
"Ada perlu apa kamu kesini? cepat katakan!" ucap Pak Tris menatap Cindy.
"Apa Pak Tris tidak mengijinkan aku masuk terlebih dahulu? aku akan menjawab pertanyaanmu dan membahas kedatanganku tetapi tidak disini melainkan di dalam sana" balas Cindy menunjuk ruang tamu Pak Tris.
"Baiklah cepat masuk!" balas Pak Tris.
Cindy tanpa ragu lalu masuk ke dalam mess Pak Tris.
"Oke Cindy cepat bicara ada keperluan apa datang kesini?" ucap Pak Tris tengah waspada.
Cindy menghela nafas dia sedikit kesal karena dicurigai oleh Pak Tris. "Pak Tris, aku datang kesini ingin mengajak bekerja sama untuk melawan Satya."
"Apa alasannya?" tanya Pak Tris singkat, jelas dan padat.
Cindy menceritakan kejadian yang terjadi kepada dirinya dan juga keinginan untuk melawan Ayahnya sendiri.
"Itu urusanmu dengan Ayahmu sendiri, jangan libatkan kami!" ucap Pak Tris.
"Ingat lah ini Pak Tris, aku pernah menolong Caca ketika dia di culik oleh anak buah Sony, aku memberi pesan kepada Nael untuk mendatangi sebuah alamat yang aku kirimkan kepadanya," balas Cindy.
Pak Tris mengingat kejadian tersebut dan memang dia belum mengetahui siapa yang telah membantu menyelamatkan Caca ketika diculik dan memberikan alamat yang ternyata benar.
"Jadi, kamu orang berbaju hitam yang dimaksud Nael itu?" tanya Pak Tris.
Cindy tersenyum. "Benar Pak Tris."
Pak Tris tidak menyangka Cindy membantu Caca melawan keluarga nya sendiri, tetapi mengingat dia adalah putri Satya, Pak Tris pun tidak mau terlalu percaya.
"Jadi kau mau meminta apa? apa kamu ingin meminta balas budi?" tanya Pak Tris.
"Permintaan ku sederhana Pak Tris, untuk sementara waktu tolong sembunyikan aku disini dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Sebagai gantinya kau boleh memakai anak buahku dan aku juga akan memberi beberapa informasi dari orang dalam kediaman Satya untuk membantumu melawan orang itu kapanpun yang kau mau."
"Baiklah, kau boleh tinggal disini. Tinggallah di mess yang pernah Caca tempati dulu, tetapi tidak lama hanya sementara," ucap Pak Tris.
"Terima kasih. Aku hanya berlindung sebentar disini, ku harap kau tidak menaruh curiga kepadaku," balas Cindy.
"Curiga atau tidaknya itu tergantung dirimu, sekarang ikutlah dengan Sandy. Dia akan mengantarmu ke tempat aman."
"Sandy antarkan Cindy ke mess yang dulu pernah Caca tempati ya," perintah Pak Tris.
"Baik Pak Tris!" ucap Sandy patuh.
Sandy mengantar Cindy dan membiarkan nya menempati mess Caca yang sudah kosong sekarang.
……………………………………………………………………………
Di Penjara.
Dua hari setelah perjanjian tersebut, Satya menyambangi penjara untuk menemui Sony.
"Bagaimana Sony, apa sudah dapat jawabannya? kau pilih yang mana?" tanya Satya.
__ADS_1
Sony masih memikirkan tentang pilihan yang akan dia pilih. Semua pilihan tidak ada yang baik untuknya, tetapi dia tidak punya waktu lagi. Sony pun terpaksa menjawab. "Baiklah Papa, Sony ingin bebas dari penjara."
Satya tersenyum senang, "Apa kau yakin? apa kau rela Caca menjadi milik Papa?"
Sony mengangguk. "Sony yakin Pa, yang terpenting bisa bebas dari tempat ini."
"Bagus, kalau begitu Papa akan menyiapkan berkasnya dan meminta mereka untuk melepaskanmu dari sini. Hahaha.. Setelah kamu lepas, Papa akan menikahi Caca," ucap Satya dengan bangga dan tertawa senang.
Sony geram mendengar ucapan dari Satya, dia ingin sekali memukul wajah Ayahnya itu. Tetapi demi bisa bebas dan melakukan balas dendam, diapun menahan semua itu.
"Terserah Papa saja," Sony tersenyum paksa.
"Baik, sekarang tunggulah sebentar di penjara ini selama mereka mengurus berkas-berkasnya dan itu tidak akan lama, paling lama kau akan bebas bulan depan. Ah aku sudah tidak sabar dengan hal itu!" Satya tertawa kembali.
Sony terdiam dia hanya bisa menuruti kemauan Ayahnya itu sementara ini.
"Sony, ku dengar Caca dan Nael akan mengadakan pesta pertunangannya hari minggu ini. Itu berarti mereka akan menikah dalam waktu dekat. Papa ingin dihari jadi itu tiba, kau yang akan membawa pengantin wanitanya kehadapan Papa ya," bisik Satya di telinga Sony lalu tersenyum menatap putranya.
Sony geram, dia tidak menyangka jika Ayahnya sangatlah rakus dan tamak. Semenjak menjadi kepala mafia Satya malah semakin menjadi-jadi. Uang haram yang dia dapatkan ternyata mampu membuat otaknya menjadi tidak sehat. Dia bahkan berani menyuap beberapa orang pejabat dan beberapa anggota kepolisian untuk melepaskan dirinya.
"Ya sudah Papa pulang dulu ya, mungkin bebenah rumah akan membuat suasana calon istri Papa nanti menjadi betah."
Satya tertawa bahagia sedangkan Sony dia menundukan kepala dan meremas baju nya dengan erat, wajah nya merah padam menandakan dirinya begitu marah mendengar ucapan Ayahnya tersebut.
"Caca adalah milikku, tidak ada yang boleh memiliki nya selain diriku. Heh! Kau pikir aku akan membantumu mendapatkan Caca!" guman Sony lalu menatap gusar orang yang telah pergi jauh dari hadapannya itu sambil tersenyum menyeringai dia berkata, "Jangan mimpi!"
……………………………………………………………………………
"Heru bagaimana keadaan Caca disana?" tanya Pak Tris.
Pak Heru menghela nafas lalu menjawab pertanyaan Pak Tris, "Caca masih tidak bersemangat Tris, sepertinya masih marah dengan Nael."
Pak Tris mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali sambil mengangguk-anggukan kepala dengan pelan. "Wanita itu ternyata suasana hatinya sedang tidak bagus, padahal sebentar lagi hari bahagianya bersama Nael."
"Brak!"
Lista memukul mejanya dengan sangat kencang lalu berdiri tiba-tiba yang mengakibatkan kedua orang tua yang berada di dekatnya itu manget-manget seketika.
"Apa! Hari bahagia?" tanya Lista terkejut.
"Lista kamu jangan bikin kaget! kasian Pak Tris dan Pak Heru sampai pucet begitu mukanya!" ucap Mba Dewi menarik baju Lista agar duduk kembali.
"Maaf. Lista kaget Pak, pas dengar Bapak bilang hari bahagia."
"Ada juga kami yang kaget Lis!" Pak Tris mengelus dadanya.
"Maaf tapi hari bahagia siapa yang dimaksud Pak?" tanya Lista dan Dewi bersamaan.
"Caca sama Nael, sayangnya mereka lagi berjauhan. Berbagai cara sudah dilakukan, tapi Caca bersikukuh tidak ingin bertemu dengan siapapun," balas Pak Heru mengeluarkan air mata sedikit di ujung matanya.
"Caca sama Pak Nael?" tanya mereka kembali untuk memastikan dan dengan segera Pak Tris menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Huaaa asyikk!! akhirnya mereka jadi juga. Hihihi!" sahut Lista dan Dewi bersamaan sambil memukul meja layaknya genderang.
"Jangan khawatir Pak Tris ... Pak Heru. Nanti Lista dan Mba Dewi yang akan membujuk Caca." ucap Lista membusung dan menepuk-nepuk dadanya.
"Benar juga! coba kalian yang datang kerumah saya dan bujuk Caca ya!" ucap Pak Heru begitu senang.
"Tenang Pak, sebagai gantinya siapkan saja makanan enak disana ya. Hihihi," ucap Lista salah satu karyawan yang tidak tahu malu ini.
Pak Heru menangguk lalu menunjukan kedua jempolnya ke arah Lista dan Dewi kemudian berkata, "Sip!"
……………………………………………………………………………
Di Penjara.
Cindy mengunjungi Sony, dia menyamar menjadi orang lain agar tidak ada yang mengenalinya.
"Siapa?"tanya Sony dengan kesal.
"Cih sama Kakak sendiri lupa!" ucap Cindy membuka penyamarannya.
"Cindy! mau apa kamu kesini? apa belum puas dirimu telah membuatku dipenjara!" bentak Sony.
"Maaf Sony, aku tidak ada jalan lain selain melakukan itu kepadamu," balas Cindy seperti menyesal.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? kau terlihat sedikit kurus," ucap Cindy merasa prihatin.
Sony membuang muka nya dan mendengus kesal. "Huh baru sekarang kau ingat aku!"
Cindy terkekeh, "Kau marah, maaf Sony aku tidak bisa karena Papa yang jahat itu mau menjualku dan melarangku pergi dari rumahnya."
"Menjual?" tanya Sony.
Cindy mengangguk dan mulai meneteskan air mata, dia menceritakan bagaimana Satya ingin menjual dirinya.
"Dia benar-benar kejam dengan darah daging sendiri, dia juga membuatku berada di antara pilihan yang sulit," balas Sony.
"Pilihan sulit bagaimana?" tanya Cindy.
Sony kemudian menunduk dan menceritakan kepada Cindy bagaimana Satya memberikan pilihan yang begitu sulit untuk dirinya.
"Dasar iblis!" Cindy menahan amarah.
Mereka berdua terdiam, hingga Cindy akhirnya membuka suaranya. "Sony, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menghancurkan Satya."
Sony menatap Cindy dengan penuh keyakinan lalu menangguk setuju.
"Baiklah apa rencanamu?"
.
.
__ADS_1
Bersambung.