Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 86. Perubahan Rencana Satya.


__ADS_3

"Ayo kita jalan!" perintah Satya kepada supirnya.


"Baik Bos!


"Kita mau kemana bos?"


"Penjara dahulu, setelah itu kita pulang untuk menyerahkan Cindy."


"Baik Bos!"


"Dasar kucing kecil itu! berani sekali dia menolak dan membentakku juga mengatakan kalau diriku ini biadab. Lihat saja nanti sebelum dia menjadi singa betina besar yang menyusahkan lebih baik aku patahkan dulu keberaniannya itu. Aku ingin sekali mendapatkan dan memiliki gadis itu sebagai ganti Felicia yang menolak ku dahulu."


Satya menyeringai sepertinya haluannya tentang rencana awal berubah. Bukan hanya menginginkan harta peninggalan Djuanda, tetapi juga ingin memiliki Caca sepenuhnya.


……………………………………………………………………………


Di Kantor.


"Tok tok tok!"


"Masuk!" sahut Pak Tris dari dalam ruangannya.


Pak Tris merasa aneh ketika melihat Caca masuk ke dalam ruangan dengan perasaan cemas dan raut wajah yang tertekan. Pak Tris lalu bertanya kepada Caca, "Ada perlu apa Ca, kalian duduklah dahulu?"


"Baik Pak."


"Nael, bolehkah kamu keluar dulu." Caca meminta Nael menunggu diluar.


"Tapi kenapa?" tanya Nael penasaran.


"Aku akan menceritakannya kepadamu nanti, untuk sekarang aku hanya ingin berbicara dan bertanya kepada Pak Tris." Caca menunduk sedih.


Nael menatap Caca yang tidak mau melihat dirinya, lalu meraih tangan Caca dan berkata, "Baiklah Carisa. Aku akan keluar tapi berjanjilah kepadaku setelah ini kamu harus menceritakannya kepadaku apa yang terjadi kepadamu."


Caca menangguk. "Baik Nael, aku berjanji."


Nael tersenyum kemudian meninggalkan Caca di dalam ruangan Pak Tris dengan hati yang cemas dan bertanya-tanya, "Apa yang ingin Carisa bicarakan dengan Pak Tris berdua? kenapa aku tidak diijinkan untuk mendengarkannya. Carisa, apapun itu semoga bukan hal buruk yang menimpahmu."


***


Pak Tris menghampiri Caca dan memintanya untuk duduk terlebih dahulu lalu Pak Tris mulai bertanya, "Iya ada apa Caca, kenapa kamu tertekan seperti itu? apa ini penting sampai Nael tidak kamu ijinkan untuk masuk?"


Caca menatap Pak Tris, dia ragu untuk menceritakan atau bertanya kepada pria dihadapannya itu. Tetapi demi memastikan sesuatu dia memberanikan diri untuk mengatakannya.

__ADS_1


Caca mulai bertanya kepada Pak Tris, "Pak Tris, apa Satya dulu mencintai dan mengejar Mama?"


Mendengar pertanyaan Caca itu Pak Tris sempat terkejut, tetapi bagaimana Caca bisa tahu akan masa lalu itu. Pak Tris pun mulai bertanya Caca. "Caca mengapa kamu menanyakan hal ini?"


"Tolonglah jawab Pak Tris apakah itu benar?" tanya Caca lalu menatap Pak Tris dengan penuh harap.


Pak Tris mulai serius dengan pertanyaan Caca tetapi sebelum dia menjawab pertanyaannya itu, Pak Tris bertanya terlebih dahulu. "Siapa yang mengatakan hal itu kepadamu?"


"Pak Tris tolong jawablah dulu pertanyaan Caca. Apa itu benar kalau Satya dulu selalu berusaha mendapatkan mama? tolong beritahu Caca Pak, waktu itu Bapak adalah asisten Papa kan, pasti Bapak mengetahui tentang masa lalu itu bukan?"


Pak Tris menangguk kemudian dengan berat hati dia menceritakan masa lalu Felicia dan bagaimana Satya selalu mencari cara agar mendapatkan Felicia, tentang penolakan pemaksaan dan lain sebagainya.


"Begitu lah Ca, Satya benar-benar seperti Sony yang selalu berambisi kepadamu dan seperti itu pula dengan Satya yang sangat berambisi mendapatkan Ibumu dimasa lalu."


Caca terdiam mendengar itu semua, dia berpikir apakah itu alasannya kenapa Satya mengatakan semua itu kepada dirinya. Caca lalu bergetar dan ketakutan kembali.


Pak Tris melihat Caca yang ketakutan dan bergetar hebat kemudian diapun bertanya kepada Caca, "Bapak sudah menceritakan semuanya kepadamu. Sekarang beritahu Bapak, siapa yang memberitahumu tentang masa lalu itu hingga kamu ketakutan seperti itu. Apa ada yang mengancam kamu Caca?"


Caca menunduk lalu kembali menatap Pak Tris, "Satya, orang jahat itu yang bilang kepada saya Pak!"


Pak Tris tercengang dengan jawaban dari Caca dan itu membuatnya seketika berdiri. "Satya! kapan dia bilang itu kepadamu Ca?"


Caca kemudian menjawab pertanyaan Pak Tris, "Tadi setelah pulang dari pengadilan, saya sempat ke toilet sebentar lalu Satya menghampiri saya dan mengatakan sesuatu ...."


Pak Tris kemudian menatap Caca lebih dekat lagi terlihat raut wajah Pak Tris terlihat sangat marah sambil memegang kedua pundak Caca lalu berkata, "Kenapa kamu diam Caca, ceritakan sama Bapak semuanya. Apa yang orang jahat itu sampaikan kepada kamu?"


Caca mulai menangis dia takut jika apa yang diucapkan Satya akan benar-benar terjadi kepadanya. Caca lalu menceritakan semuanya kepada Pak Tris bagaimana perlakuan Satya dan juga ucapan menjijikkan yang dikatakan oleh Satya kepada dirinya tadi.


"Begitu lah Pak Tris, dia ingin menindas Caca. Mengatakan perkataan kotor dan juga ingin melakukan hal menjijikkan tersebut kepada Caca. Dia juga seperti mengisyaratkan akan melukai Nael dalam waktu dekat ini." Caca menangis lalu memeluk Pak Tris.


Mendengar ucapan Caca, Pak Tris benar-benar marah dia mengepal kedua tangannya begitu kuat. Pak Tris begitu geram apalagi ketika mendengar dia akan menjadikan Caca sebagai partner ranjangnya Satya.


"Dasar pria itu benar-benar sudah tidak waras, bagaimana bisa dia mengatakan hal tidak baik itu kepada gadis muda yang tidak tahu apa-apa ini. Benar-benar tidak bisa dimaafkan tetapi bagaimana jika semua yang dikatakan Satya itu benar-benar serius? aku tidak boleh tinggal diam."


Pak Tris kemudian menenangkan Caca lalu membalas perkataannya itu, "Jangan takut Caca, dia hanya mengertakmu saja. Bapak akan bicarakan ini kepada Pak Heru, kamu tenanglah. Sekarang lebih baik kamu kembali ke ruanganmu dan temuilah Nael atau bekerja saja agar kecemasan mu itu menghilang kalau tidak kamu bisa ijin untuk tidak bekerja."


Caca melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah Pak Tris yang penuh ragu. "Tapi bagaimana jika Satya benar-benar serius dan akan melakukan itu kepada Caca Pak?"


"Tidak akan Bapak biarkan itu terjadi." Pak Tris lalu tersenyum dan menepuk pundak Caca agar tetap tenang dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


Caca menurut kemudian dia keluar dari ruangan Pak Tris menuju ke ruang kerja nya.


"Kasian Caca, apa itu alasannya mengapa Nael tidak diijinkan masuk olehnya agar Nael tidak mendengar perkataan yang begitu menyakitkan hati bila Nael mendengarnya."

__ADS_1


Pak Tris kemudian menemui Pak Heru untuk membicarakan hal tersebut dan akan mengadakan pertemuan dengan beberapa orang kepercayaannya.


……………………………………………………………………………


Di Penjara.


Satya menemui Sony yang berada di penjara untuk membicarakan sesuatu.


"Sony apa kamu ingin bebas dalam waktu dekat ini?" tanya Satya menatap Sony dengan tersenyum.


Sony menatap Ayahnya dengan senang, kemudian menjawab pertanyaan Ayahnya itu tanpa ragu. "Mau sekali Papa, Sony ingin bebas. Sony akan membalaskan semua perlakuan Nael dan juga ingin merebut Caca kembali."


Satya memandang remeh Sony. "Cih! sudah gagal berkali-kali masih menginginkan gadis itu."


Sony menatap Ayahnya dengan penuh keseriusan. "Itu tidak akan lagi Pah, jika Sony bisa bebas maka Sony tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Papa berikan kepada Sony. Caca adalah hidup Sony, Sony sangat mencintainya, Sony tidak bisa jika melihat Caca bersama dengan pria lain."


Satya menatap wajah serius anak nya itu tetapi demi ambisi dan nafsunya dia juga tidak ingin mengalah begitu saja.


"Baiklah jika kamu ingin bebas maka turutilah persyaratanku."


"Apa itu Pa? Sony akan siap beritahu saja!" ucap Sony dengan tegas.


Satya tersenyum jahat. "Bagus, jika kamu ingin bebas maka culiklah Caca lalu serahkan dia kepada Papa dan kamu juga harus merelakan Caca sebagai gantinya selama Papa belum bosan."


Sony sontak terkejut dan kesal dengan persyaratan dari Ayah nya itu diapun bertanya untuk memastikan kembali.


"Apa maksud Papa, Caca adalah milikku! bukankah kau hanya menginginkan harta nya kenapa sekarang kau menginginkan Caca juga."


"Mau atau tidak!" bentak Satya tanpa basa basi.


Sony terdiam dia merasa pilihan itu sangat sulit baginya sedangkan Satya menatap wajah putus asa dari anaknya itu, kemudian dia berdiri dan berkata, "Baiklah Papa akan beri waktu dua hari untuk kamu memikirkannya. Pikirkan lah baik-baik, kebebasan mu tetapi Caca menjadi milik Papa sementara waktu sampai Papa bosan atau kau akan membusuk di dalam penjara ini!"


Sony masih terdiam dia mengepalkan tangannya dengan kuat, Satya yang melihat itu kemudian berkata kembali. "Dengar ini Sony, walau bebas atau tidak nya dirimu dari penjara ini. Papa akan tetap menculik Caca dan akan menjadikan dia milik Papa."


Satya lalu pergi meninggalkan Sony dengan pilihan yang begitu sulit untuk dijawab oleh putranya tersebut.


"Siall! dasar bajingann tua siallan!" Sony mengamuk dia meninju sel tahanan dihadapannya yang terbuat dari besi baja itu hingga tak sadar tangannya sampai berdarah lalu mengumpat dengan kata-kata kasar yang membuat penghuni sel disekitarnya bergidik ketakutan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2