
Di Kediaman Satya.
Sony berlari menuju kamar ayah nya untuk membawakan sebuah kabar gembira.
"Brak!"
Sony membuka pintu kamar Satya dengan kasar karena rasa gembira nya yang sedang meluap hingga membuat Satya terperanjat kaget dari tempat tidur nya.
"Papa!"
"Hei! dasar anak si*alan! ada apa Sony! kenapa kau bersikap seperti itu? bikin jantungan saja! kau ingin Papa mu ini cepat mati hah!" bentak Satya sambil menepuk dada kirinya.
"Maaf Pah, Sony terlalu senang!" jawab Sony menggebu-gebu.
"Ada apa cepat katakan!" bentak Satya.
"Papa tahu?" tanya Sony.
"Mana mungkin Papa tau, kau juga belum memberitahu Papa! Cih!" jawab Satya ketus.
"Caca ... Caca ... Caca sudah di ketahui dimana keberadaan nya Papa!" ungkap Sony kesenangan.
Mata Satya langsung membola mendengar kabar tersebut.
"Benarkah itu?" tanya Satya.
"Benar Pah, penyusup kita yang telah memberitahu itu semua," jawab Sony senang.
"Bagus! jadi ada dimana dia sekarang?" tanya Satya kembali.
"Dia masih berada di Perusahaan Heru, Pah. Ternyata Caca ku telah di sembunyikan di sana. Dia juga tinggal di mess dan menjadi karyawan packing agar tidak ada yang mengenali nya," jawab Sony.
"Pantas saja dia tidak di temukan, jadi dia lagi menyamar. Heru telah membodohi kita!" ucao Satya dengan kesal.
"Benar Pah, kali ini Sony pasti akan mendapatkan nya."
"Jangan dulu Sony, kita harus menemukan orang misterius berjubah hitam yang mencuri uang Papa terlebih dahulu. Sementara itu Papa sedang mengumpulkan uang lagi."
"Tapi Pah, Sony sudah tidak tahan ingin memiliki Caca. Setiap hari hanya bisa memikirkan nya saja, tapi tidak bisa menjamah nya."
"Cih, sudah lah pergi sana! Papa masih mau tidur, besok pagi sekali Papa akan berangkat mencari uang yang banyak. Dan selama Papa pergi kamu jangan bertindak sendiri, ingat itu!"
Satya lalu menarik selimut dan melanjutkan kembali tidur nya, sementara pikiran Sony hanya diliputi wajah seseorang yaitu Caca, Caca dan Caca.
……………………………………………………………………………
Di Mess Caca.
Caca masuk dan membanting tas nya di atas kasur, dia masih merasa kesal dengan Nael.
"Huh sabar! lebih baik pergi mandi dulu biar tenang, habis itu baru makan. Sebentar lagi Pak Tris akan datang dan memulai pelajarannya."
Caca lalu mengirimkan pesan kepada Sandy untuk membelikannya makanan. Sementara menunggu Sandy datang, Caca pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri nya.
***
Sementara itu Nael belum pulang, dia masih berkeliling bersama Pak Joko untuk membicarakan produksi dan lain sebagainya.
Saat asyik mengobrol dengan Pak Joko, pandangan Nael teralihkan saat melihat Sandy yang sedang berjalan ke suatu tempat sambil menenteng sesuatu. Nael kemudian menyudahi pekerjaan nya dengan Pak Joko lalu mengikuti Sandy.
Nael sengaja mengikuti Sandy karena dia ingin tahu dimana mess Caca berada. Nael mengendap-endap seperti maling dan tak sadar aksinya diketahui oleh Ahmad yang memang sedari tadi mencarinya untuk mengajak pulang.
Nael mengikuti Sandy sedangkan Ahmad mengikuti Nael dari belakang, hingga mereka berhenti di suatu tempat tepatnya di depan mess Caca.
"Tok tok tok!" Sandy mengetuk pintu dan memberi kode kalau dirinya telah datang.
__ADS_1
Caca sedang asyik mandi, dia tidak mendengar suara Sandy yang sejak tadi mengetuk pintu dan memanggil dirinya.
Nael melihat ke sekeliling lalu mendekati Sandy begitupun dengan Ahmad. Nael lalu menepuk pundak Sandy.
"Sandy!" panggil Nael.
Sandy yang punya insting bertarung dengan sigap memasang kuda-kuda dan posisi siap bertarung.
"Sandy ini saya!" ucap Nael sedikit terkejut dengan posisi Sandy yang tiba-tiba ingin menyerangnya.
"Oh itu anda Nael. Mohon maafkan saya!" ucap Sandy.
"Tidak apa, kamu sedang apa disini?" tanya Nael.
"Saya ingin mengantarkan makanan untuk Nona Caca. Kenapa kamu disini Nael? kau tidak boleh berada di sini!" ucap Sandy.
Nael mengaruk leher nya yang tak gatal, dia mencari alasan agar Sandy tidak mencurigai nya untuk menemui Caca.
Ahmad kemudian mendekat dan membenarkan perkataan Sandy.
"Benar Bos! ngapain kamu disini? mending kita pulang!" ucap Ahmad menarik tangan Nael.
"Tunggu! saya cuma mau bilang kalau Pak Tris tadi memanggil kamu Sandy," balas Nael mencari alasan.
"Masa?" tanya Ahmad tak percaya.
Nael lalu memicingkan mata nya kepada Ahmad, dia kesal dengan Ahmad yang tak mau membantu nya.
"Ada perlu apa Pak Tris memanggil?" tanya Sandy.
"Entah lah, lebih baik kau cepat menemui Pak Tris sebelum dia mengamuk," kata Nael sambil mendorong Sandy agar menemui Pak Tris.
"Baik lah, tolong berikan ini kepada Nona Caca." Sandy lalu pergi mencari Pak Tris dan meninggalkan Nael di depan pintu mess Caca, dengan wajah penuh arti.
"Bagus! sekarang dia telah pergi." Nael lalu menunggu Caca untuk membuka kan pintu.
***
Beberapa saat kemudian Caca telah selesai mandi dan bergegas memakai pakaian santai nya, setelan kaos tipis tanpa lengan dan celana pendek sejengkal diatas lutut. Dia membenahi diri dan membungkus rambutnya sehabis keramas yang masih basah dengan handuk kecil. Dan tak lupa memakai pelembab wajah dan juga body lotion.
"Lama banget Carisa buka pintunya, lagi ngapain sih dia?" tanya Nael penasaran sambil menghentakkan-hentakkan salah satu bagian ujung depan kaki nya kelantai.
"Lagi bertelor kali," jawab Ahmad.
"Kau ini, memangnya Carisa itu ayam!" balas Nael.
Caca mendengar keributan dari luar. "Ah itu pasti Sandy yang lagi anter makanan," gumam Caca.
Caca lalu menuju pintu depan dan membuka kunci agar Sandy bisa menaruh makanannya. Caca tak menaruh curiga, setelah membuka kunci Caca kembali ke dalam dan membereskan rambutnya untuk di sisir.
Nael tersenyum mendengar suara terbuka nya kunci pintu dari dalam, lalu dia memantapkan langkah nya untuk masuk ke dalam mess. Nael tak lupa menyuruh Ahmad untuk menunggu di depan.
"Kreekk" suara pintu terbuka perlahan, Nael melangkah masuk kedalam dengan perlahan dan mulai melihat sekeliling ruangan mess yang di tempati oleh Caca.
"Sandy taruh saja makanannya di atas meja depan situ ya, setelah kamu keluar jangan lupa tutup kembali pintu nya ya," ucap Caca sambil menyibak rambutnya yang masih sedikit basah.
Nael terus berjalan lalu pandangan Nael terhenti tepat dimana Caca sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Nael terpana melihat hal indah di depan nya, ini kali pertamanya melihat Caca berpenampilan seperti itu, terlihat cantik dan sexy untuk Nael.
"Glek!" Nael menelan ludah nya susah payah.
Wangi segar khas sabun mandi tercium oleh nya. Caca sedikit mengayunkan rambutnya ke kanan lalu ke kiri terlihat leher jenjang nan mulus putih bersih milik Caca secara bergantian dan Nael memperhatikan itu dari belakang Caca.
Pikiran Nael melayang kemana-mana, walau dia pria baik-baik yang tak ingin menyakiti apalagi merusak wanita, tetapi tetap saja dia adalah lelaki normal. Siapa yang tidak tergoda jika disuguhkan dengan pemandangan seperti itu apalagi tepat di depan mata nya.
Nael menggelengkan kepala nya, berharap pikiran buruk segera lepas dari kepalanya. Caca terdiam dari aktivitasnya. Dia merasakan sedikit aneh karena Sandy tak membalas perkataannya.
__ADS_1
"Sandy kenapa kamu diam saja? apa kamu sudah pergi dari sini?" tanya Caca.
Caca lalu memutar balik badannya untuk memastikan sesuatu. Betapa terkejutnya dia melihat sesosok pria yang dikenal nya sambil berdiri dihadapannya dengan badan yang bersandar pada sisi tembok dan melipat kedua tangannya dengan senyuman yang aneh untuk Caca.
"Pak Na--" teriak Caca tapi tertahan.
Nael dengan cepat menutup mulut Caca dengan tangannya agar Caca tidak berteriak. Caca sedikit gemetar melihat tatapan Nael. Jantungnya tak berhenti berdetak, dada nya kesulitan mengatur nafas yang begitu cepat.
"Sstt!" Nael menempelkan jari ke mulutnya.
"Jangan berteriak, nanti ada yang dengar dan berpikir macam-macam."
Caca tak habis pikir dengan tingkah bos nya. Dia pun menepis tangan Nael dan mulai memarahi nya.
"Kenapa kau datang kesini? kemana Sandy? mau apa kamu diam-diam kesini?" tanya Caca sambil menutup dada dengan kedua tangannya.
"Maaf Carisa, saya hanya mengantar makanan. Tadi Sandy dipanggil oleh Pak Tris," jawab Nael mencari alasan.
"Lalu kenapa kamu tidak keluar sekarang juga! malah menatap saya dengan wajah aneh seperti tadi, kau membuat jantung ku serasa mau copot. Kamu benar-benar menyebalkan!" ucap Caca masih mengatur nafas dan menenangkan dirinya.
"Kau tidak ada beda nya dengan Sony!" bentak Caca kesal dan mengeluarkan air mata.
Nael mengerti dia telah salah, Caca mengalami trauma saat Sony mencoba merenggut kehormatannya dan sekarang dia malah membuat Caca merasa seperti itu.
"Maaf Carisa, jangan menangis. Saya hanya ingin berbicara dengan kamu sebentar. Saya tidak ada maksud untuk melakukan hal yang tidak-tidak, percaya lah!" kata Nael meyakinkan Caca.
"Ya sudah mau apa? setelah ini lebih baik cepat keluar."
Nael mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Caca.
"Apa ini?" tanya Caca.
"Bacalah!"
Caca membaca kartu kecil tersebut dan menahan tertawa.
"Kartu undangan ulang tahun kamu? besok? hmppt!" tanya Caca lalu menahan tertawa.
Nael hanya mengangguk dan menahan malu.
"Kamu sudah besar tapi ulang tahun saja pakai di rayain. Pakai undangan imut begini lagi. Hihihi."
"Itu rencana Valen, dia memaksa untuk merayakan ulang tahun untuk saya. Tak ada yang bisa menolak kemauan Valen apalagi yang menyangkut acara-acara berbau pesta, dia pasti yang paling bersemangat," jawab Nael.
"Oh begitu."
"Iya, saya harap kamu bisa hadir ya besok malam dan jangan lupa bawa kartu nya."
"Kartu ini dibawa? untuk apa? apa untuk dituker dengan souvenir atau Snack tentengan seperti anak-anak itu?" tanya Caca sambil meledek Nael.
Nael terdiam, membiarkan Caca tertawa semau nya.
"Kau pikir pesta bocah apa! itu kartu untuk ijin masuk. Tanpa kartu tersebut siapa pun dia, pasti tidak di ijinkan masuk sekalipun itu adalah seorang pejabat penting!" Nael sedikit emosi.
"Oke. Tapi saya tidak bisa janji, kamu harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Pak Tris," balas Caca.
"Betul kata Caca!" jawab Pak Tris tiba-tiba entah kapan dan darimana dia datang nya.
"Glek!" Nael menelan ludah nya.
"Pak Tris!" Nael sontak berdiri.
Caca tertawa melihat Nael yang ketakutan saat melihat Pak Tris telah berdiri di hadapan nya sambil bertolak pinggang dengan wajah yang merah padam.
*
__ADS_1
Bersambung.