Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 88. Penolakan Nael


__ADS_3

"Cetrek!"


Pintu ruangan itu dikunci dan tertutup rapat.


Nael berjalan segera untuk mendekat lalu merapatkan telinganya di balik daun pintu untuk mengetahui masalah penting apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Apa yang mereka ingin bicarakan di dalam sana apakah begitu penting hingga menunggu semua karyawan kantor pulang terlebih dahulu," gumam Nael dalam hati.


***


Di dalam ruangan.


"Oke Tris semua sudah berkumpul, sekarang mulailah ada hal penting apa mengenai Caca?" tanya Pak Heru memulai pertemuan.


"Heru, Satya berulah kembali!" balas Pak Tris.


"Satya! berulah apa lagi kali ini dia?" tanya Pak Heru sedikit emosi.


"Dia ... dia menginginkan Caca agar menjadi miliknya!" balas Pak Tris dengan nada bergetar.


"Apa!" ucap Pak Heru begitu terkejut.


Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut syok dan marah mendengar hal tersebut, tak terkecuali Nael yang sedang menguping pembicaraan mereka di luar.


"Deg!"


Terasa seperti ada sambaran petir yang menusuk hati Nael saat mendengar perkataan tersebut. Nael seketika geram dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, dengan menahan amarah dia kembali mendengarkan pembicaraan tersebut.


"Benar Heru, Satya telah mendekati Caca sewaktu pulang dari sidang Sony dan orang keji itu menyampaikan hal yang tidak pantas kepada Caca, hal menjijikan dan kotor kepadanya."


"Satya, dia benar-benar sudah sakit jiwa! beraninya dia mengatakan hal itu kepada Caca. Apa dia tidak malu dengan umurnya yang sekarang itu. Aku benar-benar tidak habis pikir."


"Benar Heru, dan kabarnya lagi Satya yang akan turun tangan sendiri untuk menculik Caca. Dia berniat menjadikan Caca sebagai pelampiasan nafsunya karena penolakan Felicia di masa lalu. Dan lebih parahnya lagi dia mengatakan itu semua secara terang-terangan kepada Caca dan juga ingin menjadikan gadis itu sebagai partner ranjangnya. Bukankah itu sangat menjijikan Heru, bagaimana nasib Caca jika itu benar-benar terjadi." Pak Tris terdengar seperti menahan amarah.


"Dasar manusia laknat! tak puas dengan menginginkan harta Djuanda dia menginginkan putrinya juga. Itu tidak bisa dibiarkan Tris, kita tidak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi. Caca adalah putri sahabat kita Caca juga akan menjadi menantu ku, menantu keluarga Chandra Putra bagaimana pun juga kita sudah berjanji untuk menjaganya apalagi Nael dan Caca sudah saling mencintai. Apa reaksi Nael jika mendengar hal ini, aku tidak bisa membayangkannya."


"Tenang Heru, Nael belum mengetahuinya. Itulah yang ditakutkan oleh Caca, dia begitu mengkhawatirkan keselamatan Nael dan meminta kita merahasiakan ini semua darinya."


"Benar, Nael jangan sampai tahu. Aku takut dia akan terpancing emosi dan langsung menghadapi Satya sendirian, itu sangat membahayakan bagi dirinya sendiri."


"Benar Heru, sekarang kita akan membahas penjagaan dan keamanan untuk mereka berdua karena Satya juga mengincar Nael karena telah berani mendekati dan mempunyai hubungan dengan Caca."


***

__ADS_1


Di depan ruangan.


Nael termangu mendengar itu semua, akhirnya dia mengerti mengapa Caca tidak ingin dirinya mengetahui masalah yang terjadi.


"Carisa ... Masalah sebesar ini kenapa kalian semua harus merahasiakannya dariku?"


Nael kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut dan kembali menuju ruangan kerjanya dengan terus menahan amarah serta berusaha agar tetap tenang.


"Apakah aku begitu lemah hingga kalian harus melindungi aku seperti itu. Apa kamu tidak percaya kepada ku Carisa, bahwa aku juga bisa melindungi mu dari orang jahat itu."


Sepanjang jalan Nael selalu mengumpat di dalam hati hingga dadanya terasa sesak karena menahan perasaan kesal hingga sampailah dia di depan ruang kerjanya, Nael menghentikan langkah lalu terdiam menatap gadis pujaannya itu dari kejauhan.


"Apa kamu takut aku akan celaka? dasar bodoh! kamu pikir apa bedanya jika aku tahu atau tidak mengenai masalah ini, Satya akan tetap mencelakaiku bukan? Aku tidak takut Carisa! apa kamu tahu, aku lebih takut jika kehilangan dirimu. Aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi apalagi jika kau sampai jatuh ke pelukan laki-laki biadap itu. Sampai mati pun aku tidak akan rela."


Nael mendekati Caca yang sedang sibuk dengan pekerjaannya lalu masuk ke dalam ruangannya dan menyempatkan diri memanggil nama wanita dihadapannya itu sekali dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Carisa ...."


Caca seketika menoleh lalu berdiri dan melihat Nael yang sedang duduk, dia pun bertanya untuk memastikan sesuatu. "Nael apa kamu memanggilku tadi? apa yang terjadi, kamu habis darimana?"


Nael menatap Caca dengan perasaan kesal dengan wajah dingin dia membalas pertanyaan tersebut. "Tidak, cepatlah kembali ke meja kerjamu dan jangan ganggu aku. Mau pergi kemana itu adalah urusanku kamu tidak usah ikut campur!" bentak Nael lalu menatap lurus ke arah laptop yang berada di hadapannya.


"Deg!"


Caca sontak terkejut ketika Nael membentaknya, Caca merasa aneh dengan tingkah bosnya itu yang tiba-tiba berubah menjadi dingin, dia kemudian berbalik dan memilih untuk tidak mengganggu Nael yang sedang bekerja.


"B-baiklah aku pergi."


Caca menunduk dan kembali murung, dengan perasaan sedih dia keluar dari ruangan Nael untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Blam!" Caca menutup pintu.


Melihat ekspresi wajah Caca yang sedih dan juga murung, Nael jadi merasa bersalah dia kemudian memarahi dan memaki dirinya sendiri.


"Cih! dasar Nael kau ini benar-benar pria bodoh! sudah tahu wanita itu sedang tertekan karena masalah Satya, kau malah menambah beban pikirannya. Akh dasar otak bebal." Nael kemudian menutup laptopnya dan pergi ke meja kerja Caca.


"Carisa."


Nael berdiri di samping Caca lalu mengambil tugas yang dia berikan tadi tetapi Caca menghentikan Nael yang ingin mengambil tugasnya dan berkata, "Nael, laporan ini belum selesai, tunggu lah sebentar lagi. Nanti aku yang akan antar ke meja mu."


Nael tak mengubris perkataan Caca, dia berjalan masuk ke dalam ruangannya dan menaruh semua tugas itu di atas meja lalu kembali menghampiri Caca.


"Maaf."


"Maaf untuk apa?" tanya Caca dengan sedikit kebingungan.

__ADS_1


Nael tersenyum kemudian membalas pertanyaan Caca, "Maaf karena sudah memarahi dan membentak kamu tanpa alasan."


"Tidak apa, terus bagaimana dengan tugas itu, semuanya belum selasai?" balas Caca dan bertanya.


Nael memegang kedua pundak Caca dan menatap wajah gadis itu dengan lekat, "Dilanjutkan besok pagi saja, sekarang ayo kita pulang ke rumah."


Caca menolak permintaan Nael dan menunggu seseorang untuk memberikan jawaban. "Tapi aku harus tunggu Pak Tris dan Pak Heru terlebih dahulu agar mereka bisa menentukan aku harus tinggal kemana," ucap Caca.


"Benar!" ucap Pak Tris tiba-tiba yang datang menghampiri mereka berdua.


Melihat Pak Tris dan Pak Heru datang Caca merasa lega lalu diapun bertanya, "Pak Tris, sekarang Caca harus tinggal dimana?"


"Pulang dan tinggal di mess!" jawab Pak Tris dengan tegas.


Nael tidak menyukai jawaban tersebut, dia memberanikan diri menolak jawaban dari Pak Tris. "Kenapa harus di mess? bukankah tidak ada masalah serius? Caca akan tinggal bersamaku dan dirumahku!" ucap Nael tak kalah tegas.


Melihat anaknya yang bersikukuh dan berani menentang Pak Tris, Pak Heru akhirnya angkat bicara. "Caca harus di mess dan mengikuti perintah dari Pak Tris disini dia aman dan bisa belajar, harap kamu mengerti Nael."


Nael menatap kedua orang tua di hadapannya itu kemudian berusaha memancing mereka untuk berkata jujur kepadanya. "Aman dari apa? bukankah masalah Sony sudah selesai, apalagi yang harus ditakutkan, menjaga Caca dengan ketat seperti itu apakah ada masalah yang sangat serius?"


Mereka lalu terdiam, tetapi Caca membalas perkataan Nael, "Nael kamu jangan seperti itu mereka adalah orang tua, mereka melakukan semua itu demi kebaikan."


Nael menatap Caca dengan menahan amarah dia membalas perkataan Caca, "Demi kebaikan apa? kita sudah bertunangan hanya tinggal menunggu hari jadi pernikahan kita berdua, kenapa harus takut. Atau kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku? aku tidak mau tahu pokoknya Caca harus tinggal bersama ku!" Nael lalu berkemas dan menarik Caca agar pergi bersamanya.


"Nael!" teriak Pak Heru.


"Sudah lah Heru, biarkan saja dahulu." Pak Tris menenangkan Heru.


"Anak itu keras kepala sekali Tris, apa dia tidak sadar kalau aksinya itu bisa mengundang bahaya, bagaimana kalau Satya sampai tahu jika mereka tinggal serumah dan bagaimana rumitnya masalah yang berada diluar sana jika itu terjadi."


"Tenang Heru memang salah kita yang tidak memberitahukan tentang semua masalah ini kepada Nael, sekarang lebih baik kita pikirkan cara lain," balas Pak Tris.


Pak Heru menghela nafas dan memijat kepalanya yang sakit. "Cara apalagi Tris, aku pusing sekali."


"Kau pulang beristirahatlah, biar aku yang akan pikirkan," balas Pak Tris menepuk pundak sahabatnya itu.


Pak Heru mengangguk dan berkata, "Aku akan pulang terlebih dahulu dan membujuk Nael agar mendengarkanku."


"Baiklah hati-hati dijalan."


Pak Heru kemudian pergi meninggalkan perusahaan sambil terus mencemaskan keselamatan Caca dan juga putranya sedangkan Pak Tris memikirkan sesuatu tentang penjagaan yang terbaik untuk Nael dan Caca.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2