Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 84. Sidang Sony.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti biasa mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama dengan kondisi yang cukup tenang dan damai, tetapi kedamaian itu membuat hati Pak Heru menjadi gelisah dan bertanya-tanya.


"Ada apa dengan mereka, kenapa mereka tidak saling berbicara. Apa mereka sedang marahan? apa yang terjadi kemarin, kata Bi Lila Caca tenggelam dan itu karena ulah Nael, apa itu penyebabnya Caca marah dan tidak mau bicara dengan bocah tengik itu?"


Melihat kedua nya terdiam dan hati Pak Heru yang di landa penasaran, akhirnya Pria tua ini pun angkat bicara.


"Caca."


Caca menoleh kemudian bertanya, "Iya Pak Heru, ada apa?"


"Kenapa kamu tidak makan, apa rasanya tidak enak? biar nanti Bi Lila yang ganti masakannya."


"Tidak Pak Heru, ini enak cuma sedang tidak nafsu saja. Tapi tenang makanan ini pasti habis." Caca menyuap makanan yang berada di hadapannya dengan sesekali dia menghela nafas panjang.


Nael yang melihat Caca sedang tidak bersemangat membuat dirinya juga jadi ikut tidak berselera makan, dia berpikir kalau Caca masih marah kepadanya.


"Kenapa kalian berdua jadi tidak bersemangat seperti itu tidak seperti biasanya selalu membuat keributan di meja makan."


Nael berdua saling menatap lalu bersama melihat Pak Heru dan berkata, "Tidak kenapa-napa."


Pak Heru semakin penasaran saja, apalagi dia mendengar cerita dari Bi Lila kalau mereka berdua di dalam Paviliun sampai sore hari dan Caca keluar dalam kondisi marah.


"Caca, Bapak minta maaf jika kemarin Nael membuat kesalahan padamu, apa Nael menyakitimu, Nak? ceritakan saja sama Bapak jangan sungkan."


Nael melihat Caca yang sedang menatap tangan kirinya dan itu membuat Nael mengingat kejadian kemarin, tetapi dia yakin kalau Caca tidak akan mau menceritakan itu semua kepada Ayahnya.


Caca memejamkan kedua mata dan mengepal tangan kirinya itu lalu dia membalas pertanyaan Pak Heru. "Tidak apa Pak Heru, Nael sudah meminta maaf kepada saya dan saya juga sudah memaafkan dia, lagipula tidak ada yang terjadi diantara kami berdua, Nael tidak menyakiti saya Pak." Caca tersenyum.


Nael merasa lega karena Caca tidak berani menceritakannya kepada Pak Heru, diapun kembali memakan makanan nya dengan tenang.


"Oh begitu saya pikir Nael menyakiti mu dan melakukan hal yang tidak pantas kepadamu didalam paviliun itu!" ucap Pak Heru langsung dan menatap ekspresi mereka berdua.


Mendengar hal tersebut membuat Nael dan Caca keselek nasi bersamaan.


"Uhuk!"


"Uhuk!"


"Kenapa Papa bisa tahu kalau kami berduaan di dalam paviliun?" tanya Nael dan dia pun panik seketika sedangkan Caca memerah dia malu sekali ketika mengingat tangannya itu tidak sengaja menyentuh saudara satu tubuh Nael.


Pak Heru menghela nafas dia kesal dengan anaknya yang tidak tahu atau memang belagak tidak perduli kalau dirumah nya ini banyak mata-mata kepercayaannya hanya demi berduaan dengan kekasihnya itu.


"Tidak apa-apa, Papa hanya menerka saja ternyata memang benar kalian berduaan di dalam sana. Hahaha. Sekarang kalian cepatlah bersiap-siap karena sebentar lagi kita akan berangkat ke pengadilan."


Pak Heru pergi menuju kamarnya sambil tersenyum dan berkata di dalam hati.


"Seperti nya aku memang harus segera menikahkan mereka agar Nael bisa memiliki Caca seutuhnya dan untuk sementara aku harus menahan Nael agar tidak melakukan hal yang tidak pantas kepada Caca sampai hari jadi mereka tiba."


"Jika hal tersebut terjadi sebelum hari jadi mereka, apa yang akan aku katakan kepada Djuanda yang berada di atas sana. Maafkan lah aku Djuanda sahabatku, ternyata anakku yang tidak tahu malu itu sangat tidak sabaran."


***


Sementara itu Caca kembali ke kamarnya dan meninggalkan Nael sendiri di meja makan. Melihat Caca mengacuhkan dirinya, membuat Nael menjadi tidak enak hati. Diapun mengikuti Caca diam-diam agar bisa masuk ke dalam kamarnya untuk berbicara.

__ADS_1


Caca masuk kedalam kamarnya dan tak menyadari ada pria tampan yang mengekor kepadanya, lalu menutup pintu kamar itu dengan cepat.


"Brak!"


Mendengar pintu kamarnya yang tiba-tiba tertutup dengan kencang membuat Caca berbalik segera.


"Nael!" ucap Caca yang terkejut melihat Nael yang ternyata mengikuti dan sudah berada di dalam kamarnya.


"Mau apa kamu kesini? lebih baik keluar lah sebelum ada yang melihat lagipula aku mau mandi."


Nael tak menghiraukan perkataan Caca dia memalingkan muka lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Tidak mau sebelum kamu benar-benar memaafkan ku setulus hati."


Caca menghela nafas. "Huft baiklah, aku sudah memaafkan mu Nael."


Nael masih tidak mau menatap Caca. "Huh aku tidak percaya, aku butuh bukti nyata." Nael melirik Caca dengan ujung matanya.


Caca mendengus kesal mendengar hal itu, tetapi demi agar pria tampan itu keluar dari kamarnya, Caca pun menurut.


"Oke kamu mau bukti apa?" tanya Caca menarik lengan baju Nael.


Nael tersenyum senang mendengar itu dia kemudian menunjuk-nunjuk bibirnya agar Caca memberikan sesuatu kepada bibir seksinya nya itu.


"Cium disini, tapi jangan pakai tangan ya. Hihihi."


Caca memijat kepalanya karena kesal. "Pakai kaki boleh?" tanya Caca mulai marah.


Senyum Nael berubah menjadi datar tetapi dia tidak menyerah begitu saja. "Cih! tidak mau, kalau kau tidak kasih maka aku tidak akan keluar dari kamar ini."


"Kalau kau tidak mau keluar dari kamar ini maka aku akan berteriak!" balas Caca tak mau mengalah.


Nael menghela nafasnya dia akhirnya mengalah demi kebaikan berdua. "Ya sudah, maaf menganggumu."


"Eh!"


Nael menoleh kebelakang dia melihat Caca yang memeluknya sambil memejamkan kedua matanya dan Nael tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menarik dan mengencangkan kedua pergelangan Caca yang melingkar di pinggangnya itu agar bisa merasakan pelukan Caca lebih erat lagi.


"Nael, apa begini sudah cukup bukti kalau aku sudah memaafkanmu?" tanya Caca.


Nael melepaskan pelukan itu lalu berbalik dan memeluk Caca dengan lembut.


"Terima kasih, sudah cukup kok. Lagipula aku hanya bercanda, mana mungkin aku tidak percaya dengan mu. Aku hanya tidak ingin kamu mengacuhkanku, itu saja."


"Hem, baiklah aku tidak akan mengacuhkanmu lagi," balas Caca.


Nael menatap wajah Caca, terlihat masih ada perasaan cemas di wajahnya itu. Nael meraih wajah Caca agar menatapnya lalu bertanya sesuatu, "Apa yang sedang kamu lamunkan? apakah persidangan Sony yang membuat kamu merasa cemas dan tidak bersemangat?"


Caca mengangguk. "Benar, aku hanya takut sekali dengan mereka. Apa yang akan mereka rencanakan setelah ini."


Nael mengerti dengan perasaan Caca yang sedang mengkhawatirkan sesuatu dan itu bukan tanpa alasan mengingat Satya dan keluarganya adalah orang yang kejam.


Nael menghibur Caca dan berusaha menenangkan kegelisahannya. "Jangan terlalu dipikirkan, kita juga tidak tahu kedepannya seperti apa. Apa yang akan mereka lakukan setelah ini, tetapi yang jelas aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."


Caca senang mendengar ucapan Nael, walau di dalam hati dia masih merasakan ketakutan yang luar biasa jika mengenai Satya.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Baiklah ayo kita berkemas, kita harus cepat pergi ke pengadilan."


"Baik."


Mereka berkemas lalu mempersiapkan diri untuk pergi ke pengadilan dengan perasaan cemas Caca memberanikan diri untuk melawan keluarga Satya.


……………………………………………………………………………


Di Pengadilan.


Semua orang telah berkumpul di pengadilan dan sebentar lagi adalah waktu untuk mereka melakukan sidang.


"Caca persiapkan dirimu melawan Sony jawab semua dengan ketegasan dan jangan takut disini kamu aman. Nael kamu juga berikan kesaksian yang dapat memberatkannya," ucap pengacara Caca yang akan bertarung melawan pengacara dari Sony.


"Baik Pak!" jawab mereka bersamaan.


Para orang penting didalam ruang sidang telah berkumpul, terlihat Satya juga menemani Sony di dalam pengadilan.


Satya menatap tajam Caca dan Nael, tatapan yang begitu menakutkan. Satya tersenyum saat melihat kehadiran pendukung Caca memasuki ruangan tersebut, senyuman yang tidak dapat diartikan sebagai senyuman biasa.


Caca bergetar hebat saat merasakan aura Satya yang begitu menakutkan hingga tak terasa Caca meneteskan air mata nya karena takut, teringat selalu pembataian yang dilakukan oleh orang-orang jahat suruhan Satya kepada orang tua kandung Caca saat itu tepat di depan matanya, di dalam rumahnya yang mengakibatkan dirinya tidak berani pulang ke rumah nya sendiri sampai sekarang ini.


Semua pendukung Caca tidak tinggal diam dia berusaha menenangkan Caca yang terlihat lemas ketakutan.


Nael yang melihat Caca ketakutan seketika berdiri dan mengandeng tangan Caca melangkah maju untuk berdiri di atas mimbar yang telah disediakan untuk dirinya memberikan kesaksian.


Nael mengenggam erat tangan Caca lalu berjalan sambil terus menatap Caca, Nael menyakinkan Caca jika dirinya akan selalu bersama dengannya apapun yang terjadi.


Sony geram, emosinya memuncak ketika memperhatikan Nael dan Caca yang begitu dekat, tetapi dia harus ingat perkataan yang telah di ajarkan oleh semua orang kepadanya, dia harus mengontrol emosinya.


"Jangan takut ada aku disini." Nael melepaskan tangan Caca dan sontak Sony melihat cincin pertunangan itu di jari manis Nael dan Caca.


"Cincin pertunangan?" tanya Sony dalam hati.


Sony meremas baju nya dia sangat kesal melihat kemanisan di dalam diri Nael terhadap Caca, dia bersumpah akan membalas perlakuan Nael yang berani merebut wanita nya itu.


***


Sidang berlangsung dengan sengit, semua saksi maupun pembela telah dikeluarkan memberikan kesaksian dari masing-masing kubu dan kini adalah saatnya mendengarkan hasil yang ditunggu-tunggu.


"Dengan ini menyatakan kalau saudara Sony Satya bersalah dan akan dikenakan hukuman 15 tahun penjara." (Maaf ya hakimnya Author sendiri jadi ngarang aja hukuman pidana nya hihihi.)


"Tok tok tok!" Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali menandakan berakhirnya sidang kali ini.


Caca terharu dia sangat senang, begitu pula dengan yang lainnya, mereka senang karena Sony telah dinyatakan bersalah dan akan dipenjara dengan waktu yang cukup lama.


Nael memeluk Caca dengan erat sesekali dia mencium kening Caca karena senang, kegembiraan jelas terlihat diwajah mereka tetapi tidak dengan Sony dia begitu geram apalagi ketika Nael dan Caca yang begitu mesra dihadapannya.


"Si*al! dia berani mencium wanita ku, lihat saja nanti!" Sony berjalan pergi bersama polisi dan akan mendekam disana selama 15 tahun penjara.


Semua senang tetapi tidak dengan Pak Tris, dia melihat ada kejanggalan yang terjadi setelah melihat Satya yang begitu tenang.


"Apa yang direncanakan orang itu? mengapa dia tidak bereaksi apapun ketika mendengar anaknya dipenjara begitu lama?" tanya Pak Tris dengan hati yang cemas.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2