
Nael dan Sonia melanjutkan keliling nya, Nael tak lupa mengenalkan Sonia beberapa produk yang di buat oleh perusahaan sembari matanya mencari-cari seseorang.
Nael kesulitan menemukan Caca, seragam dan banyak nya karyawan wanita membuatnya terus mencari dimana Caca berada. Sonia menenangkan Nael yang terlihat putus asa.
"Tenang Nael, kamu pasti akan menemukannya," kata Sonia sambil memegang bahu kanan Nael.
Nael mengangguk dan tersenyum kepada Sonia.
"Terima kasih," balas Nael.
Mereka kemudian berjalan menelusuri ruang packing. Tiba-tiba kaki Sonia tersandung sesuatu yang berada di bawah kakinya, seketika itu pula keseimbangannya berkurang tetapi Nael yang berada di dekatnya dengan sigap menangkap tubuh Sonia.
"Terima kasih!" kata Sonia sambil mengelus dada nya.
"Sama-sama," balas Nael.
Nael kemudian mengingat saat dia pertama kali menolong Caca ketika Caca akan tertimpah reruntuhan barang Nael lalu tersenyum.
"Terima kasih, Nael. Kamu sudah mengajak saya berkeliling pabrik, setidak nya gambaran tadi memudahkan saya untuk mengerjakan laporan ini," kata Sonia.
"Sama-sama."
Caca melihat semua itu, diapun kembali mundur dan bersembunyi. Sonia dan Nael memang sudah bertunangan dan Caca berpikir kalau makin lama hubungan mereka semakin dekat saja. Dia pun tidak ingin mengganggu hubungan tersebut.
Nael dan Sonia kemudian keluar dari tempat tersebut dengan sesekali mata Nael menatap ke belakang untuk mencari Caca, tetapi Nael kecewa karena dia tidak juga menemukannya.
***
Caca tersentak kaget ketika ada seseorang yang tiba-tiba menepuk pundak nya.
"Eh Maya," kata Caca sambil mengusap air mata nya dengan cepat.
"Linda. Kamu kenapa? lagi lihatin apa?" tanya Maya.
Caca diam dan tak menjawab, dia hanya melihat Nael dan Sonia yang telah melangkah jauh dan berlalu hilang dari pandangannya.
"Oh. Itu Bos muda kita namanya Pak Nael, anak nya Pak Heru dan yang di sebelahnya itu Sonia, tunangan nya Pak Nael. Mereka serasi ya," kata Maya.
"Iya," jawab Caca.
Tak lama kemudian. Jam istirahat berbunyi. Maya mengajak Caca untuk makan di kantin.
"Linda, kita makan yuk."
"Kamu duluan saja. Nanti saya menyusul," balas Caca.
"Oke, Linda. Saya duluan ya," kata Maya.
***
Caca melihat kondisi telah sepi lalu dia menangis seorang diri di sudut ruangan agar tidak ada orang yang melihatnya menangis.
Teh Mul ternyata melihat Caca yang sedang menangis di sudut ruangan. Teh Mul menjadi tak tega, dia merasakan perasaan Caca yang begitu sedih seperti seseorang yang sedang patah hati. Teh Mul lalu mendekati Caca.
Mul memegang pundak Caca yang sedang berjongkok dengan wajah yang dia sembunyikan dibalik kedua tangannya.
"Ca."
Caca lalu menoleh ke arah suara.
"Teh Mul," ucap Caca lirih.
Mul kemudian berusaha menenangkan Caca sambil mengusap-usap pundak Caca.
__ADS_1
"Sudah. Jangan bersedih, ingat jangan sampai penyamaran kamu diketahui oleh orang lain Ca."
Caca lalu mengangguk, dia pun berusaha kuat untuk menghadapi itu semua.
"Kita ke kantin yuk!, kita bisa ketemu sama Lista dan Mba Dewi," ajak Teh Mul.
"Ya Teh. Yuk," balas Caca.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju kantin untuk makan siang.
***
Di Kantor.
Ahmad datang membawakan makan siang untuk Nael, dia melihat Nael yang tengah termenung.
"Nael."
"Iya. Mad masuk," ucap Nael tidak bersemangat.
"Nih makan dulu," kata Ahmad sambil menaruh makanan di atas meja Nael.
Nael teringat ketika Caca makan berdua dengannya diruangan nya. Nael kembali murung. Ahmad tak tega melihat Nael yang kehilangan semangat lalu dia mencoba menghibur Nael.
"Eh, Bos. Coba nih lihat," kata Ahmad sambil mengeluarkan Handphone nya.
"Lihat apa Mad?" tanya Nael.
Ahmad lalu menunjukkan beberapa foto yang pernah dia ambil ketika Nael dan Caca berdua secara diam-diam.
Mata Nael seketika berkaca-kaca melihat foto tersebut seketika itu pula ingatan kembali mengenang masa-masa tersebut.
"Mad. Kirim foto nya ke saya ya," pinta Nael.
"Beres Nael," kata Ahmad sambil mengutak atik Handphone nya.
***
"Nael. Boleh pinjam Ahmad sebentar?" tanya Sonia.
"Boleh. Kamu ada perlu apa dengan Ahmad?" kata Nael kembali bertanya.
"Ini aku mau ke Bank sebentar jadi minta tolong Ahmad buat anterin ke sana. Sekalian mau makan siang," jawab Sonia.
"Oh begitu. Ya sudah silahkan. Ahmad, anterin Sonia ya, pakai mobil saja."
"Oke Nael. Siap, yu Sonia!" ajak Ahmad.
"Terima kasih Nael. Saya jalan dulu ya," kata Sonia.
"Iya."
Ahmad kemudian mengambil mobil di parkiran lalu pergi bersama Sonia.
Nael lalu pergi ke toilet dan tak lupa untuk mencuci tangan sebelum makan.
***
Caca melihat mobil Nael yang sedang melaju keluar dari kawasan perusahaan dan melihat Sonia yang berada di dalam mobil tersebut. Dia pun menjadi bertanya-tanya dalam hati.
"Pak Nael dan Sonia mau kemana? berdua doang lagi pergi nya? ah mungkin mereka mau makan siang bersama."
Caca mengingat sesuatu di dalam laci nya, dia kemudian bermaksud untuk mengambil itu dengan diam-diam, mumpung Sonia dan Nael sedang keluar kantor.
__ADS_1
"Teh Mul duluan aja ya ke kantin nya, saya lupa sesuatu," kata Caca sambil pergi dengan terburu-buru.
"Ya Ca."
***
Sesampainya di ruang kerja lama nya, Caca masuk mengendap-endap seperti pencuri sambil celingukan dan melihat sekeliling.
"Wah sepi, untung mereka sedang pergi keluar, kau juga si Ca kenapa foto itu harus disimpan disini lagi," kata Caca berbicara pelan mengoceh sendiri dan mengumpat sendiri.
Caca lalu menuju meja kerja nya itu yang sekarang menjadi meja kerja Sonia. Dia lalu mengambil kunci dari saku celana nya dan membuka laci tersebut.
Aksi Caca terlihat oleh sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan, orang tersebut mendekat perlahan untuk mengetahui siapa wanita yang mengendap-endap seperti itu.
Caca kemudian membuka laci tersebut dan mengambil sebuah kenangan yang tertinggal itu lalu melihatnya dengan seksama.
Caca menangis, dia kemudian melepaskan maskernya agar tidak basah terkena air mata dan membuka penutup kepalanya itu secara perlahan sehingga rambut indah nya perlahan terlihat.
Nael terkejut karena wanita yang duduk disana ternyata adalah Caca.
"Itu Carisa!" ucap Nael dalam hati.
Nael dengan segera menghampiri Caca yang masih duduk sedih di bangku tersebut, lalu memanggil nama Caca dengan lembut.
"Carisa."
Caca tersentak kaget mendengar suara yang tak asing lagi baginya, wajahnya seketika menoleh ke arah suara tersebut dan mendapati Nael yang sudah berada di sampingnya, lalu dengan cepat dia memalingkan wajah nya.
"Ah Pak Nael! kenapa dia tiba-tiba berada di sini? bukan kah dia telah pergi dengan Sonia tadi," ucap Caca dalam hati.
Caca kemudian mengusap air mata nya dengan cepat, lalu memakai kembali penutup kepala serta masker nya.
"Carisa," panggil Nael sekali lagi.
Caca terdiam dan bingung harus menjawab apa, dia seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Maaf, Bapak salah orang. Maaf juga saya seperti nya salah masuk ruangan," kata Caca bergegas pergi.
Caca lalu berusaha pergi secepat kilat, Namun gerakan Nael lebih cepat lagi, dia berhasil menggenggam tangan Caca yang ingin berusaha melarikan diri darinya.
Nael lalu menarik tangan Caca agar lebih dekat dengan dirinya. Tak butuh lama tubuh mereka akhirnya mendekat. Nael menatap wajah Caca yang tertutup masker dengan seksama. Caca tak berkutik dia terlihat panas dingin dengan tatapan Nael yang begitu penasaran.
"Benarkah ini bukan kamu Carisa?" ucap Nael sambil membuka masker dan penutup kepala Caca.
Caca tak bergeming. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dia menyesal, harusnya dia tidak datang kemari.
Nael tersenyum lebar saat melihat kalau wanita tersebut benar adalah Caca, wanita yang dia cintai. Tak lama kemudian tangan Nael tanpa ragu mendekap tubuh Caca dengan erat seperti orang yang lama tidak berjumpa saja.
"Pak, tolong lepas! jangan seperti ini. Bagaimana jika ada orang yang melihat?" ucap Caca sambil berusaha melepaskan pelukan Nael.
Nael tak mengindahkan ucapan Caca dia malah mendekatkan dan membenamkan wajahnya ke lekukan leher Caca. Nael merasakan aroma Caca kembali kemudian Nael tanpa ragu memberikan kecupan lembut di leher Caca.
Caca merasakan ada sesuatu yang hangat nan lembut menyentuh leher nya. Dia sontak terkejut dengan perlakuan Nael yang seperti itu, lalu dengan sekuat tenaga Caca mendorong tubuh Nael agar menjauh dari nya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan Nael, Caca lalu berlari keluar sambil menangis. dan tak lupa dia memakai masker dan penutup rambutnya kembali.
"Carisa!" teriak Nael.
Caca hanya berlari keluar dari tempat tersebut dan tak menoleh sedikit pun kepada Nael. Nael tertunduk sedih dan terdiam mendapati selembar foto yang tergeletak di bawah lantai.
Nael kemudian mengambil sebuah foto Caca yang terjatuh saat dia berontak tadi. Nael kemudian menyimpan foto tersebut dengan raut wajah sedih.
***
__ADS_1
Mereka tak sadar kalau ada sepasang mata yang telah melihat kejadian tersebut, lalu pergi menghilang tanpa jejak.
Bersambung.