"Sama-sama."
"Oiya, Teh. Kenapa bisa kepikiran kasih nama Linda?" tanya Caca.
"Ya. Dari nama tengah dan belakang kamu Lie Djuanda terus Teteh singkat aja jadi Linda. Hehehe," jawab Teh Mul sambil tertawa.
"Oh begitu, boleh juga. Haha," kata Caca tertawa.
"Iya. Nanti kita kasih tahu ke Pak Tris ya nama samaran kamu. Hihi," kata Teh Mul.
"Iya, Teh."
Mereka berdua tertawa dengan gembira.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Para penjahat di rumah Satya sedang di gegerkan dengan kemunculan orang misterius yang tidak di kenal. Orang tersebut memakai pakaian serba hitam dan membuat Satya menjadi geram.
"Drap drap drap!" langkah suara kaki.
Satya masuk ke dalam kamar nya dengan cepat lalu menuju sebuah kotak besi dengan beberapa kode di depan nya kemudian dia memutar bagian yang bulat itu agar pas dengan angka sandi nya.
"Klek!" Pintu brankas tersebut terbuka. Seketika mata Satya terbuka lebar hingga nyaris keluar.
"Siapa? siapa yang berani mencuri uang ku!" teriak Satya sambil melotot melihat ke dalam brankas nya yang isi nya telah kosong.
"Sony!" teriak Satya.
Mendengar teriakan Ayahnya Sony kemudian bergegas menghampiri Satya.
"Ada apa Pa? kenapa teriak seperti itu?" tanya Sony.
"Kesini kamu! lihat itu lihat! apa kamu yang ambil semua uang itu!" bentak Satya.
Sony menepis tangan Ayah nya.
"Jangan menuduh Sony tanpa bukti Pah! Sony tidak tahu tentang uang itu yang telah hilang," jawab Sony.
"Tapi cuma kamu yang tahu kode brankas ini Sony! cepat kembalikan uang nya! atau Papa akan menghajar kamu disini juga!" ancam Satya.
"Sumpah! Sony tidak mencuri uang itu!" teriak Sony menghempas tangan Satya dari kerah baju nya.
"Lalu siapa yang bisa membuka brankas ini? uang tersebut untuk membayar para berandal kemarin!" bentak Satya lagi.
Sony diam, lalu dia berpikir dan menerka-nerka siapa pelaku tersebut yang berani mencuri uang Papa nya itu.
"Drap drap drap!" suara langkah kaki menuju kamar Satya.
"Maaf, Bos! tadi kita habis mengejar orang misterius berbaju serba hitam yang baru saja keluar dari kamar Bos sambil membawa tas besar," ucap orang tersebut.
"Kenapa tidak di kejar? dia telah mencuri semua uang ku! saya tidak mau tahu, kejar sekarang atau kalian semua akan terima akibatnya! cepat pergi!" bentak Satya.
"Baik Bos!"
__ADS_1
Orang itu berlalu dan segera penjalankan perintah Satya.
"Bagaimana sekarang Pa?" tanya Sony.
"Pakai uang mu dulu," jawab Satya sambil berlalu keluar kamar.
"Si*l! itu uang yang aku kumpulkan untuk menikahi Caca. Dasar! awas saja pencuri itu!" ucap Sony kesal.
"Brak!"
Sony menutup pintu dengan kencang lalu keluar dengan hati yang menggerutu kasar.
………………………………………………………………………
Di Kantor.
Nael terlihat serius dengan pekerjaan nya, Sonia datang dan menghampiri Nael karena ada beberapa tugas yang belum dia pahami.
"Nael. Boleh minta waktu sebentar?" tanya Sonia.
"Iya, Sonia. Silahkan," jawab Nael.
"Ada beberapa yang saya tidak mengerti. Boleh tolong jelaskan tugas yang ini?" kata Sonia dan bertanya.
Nael mengerti karena Sonia belum mengenal perusahaan ini dan juga pekerjaan nya, yang Sonia tahu hanya sebatas teori.
"Begini saja. Lebih baik kita berkeliling produksi agar kamu bisa lebih mengerti tentang semua proses produksi ini," kata Nael memberi saran.
Lalu Nael mengajak Sonia untuk berkeliling produksi agar memudahkan Sonia mengerjakan tugas tersebut dengan melihat langsung ke lapangan.
"Baik lah, Nael."
"Ayo! kita jalan sekarang. Lebih cepat lebih baik," kata Nael antusias.
Nael tersenyum, seperti nya dia sangat antusias sekali ke lapangan karena sesuatu hal. Sonia mengerti dengan senyuman Nael tersebut.
………………………………………………………………………………
Di Kawasan Produksi.
Nael dan Sonia telah sampai di depan kawasan produksi. Mereka berjalan sesuai urutan dari Proses bahan baku dan proses pembuatan sebuah produk.
Semua mata memandang mereka, seolah olah mereka adalah seorang artis papan atas. Banyak diantara orang tersebut membicarakan Nael dan Sonia.
***
Tiba di tempat terakhir, Nael dan Sonia menuju kawasan pengemasan Barang jadi atau bagian Packing. Disana banyak para wanita yang sedang sibuk mengemas barang agar terlihat rapi dan akan di kirim ke gudang barang jadi setelah itu.
Kaki Nael melangkah masuk ke dalam tempat tersebut, seketika ada angin yang berhembus ke arah wajah nya. Begitu pula dengan Caca, seperti ada angin entah dari mana yang menghembus wajah nya juga.
Mereka seperti merasakan ada aura yang saling menarik. Jantung mereka berdua kemudian berdetak kencang. Caca bingung dengan kejadian ini.
Caca menoleh ke arah pintu masuk dan saat itu juga dia melihat sesosok pria yang sudah tidak asing lagi bagi nya.
"Itu, Nael!"
Sementara itu mata Nael sedang mencari-cari seseorang di antara kerumunan para wanita packing itu. Kaki nya melangkah pelan dan menatap satu persatu wanita yang bekerja di sana.
Caca lalu berdiri dan ingin sekali menghampiri Nael, namun Caca mengurungkan niat nya ketika melihat seorang wanita yang berada di belakang Nael.
"Itu Sonia!"
__ADS_1
Caca kembali duduk dan menutupi dirinya agar tidak dikenali oleh Nael yang mulai mendekati diri nya. Caca juga mengingat akan perkataan Pak Tris untuk selalu bersikap biasa dan menjaga jarak agar persembunyian nya tidak di ketahui oleh orang lain.
Bersambung.