
Sementara itu.
Di dalam kamar. Valen bersyukur karena adiknya ternyata masih normal bisa tertarik dengan seorang gadis.
Valen pikir selama ini adiknya dekat dengan Ahmad dan mempunyai hubungan yang tidak seharusnya.
Walau berbeda tempat dan jarak. Nael dan Caca sama-sama tidak bisa tidur. Mereka teringat dengan apa yang sudah terjadi pada hari ini.
***
Hari sudah pagi. Caca kembali bekerja, setelah pesta kemarin malam membuat teh Mul dan Caca menjadi lebih terkenal.
Seisi pabrik dan kantor pun membicarakan mereka, ada yang iri, ada yang penasaran, ada suka maupun yang tidak suka.
Caca masuk ke kantor dan menaruh tas nya, dia melihat Nael bos nya itu belum datang. Akhirnya dia pergi keruangan Mba Dewi dan Lista, disana dia melihat mereka mengobrol dengan Pak Tris, Caca pun bergabung.
"Wah masih pagi udah ngomongin orang. Ngomongin apa sih?" tanya Caca.
"Eh, tau nggak Ca. Gara-gara acara kemaren Ahmad sama teh Mul akhirnya jadian loh. Hihihi," kata mba Dewi.
"Wah serius itu jadian?" tanya Caca penasaran sambil meminum kopi Lista yang berada di atas meja.
"Hey itu kopi gue! kalo mau bikin sendiri lah!" kata Lista mengomel.
"Minta dikit. Hihi." Caca tertawa.
"Iya, Ca. Ahmad sama teh Mul beneran jadian, kabarnya tadi pagi dari anak-anak packing."
"Anak-anak pabrik juga banyak yang bicarain kamu, tapi mereka nggak ada yang dukung kamu jadian sama Pak Nael," kata Mba Dewi.
"Kenapa?" tanya Caca penasaran.
"Soalnya, Pak Nael itu punya mereka," jawab Lista sambil nyeruput kopi.
"Hahaha." Caca kemudian tertawa.
Pembicaraan mereka tidak sengaja terdengar oleh Nael yang mau masuk ke ruang tersebut, yang memang sedang mencari Caca.
Langkah Nael terhenti ketika dia mendengar nama nya dan Caca di bicarakan. Seketika itu pula dia menjadi penguping pembicaraan orang, menempel dekat pintu luar kantor sambil melihat mereka bergosip.
"Ca. Gimana kemaren rasanya dansa sama Pak Nael? deg-deg an ya pastinya?" tanya Lista menggoda Caca.
Caca tidak menjawab dia hanya tertunduk malu. Nael pun sepertinya menunggu jawaban Caca dengan penasaran.
"Iya. Deg-deg an, takut ada kesalahan. Tahu sendiri dia mah bos," kata Caca sedikit berbohong.
"Tahu nggak, Ca. Banyak karyawan cowo sini yang akhirnya berani ngungkapin perasaan nya loh, walau nggak ngomong langsung sama kamu. Hihi," kata Mba Dewi menggoda lagi.
"Sudah! sudah! Caca itu sudah milik orang lain," kata Pak Tris tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
"Hah? siapa Pak? Pak Nael?" tanya Lista sedikit tertawa.
Nael mendengar hal tersebut sambil tersenyum-senyum.
"Ya. Pokok nya sudah ada jodoh nya dia itu. Waktu kecil sudah di jodohkan," kata Pak Tris.
"Wah, Pak Tris. Tahu banyak tentang Caca ya. Terus siapa jodoh nya Caca, Pak?" tanya Mba Dewi penasaran.
"Rahasia," kata Pak Tris sambil membubarkan para cewek.
"Wah. Siapa si Ca?" tanya Lista penasaran.
"Nggak tau. Tapi ayah sama ibu pernah bilang kalo gue ini udah di jodohin," jawab Caca.
Kemudian Nael masuk kedalam ruangan Pak Tris, mereka bingung dengan ekspresi Nael yang begitu gusar.
"Carisa!" bentak Nael.
Mereka tersentak kaget. Caca menjawab dengan gugup, "I..iya, Pak."
__ADS_1
"Mana kopi yang biasa nya kamu buat untuk saya, kenapa kamu lupa hah? terus ngapain kamu di sini malah asyik ngobrol? sudah tau kan bentar lagi masuk, mana laporan kamu? saya tidak mau tahu hari ini harus selesai!" kata Nael sambil pergi meninggalkan ruang kerja staf keuangan dengan ekspresi marah.
Caca hanya bengong kenapa Nael seperti itu. Memarahi nya tanpa alasan yang jelas. Caca pun pergi dan segera melaksanakan perintah Bos nya tersebut.
"Laporan apa sih? perasaan dia nggak ngasih apa-apa," ucap Caca dalam hati.
"Pak Nael kenapa ya? kok tiba-tiba marah sama Caca?" tanya Mba Dewi.
"Nggak tahu. Kurang ngopi kali. Hihihi," jawab Lista.
***
Caca mengantarkan kopi ke ruang Nael, terlihat wajah Nael yang begitu kesal, entah apa yang dikerjakan oleh nya.
"Tok tok tok!" bunyi suara pintu di ketuk.
"Masuk!" suara Nael sedikit meninggi.
Caca tidak berani berbicara apa-apa, tangan nya gemetar memegang secangkir kopi. Caca lalu menaruh kopi dan segera berbalik menuju meja kerja nya.
"Tunggu! kesalahan ini nggak boleh sampe terulang. Oke! jika tidak gaji kamu saya potong. sudah sekarang kerja sana," kata Nael kepada Caca.
"Baik, Pak."
Caca bingung, ada apa dengan Bos nya? apa kepala nya terbentur, pagi-pagi sudah memarahi dirinya dengan begitu kejam. Caca hanya menghela nafas.
Baru mau duduk Caca di panggil kembali oleh Pak Nael.
"Carisa!" teriak Nael.
"I..iya, Pak. Ada ap?" jawab Caca panik.
"Kesini kamu! cepat kerjain laporan ini!" perintah Nael sambil memberikan Caca map berisi se gepok kertas untuk di kerjakan.
"Ba..baik, Pak."
Caca melihat map berisi kertas tersebut begitu tebal. Ada beberapa lembar, tetapi Caca bingung dengan apa yang diberikan oleh bos nya. Kemudian dia kembali keruangan Nael lagi.
"Maaf, Pak. Tapi tugas yang bapak kasih ke saya --"
Tiba-tiba Nael memotong pembicaraan Caca.
"Apa maksud kamu? kalo kamu nggak bisa kerjakan, bilang saja. Biar Cindy yang akan kerjakan, dia pasti bisa," kata Nael memarahi Caca lagi.
Cindy ikut deg-deg an mendengar nama nya di sebut oleh Nael.
"Bukan itu, Pak. Ini tugas nya nggak ada. Bapak kasih ke saya kertas kosong semua," kata Caca sambil memperlihatkan map berisi kertas kosong.
Nael terlihat malu, tapi dia tetap tidak mau memperlihatkan nya.
"Kenapa isi nya kertas kosong semua? harus nya kamu cek donk! tidak boleh ada kesalahan lagi, jika ada kesalahan ini lagi, gaji kamu akan saya potong," kata Nael sambil memberikan tugas yang benar kepada Caca.
Kemudian Nael pun berjalan keluar untuk ke kawasan Produksi.
"Maen potong-potong gaji aja. Udah dia yang salah malah nyalain gue. Huhuhu," kata Caca sambil memeluk Cindy.
"Sabar, Caca. Semua bos memang begitu, selalu benar," kata Cindy sambil mengusap badan Caca.
***
Jam istirahat berbunyi, mereka ber empat menuju kantin. Disana wajah Caca terlihat pucat karena sebelum dia istirahat Nael memarahi Caca habis-habisan tanpa alasan yang jelas.
"Ada angin apa ya hari ini Pak Nael marah-marah nggak jelas?" tanya Mba Dewi.
"Nggak tahu, Mba. Katanya semua orang hari ini kena semprot sama dia. Uh beda banget sama dia yang kemaren, ganteng dan romantis. Ah beda pokok nya," kata Teh Mul yang tiba-tiba muncul.
"Yang paling banyak di marahi habis-habisan tuh Caca. Lihat mukanya sampe pucet begitu," kata Cindy.
"Kenapa sih, Ca? kemaren Pak Nael nganterin kamu masih baik-baik aja. Apa ada kata-kata kamu yang salah? coba inget-inget lagi neng," kata teh Mul bertanya kepada Caca.
__ADS_1
"Nggak ada teh. Kemarin di motor juga nggak ngomong apa-apa," jawab Caca.
Tiba-tiba Cindy, Lista dan Mba Dewi langsung mendekati Caca dengan rasa penasaran.
"Eits, tunggu. Jadi kemaren itu, Pak Nael yang anter kamu pulang Ca? naik motor? boncengan donk! wah jadi mau, ceritain donk. Hihihi," kata Lista penasaran.
"Cerita nya panjang, Lis." Caca malas membahas pertanyaan itu.
"Pendekin aja cerita nya," kata Lista.
"Iya," jawab Caca.
"Apa! wah. Caca beruntung ya," kata Lista sambil menguncang-guncangkan badan Caca.
***
Jam istirahat telah selesai. Semua kembali bekerja, Nael terlihat sedikit tenang. Dia tidak memarahi Caca lagi. Dia sedang sibuk dengan handphone nya sambil berbicara sendiri.
Caca masih bingung dengan kelakuan Nael yang aneh hari ini. Caca kemudian masuk memberikan laporan produksi nya.
"Carisa," kata Nael.
"Maaf tadi saya marah-marah tidak jelas sama kamu, saya juga tidak tau kenapa," kata Nael.
"Iya, Pak. Nggak apa-apa," balas Caca.
"Kamu tunggu di sini sebentar," kata Nael.
Caca sedikit lega, akhirnya Bos nya tersebut kembali normal. Tiba-tiba handphone Nael berbunyi.
"Halo."
"Halo Nael."
"Ya, Valen. Ada apa?" tanya Nael.
"Jangan lupa hari ini peringatan 3 tahun meninggalnya mama, jadi hari ini kamu jangan pulang malem-malem, kita mau ada doa," kata Valen.
"Tenang aja, kalo masalah itu aku nggak lupa kok." Nael lalu menutup panggilan.
Wajah Nael terlihat sedikit sedih. Caca berpikir, mungkin itu yang membuat bos nya marah-marah hari ini. Caca kemudian mencoba menghibur Nael.
"Turut berduka ya, Pak. Saya mengerti perasaan Bapak kehilangan sosok seorang ibu, pasti bapak sangat merindukan nya bukan? mungkin itu juga yang membuat Bapak marah hari ini," kata Caca.
Kemudian Nael berdiri, wajah nya kembali memerah menahan emosi, lalu dia pun memarahi Caca.
"Kamu ini! sok tahu perasaan orang! memangnya kamu siapa? jangan mentang-mentang saya kemarin perhatian sama kamu, kamu malah sok sok an dekat dengan saya!" kata Nael membentak Caca dengan suara yang keras.
Pak Tris yang mendengar Nael sedang marah kemudian bergegas menghampiri ruangan Nael.
"Dan satu lagi, kamu itu bawahan saya. Jangan belagak sok akrab dengan saya, kamu tidak usah peduli dengan saya. Orang seperti kamu mana mungkin pernah merasakan kehilangan orang tua. Hanya saya yang tahu bagaimana kehilangan seorang ibu, dan kamu tidak perlu ikut campur!" bentak Nael.
"Ahmad!" teriak Nael memanggil Ahmad.
"Iya, Bos."
"Ayo kita pulang."
Caca hanya terdiam, dia bingung harus berkata apa. Ternyata suasana hati Bos nya tersebut sedang tidak bagus. Caca berpikir, dia terlalu melampaui batasan nya. Pak Tris yang melihat Caca kemudian menenangkan nya.
"Sudah ya, Ca. Jangan kamu masukan ke hati," kata Pak Tris.
"Iya, Pak."
Semua berkumpul menghampiri Caca dan bertanya-tanya kenapa Bos Nael hari ini marah besar.
Sementara itu Cindy terlihat sedang menelepon orang, tidak tahu siapa yang dia telepon. Sepertinya suara laki laki.
"Oke, kita bergerak sekarang."
__ADS_1
Bersambung.