
Keesokan harinya.
Hari masih pagi. Walau hari minggu, Caca tetap bangun pagi untuk membantu ibu nya seperti biasa. Sang ibu sempat melarang Caca untuk membantu nya, tetapi Caca tetap dengan senang hati membantu si ibu.
"Sudah, Ca. Sini biar Ibu saja yang kerjakan, kamu istirahat saja sana. Ini kan hari minggu, kamu sudah capek tiap hari kerja, masa minggu juga nggak mau santai," kata Ibu.
"Nggak apa, Bu. Caca tidak keberatan kok, Caca malah seneng bisa bantu Ibu. Pekerjaan Ibu kan yang paling banyak dan berat, beda sama Caca yang kerja di kantor, ada jam istirahat nya, ada libur nya, ada cuti nya," kata Caca sambil terus mengoceh.
Ibu Caca senang dan berlinang air mata.
"Bagus lah kalo begitu, kamu memang paling mengerti Ibu. Nggak kaya seperti Bapak kamu itu tuh kalau libur kerja. Mau nya mancing terus, nggak pernah bantu Ibu. Sekali nya bantu Ibu nyuci, Ayah kamu malah masuk angin, BAB terus, bukan nya ngurangin kerjaan Ibu, malah jadi nambahin kerjaan Ibu saja," kata Ibu sambil mulut nya merocos terus tidak berhenti.
Ayah Caca mendengar kan percakapan mereka.
"Ca. Bikinin Ayah kopi ya, jangan pakai gula," kata Ayah.
"Tumben nggak pake gula?" tanya Caca dan Ibu.
"Iya biar pahit, sepahit kenyataan. Hahahaahaha" kata Ayah tertawa. (Jokes bapak-bapak)
Caca hanya tertawa mendengar gurauan dari Ayah nya itu agar menyenangkan hati sang Ayah.
***
Caca lalu ke kamar nya setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Caca melihat buku diari nya dan sebuah kunci laci meja kerja nya. Caca mengingat-ingat kejadian seminggu ini dab kemudian menulis kedalam diari nya.
pada malam hari.
Handphone Caca berbunyi, ada pesan masuk, Caca membuka telepon genggam nya tersebut. Caca melihat dan membuka pesan masuk tetapi tidak ada nama pengirim nya, hanya berisi kan nomor dan pesan saja.
"Setiap kali aku melihat kamu, aku selalu ingin bersama kamu terus."
Caca pun tidak menghiraukan mungkin salah sambung, bunyi pesan masuk kembali.
"Tapi apalah daya hanya bisa melihat kamu dari kejauhan."
Caca kemudian membalas pesan tersebut.
"Maaf kayanya salah sambung," balas Caca.
Pesan masuk kembali.
"Tidak, Caca. Aku tidak salah sambung. Aku menyukai kamu sejak hari pertama kamu masuk kerja. Aku selalu mencari wajah kamu, mencuri kesempatan hanya untuk bisa lihat kamu."
Caca terkejut ketika pesan itu ternyata untuk diri nya.
"Ini siapa? dapat nomor saya dari mana?" tanya Caca bingung.
Caca yang geregetan langsung menelepon ke nomor tersebut.
"Halo! halo! ini siapa? halo," kata Caca dengan rasa kesal.
"Tut tut tut," panggilan terhenti.
"Ini siapa sih? hape nya mah di angkat tapi tidak mau ngomong," ucap Caca kesal.
Tak lama kemudian ada sebuah pesan masuk kembali.
"Mendengar suara kamu sudah cukup untuk hari ini, saya senang, sampai ketemu lagi besok."
Caca pun penasaran dengan orang tersebut. Sepanjang malam Caca tidak bisa tidur.
"Siapa? kenapa? dan bagaimana orang itu bisa tahu nomor saya? tanya Caca dalam hati.
……………………………………………………………………………
Keesokan harinya.
Pagi hari seperti biasa Caca sudah bangun. Hari Senin adalah hari yang menyebalkan untuk sebagian orang.
Caca masih teringat dengan pesan misterius kemarin. Caca pun sangat penasaran,
"Ah mungkin cuma orang iseng," pikir Caca.
****
__ADS_1
Sesampai nya di tempat kerja, Caca celingukan, dia menengok ke kiri dan ke kanan. Sebuah pesan masuk kembali.
"Cari siapa Caca? saya ada kok disini. Saya senang bisa lihat kamu."
"Glek!" Caca menelan ludah.
"Jangan-jangan karyawan sini," ucap Caca pelan.
Caca tidak menghiraukan pesan tersebut dan langsung masuk ke ruang kerja nya. Seperti biasa Caca membuatkan kopi terlebih dahulu untuk Pak Tris dan Nael.
Handphone Caca kembali berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
"Sekalian donk bikinin aku kopi."
Caca kembali geram, dia pun menelepon nomor tersebut.
"Halo! hey halo! ini siapa? jangan sok misterius deh, nggak usah sok kenal!" bentak Caca.
Caca langsung marah-marah.
"Lagi-lagi tidak ada jawaban," kata Caca.
Caca langsung mematikan telelpon genggam milik nya dan mengepalkan kedua tangan nya.
"Huh! siapa sih tuh orang bikin kesel aja pagi-pagi." ucap Caca sambil menggerutu.
***
Nael datang dan melihat kelakuan Caca yang pagi-pagi sudah marah dan terlihat kesal.
"Pagi," sapa Nael.
Caca membalas sapaan dari bos nya tersebut dengan senyum yang dipaksakan, "Pagi Pak."
Nael masuk keruangan nya sambil melihat muka Caca yang sedang kesal hari ini.
"Carisa," panggil Nael.
"Iya, Pak."
"Baik, Pak."
Nael meminta Caca untuk duduk di depan meja nya. Mereka berdua sedang membahas pekerjaan.
"Mulai sekarang saya ingin kamu kerjakan juga laporan dari gudang spare part mesin," kata Nael.
Caca melongo, tiap hari ada aja kerjaan baru untuk diri nya. Tapi apalah daya dia tidak bisa menolak keinginan dari bos nya itu. Karena memang Nael adalah atasan Caca yang punya wewenang masalah produksi.
"Baik, Pak."
Caca hanya bisa menghela nafas panjang. Belom juga Caca duduk, Nael sudah memanggil Caca kembali.
"Carisa jangan duduk dulu. Kamu pergi ke gudang spare part ya, trus kamu copy laporan nya ke flash disk, nanti laporan nya kamu kerjakan disini. Saya mau lihat, sekalian minta arsip laporan nya yang sudah dalam bentuk print an," perintah Nael.
"Iya, Pak."
Caca hanya bisa menurut, padahal dalam hati nya sudah ingin menyerah.
****
Caca berjalan menuju Gudang Spare part dengan langkah terpaksa. Caca melihat di dalam sana ada Mas Karyo (bagian gudang Spare part) dan Sony (bagian gudang jadi). Di dalam ruangan tersebut memang ada sebuah ruang kerja untuk orang gudang meng input laporan gudang spare part.
Sony memang ditugaskan membantu Mas Karyo untuk meng input data gudang spare part ke dalam komputer, karena barang spare part sangat banyak, serta berbagai jenis, ukuran, warna, dan bentuk.
"Permisi," sapa Caca dengan sopan.
Mas Karyo dan Sony melihat ke arah Caca dan mempersilahkan Caca untuk masuk. Caca kemudian menjelaskan kedatangan nya ke sana karena perintah dari Nael.
Saat Caca sedang meng copy file. Mas Karyo meninggal kan gudang spare part karena dia dipanggil oleh Nael.
Mas Karyo sudah berada di ruang kerja Nael. Lalu Nael bertanya kepada Mas karyo.
"Carisa masih disana?" tanya Nael kepada Mas Karyo.
"Siapa Pak Carisa?" tanya mas Karyo polos.
__ADS_1
"Caca," jawab Nael.
"Ada, Pak. Lagi ngopi pile (meng copy file)," jawab Mas Karyo dengan logat jawa nya.
"Terus dia sendiri?" tanya Nael agak sedikit cemas.
Nael sedikit mencemaskan Caca. Nael takut kejadian kemarin terulang, mati lampu lah, nangis saat sendiri lah.
"Oh itu anu, Pak. Ada Sony yang temani, sekalian dia yang tau laporan gudang spare part nya," jawab Mas Karyo.
"Sony? siapa?" tanya Nael lagi.
Kemudian Mas Karyo menjawab pertanyaan Nael, "Sony. Orang gudang barang jadi, tapi dia di pinta sama Pak Joko buat bantu saya juga untuk masukin laporan ke komputer. Saya kurang bisa masalah pakai komputer, Pak."
Nael langsung mengingat perkataan Ahmad pada hari sabtu kemarin. Ketika Ahmad mengatakan sesuatu tentang Sony yang melihat Caca dengan tatapan aneh.
Nael segera keluar dari kantor dan bergegas menuju gudang spare Part bersama dengan Mas Karyo. Langkah Nael yang cepat membuat Mas Karyo ketinggalan di belakang.
****
Sesampainya di gudang Spare part, Nael mendapati Sony sedang melihat ke arah Caca yang sedang sibuk di depan komputer, "Benar kata Ahmad," ucap Nael dalam hati.
Nael menghampiri Sony yang masih diam memandangi Caca.
"Bisa tolong di percepat kerja nya," kata Nael kepada Sony.
Nael menutupi pandangan Sony yang terus menerus melihat Caca dengan tubuh nya. Pandangan Sony akhirnya tertutup oleh Nael.
"Baik, Pak."
Nael kemudian berbalik badan dan melihat Caca yang masih serius memandangi komputer di depan nya. Caca masih tidak menyadari kalau Nael bos nya, berada di gudang tersebut.
Tak terasa Nael juga memandang Caca sedikit lama. Seperti ada aura yang menarik nya, Nael kemudian mendekati Caca.
***
Caca memang mempunyai tubuh yang bisa dibilang idealis. Tingginya kira-kira sekitar 165 cm. Wajah manis dan cantik nya membuat orang tak bosan jika melihat nya. Rambut indah lurus sebahu, kulit yang putih bersih. Tidak gemuk dan juga tidak kurus.
"Carisa. Sudah selesai?" tanya Nael.
"Loh, Pak Nael ada disini? laporan nya sebentar lagi," jawab Caca.
Nael akhirnya menunggu Caca selesai dan kembali ke ruang kerja nya. Caca tak lupa berterima kasih kepada Mas Karyo dan Sony.
"Terima kasih, Mas Karyo dan Kak Sony."
****
Jam istrahat berbunyi. Caca menuju keruangan Mba Dewi dan Lista, kemudian mengajak mereka pergi makan ke kantin.
Sedang asyik makan handphone Caca kembali berbunyi. Caca melihat Handphone nya dan melihat ada pesan masuk dari nomor yang sama.
"Hai Ca, selamat makan."
Caca pun kesal dengan pesan yang tidak jelas tersebut. Karena tidak tahan akhirnya Caca menceritakan kepada Mba Dewi dan Lista.
"Wah hebat juga ya, Ca. Kamu punya pemuja rahasia. Hihihi," kata Mba Dewi sambil menggoda Caca.
"Karyawan sini kaya nya kalau di lihat dari pesan nya mah," tambah Lista.
"Ya harus nya senang donk punya pengagum rahasia," kata Mba Dewi.
"Kalau karyawan sini. Aduh jangan deh, rata rata sudah punya anak dan istri. Hahaha," kata Caca sambil tertawa.
"Ya kalau bisa jangan karyawan sini mereka tampang nya tidak ada yang menarik," kata Mba Dewi.
"Hahahahaha," Caca dan Lista tertawa geli.
"Eh tapi ada loh yang tampangnya ganteng dan lumayan disini." kata Mba Dewi.
"Siapa?" tanya Caca dan Lista.
"Pak Nael sama Sony orang gudang. Hahaha," kata Mba Dewi tertawa.
Mereka bertiga tertawa. Caca kemudian terdiam, mengingat tentang Sony, "Dia agak misterius," pikir Caca.
__ADS_1
Bersambung.