
Nael dan Caca saling bertatapan, obrolan dan tumpahan isi hati keduanya membuat mereka menjadi semakin dekat, mereka sampai tidak menyadari kalau hari sudah semakin sore dan ada dua orang pria tua yang sudah menunggu mereka sedari tadi hingga jamuran.
"Aduh kenapa mereka lama sekali keluarnya?" tanya Pak Heru sambil menggoyangkan kakinya.
"Entahlah Heru, biarkan saja dulu namanya juga anak muda. Kita tunggu saja sebentar lagi," balas Pak Tris dan menghela nafasnya.
Mereka berdua akhirnya menghela nafas panjang sudah hampir dua jam mereka menunggu anak muda itu tetapi mereka belum keluar juga dari ruangannya.
***
Sementara orang tua itu menunggu, lain hal nya dengan anak muda ini. Mereka malah asik bercengkrama, mentang-mentang sudah semakin dekat mereka lupa segalanya.
"Nael."
Nael melihat Caca, dia senang akhirnya Caca memanggil namanya dan tak ada embel-embel Pak lagi.
"Iya Carisa ada apa?" tanya Nael menatap Caca.
"Apa kau tidak takut kepada Satya?" tanya Caca.
Nael menatap Caca dan tanpa ragu dia berkata, "Aku tidak takut dengan apapun, yang aku takutkan sekarang adalah bila kau jauh dariku."
Caca menatap Nael dengan penuh haru, dia kemudian bertanya kembali, "Bagaimana jika dia menyakitimu? aku tidak mau orang-orang jahat itu melukaimu."
Nael meraih wajah Caca dan meminta Caca untuk menatap matanya dan menjawab pertanyaan Caca, "Jangan takut kalau kita bersama apapun bisa dilewatkan bahkan Satya sekalipun, kita sudah melangkah sejauh ini tidak ada kata mundur lagi, aku tidak mau mereka mengambilmu. Aku siap mengorbankan diriku atau memasang badan ini untuk melindungimu."
"Begitukah, apa kau serius?"
Nael mengangguk, tanda keseriusan berada jelas dimatanya, entah apa yang membuat pria ini sangat berani berbicara seperti itu apakah ini bukti cinta nya kepada Caca.
"Carisa."
"Hem."
"Bolehkah aku ...?"
"Boleh apa?"
"Pejamkan saja matamu!" pinta Nael.
"Untuk apa?" tanya Caca.
"Ah kau bawel sekali! aku ingin memberikanmu sesuatu."
"Oh! baiklah. Apa itu?" tanya Caca penasaran.
"Makanya tutup saja matamu!"
"Oke."
Caca memejamkan kedua matanya, Nael kemudian tersenyum dia menurunkan sedikit tangannya dan menaruh kedua tangan pada tengkuk leher Caca.
"Kau mau mencekikku?" tanya Caca tiba-tiba.
"Cih mana mungkin aku berani!"
"Hm." Caca tertawa kecil lalu menunggu Nael memberikannya sesuatu.
__ADS_1
Nael kemudian terdiam dan perlahan meraih apa yang dia inginkan dengan menarik sedikit tengkuk leher Caca dan menahannya agar Caca sedikit mendongak kearah wajah Nael dan dengan perlahan Nael mengecup bibir ranum milik Caca.
Caca sontak membuka mata, tetapi Nael malah menahan Caca begitu erat, Nael menyesapnya begitu kuat dan semakin dalam tetapi entah mengapa Caca malah tak ingin itu berakhir cepat.
Caca memejamkan kedua matanya kembali dan mencoba menikmati apa yang dilakukan oleh Nael, Caca kemudian meraih wajah Nael dan diapun membalas ciuman itu hingga akhirnya ciuman itu pun berlangsung cukup lama.
Nael senang Caca mau membalas ciumannya dan tak berusaha melepaskan atau menolaknya akan tetapi mereka juga sadar ciuman itu harus diakhiri sebelum mereka kehabisan nafas.
Nael perlahan melepaskan ciuman itu dan melepas tangannya lalu menjauh dari wajah Caca begitu pula Caca dia mulai membuka matanya perlahan. Nafas mereka menggebu dan tak beraturan kedua wajah mereka terlihat memerah seketika.
"Terima kasih Carisa." Nael lalu memeluk Caca.
Caca tak bersuara setelah Nael menciumnya begitu mesra dia hanya diam dan merasa malu jika Nael melakukan itu kepadanya, walau ini bukan yang pertama, tetapi Nael selalu berhasil membuat jantung Caca berdebar hebat.
"Kau ini." Caca tersenyum lalu membalas pelukan Nael.
"Kau apa? lihat wajah mu seperti kepiting rebus." Nael meledek Caca.
"Kau itu menyebalkan, seenaknya saja menyebutku kepiting rebus."
"Begitukah aku ini menyebalkan? tidak apa kepiting rebus itu enak, aku suka kepiting rebus." Nael menertawakan Caca.
"Dasar tidak tahu diri wajahmu juga merah kalau tidak percaya bercerminlah." Caca membalas Nael.
Mereka tertawa satu sama lain kemudian berhenti berdebat lalu membereskan semua pekerjaan mereka agar rapih dan menyusun semua laporan yang telah selesai untuk diberikan kepada Pak Heru dan PakTris.
"Ayo kita keluar dan bawa semua laporan ini kita tunggu sampai Papa pulang kerumah."
("Helo Buapakmu sudah pulang dari tadi, Huh!")
"Sini aku yang bawakan semuanya." Nael mengambil tugas yang berada di tangan Caca.
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama."
Nael dan Caca saling tersenyum mereka kemudian berjalan keluar dari ruang kerja tersebut.
***
"Kre..ek."
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Pak Heru dan Pak Tris serentak menatap kearah suara itu dan melihat Nael dan Caca yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
Nael dan Caca melihat Pak Tris dan Pak Heru yang tengah duduk diruang tengah, kemudian mereka menghampiri kedua orang tua itu untuk memberikan laporan mereka.
"Pak Tris sama Papa sudah lama atau baru datang?" tanya Nael menyerahkan laporannya.
Pak Heru menatap anaknya dengan sinis, dia melihat Nael dari ujung kaki sampai kepala lalu menjawab pertanyaan Nael, "Baru saja datang kira-kira dua jam yang lalu."
Nael mengernyitkan dahinya dan membalas perkataan Papanya itu, "Kenapa tidak beritahu Nael kalau kalian sudah datang dari tadi?"
"Bagaimana mau kasih tahu kepada kalian, kalau yang di cari sedang sibuk berduaan," balas Pak Heru dengan santai sambil membolak balik laporan Nael.
"Glek!" Nael dan Caca menelan ludah bersamaan mereka berpikir apa jangan-jangan Pak Heru dan Pak Tris melihat mereka tadi.
Pak Tris melihat wajah Nael dan Caca yang terlihat panik, dia kemudian menenangkan Heru dan berkata, "Sudah lah Heru. Nael dan Caca, kalian berdua mari sini duduk!" Pinta Pak Tris.
__ADS_1
Mereka berdua lalu duduk dan berkumpul bersama, Pak Tris melihat Caca lalu bertanya kepadanya, "Ca, bagaimana kondisi kamu? apa kamu semalam bisa tidur?"
"Saya baik Pak Tris. Semalam kami berdua bisa tidur bersama dengan nyenyak."
"Eh!" Caca yang keceplosan langsung menutup mulutnya.
Perkataan Caca membuat Pak Tris dan Pak Heru yang berada disana sontak memandang Nael dan Caca.
"Glek!" Nael terihat panas dingin lalu dengan cepat menyela pembicaraan Caca.
"Iya Pak Tris, Caca sudah sehat. Dia juga tidur dengan nyenyak mungkin efek obat dari Dokter Susan, iya kan Ca?" Nael melirik Caca dan memberi kode.
Caca mengerti. "Iya Pak begitulah."
"Oh begitu saya pikir kalian berdua tidur nyenyak karena saling kelonan satu sama lain hingga bangun kesiangan," ucap Pak Heru dengan santainya.
"Bah!"
Nael dan Caca tertunduk malu mendengar perkataan Pak Heru lalu mereka menatap satu sama lain. Pak Tris melihat Nael dan Caca yang diam saja akhirnya diapun membuka suara dan berusaha mengendurkan urat tegang mereka.
"Sudah lah jangan dibahas, saya senang mendengar Caca dalam kondisi baik. Oiya Ca, jadwal persidangan Sony akan dilaksanakan hari Senin, kalian berdua persiapkan diri masing-masing."
Nael dan Caca mengangguk mengerti. "Baik Pak Tris!" jawab mereka kompak.
"Dan Bapak ada bawa kabar lagi untuk kamu Ca. Sandy sedang menuju Desa dan akan mengabari kejadian selama kamu ada disini kepada keluargamu yang disana."
Caca senang mendengar hal tersebut dan berkata, "Terima kasih Pak Tris, saya senang mendengarnya."
"Sama-sama, ya sudah Bapak pamit pulang dulu ya ada urusan yang lain." Pak Tris lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Baik Pak, hati-hati."
Mereka kemudian mengantar Pak Tris sampai kedepan rumah lalu berjalan masuk kembali.
Pak Heru kemudian berjalan menghampiri Caca yang sedang menunduk seperti memikirkan sesuatu. "Caca jangan sungkan kalau ingin meminta sesuatu, kamu bisa minta langsung sama saya atau Bi Lila dan anggap saja ini adalah rumah mu."
"Baik Pak terima kasih."
"Ya sudah saya mau ke kamar dulu ya, nanti malam turun lah untuk makan bersama kami."
Caca mengangguk dan tersenyum lalu Pak Heru berjalan masuk kedalam kamarnya meninggalkan Nael dan Caca berdua. Nael yang memiliki waktu luang tak menyia-nyiakan kesempatan itu dia menahan Caca yang ingin melangkah naik ke atas.
"Kau mau kemana?" tanya Nael.
"Mau istirahat, kenapa?" Caca balik bertanya.
Nael menatap Caca lalu tersenyum kepadanya dan menjawab pertanyaan Caca. "Nanti malam aku akan mengunjungi kamar mu, kuharap kau mengijinkannya."
"Baiklah."
Nael senang mendengar hal tersebut diapun tersenyum lalu mengeluarkan aura ketampanannya yang luar biasa sambil menyurai rambutnya kebelakang dia lalu berjalan mengekor dibelakang Caca sambil sengar sengir memikirkan sesuatu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1