
Hari menjelang sore tiba. Nael dan Caca juga sebentar lagi akan sampai si tempat tujuan. Nael akan pergi ke kantor setelah dia mengantar Caca pulang ke rumah nya terlebih dahulu.
Begitu pula para penjaga yang mengawal Caca dan Nael telah masuk di gerbang kota, mereka telah menyebar kembali ke pos mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian Caca telah sampai di rumah nya dengan aman dan selamat, Caca lalu membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki nya keluar. Caca memandangi rumah nya tersebut, kenangan nya kembali, kenangan ketika bersama Ayah, Ibu dan juga Handi.
"Kreek." Suara pintu terbuka.
Caca melihat seseorang yang telah menunggu dirinya datang dengan wajah yang sedang tersenyum lalu mulai menyambut Caca dengan hangat.
"Ah itu Bibi!" ucap Caca dalam hati.
"Bibi!"
Caca menghampiri dan memeluk bibi nya begitu pun Bibi membalas pelukan Caca dan tidak lupa menanyakan kabar Caca.
"Caca, kamu sehat Nak?"
"Sehat Bi, Bibi juga sehat kan?" tanya Caca.
"Sehat, yuk cepat masuk! Bibi sudah masak enak buat kamu. Kalian juga masuk ya, kita makan bersama," kata Bibi mengajak Ahmad dan Nael untuk masuk juga.
Nael membalas perkataan Bibi, "Terima kasih, Bi. Maaf saya masih ada urusan di kantor mungkin lain kali Bi."
"Oh begitu, ya sudah."
Ahmad dan Nael lalu berpamitan kepada Bibi dan juga Caca dan kemudian mereka pergi menuju perusahaan.
***
Bibi Minarsih adalah adik Ibu. Bibi di mintai tolong sama Ibu untuk jaga rumah selama mereka tidak ada di sana dan juga akan tinggal bersama Caca beberapa waktu ke depan.
Caca masuk ke kamar nya dan membereskan beberapa barang yang sedikit berantakan. Caca melihat kesekeliling rumah nya, pandangan nya terhenti ketika melihat foto diri nya bersama Ayah Burhan.
Caca mengingat begitu Ayah sangat menyayangi nya dia sangat sedih mengingat Ayah nya yang sudah tiada dan tersisa hanyalah kenangan saja yang selalu bersama nya.
Caca kembali bernostalgia di dalam kamar nya, dia membuka laci lemarinya dan melihat ada sebuah kunci didalam nya. Kunci itu mengingatkan dia isi dari dari lemari kerja nya, beberapa lembar foto dan selembar kertas. Caca lalu memasukan kunci tersebut kedalam tas kerja nya.
……………………………………………………………………………
Di Kantor.
Jam sudah menunjukan pukul 16.45 WIB, Nael dan Ahmad telah memasuki kawasan Perusahaan. Mobil mewah nya melesat cepat menuju tempat parkiran, semua mata tertuju kepada Nael yang sedang keluar dari mobil.
"Ah itu Pak Nael, tumben dateng nya sore?"
"Ah Oppa datang."
Begitulah kira-kira ucapan dari para karyawan pabrik nya yang melihat Nael dengan tatapan seperti seorang Fans kepada Idolanya.
***
Sementara itu, Lista dan mba Dewi yang melihat Nael datang langsung tidak fokus bekerja. Dia ingin mencari tahu bagaimana dengan kabar Caca. Mereka lalu menahan Ahmad seperti tawanan.
Nael masuk ke kantor untuk menuju ruang kerja nya kemudian langkah nya terhenti. Nael menatap meja kerja Caca dan kemudian tersenyum, dia senang karena besok Caca akan bekerja kembali di meja tersebut dan dia bisa melihat Caca setiap hari. Nael lalu masuk keruangan dengan senyum menawan nya.
Nael melihat ada selembar kertas yang berada di atas meja nya, Nael yang penasaran kemudian duduk lalu membaca nya. Nael tersenyum ketika mengetahui itu adalah surat dari Caca yang seharusnya dia terima.
"Saya tidak tahu harus menulis apa untuk anda Pak Nael. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan saya berkali-kali. Maaf juga saya sudah memarahi anda, saya hanya merasa sedih karena kehilangan seorang Ayah yang sangat saya sayangi. Saya hilang kendali, terima kasih setiap waktu dan kebersamaan nya. Carisa."
Nael tersenyum, ternyata isi surat dari Caca adalah seperti ini. Nael kemudian mengingat Cindy yang telah mengubah surat Caca menjadi kata-kata yang kasar. Nael kembali merasa bersalah, dia berencana akan main ke rumah Caca malam ini dan mengajak Caca untuk nonton ke bioskop.
Beberapa saat kemudian Nael sudah selesai dengan pekerjaan nya. Nael kembali memikirkan Caca lalu Nael memberanikan diri untuk menelepon Caca dan mengajaknya untuk pergi nonton bersama. Senyum nya seketika melebar selebar kali Cisadane saat Caca menyetujui untuk pergi bersama dengannya
Nael nampak senang seperti sedang memenangkan tiket lotere. Tetapi Nael masih malu untuk jalan berdua dengan Caca. Dia lalu berniat mengajak Ahmad untuk menemani nya.
****
Nael mencari Ahmad dan menemukan dia sedang bersama dengan Dewi dan Lista. Nael kemudian berjalan mendekati Ahmad dan menguping pembicaraan mereka yang sedang membicarakan sesuatu.
"Eh Mad. Caca kemana? dia jadi kesini kan?" tanya Mba Dewi sambil memegangi Ahmad agar tidak kabur.
"Ya Caca ikut, dia besok mulai kerja. Sekarang udah di rumah nya lah," balas Ahmad sambil meminta untuk di lepaskan.
"Yes bagus! terus mana foto yang kamu bilang tadi Mad? mau lihat donk!" kata Lista dan Dewi penasaran.
Nael yang mendengar pembicaraan mereka juga lantas penasaran dengan foto apa yang di maksud oleh mereka.
"Lepasin dulu donk. Iya nanti kita lihat bareng sama Mul pas pulang kerja ya," jawab Ahmad
"Jiah, sekarang aja Mad."
"Entar aja!"
__ADS_1
"Ya sudah tapi janji kasih lihat ya." Lista menunjukkan jari kelingkingnya.
"Iya bawel amat sih lu pada!"
Mba Dewi dan Lista yang penasaran akhirnya menunggu hingga waktu pulang tiba dan kekasih Ahmad yaitu Teh Mul keluar dari Pabrik.
***
Setelah mereka selesai berbicara, Nael lalu masuk kedalam ruangan itu dan meminta Ahmad untuk mengikuti nya karena Nael ingin mengatakan sesuatu kepada Ahmad.
"Mad, nanti malam kamu ada acara nggak?" tanya Nael.
"Nggak ada bos, kenapa?" jawab Ahmad santai.
Nael tersenyum kemudian dia mulai mengatakan maksud dan tujuannya kepada Ahmad.
"Hm. Kita nonton yuk! kamu boleh ajak Mul deh."
Ahmad menatap wajah Nael dengan seksama dan mengetahui maksud dari bos nya. Ahmad kemudian menggoda Nael yang sedang cengar cengir sendirian.
"Tumben ajak nonton saya sama Mul, emang nggak ada yang bisa di ajak lagi?" tanya Ahmad.
Nael lantas terdiam, seperti nya Ahmad bisa menebak pikirannya. Nael lalu tersenyum malu-malu. "Ya saya mau ajak Carisa, ramean kan seru, bisa couple gitu couple."
"Ah kayak bocah aja minta di temenin, ya deh! nanti saya ajak Mul nonton. Tapi bayarin ya pokoknya tiket sama makan juga," balas Ahmad dan meminta traktiran.
Nael sangat gembira hatinya langsung berbunga-bunga ketika mendengar perkataan Ahmad yang mau diajak nonton oleh nya.
"Oke, makasih ya Mad. Tenang nanti biaya semua saya yang tanggung."
"Iya, sama-sama."
Ahmad senang melihat bos nya yang kegirangan, dia menginginkan bos nya tersebut selalu seperti itu dan berharap Nael dan Caca tidak di jauhkan kembali.
***
Satpam On Time membunyikan bel jam pulang kerja.
Lista dan Dewi membereskan meja kerja nya dan kembali mencari Ahmad untuk menagih sesuatu. Mereka melihat Ahmad sudah berada bersama dengan Mul dan sedang berduaan. Lista dan Dewi tanpa ragu menghampiri mereka yang sedang berpacaran.
Ahmad mengerti maksud dari kedatangan Lista dan Dewi, dia lalu mengeluarkan HP nya dan menunjukkan beberapa foto yang dia ambil diam-diam tadi. Mereka pun berkumpul seperti sedang mengocok arisan saja.
"Hihihihi. Itu mereka lucu ya berdua, aduuhhh jadi iri, liat tuh mereka cocok banget," ucap Mul.
"Iya udah gitu lihat tuh tangan Pak Nael, setia banget nahanin Caca biar nggak jatuh Ahh so sweet amat ya."
"Nah lihat yang ini nih, yang lagi bercanda, seneng banget kaya nya ya. Hihihi," kata Mul menunjukan Foto Caca dan Nael yang sedang tertawa bersama.
"Ah iya, uh nggak nyangka ya bisa lihat mereka ketawa bareng gitu, biasa nya Pak Nael kan tampang nya cool."
"Iya."
***
Sementara itu Nael sedang mencari Ahmad karena ingin pulang, Nael lalu mencari nya dan menemukan Ahmad yang sedang ketawa ketiwi bersama para cewe-cewe.
Ahmad melihat Nael menghampiri mereka yang sedang mengobrol, dia pun langsung menyembunyikan HP nya, agar Nael tidak mengetahui nya.
"Mad, yu pulang!" kata Nael mengajak Ahmad pulang.
"Ya bos."
"Mul, nanti sore aku jemput ya!" kata Ahmad kepada Mul sambil berbisik dan mengedipkan mata genitnya.
"Iya."
"Cie ... Cie ... apa tuh?" tanya Lista menggoda Ahmad dan Mul.
"Ada deh!" jawab Mul lalu tersenyum.
Ahmad dan Nael lalu berpamitan dan pulang, begitu pula dengan para cewek-cewek.
……………………………………………………………………………
20 menit kemudian.
Nael telah sampai di rumah nya lalu Ahmad juga kembali kerumah setelah mengantar Nael. Nael yang mengingat punya acara dengan Caca kemudian bersiap untuk nanti malam, dia akan pergi ke rumah Caca.
Valen melihat adiknya yang sedang bergembira, Valen lalu menghampiri adiknya tersebut dan bertanya, "Wuih, kenapa nih senyum-senyum sendiri?"
"Eh Valen, ada deh! kamu udah pulang, kapan sampainya?" tanya Nael
"Ya, baru tadi sepuluh menit yang lalu lah." Valen lalu masuk dan duduk di kamar Nael.
__ADS_1
"Oh. Oiya kemana Papa?" tanya Nael.
"Tadi pergi sama Pak Budi, katanya sih ada urusan penting sama Papa Peter."
"Oh."
Valen bertanya kepada Nael tentang masalah kemarin tentang Caca dan keluarga nya. "Nael, boleh cerita nggak yang tentang Caca dan keluarga nya, saya cuma denger sedikit dari Papa."
Nael menunda ritual mandi nya lalu duduk disamping Valen dan mulai bercerita. "Tau nggak Len kisah nya Pak Djuanda?"
Valen mengingat-ingat nama tersebut, seperti pernah mendengar nya.
"Maksud kamu Pak Djuanda yang kaya itu, yang punya perusahaan besar dan harta nya dimana mana itu dan keluarga nya yang pernah dihabisi semua oleh orang jahat si Satya itu?" tanya Valen.
"Iya betul!" jawab Nael.
"Setau saya bukan kah keluarga mereka semua sudah meninggal dan putri satu-satunya juga dikabarkan telah meninggal juga dan ada juga yang bilang diculik dan tidak tau dimana keberadaannya sampai sekarang."
"Ya kamu tahu nggak siapa putri Pak Djuanda yang dikabarkan hilang atau tidak di temukan itu?" tanya Nael menatap Valen.
"Nggak! siapa?" tanya Valen kembali.
"Carisa itu putri nya Pak Djuanda!" jawab Nael.
Valen sempat syok mendengar kebenaran tersebut,
"Masa sih, yang bener Nael? kalau benar seperti itu, kasian banget ya Caca."
"Iya betul Len. Dia putri nya Pak Djuanda, selama ini dia disembunyikan bersama Ayah nya Burhan yang dulu adalah Body guard keluarga Djuanda. Semua rasa penasaran saya sudah terjawab semua dalam satu hari saat pak Burhan meninggal."
"Maksudnya ayah nya yang seram itu ya? kenapa bisa meninggal?" tanya Valen lagi.
Nael kemudian menceritakan semua nya kepada Valen, bagaimana juga Caca dipecat dan lain sebagainya dan yang terakhir juga Nael bercerita tentang Caca yang di serang di desa. Nael kemudian bersedih dan menyesal dengan perilaku kasarnya terhadap Caca.
Valen mengerti dengan perasaan Nael lalu menenangkan Nael dan memberi pengertian kepada Nael kalau semua itu tidak di sengaja. Nael berterima kasih kepada Valen.
Mereka berdua terdiam. Valen seperti mengingat nama asli Caca, dia pernah mendengar nama Carisa Li Djuanda itu kemudian dia mulai mengingatnya.
"Ah saya ingat!" kata Valen.
"Ingat apa Len?" tanya Nael.
"Iya, kamu inget tidak waktu Papa ajak kita ketemu sama seseorang? nah itu adalah pak Djuanda dan istrinya dan waktu itu pak Djuanda bawa seorang putri kecil nya dan itu ternyata Caca!"
Nael masih mengingat-ingat kejadian lama tersebut otak nya mulai menyambungkan kabel-kabel kenangan lama.
"Terus Nael, kamu tau Caca kecil? dia tidak bisa diam, terus kita lihat dia lagi main di taman dan menghampiri dia. Caca lagi megang sebuah anak iguana yang kamu pelihara waktu itu, yang sekarang iguana nya sudah mati karena tua."
Nael masih mengingat terus, sepertinya ingatannya kembali, tapi masih samar-samar.
"Ikh lemot amat itu otak!" Valen menepuk kepala Nael.
Valen kembali bercerita agar Nael mengingatnya kembali, "Kamu berantem sama Caca waktu kecil cuma gara-gara salah paham sama itu binatang. Caca bilang itu anak Cicak dan kamu bilang itu anak kadal lalu saya yang misahin kamu bertengkar."
Beberapa saat kemudian Nael akhirnya mengingat kejadian yanh sudah lama tersebut. Otak nya langsung menceritakan kembali kejadian masa lalu tersebut.
"Eh kamu lagi apa?" tanya Nael kecil.
"Ini aku nemu ada anak cicak!" jawab Caca kecil.
"Itu bukan cicak, itu kadal!"
"Ini cicak bukan kadal!"
"Itu kadal bukan cicak!"
"Itu iguana! kata Valen menghentikan mereka berkelahi.
"Caca, ayo kita pergi!" suara Papa Caca.
"Iya tunggu sebentar! nih buat kamu tolong jaga ya, kasih nama Caca Marica ya, hihihi, dadahhh!" kata Caca kecil sambil berlari dan menghampiri kedua orang tua nya.
Nael akhirnya ingat, ternyata itu adalah Caca dan semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
"Ah iya Len, saya ingat! Carisa begitu mungil dan menggemaskan. Saya tidak menyangka itu adalah Carisa yang saya kenal sekarang ini."
"Iya Nael, semenjak saat itu kita nggak pernah ketemu lagi ya dan tak lama setelah itu kabar buruk tentang keluarga nya di bantai pun muncul."
"Iya."
Pembicaraan mereka berhenti karena Nael mengingat ada janji hari ini dengan Caca, dia pun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Valen tersenyum senang melihat adiknya yang telah menemukan Cinta nya.
Bersambung.
__ADS_1