Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 32. Caca Kembali ke Kota


__ADS_3

Sementara itu di kantor.


Mas Eko seperti biasa membersihkan dan merapihkan setiap ruangan yang berada di kantor. Ketika membersihkan meja kerja Cindy dan Caca,


Mas Eko melihat ada selembar kertas terjatuh dari meja Cindy.


Lalu Mas Eko mengambil kertas tersebut dan membaca nya sekilas. Wajah Mas Eko terlihat malu-malu.


"Ah surat dari Neng Caca, idih lancang amat saya baca-baca surat orang. Hihihi."


Dia pun menghentikan membaca surat tersebut dan menaruhnya di atas meja kerja Bos nya Nael dan melanjutkan kembali bersih-bersihnya.


***


Mba Dewi dan Lista datang ke kantor, mereka membicarakan mengenai bagaimana keadaan Caca di desa sana dan siapa orang yang melepaskan Cindy, padahal penjagaan di sini begitu ketat.


Mul menghampiri Lista dan Mba Dewi kemudian menanyakan apa yang terjadi kemarin. Lista kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada Mul.


"Bener-bener ya si Cindy, keterlaluan banget tuh anak. Kelihatannya mah cantik dan baik, tetapi hatinya busuk!" ucap Mul terlihat gemas.


"Iya Mul kita juga nggak nyangka, ya kan Lis?"


"Iya Mba."


Mereka mencemas kan Caca yang tidak ada kabar sama sekali dan Mul juga mencemaskan Ahmad yang sulit sekali untuk di hubungi.


Tak lama kemudian, jam masuk telah berbunyi. Mereka kembali bekerja sesuai dengan pekerjaan nya masing-masing.


………………………………………………………………………………


Di mobil yang di kemudikan oleh Ahmad.


Nael senang Caca bisa ikut dengan nya, setidak nya dia bisa melihat Caca setiap hari. Dia juga tak henti-henti nya memandangi Caca sedangkan Caca hanya fokus memandang keluar jendela mobil dan berpikir pasti akan sangat merindukan suasana desa dan keluarga nya.


Ahmad melihat Nael yang terus memandangi Caca dari Kaca spion dalam mobil dan mulai menghentikan lamunan Nael.


"Ehem! bentar lagi kita mau masuk ke kota nih," ucap Ahmad.


Mendengar ucapan Ahmad, Nael dengan secepat kilat memalingkan wajahnya dari Caca. "Oh begitu, cepet ya bentar lagi sampai."


Perjalanan yang cukup jauh membuat Caca mengantuk. "Hoa..am." Caca menguap sambil menutup mulut nya. Mata Caca sedikit merah dan berair, dia seperti nya kurang tidur karena kecapean.


Ahmad melihat Caca yang mengantuk dan melihat Nael yang diam saja tidak bisa berbicara apa-apa seperti orang yang membosankan. Lalu Ahmad berinisiatif membuka topik pembicaraan.


"Ca, nanti kamu mau kerja lagi di tempat lama atau gimana?" tanya Ahmad.


Caca melihat Nael yang antusias menunggu jawaban dari Ahmad. Caca kemudian meledek Nael sambil melirik Nael.


"Hem. Untuk apa saya kerja di sana lagi, saya kan sudah dipecat sama bos saya."


Mendengar jawaban dari Caca, Nael bingung harus menjawab apa. Ahmad kemudian membalas perkataan Caca.


"Oh iya ya. Kan kamu sudah di pecat, berarti nggak kerja di sana lagi yah. Ah sayang banget ya padahal disana kamu sepertinya sudah nyaman banget," kata Ahmad melirik Nael.


Caca mulai menahan tawa melihat wajah Nael yang mulai cemberut. Caca kembali membalas perkataan Ahmad, "Iya Mad. Disana juga bos nya galak, emosian dan marah-marah terus jadi bikin takut."


Nael tidak suka dengan pernyataan dari Caca, dia sedikit emosi dan akhirnya bersuara.


"Kapan kamu di pecat? mana bukti nya? apa surat pemecatan kamu sudah dikasih hah? siapa yang suka marah-marah?" tanya Nael sedikit kesal.


Ahmad dan Caca saling menatap, mereka lalu menertawakan Nael yang terpancing emosi.


"Hahahahaha." Caca tertawa dengan senang sekali.

__ADS_1


Mendengar Caca tertawa, Nael lalu terdiam dan berhenti marah. Dia melihat dan memandangi Caca yang sedang tertawa. Pandangan Nael tidak berhenti melihat Caca, dia tetap memandangi Caca yang begitu senang meledek nya.


"Kamu semakin cantik kalau tertawa," ucap Nael dalam hati.


Nael juga senang melihat Caca yang sudah kembali ceria lalu Nael mengerti kalo mereka hanya menggoda nya. Nael kemudian mengelitiki Caca karena terus saja menertawakan dan meledek dirinya.


"Rasakan ini, ini hukumannya karena kamu meledek dan menertawakan saya terus."


"Ampun Pak, jangan aduh geli. Hahahaha."


Mereka pun akhirnya tertawa bersama. Ahmad menghela nafas lega, setidak nya ketegangan diantara mereka sedikit mencair. Ahmad juga senang melihat mereka bercanda dan tertawa seperti anak kecil saja, dia pun diam-diam menganbil Foto mereka yang sedang tertawa bersama.


***


Tak lama kemudian suasana kembali hening, Caca dan Nael sudah selesai bercanda. Ahmad dan Nael dikejutkan dengan suara yang cukup keras, hingga mereka berdua terperanjat kaget.


"DUAK!"


Nael dan Ahmad serempak menegok kearah sumber suara itu dan ternyata kepala Caca terantuk ke jendela pintu mobil karena mengantuk.


"Aduh sakit!" kata Caca sambil mengusap kepala nya.


Caca kemudian bersandar kembali di jendela pintu mobil dan melanjutkan rasa kantuk nya tersebut.


Nael melihat Caca yang sangat mengantuk dan tertidur. Nael kemudian mendekati Caca dan menaruh kepala Caca ke samping bahu nya untuk bersandar. Caca lalu tertidur pulas.


Nael memandangi Caca dengan tersenyum lembut, tangan nya terus menahan tubuh dan kepala Caca agar tidak terjatuh hingga Nael tak sadar dirinya ikut tertidur pulas disamping Caca. Ahmad hanya bisa tersenyum melihat mereka yang tertidur bersama, kemudian dia kembali mengambil foto mereka secara diam-diam.


………………………………………………………………………………


Di kediaman Satya.


Cindy dan Sony menghampiri Satya, mereka seperti nya membicarakan hal yang penting.


Satya yang baru sampai cukup kesal dengan pertanyaan tersebut, dia menghela nafas lalu duduk sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja. "Itu semua gara-gara adik mu yang terlalu mikirin kepala bawah nya, tanpa berpikir menggunakan kepala atas nya."


Cindy geram mendengar jawabab dari Ayahnya itu, lalu menatap Sony dengan penuh emosi.


"Sony emang bener-bener keterlaluan, dulu bekerja di perusahaan Heru juga dia gagal karena selalu mengejar Caca dan sekarang? Arkh! gagal sudah menikmati harta Djuanda yang banyak tersebut."


"Itu bukan kesalahan Sony, itu semua gara-gara Nael dan keluarga nya yang memanggil warga desa untuk datang. Kalau saja tidak ada Nael, mungkin Caca sudah ..., ah kurang ajar!" ucap Sony ikut kesal.


"Nael juga dia terlalu banyak ikut campur urusan kita dan lagi Tris dan Heru si tua bangka itu, selalu saja melindungi Caca." Cindy lalu membantingkan tubuhnya ke atas sofa.


"Hm, sudah biarkan dulu Papa menikmati udara segar di sini, kalian jangan ribut terus. Ah andai saya Mama kalian masih hidup, setidak nya Papa bisa bersenang senang malam ini." Satya kemudian tertidur.


Cindy dan Sony kemudian mengingat ibu nya yang telah tiada karena bunuh diri. Mereka tampak semakin kesal.


***


"Drap drap darp!"


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang yang datang dan menghampiri mereka untuk menyampaikan sesuatu.


"Lapor bos, Nona Caca sedang menuju kota!"


Mata Satya sontak kembali terbuka lebar, dia kemudian tersenyum lalu tertawa. "Hahahaha ... hahaha ... bagus, Caca dan harta nya sedang menuju kepada kita."


"Apa yang akan kita lakukan Pa?" tanya Cindy.


"Kita akan buat hidup mereka tidak tenang, sampai mereka menyerah dan pada akhirnya Caca yang akan datang sendiri kesini!" jawab Satya sambil mengepalkan kedua tangan nya.


"Betul! dengan begitu Caca akan menjadi milik Sony Pa. Ah Caca begitu Cantik, indah nya tubuh mu begitu putih mulus dan aroma segar nya." Sony lalu memikirkan Caca sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Mereka bertiga sangat senang karena Caca akan kembali ke kota mereka memikirkan sebuah rencana sambil mengeluarkan tawa jahatnya.


…………………………………………………………………………………


Di Kantor.


Pak Heru dan Pak Tris sudah sampai di kantor, mereka bekerja sebentar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan setelah itu akan pulang ke rumah untuk beristirahat.


***


Sementara itu Mobil Nael baru memasuki Kota. Ahmad melihat Nael dan Caca yang tertidur, mereka saling bersandaran dan tangan Nael yang masih menahan Caca. Ahmad yang iseng kemudian mengambil foto mereka kembali sambil tertawa kecil.


Tak berapa lama kemudian telepon genggam milik Ahmad berbunyi, diapun melihat ke arah ponsel nya itu dan tersenyum, "Ah telepon dari Mul!"


"Halo".


"Hallo Ay, kamu sedang dimana?"


"Baru masuk Kota, bentar lagi sampai."


"Caca ikut nggak kesini?" tanya Mul.


"Caca ikut kok." Ahmad melihat Caca dan Nael.


"Asyikk, horeee!" ucap Mul dan teman-temannya.


Ahmad kemudian menjawab sambil berbisik, "Ya sudah jangan berisik ya, mereka berdua lagi bobo. Hihihi."


"Ah masa sih? ah jadi pengen lihat, Hihihi."


"Tenang udah di foto koq, Aku nyetir dulu ya bye."


"Ya hati- hati ya ayang beb, jangan lupa kirim fotonya, hihihi."


"Ya."


Ahmad lalu menutup panggilan dari Mul dan tersenyum senang sambil melirik ke arah Nael dan Caca yang masih tertidur.


***


Tak lama kemudian Nael dan Caca terbangun. Mereka saling memandang dan kemudian melihat dirinya yang saling berdekatan satu sama lain. Sontak Caca menjauhkan diri nya dari Nael. Nael pun melepaskan tangannya.


"Maaf Pak Nael, saya ketiduran."


"Ya tidak apa, saya cuma nahan kamu biar nggak jatuh."


"Terima Kasih, Pak."


"Carisa, bisa tidak jangan panggil saya Pak gitu?" tanya Nael.


"Apa donk? kamu kan bos."


"Ya Nael juga boleh."


"Nggak ah, nggak biasa panggil gitu."


"Ya sudah terserah kamu saja."


Tiba-tiba Ahmad menyela pembicaraan Nael dan Caca tanpa rasa malu, "Ayang, sayang, honey, my sweet, tinggal pilih aja mau yang mana."


Caca hanya menggelengkan kepala nya, tertanda tidak setuju dan Nael hanya menghela Nafas panjang. Ahmad tertawa melihat berdua mereka yang masih terlihat canggung.


Karena asyik mengobrol tak terasa sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Caca senang karena akan bertemu teman temannya dan akan memulai aktifitas nya kembali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2