
Di kawasan Produksi.
Nael berjalan menuju kawasan produksi untuk melakukan Stok Opname bersama Cindy. Mereka berjalan bersama menghitung barang barang yang ada di sana, semenjak tidak ada Caca, Cindy makin ingin mendekati Nael.
Untung saja Nael mengetahui sifat jahat Cindy, jadi Nael tidak terpengaruh dengan sikap genit dan sok kecantikannya tersebut. Karyawan Produksi melihat mereka dengan mata yang berbinar-binar.
"Wah cocok sekali, apa mereka pacaran? kemana ya neng Caca?"
Semua sontak sibuk membicarakan mereka. Nael tidak perduli dengan itu semua, dia hanya fokus pada pekerjaan nya dan dia juga ingin segera menyelesaikan nya.
***
Setibanya di Gudang Spare Part, Nael dan Cindy menemui Mas Karyo. Mereka kemudian mulai bekerja. Nael melamun seperti memikirkan sesuatu, ya dia ingat dimana dia menyelamatkan Caca, bekerja dan tertawa bersama dalam gudang ini.
Cindy melihat Nael yang sedang melamun lalu muncul sedikit niat untuk menggoda Nael. Dia lalu berlagak jatuh untuk membangunkan lamunan nya Nael
"Akhh!" teriak Cindy lalu berpura-pura jatuh dihadapan Nael.
Nael refleks menangkap Cindy, entah kenapa bayangan Caca yang selaku dipikirannya. Nael segera menjauhkan Cindy dari hadapannya.
"Terima kasih!" ucap Cindy berlagak manis.
"Sama-sama."
Nael hanya bersabar, dia ingin segera membongkar kedok nya Cindy tapi dia harus bekerja secara profesional.
Mas Karyo yang berada disana memperhatikan sikap bosnya yang begitu dingin terhadap Cindy. Mas Karyo lalu mengingat kejadian Caca yang terjatuh dan Nael yang menangkapnya. Pandangan Nael sungguh berbeda dengan hari ini.
***
Urusan Nael dan Cindy telah selesai di gudang spare part, mereka lalu kembali ke kantor dan mulai bekerja kembali. Hingga tak terasa bel pulang kemudian berbunyi.
Cindy bergegas merapikan meja nya lalu Cindy melihat Nael yang sedang sibuk mengerjakan tugas produksi.
Handphone Cindy berdering, kemudian Cindy pergi ke tempat yang sepi untuk menggangkat telepon nya. Cindy melihat staf keuangan yang sedang sibuk menghitung gaji, termasuk Lista dan Dewi.
Cindy kemudian berjalan diam-diam mengunjungi ruang HRD untuk membicarakan sesuatu dan sesampainya disana dia mengunci pintu lalu mengangkat teleponnya.
***
Di ruangan Nael.
"Cindy." Nael memanggil Cindy.
"Cindy." Panggil Nael lagi.
Karena tidak ada jawaban dari Cindy, Nael lalu keluar untuk menemuinya. Nael melihat meja kerja Cindy yang sudah rapih tapi tas nya masih berada di atas meja. Lalu Nael mencari Cindy untuk meminta laporan SO nya.
Nael mencari ke seluruh kantor, di bagian keuangan pun tidak ada Nael kemudian ke ruang HRD. Nael teringat sesuatu bahwa Pak Tris pernah bercerita kalo Cindy dan Pak Tono adalah penyusup Satya tersebut.
***
__ADS_1
Nael mendekati ruang HRD dia semakin penasaran dengan pintu yang tertutup rapat dan terkunci. Nael juga mendengar ada suara yang sedang berbicara di dalam.
"Om, hari ini Papa keluar dari penjara, saya sudah tidak sabar menyambut Papa pulang, aahh akhirnya sekian lama Papa bisa keluar juga dari penjara, Cindy rindu dengan rencana jahatnya, Cindy juga nggak sabar untuk nikmatin harta nya Caca, hahaha!" kata Cindy sambil tertawa.
Nael yang mendengar hal itu sontak terkejut, ternyata Cindy dan Sony adalah anak kandung dari Satya. Nael kemudian ingin memberitahu Pak Tris, tapi dia masih penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.
"Sabar Cindy sebentar lagi kamu akan merasakan hal itu, kamu kesini ada yang mengikuti tidak?" tanya Pak Tono.
"Tidak ada Om, semua sedang sibuk membagikan gaji dan sedang sibuk membuat laporan bulanan, sedangkan Nael yang polos itu sedang sibuk dengan laporan produksi yang biasa Caca kerjakan."
"Bagus, setidaknya kita bisa leluasa berbicara di sini, bagaimana dengan pengganti Caca? apa Nael sudah menyetujui untuk menambah orang baru?" tanya Pak Tono.
"Belum Om, dia sangat menyebalkan, dia tidak ingin posisi Caca digantikan oleh siapa pun. Benar-benar keras kepala tetapi Om, Nael sangat mudah sekali terpancing emosi, dia sekarang sedang membenci Caca. Hahaha," kata Cindy tertawa.
"Bagaimana dia bisa seperti itu? apa itu ulah kamu juga?" tanya Pak Tono.
"Ya Om. Nael membaca surat Caca yang sudah saya ganti, dia kemudian marah dengan hal itu. Hahaha."
"Nael benar-benar, gampang banget dia terpancing emosi."
"Mereka juga tidak menyadari wajah asli saya ini, dengan make up yang saya pelajari untuk mengubah wajah pun sangat berguna sekali, tidak ada yang menyadari saya adalah putri dari Satya."
Nael baru paham dan menyadari, ternyata Cindy yang telah mengubah surat Caca tersebut. Pantas saja kata-kata di surat Caca sangat lah kasar. Kenapa dia bisa berpikir Caca yang melakukan itu, dua kali sudah Cindy membuat Nael marah terhadap Caca.
Nael sangat kesal dengan Cindy dan Paman nya (Pak Tono). Nael lalu mendobrak pintu dengan sekuat tenaga agar pintu tersebut terbuka untuk menangkap mereka berdua.
"BRAK!"
Pintu kemudian berhasil terbuka, membuat Pak Tono dan Cindy terkejut. Mereka tak bisa berkutik, Nael lalu menarik Cindy untuk mengikutinya sementara Pak Tono bergegas melarikan diri.
"Lepas! lepasin saya bilang!" teriak Cindy.
***
Sementara itu Pak Tris, dan bagian keuangan sudah selesai dengan pekerjaan mereka dan membereskan meja untuk segera pulang.
Mereka dikejutkan dengan suara Cindy yang berteriak.
"Ada apa ya, berisik amat, siapa yang teriak teriak?" tanya Mba Dewi.
"Nggak tau Mba."
Beberapa saat kemudian Nael muncul dengan tangan yang menarik Cindy, disana banyak orang yang melihat Nael menarik paksa Cindy.
Seketika ruangan tersebut heboh dan bertanya tanya. Nael meminta Dewi untuk mencari dan memanggil Pal Tris dan Pak Heru untuk keruangannya sekarang.
Dewi dan Lista mengerti dia kemudian memanggil Pak Tris dan Pak Heru untuk menemui Nael di ruangannya.
Nael kemudian mendorong Cindy ke dalam, dia kesal karena telah di tipu dua kali oleh Cindy. Karena ulahnya Caca di pecat dan karena dirinya, Nael menjadi berpikir jahat tentang Caca.
***
__ADS_1
Tak lama kemudian Pak Tris dan Pak Heru telah sampai di ruangan Nael bersama Dewi dan Lista, mereka melihat Nael yang sedang marah sambil menahan Cindy untuk tidak melarikan diri.
Pak Tris menyuruh mereka yang berkumpul untuk segera bubar, termasuk Dewi dan Lista mereka pun mengerti.
"Lihat Pah! dia Cindy anak perempuan nya Satya. Benar begitu kan Cindy?"
Cindy mendadak terlihat diam. Ternyata pembicaraan nya terdengar oleh Nael, dia sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi.
"Iya, saya adalah Putrinya Satya. Kenapa apa kalian terkejut?" kata Cindy sambil tertawa.
Mereka yang mendengar hal tersebut tak menyangka, anak penjahat Satya ternyata berada di sekitar mereka. Nael berteriak dan memarahi Cindy sambil memukul meja.
"PRAK!"
"Diam kamu! berhenti tertawa! siapa lagi selain kamu dan Tono yang menyusup disini?" tanya Nael dengan nada yang meninggi.
"Cari saja sendiri!" Cindy melotot ke arah Nael.
"Tring tring!" Suara Handphone Pak Tris berdering, lalu Pak Tris mengangkat panggilan itu.
"Ya Hallo."
"Hallo! Pak darurat! persembunyian Nona Caca sudah di ketahui oleh para penjahat, mereka sedang menuju ke desa dimana Nona Caca berada sekarang!"
"Apa!" teriak Pak Tris.
"Benar Pak! informasi yang di dapat, mereka pergi bersama dengan Pak Satya langsung setelah keluar dari penjara."
"Dari mana mereka mengetahui dimana Caca berada?" tanya Pak Tris dengan cemas.
"Mereka mengikuti Sandy yang sedang mengirim pesan. Ada mata-mata mereka yang mengikuti Sandy Pak."
"Baiklah terima kasih. Tolong kirim semua penjaga kesana, nyawa Caca dalam bahaya."
"Baik Pak!"
Mereka yang mendengar hal tersebut seketika langsung panik dan cemas, mereka khawatir dengan keadaan Caca dan apa yang harus mereka lakukan sekarang, karena mereka belum siap dengan hal tersebut.
"Hahaha.. Hahaha.." Cindy tertawa dengan kencang.
"Bagaimana, apa kalian panik sekarang? Papa Satya memang hebat, dia tidak menunggu dan membuang-buang waktu untuk menjemput calon menantu nya itu. Hahaha. Beruntung sekali surat dari Caca ternyata bisa menjadikan petunjuk dimana dia berada sekarang."
Mereka semua nampak kesal. Pak Tris dan Pak Heru ingin pergi ke desa tersebut. Nael juga ingin ikut bersama mereka. Mereka kemudian langsung pergi bersama dengan Ahmad, dan meninggalkan Cindy sendirian.
Cindy berhasil lepas. Seseorang telah melepaskan nya, mereka lalu bergegas pergi dari tempat tersebut.
……………………………………………………………………………
Di Mobil.
Diperjalanan menuju desa, mereka terlihat cemas. Banyak sekali panggilan masuk dan panggilan keluar, semua bersautan tanpa henti. Mereka memberikan info tentang para penjahat yang sebentar lagi akan memasuki desa dan lain sebagainya.
__ADS_1
Semua hanya bisa berdoa semoga saja tidak ada hal yang buruk kembali terhadap Caca dan keluarga nya. Mereka juga kesal karena susahnya akses komunikasi ke desa tersebut, mereka hanya berdoa meminta keselamatan untuk Caca dan bisa datang tepat waktu.
Bersambung.