Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 22. Nael Jatuh Cinta


__ADS_3

"Papa.. Papa.. Coba lihat.. Baju Caca.. Bagus sekali."


"Wah.. Dandelion kecil papa cantik sekali.."


"Terima kasih Papa.."


"Mama dandelion itu apa? apa dia pangeran tampan? apa dia seekor singa, karena ada lion? lion kan artinya singa?."


"Hahahahaa..."


"Papa mama ayoo kita pergi, Caca mau main di taman."


"Mama Caca pakai baju ini ya, baju putihnya bagus, seperti putri cantik, Caca suka."


"Caca.. Mari lihat sini."


"Apa itu papa?"


"Ini bunga dandelion, coba kamu tiup bunga nya."


"Wahh dia terbang.. Dia terbang."


"Kenapa Caca di panggil dandelion?"


"Karena rambut kamu halus dan berdiri seperti bunga ini, hahaha."


"Kenapa rambut Caca, apa rambut Caca ditiup juga akan terbang, Caca nggak mau botak, huaahuaaa.. huhuhu, mama."


"Hahahaha.."


"Jangan menangis ya Caca sayang, kamu lihat bunga ini, walau dia termasuk rumput liar, tetapi bunga nya cantik, dan kamu juga contoh bunga ini, lihat walau kita menginjaknya, dia tidak mati, dia kuat, Caca juga harus kuat, sini papa foto."


"Caca harus kuat, apa Caca akan jadi superman?"


"Hahahaa.."


"Papa kenapa ramai sekali, papa Caca takut, kenapa mereka semua pakai baju hitam, kenapa mereka memukuli papa dan mama, kenapa kita harus lari... Huhuhuhu."


"Papa.. Mama.. Jangan tinggalin Caca."


"Caca, lihat ini."


"Wah apa ini Ayah?"


"Ayah ada bawa makanan dan mainan."


"Kenapa semua gelap?"


"Ayah.. Ayah.. Ayah mau kemana? Caca ikut."


"Jangan Caca, tugas Ayah disini sudah selesai."


"Sekarang Ayah, Papa dan Mama kamu akan berada di tempat yang sama."


"Kamu harus kuat dan tetap tersenyum ya."


"Tidak mau Ayah, jangan pergi."


"Ayah!"


***


Caca ternyata bermimpi mengingat kenangan masa lalu nya, diapun terbangun dan menangis. Caca melihat ada seseorang yang menemaninya sambil tertidur di kursi. Itu adalah Nael.


Caca tak ingin membangunkannya, Caca sudah sadar dia kembali murung. Nael membuka mata nya dan melihat Caca yang sedang duduk di atas kasurnya sambil memandang ke arah jendela.


"Ah syukurlah, Carisa sudah tidak menangis lagi."


Nael kemudian menghampiri Caca.


"Carisa."

__ADS_1


Caca tidak menjawab dia hanya menatap keluar jendela.


"Carisa. Maaf," ucap Nael.


Caca berbalik badan, dia melihat Nael yang meminta maaf kepadanya.


"Apa maaf Bapak bisa mengembalikan Ayah saya yang telah tiada?" tanya Caca.


Caca kembali menangis, dia lalu menunduk. Matanya bengkak karena menangis seharian. Nael hanya terdiam, dia tidak berani berbicara lagi. Nael hanya bisa meminta maaf kepada Caca.


"Ayah saya sekarang sudah tiada, saat saya sedih dialah yang menenangkan saya dengan cara nya yang unik. Kenapa? kenapa dia pergi secepat ini?"


Caca menutupi wajahnya dan menangis kembali. Nael mendekati Caca dan memeluk Caca dengan sangat lembut. Nael kembali mengucapkan maaf kepada Caca.


***


Ahmad datang untuk menjemput Nael pulang, dia melihat Nael sedang memeluk Caca. Ahmad mengurungkan niatnya untuk masuk, lalu kembali dan menunggu di luar.


***


Nael pun berusaha menenangkan Caca. Beberapa saat kemudian Caca telah kembali tenang, perawat yang bertugas datang dan memberikan makanan.


"Carisa. Kamu makan dulu ya, kamu mau makan yang mana? biar saya yang suapin."


"Tidak perlu, Pak. Saya belum lapar," jawab Caca.


"Bagaimana bisa kamu tidak lapar? memangnya kamu robot? sini makan!" kata Nael sedikit memaksa.


"Tidak, Pak. Taruh saja di meja! saya bisa makan sendiri," kata Caca tak mau mengalah.


"Tidak! pokoknya harus makan sekarang! saya nggak akan pulang kalau kamu belum makan!" kata Nael memaksa kembali.


"Tidak usah repot repot, Pak. Nanti saya akan makan sendiri," kata Caca kembali tak mau mengalah.


Nael pun bangun dari tempat duduk nya. Caca menatap Nael tanpa rasa takut.


"Kenapa! ada apa?" kata Caca bertanya.


"Huh! nggak mau! nggak mau!" kata Caca sambil menutup mulutnya dan berusaha menjauhkan sendok berisi makanan tersebut kedalam mulutnya.


Nael menjadi gemas dia sedikit geram, dia berusaha kembali menyuapi Caca. Caca menjauhi Nael yang masih saja menyuapinya. Muka Caca selalu menoleh kesamping ketika disuapi makanan. Nael tak sadar kalo tubuh nya mendekat sedikit di atas Caca.


Caca memberontak dan tak sengaja tangannya menepis tangan kiri Nael. Tangan Nael yang sedang menahan dirinya diatas kasur pun goyah. Karena kejadian tersebut diri nya tak sengaja terjatuh dan membuat bibir Nael mendarat pas di pipi kanannya Caca.


Mereka berdua terkejut. Bagaimana tidak, kejadian itu begitu cepat. Nael mencium pipi Caca, muka mereka berdua seketika memerah. Mereka berdua menjadi salah tingkah setelah kejadian itu.


Ahmad hanya tertawa geli melihat kelakuan mereka yang menjadi salah tingkah, dia hanya diam agar Nael dan Caca tidak melihat Ahmad yang sedang mengintip dari pintu kamar.


Nael meminta maaf kembali kepada Caca dan kembali keposisinya semual. Nael duduk kembali dan menaruh sendok ternyata Nael menyerah menyuapi Caca untuk makan.


Nael menatap wajah Caca, dia senang ketika Caca membuka mulutnya dan meminta Nael untuk menyuapi nya makan. Nael menyuapi Caca dengan sabar dan Caca hanya mengunyah dengan perlahan.


"Kenapa Carisa? apa rasanya tidak enak? kamu mau makan yang lain? biar saya pesankan makanan ya. Kamu mau apa? burger, kentang goreng, atau fast food lainnya?" tanya Nael seperti orang yang berjualan.


"Saya mau makan sayur asem pake sambal terasi, ikan asin dan lalapan kebon," kata Caca menjawab.


"Makanan apa itu? kenapa kamu mau makan sayur basi yang sudah asam? terasi itu bau, apa itu lalapan kebon?" kata Nael kebingungan dan balik bertanya.


"Hahahaha." Ahmad masuk dan tertawa.


Nael dan Caca melihat Ahmad masuk, mereka seketika ingat kejadian tadi.


"Aduh! Ahmad liat kejadian yang tadi nggak ya? semoga aja enggak," ucap Caca dalam hati


"Wah akhirnya Caca sudah sehat ya sudah mau makan," kata Ahmad sambil membawa makanan untuk Nael.


"Mad. Kamu baru datang apa sudah dari tadi?" tanya Nael sedikit gugup.


"Baru dateng kok Nael. Nih ada makanan," kata Ahmad berbohong.


Wajah mereka terlihat lega, Ahmad hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

__ADS_1


***


Tak lama kemudian Pak Tris datang bersama dengan Ibu Caca.


"Caca," suara Ibu memanggil Caca.


"Ibu."


Ibu menghampiri Caca dan memeluknya.


"Syukurlah kamu sudah baikkan, terima kasih ya Nael sudah menjaga Caca semalaman," kata Ibu Caca berterima kasih.


"Sama-sama, Bu."


Ibu Caca meminta Nael untuk pulang dan beristirahat, karena Ibu sekarang yang akan menjaga Caca. Nael lalu mengangguk setuju dia pun kembali bersama Ahmad.


Nael melihat ke arah Caca, dia senang karena Caca mau makan dengan disuapi oleh ibu nya dan perasaan Caca juga sudah sedikit membaik.


……………………………………………………………………………


Di mobil Nael.


Di perjalanan pulang kerumah, Ahmad bertanya kepada Nael, "Bos. Gimana Caca? apa dia masih sedih?"


"Masih," jawab Nael singkat.


"Jarang-jarang saya lihat bos begitu perhatian sama orang lain apalagi sama wanita," kata Ahmad sedikit menggoda bos nya tersebut.


"Apalagi tadi, ketika Caca susah makan," kata Ahmad sambil melirik Nael.


"Apa maksud kamu? kamu lihat apa?" tanya Nael yang tiba-tiba grogi dan menjadi salah tingkah.


"Nggak ada, Bos. Cuma bercanda," kata Ahmad senyum sendiri.


Nael hanya menghela nafas, dia teringat kembali ketika dia tak sengaja mencium pipi Caca. Wajah nya kembali memerah.


"Kring kring kring!" suara handphone Ahmad berbunyi. Ternyata dari teh Mul.


"Hai, Beb."


"Halo. Kamu lagi dimana? sudah jenguk Caca belum? gimana kondisinya? sudah baikkan?" tanya Teh Mul sambil nyerocos terus.


"Sudah. Ini lagi dijalan pulang antar Pak Nael ke rumah dulu baru ke kantor. Caca sudah baikkan, sudah mau makan," jawab Ahmad.


"Ah. Syukurlah," jawab teh Mul.


"Ya. Sudah dulu ya saya sedang mengemudi, dah Beb!" kata Ahmad sambil menutup telepon nya.


"Beb. Bebek kali," kata Nael sambil tertawa.


"Yeh ngeledek. Bisa bercanda juga ternyata bos ini. Hahaha," kata Ahmad tertawa.


"Kamu pacaran sama Mul kan? kenapa bisa begitu?" tanya Nael.


"Ya nggak tahu, terjadi begitu saja. Saya suka sejak pertama kali lihat Mul, dia yang membantu menyadarkan Caca. Disitu saya bertabrakan dengan Mul, entah kenapa hati saya selalu berdebar jika melihat dia, senang melihat dia, selalu menanti dia, tak kuat kalo melihat dia menangis. Marah kalo liat dia dekat-dekat dengan cowok lain. Awal nya saya nggak ngerti itu kenapa, ternyata saya sudah jatuh hati sama Mul, saya jatuh Cinta sama Mul," kata Ahmad tersipu malu.


..."Jatuh Cinta."...


Nael kemudian merenung, itu yang selalu dia rasa kan ketika berada dekat dengan Caca. Dia marah tanpa alasan ketika mendengar Caca sudah di jodohkan, merasa terluka ketika melihatnya menangis. Marah ketika mendengar dirinya akan dinodai seseorang, lega saat dia mau makan tadi. Tersenyum melihatnya bertingkah lucu dan tertarik dengan aura nya.


Diapun mengingat semua kejadian-kejadian yang pernah mereka lakukan bersama. Tak lama kemudian jantung Nael berdetak kencang ketika mengingat itu semua. Perasaan ini, perasaan yang dia tidak mengerti apakah itu namanya cinta? apakah dia telah jatuh cinta?


Ya, Nael telah "Jatuh Cinta." Kepada Caca. Akhirnya Nael mengerti.


"Terima kasih, Ahmad." Nael lalu tersenyum.


"Kenapa Bos? kenapa tiba-tiba berterima kasih?" tanya Ahmad kebingungan dengan tingkah bos nya.


"Tidak apa-apa, Mad." Nael tersenyum kembali.


Ahmad senang melihat bos nya yang tersenyum, walau dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Bos nya itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2