
Nael bergegas menghampiri Caca yang terbaring lemah tak berdaya di atas kasur Sony. Nael bergegas mencari kain atau apapun itu untuk menutupi tubuh Caca agar tidak terlalu terbuka lalu menopang tubuh Caca agar duduk disisinya.
Nael kemudian membopong tubuh Caca yang sudah lemas untuk keluar dari kamar Sony, lalu berteriak memanggil Ahmad. "Ahmad ayo kita pergi dari sini. Cepat lah!"
"Baik, Nael!" balas Ahmad sambil bergegas turun ke bawah dan mengambil mobil.
Nael menuruni anak tangga sambil membawa tubuh Caca dengan langkah cepat namun berhati-hati lalu berlari segera untuk masuk ke dalam mobil yang sudah Ahmad siapkan dan membawa nya pergi dari sana.
Sandy merasa lega Nona nya berhasil di selamatkan kemudian menyerahkan Sony dan penjahat lainnya kepada anak buah Pak Firman lalu pergi bersama dengan pengawal yang lainnya untuk mengawal Nona muda nya tersebut sampai ketempat tujuan.
***
Nael sesekali menatap wajah Caca yang masih setengah sadar, kedua mata nya terasa berat untuk dibuka karena kelelahan dan juga efek bius yang diterimanya dari Sony.
Caca memanggil Nael dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Nael ... " hingga akhirnya mata Caca tertutup sempurna lalu badannya itu terjatuh di pangkuan Nael akibat tak sadarkan diri.
"Carisa!" teriak Nael.
Nael merasa cemas dan panik, karena Caca tak mau membuka matanya. Dia terus menerus memanggil nama Caca sesekali menepuk-nepuk wajahnya yang sudah pucat dan lemah itu.
Nael menopang tubuh Caca dengan kedua tangannya dan memperbaiki posisi Caca lalu membiarkannya tidur di pangkuan Nael.
Ahmad yang sedang mengemudi kemudian menyempatkan diri untuk bertanya kepada Nael, "Kita akan kemana Nael?" sementara Nael masih memikirkan sesuatu.
"Ahmad, kita bawa Caca ke rumah!" jawab Nael menatap dan mencium lembut puncak kepala Caca.
Nael lalu menatap wajah Caca kembali dan terlihat jelas diwajahnya rasa kelelahan dari perjuangannya dalam menghadapi Sony yang ingin merebut hak miliknya Caca. Keringat terlihat membasahi seluruh tubuh nya menggambarkan jika Caca berusaha mati-matian untuk melindungi kehormatannya.
Nael kemudian memeluk erat Caca dan menatap kembali wajah kekasihnya itu, terlihat air matanya yang masih mengalir dari kedua matanya. Nael mengusap air mata itu dengan tangannya dan juga keringat yang berada di wajah Caca hingga tanpa terasa Nael ikut menangis dan menitikkan air matanya ketika melihat cinta nya itu hampir saja di miliki oleh orang lain.
Nael kembali geram dengan Sony, terlihat kedua mata Nael yang memerah dengan wajah yang merah padam, hingga Ahmad pun tak berani untuk bertanya apa-apa kepada Nael.
"Jika saja ... jika aku terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi kepada mu Carisa. Jelas aku tidak akan bisa menerimanya," ucap Nael dalam hati.
Ahmad memacu kendaraan dengan kecepatan penuh berharap agar mereka cepat sampai ke rumah.
…………………………………………………………………………
Di mobil Polisi.
__ADS_1
Sony terdiam selama diperjalanannya menuju rumah baru di penjara, dia kembali mengingat kejadian tadi bersama Caca. Pikirannya diselimuti oleh beragam pertanyaan dari bagaimana Caca bisa bertahan dari nya begitu kuat. Apakah benar ucapan Nael yang mengatakan jika mereka saling mencintai. Apakah itu alasannya yang membuat Caca tak menyerah dan mempertahankan kehormatannya itu mati-matian.
Sony juga kembali kesal karena kebodohannya itu, kenapa dia tidak langsung membius Caca saja agar Caca tak memberontak kepadanya, dia malah hanya memikirkan kesenangan dari perlawanan Caca hingga akhirnya dia melewatkan kesempatan emasnya itu.
"Jika saja aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mungkin saja kau sekarang ini telah menjadi milik ku seutuhnya Caca!" teriak Sony dengan kesal.
Sony lalu meninju sofa mobil yang berada di depannya dengan kedua tangan yang masih terborgol, sontak kejadian itu membuat para polisi di dalam menatap Sony dengan tajam.
"Hei orang jahat! tidak tahu malu! jangan marah-marah disini atau kami tidak akan segan-segan membuat wajah tampan mu itu menjadi gemuk tak beraturan!" bentak petugas itu dengan sesekali menampar wajah Sony.
Sony tak mengindahkan ucapan dan perlakuan dari petugas tersebut, dia hanya diam dengan mata memerah dan hati yang sakit dia malah menambah dendam dan kebencian yang mendalam kepada Nael.
…………………………………………………………………………
Di Rumah Nael.
Pak Tris datang kerumah Pak Heru ketika mendengar Caca di culik, dia menangis dan cemas karena Caca yang telah dianggap sebagai putrinya sendiri itu sedang mengalami masalah.
Pak Tris lalu mendekati Pak Heru dengan raut wajah cemas bercampur aduk dengan rasa sedih dan bertanya kepada Heru sahabatnya, "Heru, bagaimana dengan Caca, apa Nael dan para penjaga berhasil membawa Caca kembali?"
Pak Heru menenangkan Pak Tris yang terlihat sedih dan khawatir. "Tenanglah Tris, Nael dan penjaganya Caca berhasil membawa Caca dari sana dan sedang dalam perjalanan menuju kesini."
Pak Tris akhirnya bisa bernafas lega ketika mendengar jawaban dari sahabatnya itu, mereka kemudian menunggu sampai Nael dan Caca datang ke rumah. Begitu pula dengan para tamu undangan dan teman-teman Caca yang masih tetap bersikukuh untuk tidak pulang karena mereka ingin menemani Pak Heru dan menunggu hingga Caca dan Nael kembali.
"Brum brum!"
Tak lama kemudian penantian mereka akhirnya berakhir ketika mendengar suara langkah kaki Sandy dan juga rombongan pengawal Caca yang telah datang dan meminta untuk para tamu undangan yang hadir agar tidak berkumpul dan memberikan jalan untuk Nael.
"Minggir semua! tolong untuk tidak berkumpul dan memberikan ruang sebentar!" teriak Sandy.
Mereka yang berkumpul lalu menurut dan mulai memberi jarak seperti membuat jalan setapak untuk Sandy. Beberapa saat kemudian terlihat Nael yang sedang berlari kedalam rumah. Mereka melihat Nael berlari dengan tergesa sambil membopong tubuh Caca yang masih tak sadarkan diri.
"Caca!" teriak Pak Tris dan teman-teman Caca secara bersamaan.
Mereka syok melihat kondisi Caca yang terlihat begitu memprihatinkan, nampak dari wajah mereka yang terlihat cemas dan khawatir. Nael berjalan diantara banyak nya kerumunan lalu membawa nya ke sofa di ruang tamu.
Saat ingin meletakkan tubuh Caca Nael melihat kesekelilingnya yang begitu ramai dia terdiam sejenak.
"Ah tidak jangan menaruh Caca disini terlalu banyak orang," ucap Nael dalam hati.
__ADS_1
Nael mengurungkan niat nya dan kembali membopong tubuh Caca untuk naik ke atas menuju kamar pribadi nya.
Nael meminta Bibi Lila (Kepala pelayan rumah Heru) dan juga Valen untuk ikut bersamanya ke kamar pribadinya.
"Valen dan Bibi Lila tolong ikut saya ke kamar sebentar dan tolong telepon dokter kesini!" pinta Nael lalu bergegas membawa tubuh Caca ke kamar pribadinya.
Valen dan Bibi Lila mengangguk mengerti, mereka lalu mengikuti Nael dari belakang. Mereka menaiki anak tangga satu persatu.
Nael nampak tak mementingkan rasa lelahnya itu, dia terus membawa tubuh Caca untuk naik ke kamarnya yang berada atas sana terlihat sedikit keringat membasahi tubuh Nael. Dia berpikir perjuangan nya itu tak sebanding dengan perjuangan Caca saat melawan keberingasan dari Sony.
………………………………………………………………………………
Sementara itu.
Satya yang sedang berada di luar kota sedang tertawa senang karena bisnis ilegalnya berhasil dan juga berhasil mengumpulkan uang dengan jumlah yang sangat banyak Satya lalu berencana untuk menjalankan rencana besar nya kembali dengan hasil uang haramnya tersebut.
"Jual beli senjata ilegal, hasil memeras dan juga bisnis narkoba ini telah sukses dan mendapat untung besar kali ini, akhirnya aku bisa menjalankan rencana besar untuk menculik Caca kembali untuk menghadiahkan nya kepada Sony." Satya tertawa kembali.
Hatinya sangat senang hingga salah satu anak buah nya yang tiba-tiba masuk ke dalam dengan nafas tersengal-sengal dan membawa kabar tidak baik yang membuat ekspresi Satya seketika berubah 360 derajat.
"Maaf Bos besar! Bos muda di tangkap polisi!" teriak anak buahnya itu.
"Apa! bagaimana bisa!" teriak Satya kemudian menghampiri anak buahnya yang membawa pesan itu.
Satya lalu geram ketika mendengar penjelasan dari anak buahnya tersebut. Nafasnya begitu menggebu menahan emosi.
"Dasar anak tidak berguna, dia malah tidak mendengarkan perintahku!" ucap Satya kesal menahan amarah.
"Rusli!" teriak Satya memanggil anak buahnya.
Tak lama kemudian Rusli datang menghampiri Satya. "Iya Bos! ada apa?" tanya Rusli.
"Kita pulang sekarang juga untuk menjemput Sony di penjara!" perintah Satya.
"Baik Bos!" ucap Rusli sambil pergi dan menyurus semuanya untuk pulang.
Pikiran Satya kembali diliputi amarah, dia tanpa ragu meninju apapun yang berada di sekitarnya entah berapa banyak barang yang telah dirusak oleh nya, dia tidak peduli dan kembali memaki semua orang dengan mulut yang terus menerus mengeluarkan kata-kata kasar.
*
__ADS_1
*
Bersambung.