
Sementara itu.
Cindy telah sampai di rumah Om nya. Cindy kemudian mengetuk pintu.
"Tok tok tok."
Pintu kemudian terbuka.
Pak Tono keluar dan senang melihat Cindy yang datang ke rumah nya.
"Cindy. Silahkan masuk," kata Pak Tono.
"Iya, Om."
"Mari duduk. Ada apa kamu jauh-jauh datang ke sini Cindy?" tanya Pak Tono.
Cindy dan Pak Tono kemudian duduk di dalam. Cindy lalu memulai pembicaraan.
"Om. Boleh Cindy tanya sesuatu sama Om?" tanya Cindy.
"Apa itu Cindy?" tanya Pak Tono.
"Sebelum saya menunjukan foto ini, mau kah Om menjawab beberapa pertanyaan Cindy?" tanya Cindy.
"Kamu mau tanya apa Cindy? Om akan berusaha menjawab nya," jawab Pak Tono.
"Baik Om."
Cindy kemudian memperlihatkan selembar foto kepada Pak Tono. Pak Tono kemudian mengambil foto tersebut dan memandangi nya dengan seksama.
"Apa benar Ibu meninggal karena bunuh diri?" tanya Cindy kepada Pak Tono.
Pak Tono terkejut karena Cindy tiba-tiba menanyakan hal tersebut kepada nya.
"Kenapa, Om? kenapa Om diam?" tanya Cindy.
"Maaf, Cindy. Apa tidak ada pertanyaan yang lain?" kata Pak Tono mengalihkan pembicaraan.
"Baik. Apa Ibu bunuh diri atau di bunuh seseorang?" tanya Cindy kembali.
Pak Tono menatap Cindy, dia bingung kenapa Cindy bisa menanyakan hal tersebut kepada diri nya.
"Tolong jawab pertanyaan Cindy, Om." Cindy kemudian mendekati Pak Tono.
Pak Tono masih terdiam. Dia bingung harus menjawab apa karena dia takut dengan ancaman Satya.
"Apa Om tahu sesuatu tentang kematian Mama? apa Om tidak mau berbagi cerita dengan Cindy yang sudah Om anggap seperti anak sendiri?" tanya Cindy yang sangat penasaran.
"Apa Om tidak menyayangi Mama? bukan kah dia kakak perempuan Om sendiri?" tanya Cindy kembali.
__ADS_1
Pak Tono menghela nafas. Dia pun memberanikan diri untuk membuka suara nya.
"Baik lah. Om akan cerita mengenai kematian ibu mu Cindy, tapi kamu jangan bilang tahu semua ini dari Om ya," kata Pak Tono.
Cindy kemudian mengangguk. Dia pun berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Cindy kemudian mendengarkan cerita dari Om nya tersebut.
"Iya Cindy. Ibu mu meninggal bukan karena bunuh diri, tetapi dia telah dibunuh oleh Satya, ayah kandung mu sendiri," kata Pak Tono mulai menangis.
Cindy syok mendengar hal tersebut, dia pun kembali bertanya, "tapi kenapa Om? Apa ini ada hubungan nya dengan Felicia ibu nya Caca?" tanya Cindy.
Pak Tono terkejut mendengar Cindy yang menyebut nama Felicia. Dia pun tertunduk, lalu menceritakan tentang masa lalu Wina kakak perempuan nya.
"Wina ibumu adalah gadis yang nakal, dia sering bermain dengan laki-laki hidung belang. Suatu hari ibu mu di usir keluar oleh kakek mu, karena marah ketika mengetahui kalau dia tengah hamil."
"Wina kemudian mengaborsi anak dalam kandungan nya itu, lalu pergi entah kemana. Wina dikabarkan menjadi gelandangan di Kota, lalu tak sengaja Felicia bertemu dengan Wina dan menolong Wina yang saat itu kondisinya sangat buruk."
"Felicia kemudian membawa Wina ke rumah sakit terdekat dan membuat nya menjadi sehat secara fisik maupun mental, Wina menyesali perbuatannya, dia pun mengikuti Felicia dan mulai bekerja di perusahaan Djuanda."
"Wina berhutang budi kepada Felicia, dia juga senang melihat Felicia yang baik hati. Felicia juga tak ragu menganggap Wina seperti teman nya sendiri."
"Satya ayahmu bekerja di perusahaan yang sama dia adalah orang yang pernah di tolong Djuanda ketika Satya menjadi pengangguran dan mengemis meminta pekerjaan kepada Djuanda yang kala itu mereka ternyata berteman saat kuliah."
"Akan tetapi Satya mempunyai sifat buruk selain ingin harta Djuanda, Satya juga punya maksud lain dia sangat tergila-gila kepada Felicia dan ingin merebut Felicia dari Djuanda. Satya melakukan segala cara untuk mendapatkan Felicia."
"Sehari sebelum pernikahan Djuanda dengan Felicia, Satya berencana menculik Felicia dan ingin membawa nya pergi jauh. Tetapi rencana jahat tersebut terdengar oleh Wina."
"Wina yang merasa berhutang budi kepada Felicia, lalu berhasil menggagalkan rencana Satya yang jahat. Wina menyamar sebagai Felicia agar dia yang diculik oleh Satya."
"Tetapi Satya mengelak, dia berkata kalau dia mencintai Wina, maka nya dia menculik Wina. Djuanda akhirnya memaafkan Satya dengan satu syarat yaitu Satya harus menikah dengan Wina, dan mereka berdua akhirnya menikah."
"Satya tidak puas dengan Wina, dia terpaksa menikahi Wina agar tidak tertangkap oleh polisi. Wina selalu menjadi bahan pelampiasan nafsunya saat dia melihat dan memikirkan Felicia."
"Wina akhirnya melahirkan kamu. Tetapi Satya marah karena kamu bukan lah anak laki-laki. Felicia menolong kamu dari perbuatan Satya yang jahat, dia ingin membuang mu. Tahun berikutnya Wina kemudian melahirkan Sony."
"Dua tahun kemudian Felicia melahirkan putri nya. Satya selalu berbuat jahat dia berusaha menjodohkan Sony dengan putrinya Djuanda agar bisa mendapatkan kekayaan itu sekaligus mendekati Felicia, tetapi Djuanda tidak merestui nya. Hal tersebut membuat Satya semakin marah dia tidak puas hanya dengan korupsi di perusahaan Djuanda selama bertahun-tahun, dia juga masih ingin memiliki Felicia."
"Djuanda akhirnya habis kesabaran, dia pun memasukan Satya ke dalam penjara. Tak berapa lama Satya berhasil melarikan diri dari penjara dan menjadi buronan."
"Dia ingin balas dendam kepada Djuanda dan mencari seluruh penjahat yang dia kenal untuk membantu nya. Di hari ulang tahun pernikahan Djuanda, Satya membantai seluruh keluarga Djuanda."
"Satya lari bersembunyi di dalam rumah, tapi Wina memarahi Satya karena perbuatan jahat nya, dan menelepon polisi. Satya membunuh ibu mu karena kesal. Dia pun akhirnya di tangkap kembali setelah itu. Satya mengancam diri ku agar tidak menceritakan kisah sebenarnya kepada siapa pun, dan menyebarkan berita kalau Wina meninggal karena bunuh diri ...."
Pak Tono terdiam dan mulai menangis.
"Jadi selama ini, cerita ibu gila dan bunuh diri adalah bohong?" tanya Cindy.
Pak Tono kemudian mengangguk. Cindy sedih dan kesal karena ayah telah membohongi diri nya selama ini, dan membuat dirinya membenci keluarga Djuanda.
Cindy pun tak sanggup menahan emosi nya. Cindy menangis. Pak Tono pun berusaha menenangkan Cindy.
__ADS_1
"Terima kasih, Om. Saya akhirnya mengetahui kebenaran tersebut," kata Cindy.
Cindy kemudian pamit dan pergi dari rumah Pak Tono.
……………………………………………………………………………
Di Kantor.
"Ya, Pak Tris. Ada apa?" tanya Caca yang panik.
"Caca, mulai sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan lama mu, kondisi mu sedang dalam bahaya," kata Pak Tris memegang pundak Caca.
"Tapi kenapa Pak Tris?" tanya Nael penasaran.
Pak Tris dan Pak Heru akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi di rumah Caca dan rencana Satya yang ingin menculik Caca.
"Iya, Caca. Bapak harap kamu mengerti akan hal ini. Ini semua demi kebaikan kamu," kata Pak Tris.
"Baik, Pak Tris. Saya akan menuruti nya," kata Caca.
Nael menatap Caca, dia harus jauh dari Caca kembali. Tapi Nael bersyukur setidak nya Caca masih berada di perusahaan ini dan masih berada di sekitar diri nya, hanya Nael sedih dia tak bisa dekat dan memandang Caca setiap hari.
***
Percakapan mereka terhenti, ketika seorang pria masuk ke dalam ruangan rahasia mereka.
"Maaf, Pak Heru. Ada sekelompok berandalan ingin masuk ke dalam perusahaan dan mencari Nona Caca," ucap salah satu orang kepercayaan Pak Heru.
Semua sontak terkejut dengan berita tersebut.
"Apa mereka sangat banyak?" tanya Pak Heru.
"Jumlah nya lumayan banyak, Pak."
"Gawat! saya harus pergi menemui mereka," kata Pak Heru sambil melangkah pergi.
"Tunggu Heru, saya ikut dengan mu. Nael jaga Caca, kalian tunggu di sini dan bersembunyi lah," pinta Pak Tris kepada Nael.
"Baik, Pak. Saya mengerti," kata Nael mengangguk.
Pak Heru dan Pak Tris kemudian pergi ke depan gerbang untuk menemui segerombolan para berandalan tersebut.
Nael menatap Caca yang terlihat panik.
"Kamu tenang ya. Saya akan menjaga kamu, kita sebaik nya bersembunyi di sini dahulu," kata Nael menenangkan Caca.
"Iya, Pak."
Mereka kemudian menunggu di tempat itu hingga kabat baik datang kepada mereka.
__ADS_1
Bersambung.