Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 13. Ulang Tahun Pak Heru Part II


__ADS_3

Di dalam mobil Nael.


Selama diperjalanan, Cindy terus melihat cermin dan memperhatikan riasan nya agar selalu tetap sempurna.


Di dalam mobil. Mba Dewi, Lista dan Caca hanya memperhatikan ulah Cindy yang tidak bisa diam. Mereka berbisik di belakang.


"Itu, si Cindy. Kenapa sih? nggak bisa diem kaya belatung nangka," kata Mba Dewi sambil berbisik-bisik.


"Nggak tau. Mungkin ada yang gatel," kata Lista.


Mereka bertiga kemudian tertawa pelan.


Cindy melihat ke arah Nael yang sedang serius mengemudikan mobil. Sesekali mata Nael melihat kaca dalam mobil nya. Siapa yang di lihat nya? entah lah.


***


Suasana kembali hening. Lista tak sengaja melihat mata Nael yang sedang melihat kaca dalam mobil. Lista melihat Nael seperti sedang melihat ke arah Caca. Lista lalu melirik Caca yang sedang melihat ke arah luar. Akhirnya dia mengerti.


"Ehem. Kenapa sih, Pak? lihat-lihat kita aja yang di belakang sini? kan di depan ada yang lebih cantik daripada kita bertiga," kata Lista dengan berani.


"Ah. Apa sih Lis?" kata Cindy malu.


Nael hanya tersenyum.


"Carisa," panggil Nael.


"Iya, Pak."


"Kenapa kamu nggak ber dandan kaya teman-teman kamu ini?" tanya Nael.


"Nggak apa, Pak. Saya nggak betah aja pake make up. Saya juga nggak bisa pakai nya," jawab Caca bohong.


"Oiya. Kamu tolong bawa laporan ini ya. Kamu pegang dulu, takut saya lupa karena harus melayani banyak tamu nanti," kata Nael sambil memberikan map berisi laporan kepada Caca.


"Baik, Pak."


Caca melanjutkan lamunan nya lagi.


***


30 menit kemudian.


Akhirnya mereka telah sampai di sebuah hotel berbintang lima. Sangat megah sekali. Pelayanan dan fasilitas semua serba mewah.


Caca sudah membayangkan makanan enak yang nanti berada di dalam. Nael mengarahkan para cewek-cewek untuk mengikuti nya agar tidak tersesat.


Mereka tiba di ruangan yang sudah di pesan sebelumnya. Di depan pintu masuk terlihat ada Teh Mul dan Ahmad yang sedang menunggu kehadiran Nael dan para cewek-cewek. Kemudian teh Mul bergabung dengan Caca.


Mereka semua akhir nya masuk ke dalam ruang megah tersebut. Banyak dekorasi yang sangat indah, meja dan bangku di hias dengan warna yang selaras. Lampu terang tapi tidak menyilaukan mata, di tambah suara musik jazz merdu. Ah semua seperti mimpi bagi sebagian orang.


Caca kemudian minder dengan penampilan nya, dengan seragam kaos perusahaan, jelana jeans panjang dan sepatu flat, rambut di kuncir satu, seperti pelayan yang berada di istana saja.


Caca mundur perlahan bersama teh Mul. Mereka berdua duduk di bangku dekat belakang pintu masuk. Tempat yang paling tidak di lihat oleh banyak orang.


"Ah seperti Cicak saja, dekat dan nempel dengan tembok," kata Caca dalam hati.


Sedangkan Mba Dewi, Lista dan Cindy entah menghilang kemana.


"Kita disini aja ya, Teh."


"Iya, Ca. Malu kalo kesana. Kita beda sendiri," kata Teh Mul.


"Iya," kata Caca.


Caca berharap acara ini tidak berlangsung lama. Caca melihat Ahmad dan pak Budiman yang sedang mengumpulkan kepala direksi untuk bertemu dengan pak Heru. Di sana ingin mengadakan rapat, peluncuran sebuah produk baru. Nael kemudian masuk kedalam ruang rapat tersebut.


***


15 menit kemudian rapat telah selesai. Acara selanjut nya adalah perayaan ulang tahun pak Heru yang akan diadakan pada jam 8 malam nanti. Teh Mul dan Caca hanya bisa melihat dari jauh.


Mata Caca seperti mencari sesuatu. Dia mencari dimana Mba Dewi, Lista dan Cindy. Caca malah melihat Nael si bos nya terus yang sedang menelepon seseorang sambil mondar mandir.


Nael kemudian keluar dari ruang pesta untuk menemui seseorang. Caca melihat Nael sedang berbicara dengan orang tersebut dari balik celah pintu. Kemudian Nael mengulurkan tangan nya seperti ingin menggandeng seorang wanita.


Dan benar saja itu adalah seorang wanita. Sangat cantik, seperti bangsawan saja. Aura nya pun kelihatan seperti wanita berkelas, gaun yang elegan namun simple, berwarna krem ke emasan, dengan gliter yang berkilauan.


Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam sambil tersenyum manis. Mata Nael juga terlihat memandangi wanita itu. Seperti sepasang kekasih saja. Semua mata tertuju kepada mereka berdua, banyak orang yang bertanya-tanya.


"Siapa gerangan wanita cantik itu? apa itu adalah pacar nya Pak Nael atau tunangan nya?"

__ADS_1


Nael mengantarkan wanita itu ke sebuah meja dan menarik kursi untuk wanita tersebut duduk. Lalu wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Nael. Kemudian Nael meminta ijin untuk meninggalkan wanita tersebut. Entah mau kemana dia? tidak ada yang tahu.


***


Lima menit kemudian. Tamu yang hadir disana dibuat heboh kembali. Bagaimana tidak Nael tiba-tiba hadir dengan memakai setelan jas dan kemeja berwarna putih. Bagai Oppa Korea, ah bukan lebih tepat nya bagai pangeran saja. Begitu tampan hingga tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata lagi.


Caca mulai lapar. Karena menunggu acara makan yang sudah lama tapi belum di mulai juga. Caca hanya minum saja dari tadi, akhirnya Caca jadi kebelet dan ingin buang air kecil. Caca kemudian ijin kepada Teh Mul untuk ke toilet sebentar.


"Teh. Caca pipis dulu ya, nggak tahan," kata Caca sambil menahan buang air kecil.


"Ikut, Ca. Saya juga mau ke toilet," kata teh Mul.


"Ya sudah. Yuk!" kata Caca.


Akhirnya mereka berdua bersama-sama pergi ke toilet.


"Ah, lega!" kata Caca setelah buang air kecil.


"Iya. Untung kita ketemu ya toilet nya. Ternyata dekat sama ruang pesta nya," kata Teh Mul.


"Iya, Teh."


Caca memandangi diri nya di depan cermin. Caca lalu membuka kuncir rambut nya dan membiarkan rambut nya terurai. Caca kemudian menyisir nya perlahan.


"Ya, ampun Ca. Rambut kamu bagus banget!" kata Teh Mul yang kaget.


"Makasih, Teh." Caca tersenyum.


Percakapan mereka didengar dan dilihat oleh seorang wanita. Yap wanita yang tadi berada di ruang pesta bersama dengan Nael, dia juga ternyata berada di dalam toilet.


Mereka kemudian berbincang untuk mengenal satu sama lain.


"Hai. Karyawan Pak Heru ya?" tanya wanita cantik tersebut.


"Hai juga. Iya, kok bisa tau?" kata Caca bertanya kembali.


"Itu dari seragam nya," kata wanita tersebut sambil menunjuk seragam Caca.


Caca dan Teh Mul hanya terdiam. Mereka malu dengan semua tamu yang hadir disini. Mereka semua tampil cantik dan bergaya, berbeda dengan mereka, seperti kampungan.


Wanita tersebut mengerti dengan kebisuan Caca dan Teh Mul.


"Begini saja. Mumpung masih ada waktu se jam lagi, kalian berdua ikut ya ke kamar saya. Sepertinya saya masih ada baju-baju bagus yang cocok buat kalian berdua," kata wanita tersebut.


Caca dan Teh Mul tersenyum dan senang, ternyata wanita itu sangat baik. Caca dan Teh Mul kemudian mengikuti wanita tersebut.


***


Sesampainya di kamar wanita tersebut. Caca dan Teh Mul terkejut dan terkagum-kagum. Caca dan Teh Mul melihat isi dari ruang kamar hotel tersebut, mereka berdua seperti orang bodoh saja. Wanita itu kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Oke. Sini masuk! oiya nama kalian siapa?"


Mereka kemudian memperkenalkan diri.


"Saya, Mulyati. Boleh dipanggil, teh Mul."


"Kalau saya, Carisa. Biasa dipanggil, Caca."


"Saya, Valencia. Panggil saja, Valen."


Mereka kemudian memilih-milih baju milik Valen yang sangat banyak, sudah seperti satu butik saja dipindahkan kemari. Mereka hingga kesulitan memilih, karena semua terlihat indah.


"Oke. Kayak nya saya harus buka lemari paling dalam lagi."


"Hah! ada baju lagi?" kata teh Mul keheranan.


Valen hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang polos.


***


Akhirnya pilihan Teh Mul berhenti pada gaun ungu muda yang simple. Teh Mul kemudian segera menganti baju dan mulai merias wajah nya. Setelah itu dia berlenggak lenggok di depan cermin besar yang berada di dalam kamar. Caca tertawa melihat tingkah Teh Mul yang kegirangan.


Caca masih memilih baju. Pandangan nya terhenti, ketika melihat satu gaun yang sangat indah, gaun panjang warna putih susu, simple nan elegan, menampilkan sisi feminin dan berkelas. Caca kemudian mengeluarkan gaun tersebut dari dalam lemari.


Caca memandangi gaun itu, dan seperti mengingat sesuatu. Dia lalu memeluk gaun itu dan seperti mau menangis.


Valen dan Teh Mul saling berpandangan. Mereka tak mengerti dengan Caca yang tiba-tiba murung.


"Oke. Pilihan yang bagus. Ayok, Caca. Kamu ikut saya sini," kata Valen mencairkan suasana.

__ADS_1


Tiba-tiba handphone Caca berdering. Sebuah panggilan masuk dari Nael. Karena Caca sedang mengganti baju, Teh Mul akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Pak."


"Halo, Carisa. Kamu dimana? Pak Tris dan Pak Heru nyari kamu nih. Saya tanya Dewi, Lista dan Cindy mereka tidak tahu kamu dan Mul sedang berada dimana? cepat kesini!" kata Nael sedikit emosi.


"Halo, Pak. Saya Mul. Caca lagi bersama Valencia di kamar hotel nya," jawab teh Mul.


"Lagi ngapain kalian disana hah?" tanya Nael begitu heran.


Valen merebut handphone Caca dan berkata, "Tunggu sebentar lagi ya, nanti aku yang anter Caca," kata Valen sambil memberikan handphone ke Mul kembali.


"Oke, Mul. Sekarang Ahmad akan jemput kamu ke kamar Valen. Kamu kesini dulu biar Caca sama Valen kesini belakangan. Sekalian kamu bawain laporan Caca yang tadi saya suruh bawa."


"Baik, Pak."


Teh Mul kemudian melaksanakan perintah Nael, dia meminta laporan kepada Caca untuk diberikan kepada Nael.


"Ca. Laporan Pak Nael ada dimana?" tanya Teh Mul.


"Ada di dalam tas, Teh."


"Teteh duluan ya, Pak Nael butuh segera katanya, Ahmad juga udah datang jemput kayaknya."


"Iya, Mul. Biarin Caca nanti saya yang antar kesana," kata Valen.


"Makasih ya," kata teh Mul.


"Sama-sama."


Teh Mul membuka pintu kamar hotel dan melihat Ahmad sedang menunggu di depan pintu kamar Valen. Mereka saling bertatapan.


Ahmad memandangi Mul yang begitu cantik beberapa saat. Ahmad berhenti melamun dan mereka kemudian bergegas menuju ke acara yang akan berlangsung sebentar lagi.


***


Caca sudah selesai berganti baju. Caca memakai gaun putih itu, dia menghampiri cermin besar dan memandangi diri nya di dalam cermin. Entah kenapa dia seperti ingin menangis. Tiba-tiba Caca mengingat masa lalu nya.


"Mama," kata Caca dengan suara pelan dan terdengar lirih.


Valen menatap Caca dengan rasa penasaran. Kemudian menghentikan lamunan Caca, dan menghibur nya.


"Wah. Cocok banget sama kamu, Ca. Cantik banget, tanpa make up juga kamu sudah cantik loh. Lihat tuh. Ah saya jadi iri," kata Valen menghibur.


Caca masih terdiam memandangi dirinya. Valen kemudian mengajak Caca ke meja rias milik nya, dan mengeluarkan semua peralatan Make Up nya, lengkap sekali. Valen mulai merias Caca.


Caca hanya diam memandangi dirinya. Valen juga sibuk merias Caca. Tiba giliran rambut, Valen memberanikan diri untuk bertanya.


"Wah, Ca. Rambut kamu kaya nya lebih bagus dibuat model seperti ini deh. Kita buat rambut sedikit bergelombang ya," kata Valen.


Caca mengangguk tertanda setuju.


"Ca. Kamu sering perawatan rambut ya? dari lahir sudah seperti ini ya?" tanya Valen.


"Iya. Sebenernya sih waktu kecil rambut saya nggak seperti ini. Waktu saya lahir, katanya rambut saya semua berdiri. Haha," kata Caca sedikit tertawa.


"Masa sih? kaya gimana rambut berdiri nya?" tanya Valen kembali.


"Ya. Kamu tahu dandelion? pernah liat bunga nya?" tanya Caca.


"Tahu. Bunga nya seperti kapas bulat, dan kalo tertiup angin bisa lepas dan berterbangan kan," kata Valen.


"Iya. Seperti itu rambut saya, semua rambut saya berdiri, begitu halus dengan wajah bulat dan mungil. Saya seperti dandelion kecil," kata Caca mengingat sedikit masa lalu nya.


"Wah. Siapa yang bilang begitu Ca? ada-ada saja, tapi itu kan bukan bunga, itu rumput liar," kata Valen sambil tertawa.


"Kata papa. Karena itu dia selalu memanggil saya dengan sebutan "Dandelion Kecil" nya papa. Dia bilang saya harus kuat seperti bunga dandelion, tetap harus berdiri tegar mesti banyak orang yang menginjak nya," kata Caca sambil melamun kembali.


Valen hanya terdiam seperti tidak mau melanjutkan percakapan nya kembali.


"Sekarang tinggal sepatu nya, tunggu sebentar ya, nah ini dia," kata Valen.


Mata Caca berbinar. Dia melihat sepatu yang sangat cantik. Sepatu putih dengan gliter berwarna silver, terlihat tinggi sekitar lima cm, dan ada pita bunga di atasnya. Seperti sepatu cinderela saja.


"Oke. Sudah selesai, sepatunya juga cocok sekali, bener-bener pas. Waw, Caca. Mamu perfect banget. Astaga ini bener kamu? lihat tuh, kayaknya Caca ketuker nih, sama putri dongeng. Hehehe," kata Valen kepada Caca.


"Yuk kita ke pesta sekarang!"


Caca mengangguk. Kemudian mereka pergi ke acara bersama-sama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2