Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 94. Pingsan


__ADS_3

"Bagaimana Heru, apa semua bisa di hubungi?" tanya Pak Tris.


"Tidak semua Tris, hanya beberapa saja yang bisa datang. Bagaimana dengan orang mu, apa bisa datang juga?" balas Pak Heru kemudian bertanya.


"Hanya sedikit, mungkin karena mendadak mereka tidak sempat kesini," balas Pak Tris.


Mereka lalu terdiam dan menunggu semua orang yang bisa datang untuk mengikuti pertemuan tersebut.


Pak Tris yang sedang cemas kembali bertanya kepada sahabatnya. "Heru, apa Nael dan Caca akan datang ke kantor hari ini?"


Pak Heru menjawab pertanyaan Pak Tris dan dia ikut cemas melihat raut wajah sahabatnya yang terlihat pucat. "Mereka akan datang, sepertinya agak siangan Tris. Kau kenapa, wajahmu pucat sekali. Kau terlihat tidak sehat, mari sini kamu duduklah terlebih dahulu atau kita tunda saja pertemuan ini."


Pak Tris menolak, dia tidak akan tenang sebelum memberitahu informasi ini kepada semua orang. "Tidak Heru aku hanya sakit kepala biasa, aku tidak akan pergi istirahat sebelum memberitahukan semuanya kepada kalian. Nael dan Caca juga harus mengetahui info ini."


"Baiklah Tris aku tidak akan melarangmu, tetapi ijinkan aku membantumu. Aku akan meminta Budiman membawakan obat dan makanan untukmu. Nael dan Caca biar aku saja yang memberitahu mereka nanti jika rapat ini sudah selesai." Ucap Pak Heru.


Pak Tris mengangguk, dengan dibantu oleh sahabatnya dan Sandy, Pak Tris akhirnya duduk dan merebahkan sedikit tubuhnya. Pak Heru kemudian meminta Pak Budiman untuk mengambilkan obat di dalam mobilnya.


***


Tak berapa lama kemudian satu persatu orang tersebut telah berkumpul, mereka pun memulai pertemuannya.


"Baiklah Tris, hanya sebanyak ini yang bisa hadir. Sekarang beritahu tentang kecemasanmu itu kepada kami semua!" pinta Pak Heru.


Pak Tris menatap satu persatu orang dihadapannya dan mengangguk mantap lalu mulai membahas apa yang sudah dia ketahui.


"Heru, aku tidak menyangka jika kekuatan Satya begitulah besar. Dia mempunya banyak anak buah dimana-mana. Yang kucemaskan sekarang adalah bagaimana jika mereka sampai mengerahkan semua penjahat itu di hari pernikahan Nael dan Caca."


Pak Tris kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya, dia memberitukan informasi lain tentang Satya kepada semua yang hadir dan juga tentang kebebasan Sony di bulan depan. Mereka yang berada di dalam ikut cemas dan khawatir, mengingat mereka juga adalah bagian dari Djuanda Grup. Salah satu dari mereka bertanya, "Kau tahu semua informasi ini darimana Tris?"


Pak Tris awalnya ingin merahasiakan Cindy tetapi dia juga tidak ingin menyimpan rahasia ini terlalu lama. "Cindy, putri Satya yang memberitahuku tentang semua informasi ini. Wanita itu mengajak ku untuk bekerja sama."


Semua terkejut, terlebih lagi Pak Heru. Dengan sedikit keraguan dia membalas perkataan Pak Tris. "Cindy? bagaimana kita bisa mempercayainya Tris? kita tidak boleh bekerja sama dengannya. Entah apa rencana dia, aku takut wanita itu hanya bersekongkol untuk menjebak kita semua."


Pak Tris terdiam, kecurigaan semua orang disana bukan tanpa alasan. "Tapi Heru, kali ini aku mempercayainya."


Semua yang hadir disana berbincang satu sama lain dan menolak untuk percaya. "Tris ... Cindy sangat berbahaya, jika benar dia ingin mengajak bekerja sama denganmu, bukankah wanita itu sungguh berani. Dia saja berani mengkhianati ayah kandungnya sendiri, lalu bagaimana dengan kita. Aku takut ada maksud tersembunyi dari Satya, mungkin dia memang dikirim kesini untuk memata-matai kita dan juga ingin mengorek informasi tentang Djuanda Grup."

__ADS_1


Pak Tris menghela nafas, pertemuan tersebut sepertinya sedikit bermasalah. Mereka semua menjadi gaduh, beberapa argumen pro dan kontra di lontarkan bersamaan dalam satu ruangan tersebut mengenai Cindy.


"Tris lebih baik kita sudahi pertemuan ini, kau juga terlihat kurang sehat," pinta Pak Heru.


Pak Tris mengangguk. "Baiklah kita akan membicarakan masalah ini lain kali."


Pak Heru kemudian menyudahi perbincangan kali ini dan meminta semua yang ada disana untuk meninggalkan tempat tersebut.


Tak butuh waktu lama, tempat itupun telah sepi. Pak Heru menatap semua orang yang telah pergi dan berkata, "Tris mereka telah pergi, tetapi kita masih belum mendapatkan kepastian atau kesimpulan dari pertemuan kali ini. Mereka seperti kehilangan kepercayaan kepada kita karena takut."


Pak Tris mengangguk. "Ya Heru ini salahku terlalu mendadak mengadakan pertemuan ini dan mengenai Cindy, ku mohon percayalah pada wanita itu untuk sekarang ini. Kita sangat membutuhkan informasi mendalam tentang Satya."


Pak Heru menoleh dan menatap Pak Tris. Belum sempat dia membalas perkataan itu, Pak Heru melihat keadaan Pak Tris yang melemah. Dia melihat Pak Tris yang sedang memegang pelipis kepalanya dan tak lama kemudian Pak Tris terkulai lemas tak sadarkan diri.


"Tris!"


"Pak Tris!"


Pekik Pak Heru dan Sandy bersamaan, lalu berusaha membawa tubuh lemas itu kesuatu tempat.


"Ya Pak Heru!" sahut Pal Budi dengan lantang.


"Ambil mobil dan segera kita ke rumah sakit!" perintah Pak Heru.


Tak lama kemudian mereka membawa tubuh pria lemah tersebut masuk ke dalam mobil, dengan segera Pak Budiman menginjak pedal gas membelah jalanan Ibu Kota menuju rumah Sakit.


"Tris ... sadarlah!" ucap Pak Heru sesekali menatap wajah Pak Tris, dengan wajah cemas dia berharap tidak terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu.


***


Sementara itu Nael mendapatkan kabar jika Pak Tris masuk rumah sakit, diapun memutar haluan dan mengurungkan niat nya untuk pergi ke kantor.


Dia lalu berkata kepada supir setia yang berada di depannya itu dan memberi perintah dengan segera, "Ahmad! Cepat putar balik, kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Oke Bos!" patuh Ahmad lalu memutar haluan.


Caca terkejut mendengar permintaan Nael, dengan perasaan cemas Caca mulai bertanya, "Kenapa kita ke rumah sakit Nael, siapa yang sakit?"

__ADS_1


Nael menatap Caca. "Pak Tris pingsan tak sadarkan diri, sekarang beliau sedang dalam penanganan di rumah sakit."


"Pak Tris!" ucap Caca begitu terkejut, dia menatap Nael dan bertanya kembali, "Kenapa Pak Tris bisa pingsan? apa yang terjadi kepadanya?"


Nael menenangkan Caca dan menjawab pertanyaannya itu, "Aku juga tidak tahu Carisa, tunggu hingga kita tiba di rumah sakit ya."


Caca menangguk dia berusaha menenangkan dirinya, dia memeluk tangan Nael dan berharap tidak terjadi sesuatu kepada Pak Tris.


…………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


"Bos, apa yakin bos mau mengeluarkan Sony dari penjara? apa Bos tidak takut Sony memberontak seperti Cindy?" ucap Rusli sambil menyerahkan berkas pembebasan Sony.


Satya mengambil berkas tersebut dan menatap wajah Rusli yang sedikit gemetar. "Kenapa harus takut, aku hanya membebaskan dia satu hari saja."


Rusli menatap aneh wajah Satya, "Maksud Bos?" tanya Rusli memberanikan diri.


Satya tertawa. "Kau pikir aku ini bodoh harus membebaskan Sony begitu saja dari penjara? dia hanya ku bebaskan satu hari dan setelah itu dia harus mendekam kembali di dalam penjara."


"Jadi Bos berbohong kepada Sony?" tanya Rusli.


Satya mengangguk pelan dan menarik salah satu ujung bibirnya itu lalu berdiri dan menjawab pertanyaan anak buahnya. "Cih! Rusli ... Rusli ... jika aku membebaskan Sony selain harga jaminan yang sangat besar terbuang percuma begitu saja, bagaimana aku bisa bersenang-senang dengan istriku nanti." Satya tertawa lalu melempar berkas tersebut tepat di wajah Rusli.


Rusli yang bergetar dengan cepat mengutip surat-surat yang berserakan di bawah kakinya, lalu berdiri hendak pergi meninggalkan Satya.


Baru satu langkah kakinya menginjak bumi, Satya menahan Rusli dengan satu tangannya. "Ingat Rusli, berita ini jangan sampai bocor. Jika bocor kau pasti tahu akibatnya!" Satya mengancam Rusli.


Rusli mengangguk cepat dan berusaha menelan ludahnya yang tercekat. "B-baik Bos!" lalu pria ini pergi dengan segera.


Di dalam hatinya terselip ketakutan, dengan langkah dan wajah penuh pasrah dia bergumam sendiri dalam hati. "Jika dia sangat keji terhadap darah dagingnya sendiri, lalu apalah artinya nyawa kami dimata Bos yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, hanya tinggal menunggu waktu saja kami akan dihadapkan oleh kematian. Bos besar ini entah kapan ada yang bisa menghentikannya, kami semua terjebak disini."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2