
Di ruangan Pak Tris.
Pak Tris meminta Sonia dan Sandy untuk duduk, lalu memulai topik pembicaraan.
"Sandy."
"Iya, Pak Tris.
"Caca sudah tinggal di mess perusahaan ini dan mulai sekarang kamu juga harus tinggal disini untuk menjaga Caca sekaligus pembawa pesan."
"Ini kunci mess nya," kata Pak tris.
"Baik, Pak."
"Oke. Dan untuk Sonia, Bapak minta sama kamu untuk mengawasi Nael agar tidak bertemu langsung dengan Caca. Jika mereka bertemu secara diam-diam, kamu langsung beritahu saya ya," pinta Pak Tris.
"Baik, Pak Tris."
"Oiya, satu lagi. Mengenai pertunangan kamu dengan Nael, jangan sampai mereka tahu kalau itu adalah sebuah sandiwara agar Caca dan Nael bisa menjaga jarak."
"Tapi maaf Pak Tris, Nael sudah tahu rahasia ini Pak."
"Kenapa bisa tahu?" tanya Pak Tris.
"Saya tidak tega dengan Nael yang terus-terusan bersedih dan sempat patah semangat, dia juga selalu menyalahkan Pak Heru."
"Hmm begitu, ya sudah tidak apa. Tapi Caca jangan sampai tahu ya, sekalian kamu bilang sama Nael jangan memberitahu Caca mengenai pertunangan palsu ini dan dia harus bisa menahan diri."
"Sandy jangan sampai Nael terlalu dekat dengan Caca, jangan sungkan memisahkan mereka jika kedapatan Nael sedang mendekati Caca. Selama kita masih belum menemukan siapa satu orang lagi penyusup nya Satya."
"Sonia sekali lagi terima kasih ya, karena telah sudi membantu kita di sini, secepatnya kita akan menangkap penyusupnyaSatya."
"Jangan sungkan Pak Tris, saya ikhlas membantu kalian. Orang tua saya juga sudah mengerti akan situasi ini, hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk membalas kebaikan keluarga Djuanda. Kami senantiasa selalu berhutang budi kepada beliau.
"Kamu memang berhati baik Sonia, benarkan Sandy?" ucap Pak Tris melirik Sandy yang menatap Sonia.
Mendengar hal tersebut, Sandy dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Ya Pak Tris, benar."
Entah mengapa wajah mereka menjadi tersenyum malu-malu, Pak Tris hanya tersenyum melihat mereka berdua.
………………………………………………………………………………
Di dalam ruangan Nael.
Sementara itu di ujung ruangan sana Nael masih menggenggam tangan Caca agar tidak melarikan diri.
"Ampun deh Pak, mau apa sih?" tanya Caca yang berusaha melepaskan diri.
Nael lalu menarik tangan Caca agar mendekati dirinya.
"Kamu mau kemana tidak pakai masker dan penutup rambut? apa mau ketahuan hah?"
"Eh iya!"
Caca baru paham, ternyata Nael menghentikan nya untuk mengingatkan agar menutupi dirinya kembali.
Caca menghela nafas lega,"Fiuh! kirain."
"Oh begitu, terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya pikir Ba--" ucap Caca terputus saat Nael tiba-tiba membalas perkataan Caca dengan cepat.
"Kenapa? apa kamu pikir saya mau melakukan macam-macam sama kamu hah!"
__ADS_1
"Tidak! bukan itu maksud saya."
"Saya masih waras, lagipula kalau mau macam-macam kenapa harus di sini," kata Nael menggoda Caca kembali.
"Apa maksudnya itu? macam-macam? tidak di sini?" tanya Caca dengan tampang polos dan lugu yang menambahkan kesan imut dan manis diwajahnya.
"Ya seperti ...."
"Seperti apa maksudnya?" Caca mengeryitkan dahi nya.
Nael lalu tersenyum dan mendekati Caca secara perlahan dengan tatapan yang membingungkan bagi Caca.
"Kenapa muka mu aneh begitu? mau apa kamu, jangan mendekat!" ucap Caca panik.
"Apa jangan-jangan dia mau melakukan hal itu!" ucap Caca dalam hati.
Caca memejamkan kedua mata, lalu mengelengkan kepala nya berharap agar hal itu tidak terjadi.
"Ah Tidak!! jangan! jangan lakukan itu!" teriak Caca ketakutan sambil menutup dada dengan kedua tangannya yang menyilang.
Nael tersenyum lalu tertawa melihat wajah Caca yang panik dan pucat pasi.
"Hahahaha." Nael tertawa lepas.
"Kenapa tertawa seperti itu, kamu pikir itu lucu? dasar menyebalkan!" ucap Caca kesal sambil mengangkat bibir atas nya.
"Sudahlah jangan dibahas, jangan pergi dulu. Tunggu sampai Sonia dan Sandy datang kemari," ucap Nael.
Nael lalu duduk di kursi nya dengan wajah senang dan masih menertawakan Caca.
Caca menatap Nael dengan kesal. Nael membuat jantung nya serasa mau lepas. Belum lagi dada nya yang dibuat naik turun hingga nafasnya terasa sesak karena perlakuan Nael tadi.
"Seperti nya senang sekali dia mengerjai orang seperti itu," ucap Caca dalam hati.
Nael terusik dengan ucapan Caca dia lalu bangkit dari tempat duduknya dan tak lupa memukul meja hingga Caca terkejut.
"PRAK!"
Caca tersentak kaget hingga bahu nya spontan bergerak ke atas, seperti kura-kura yang ingin masuk ke dalam cangkang. Nyalinya berubah menciut, embel-embel ingin menampar wajah Nael seketika menghilang begitu saja.
"Kamu bilang apa tadi? ingin menampar wajah tampan saya? sini kalau berani atau perlu saya yang mendekat kesana dan memberikan wajah ini untuk kamu tampar Hah!" ucap Nael sambil menunjukkan pipinya ke arah Caca.
"Ihkk gemaass nya, dia benar-benar bikin emosi saja!"
Pertengkaran mereka di lihat oleh Pak Tris Sandy dan juga Sonia yang baru saja tiba, mereka hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Caca dan Nael yang berkelahi.
"Memang nya kamu pikir saya takut dengan mu hah!" ucap Caca emosi.
"Ni sini kalau berani, lihat wajah mu sudah merah seperti kepiting rebus," Nael meledek Caca
"Dasar berani nya dia, benar-benar minta di tabok rupanya!"
Caca mengepalkan kedua tangannya dan entah keberanian dari mana Caca mulai berjalan mendekati Nael.
"Sini mana pipi mu yang mau di tampar hah!"
Caca lalu melayangkan tangan nya kepada Nael. Tapi tangannya tertahan oleh Sandy yang secepat kilat mendekati Caca dan Nael, hingga mereka berdua terheran-heran dan kagum.
"Sandy!" kata Nael dan Caca bersamaan.
"Jangan lakukan itu Nona, itu tidak baik!" ucap Sandy menasehati Caca.
"Lepas Sandy, lihat dia! dia sendiri yang meminta di tampar, lihat wajah nya itu sangat menyebalkan sekali,"
__ADS_1
"Tidak Nona, jangan!"
Nael masih meledek Caca yang masih terlihat kesal dengan mata genit nya.
"Aakhh! lihat mata nya itu Sandy, tadi pipi nya minta di tampar, sekarang mata nya ingin di colok!"
"Sabar Nona, sabar!" ucap Sandy sambil menahan Caca yang sedang mengamuk.
Pak Tris memijat pelipis kepala dengan tangannya karena pusing dengan pertengkaran mereka berdua. Sedangkan Sonia hanya terkekeh melihat Caca dan Nael.
"Sonia."
"Iya Pak Tris."
"Seperti nya kita harus turun tangan."
"Baik Pak."
Pak Tris dan Sonia masuk ke dalam ruangan Nael untuk menghentikan perkelahian Nael dan Caca.
"Sudah hentikan Caca," kata Pak Tris.
"Sudah Nael jangan meledek Caca lagi," kata Sonia.
"Lihat Pak Tris, lihat dia menyebalkan sekali. Dia sudah punya calon istri tapi masih saja berani menggoda dan meledek Caca Pak!" ucap Caca kesal.
"Siapa yang menggoda kamu? kamu saja yang terlalu bawa perasaan. Calon istri ... calon istri ..., kamu lucu sekali Carisa padahal pertunangan kami itu hanya sa--" ucap Nael terputus karena Sonia langsung menutup mulut Nael dengan telapak tangan nya.
"Hanya apa hah!" Caca mendongak kan kepala dan membusungkan dadanya menantang berkelahi kembali.
"Sudah lah Ca. Sandy ajak Caca kembali ke tempat kerja nya," pinta Pak Tris.
"Baik Pak."
"Ayo Nona kita pergi dari sini."
"Baik Sandy. Ayo kita pergi, Huh!" ucap Caca kesal sambil memalingkan wajah nya dan mulut yang terus menggerutu.
"Hmmppp ... hmmmp ...!" Nael sulit berbicara karena Sonia masih membungkam mulutnya Nael.
"Maaf!" kata Sonia dan langsung menurunkan tangannya.
"Apa sih Sonia? kenapa mulut saya kamu tutup?"
"Nael! jangan beritahu Caca tentang pertunangan palsu ini, sebelum kita menemukan penyusup yang berada di sini, kamu harus menahan diri. Jangan dekati Caca nanti penyamarannya bisa terbongkar," kata Pak Tris.
"Tapi Pak Tris, lihat Caca dia menganggap pertunangan ini asli bagi nya. Sampai sebut Sonia calon istri saya. Saya cuma berusaha menghilangkan salah paham ini Pak. Dia sampai berani memarahi saya," ucap Nael membela diri.
"Bagus Caca jadi marah sama kamu, biar bisa jaga jarak dulu."
"Tapi Pak Tris --"
"Sudah pokoknya turuti saja nasehat dari saya dan Papa mu itu. Titik!" sambar Pak Tris cepat.
"Saya harus kembali bekerja, masih banyak pekerjaan yang harus di serahkan ke Pak Heru dan Nael ingat pesan saya! awas saja kalau ketahuan mendekati Caca," kata Pak Tris.
Pak Tris kemudian kembali ke ruangannya untuk bekerja. Nael mengacak acak rambutnya seperti orang yang sedang mengalami frustasi mendengar hal tersebut. Dia merasa telah kehilangan harapan untuk bertemu dengan Caca kembali.
"Sabar ya Bos," ucap Sonia sambil terkekeh melihat Nael.
*
Bersambung.
__ADS_1