Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 45. Surat dan Buket Bunga


__ADS_3

Bel pulang telah berbunyi. Nael lalu menyuruh Caca untuk pulang dan melanjutkan kembali pekerjaan nya besok pagi.


"Sudah Carisa, kamu lanjutin besok pagi saja," kata Nael membantu membereskan pekerjaan Caca.


"Baik Pak." Caca mengangguk.


Nael lalu melihat kondisi Caca yang masih sedikit lemas dan berkata, "Saya antar kamu pulang ya, jangan naik angkot. Kamu seperti nya belum benar-benar sehat."


"Iya."


Nael kemudian bergegas merapihkan meja kerja nya dan memanggil Ahmad untuk pulang dan berkata, "Ahmad kita antar Carisa dulu ya."


"Siap Bos!" seru Ahmad layaknya seorang pengawal.


Mereka akhirnya pergi mengantar Caca pulang ke rumah terlebih dahulu.


***


15 menit kemudian.


Mobil Nael telah sampai di depan rumah Caca, Nael kemudian turun untuk mengantar Caca hingga masuk kedalam rumah dan sebelum itu dia berpesan kepada Caca, "Ini obat yang dari Dokter tadi. Kamu bawa ya, jangan lupa di minum."


Caca menerima obat tersebut lalu tersenyum dan berkata, "Terima kasih."


Nael membalasnya dengan senyuman lalu tak lupa dia mengatakan sesuatu kepada Caca, "Ya sudah, saya pulang ya. Titip salam untuk Ibu dan Nenek."


Caca menunduk dengan lemas dia menjawab perkataan Nael. "Ibu dan Nenek sudah pulang ke desa."


"Apa! sudah pulang? terus kamu sendiri?" tanya Nael sedikit cemas


"Iya." Caca kemudian mengambil kunci rumah dari dalam tasnya.


"Bibi Minarsih dimana?" tanya Nael kembali.


"Besok kesini." Caca lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Nael kemudian berbalik untuk pulang, dia terlihat cemas dan merasa takut terjadi sesuatu kepada Caca karena malam ini dia tinggal sendirian di rumah.


…………………………………………………………………………


Keesokan harinya.


Caca membuka matanya, badannya sudah sehat kembali, dia pun senang. Caca kemudian bergegas untuk mandi lalu memandang sekeliling rumahnya yang sepi karena tidak ada orang.


Setelah selesai berkemas Caca kemudian bergegas pergi mencari angkot ketika selesai mengunci pintu dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


Ahmad menurunkan jendela mobil lalu berkata kepada Caca, "Ayo Ca, naik ke mobil!"


Caca tersenyum senang lalu dia mengangguk dan tanpa basa basi langsung masuk ke dalam mobil Nael.


"Lumayan irit ongkos," ucap Caca dalam hati.


Mereka bertiga lalu berangkat ke kantor bersama. Nael lalu menatap Caca dan tak lupa menyapanya, "Pagi Carisa, kamu sudah sembuh?"


"Iya sudah Pak!" jawab Caca.


"Syukurlah."


Caca kemudian bertanya kepada Nael, "Kenapa kalian tiba-tiba menjemput saya?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa saya hanya khawatir kalo kamu pergi sendirian," jawab Nael.


Hati Caca sedikit tersentuh mendengar hal tersebut lalu dia membalas perkataan Nael, "Terima kasih."


"Sama-sama.


***


Tak lama kemudian mobil Nael masuk kedalam kawasan Perusahaan dan langsung menuju tempat parkir. Semua mata tertuju kepada Caca yang baru keluar dari mobil Nael, seketika semua orang pun menjadi heboh.


"Wah kenapa Caca bisa bareng sama Pak Nael?"


"Itu Caca ku kenapa turun dari sana?"


"Ah oppa."


Caca tidak memperdulikan hal tersebut, diapun masuk ke dalam kantor dan menuju ruangannya lalu tak lupa membuatkan kopi untuk Nael.


***


Tak lama kemudian Sonia datang. Nael senang dengan kedatangan Sonia tetapi tidak dengan Caca. Wajahnya seketika menjadi masam seasam cuka.


"Hai Ca." Sonia menyapa Caca.


"Hai juga."


"Kamu ada apa datang kesini? yu mari masuk!" ucap Nael sambil tersenyum kepada Sonia.


Sonia masuk kedalam ruangan Nael lalu emnajwab pertanyaan Nael, "Saya di ajak sama Papa untuk ikut rapat besar nanti siang. Saya di suruh Papa bareng kamu ke sana nya."


"Wah sama dong, saya juga nanti siang ikut kesana, oiya mana Om Bayu (Papa Sonia)?" tanya Nael.


"Papa sudah di sana," jawab Sonia.


Mereka berdua kemudian saling mengobrol di dalam seperti nya perbincangan mereka itu sangat seru sekali. Nael dan Sonia juga terdengar tertawa bersama hal itu lantas membuat Caca sedikit panas, dengan tangan menopang dagu dan bibir yang mengerucut Caca berkata sesuatu, "Ah makin lama makin deket aja."


***


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, Nael dan Sonia akhirnya keluar dari ruangannya. Mereka akan pergi bersama ke acara rapat tersebut, yang akan dimulai pada pukul 11.00 WIB.


"Ca, kita pergi dulu ya, dah!" ucao Sonia.


"Carisa, saya tinggal dulu ya," ucap Nael.


"Iya."


Nael dan Sonia kemudian pergi bersama sambil sesekali menatap Caca dan tertawa.


…………………………………………………………………………


20 menit kemudian.


Nael dan Sonia telah sampai ke tempat tujuan, mereka melihat begitu banyak para pengusaha yang telah berkumpul dan membicarakan masalah bisnis mereka masing-masing.


Ada yang aneh dengan mereka yang datang ke acara rapat tersebut. Banyak sekali yang membawa buket bunga, entah untuk apa dan untuk siapa bunga tersebut. Nael dan Sonia kemudian mencari Ayah mereka.


"Ah itu dia Papa sama Pak Heru dan Peter!" seru Sonia.


"Iya, mari kita kesana!" ajak Nael.

__ADS_1


Mereka pun berkumpul bersama dengan yang lainnya. Pak Heru kemudian memperkenalkan Nael kepada pengusaha yang lain, begitu pula dengan yang lainnya.


Beberapa saat kemudian para pengusaha dan pemimpin perusahaan mulai mengadakan rapat besar tersebut.


"Iya selamat siang semua nya," ucap salah satu pemimpin perusahaan yang mengadakan acara tersebut.


"Siang!" jawab mereka beramai ramai.


"Oke terima kasih, maksud saya mengadakan rapat ini adalah mengenai putri kandung Djuanda yang masih hidup, dimana kita bersyukur tentang hal itu," ucap Pak Bambang.


Nael langsung terkejut karena rapat besar ini ternyata akan membahas Caca putri Djuanda.


"Kita membicarakan mengenai perusahaan Djuanda, dimana perusahaan beliau masih belum aktif, tapi masih berjaya sampai sekarang, dikarenakan banyaknya saham dan amal dari Pak Djuanda kepada kita semua."


"Untuk itu mari kita menggabungkan kekuatan kita untuk membantu Nona Carisa Li Djuanda dalam menghadapi dunia bisnis dimasa mendatang, dan juga terhadap ancaman dari keluarga Satya, jangan sampai kejadian belasan tahun lalu terulang kembali."


Mereka kemudian membicarakan tentang masa depan Caca. Pak Heru kemudian paling banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan oleh semua pengusaha yang berada disana.


Dari kenapa Caca berada di perusahaanya? Kenapa Caca selama ini di sembunyikan? Caca sudah punya pacar atau belum? Dimana Caca tinggal sekarang dan lain-lain.


Hingga dua jam berlalu, kemudian rapat tersebut akhirnya selesai juga, mereka kemudian bubar kembali ke perusahaan mereka masing-masing.


Pak Heru terlihat memegang kepala nya, menandakan betapa pusing nya menghadapi pertanyaan yang begitu banyak tentang Caca.


Mereka pun tak lupa menitipkan surat dan buket bunga untuk Caca, bahkan ada yang tanpa ragu memberikan lamaran untuk Caca.


Nael lalu mengerti untuk apa mereka tadi membawa bunga, ternyata untuk diberikan kepada Caca. Raut wajah Nael langsung berubah sedikit asam, karena Carisa nya di perebutkan oleh banyak orang.


Sonia lalu menenangkan Nael yang sedikit memanas dan Sonia hanya tertawa melihat Nael yang cemburu. Karena kejadian tersebut Caca menjadi terkenal dimana-mana.


Pak Heru tak jadi kembali ke kantor, dia kemudian pulang kerumah karena sakit kepala, dan diantar oleh Pak Budiman.


Sonia juga pulang bersama Ayahnya sedangkan Nael dan Ahmad kembali ke kantor, karena jam masih menunjukkan pukul 14.30.


"Ayo Mad kita kembali ke kantor, dan jangan lupa nih, bawa semua buket bunga dan surat-surat ini!" ucap Nael dengan muka yang masam.


"Banyak amat bos, sampe penuh begini mobil sama bunga doank, buat siapa? udah kaya jualan bunga aja!" ucap Ahmad sedikit bertanya


"Buat Carisa!" Nael lalu masuk kedalam mobil.


Ahmad tersenyum dan menahan tertawa melihat bosnya itu cemburu sambil memasukkan semua bunga tersebut ke dalam mobil dia berkata dan melirik Nael. "Caca hebat banget, banyak pengagum nya, lihat tuh bunga nya sampe penuh semobil, bahkan sampe ke bangku depan bunga semua. Hm wangi lagi."


"Lihat tuh surat-surat buat Caca, wah sampai penuh satu tas," kata Ahmad meledek lagi.


"Sudah cepat jalan Ahmad!" kata Nael dengan nada meninggi.


"Iya Bos, iya."


Mereka pun berlalu dan menuju kantor untuk memberikan bunga tersebut kepada Caca.


***


Sepanjang perjalanan Nael hanya menunjukkan wajah cemberut nya, dia cemas dengan banyaknya pengajuan lamaran untuk Caca, Nael merasa akan tersaingi dengan yang lain.


"Bagaimana kalau Carisa ada yang mengambil?, bagaimana kalau Carisa menerima salah satu dari lamaran tersebut?, bagaimana kalau Carisa menyukai salah satu dari mereka, Akkh tidak boleh!!"


Ahmad melihat Nael begitu gelisah, dia hanya tersenyum melihat bos nya yang cemburu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2